by

Senyuman Si Tison

Cerpen esai oleh: Taufik Fathoni

KOPI, Bekasi – Seekor kucing berlari mendekati pintu gerbang mesjid, ketika sejumlah orang berbusana muslim sedang berteriak-teriak di halaman mesjid.

Kucing itu peliharaan keluarga Pak Lukman. Namanya keren: Tison. Seperti nama juara tinju yang legendaris sangarnya itu.

Bulunya hitam. Cuma sedikit di bawah lehernya berwarna putih. Ukuran tubuhnya tidak terlalu besar, malah tergolong kecil jika dibandingkan dengan kebanyakan kucing yang lain. Ekornya juga pendek, cuma sekitar 5 Cm. Dan mungkin karena Pak Lukman itu penggemar tinju, sehingga kucingnya diberi nama Tison.

Sudah lebih satu tahun lamanya Tison ‘diadopsi’ oleh keluarga Pak Lukman. Tepatnya sejak ditemukan oleh Didin, anak kedua Pak Lukman yang masih TK.

Pak Lukman sendiri sebetulnya cuma hidup pas-pasan. Dengan bekerja serabutan, ia sering kewalahan untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Walaupun sebetulnya cuma keluarga kecil. Dengan satu istri dan dua anak. Nano, anak pertamanya yang baru duduk di kelas 2 SD, sering sekali telat membayar SPP.

Toh ia tidak keberatan untuk memberi makan Tison ala kadarnya. Dan Tison sendiri pun merasa betah di rumah Pak Lukman. Karena memang disayang dan merasa diperhatikan oleh keluarga Pak Lukman. Sesekali dia sering iseng bersembunyi di kolong meja, atau sengaja tidak pulang sampai menjelang maghrib. Dan semua keluarga Pak Lukman pasti sibuk mencarinya.

Sebagai seekor hewan, Tison merasa beruntung bisa mendapatkan kasih sayang seperti itu. Apalagi tetangga Pak Lukman juga banyak yang mengenalnya, dan sering memberikan sisa makanan kepadanya. Sehingga Tison pun merasa sudah menjadi bagian dari kehidupan warga di kompleks perumahan BTN yang sederhana itu.

Bulan Ramadhan tahun lalu, ketika usianya baru menginjak tiga bulan, Tison sering diajak Nano dan Didin berangkat shalat taraweh ke mesjid. Tentunya Tison tidak ikut masuk mesjid. Sambil menunggu di halaman mesjid dia pun bermain-main sendiri. Sesekali dia juga berlatih menangkap tikus dengan meloncat dan berguling di tanah.

Tapi Ramadhan sekarang ini tidak ada seorang pun dari keluarga Pak Lukman yang mengajaknya ke mesjid. Setiap hari mereka cuma shalat di rumah. Tison merasa penasaran, ingin mengetahui apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Tadi malam, begitu mendengar adzan isya dia langsung nyeruntul ke mesjid.

Sesampainya di depan pintu gerbang mesjid, Tison melihat sejumlah orang sedang bergerombol. Beberapa diantaranya ada yang berteriak-teriak, minta supaya pintu mesjid dibuka. Dia juga mendengar ada yang menyebut corona… corona…. covid-19…. lockdown… dan kata-kata lainnya yang tidak dia pahami.

Saat itu, di mesjid memang sedang terjadi kericuhan. Sejumlah orang berteriak protes DKM yang telah mengunci rapat semua pintu mesjid. Mereka memaksa ingin taraweh berjamaah di mesjid, tapi DKM tidak mengijinkan (1).

Terkait pandemi virus corona, sebetulnya sudah banyak ulama yang telah menghimbau agar umat Islam jangan dulu shalat Jum’at dan taraweh berjamaah di mesjid (2). Memenuhi himbauan tersebut, dan demi menghindarkan terjadinya penularan di antara para jamaah, DKM pun terpaksa meniadakan taraweh berjamaah untuk ramadhan tahun ini. Semua pintu mesjid di kunci, agar tidak ada seorang pun jamaah bandel yang bisa masuk.

Namun sebagian jamaah ada yang protes. Mereka marah-marah dan meminta supaya pintu mesjid dibuka. Padahal para ulama sudah memberikan penjelasan soal keringanan ibadah dalam kondisi darurat. Lengkap dengan ayat al-Qur’an dan hadits nabi sebagai dalilnya. Para ahli yang berkompeten juga sudah memaparkan panjang lebar penjelasan medisnya (3).

Melihat tingkah manusia yang seperti itu Tison cuma bisa tersenyum. Senyuman seekor kucing, tentunya. Karena dia sendiri memang tidak bisa memahami duduk persoalannya. Maklum, bagi Tison dan kaum kucing lainnya, marah dan bertengkar itu hanya terjadi jika berebut makanan di tong sampah. Bukan di tempat ibadah.

Sebagai seekor kucing yang hidup di tengah masyarakat manusia, Tison diam-diam juga merasakan adanya sesuatu yang berbeda pada bulan Ramadhan tahun ini, dibanding tahun sebelumnya. Setidaknya yang dia rasakan di rumah Pak Lukman sendiri. Bu Meta, istri Pak Lukman yang pandai membuat kue itu, biasanya sudah mulai sibuk membuat berbagai macam kue lebaran. Untuk dijual kepada tetangga dan melayani pesanan. Tapi sekarang Bu Meta terlihat lebih banyak melamun.

Tison pun jadi ikut melamun. Dia teringat pada suasana Ramadhan tahun lalu di rumah Pak Lukman itu. Menjelang Maghrib, di meja biasanya banyak lauk pauk serta makanan buat ta’jil. Tapi sekarang cuma ceplok telor atau goreng tempe dan ikan asin. Sisa makanan yang ditemukannya di tong sampah tetangga juga nyaris tak ada yang berbeda.

Tison yang cuma seekor kucing tentu saja tak memahami bahwa pandemi virus corona telah mengakibatkan menurunnya kekuatan ekonomi masyarakat. Terutama masyarakat dilapisan paling bawah, seperti halnya yang dirasakan oleh keluarga Pak Lukman (4).

Di tengah lamunannya, Tison tiba-tiba mendengar tangisan seorang ibu yang tinggal di rumah sebelah. Wanita setengah baya itu sedang bicara lewat hand phone, tapi sambil menangis. Rupanya ia sedih, karena anaknya yang bekerja di Jakarta tidak bisa mudik lebaran.

Bus yang ditumpanginya sudah sampai Cikarang, tapi oleh petugas disuruh kembali ke Jakarta (4). Sebab Jakarta memang sudah zona merah penyebaran virus corona, dan karena itu diberlakukan PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar (5).

Tak lama setelah tetangga yang menangis itu masuk rumah, Tison merasakan kantuk. Mulutnya menguap. Dia pun mencari tempat yang nyaman, untuk bisa tidur dengan nyenyak.

Tapi tiba-tiba ia dikejutkan lagi oleh suara orang yang sedang marah-marah. Tison pun melangkah keluar pintu pagar, mencari tahu sumber suara yang mengejutkannya itu. Ternyata Bapak Kepala Desa sedang ngomel-ngomel. Didampingi Kepala Dusun, Ketua RW dan Ketua RT, dia mengungkapkan kekesalannya kepada Presiden dan Gubernur Jawa Barat. Katanya sih soal bantuan untuk warga terkait pandemi corona yang dinilai kacau balau (6).

Masalah bantuan sosial itu memang memunculkan persoalan baru di tengah upaya mengatasi wabah corona sendiri. Banyak warga yang sudah didata untuk mendapatkan bantuan, tapi yang diberi cuma beberapa orang saja (7). Konyolnya, dari penerima bantuan tersebut ada beberapa di antaranya ternyata orang yang sudah meninggal dunia (8).

Akibatnya banyak kepala desa, terutama ketua RT dan ketua RW yang terpaksa menolak bantuan tersebut, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kegaduhan akibat kecemburuan sosial (9).

Lagi-lagi Tison tersenyum. Kali ini karena merasa beruntung dilahirkan menjadi seekor kucing. Hanya menjadi bagian dari bangsa binatang yang tidak mengenal negara, dan tidak punya pemerintah. ***

Catatan Kaki

(1) https://telisik.id/news/jamaah-protes-larangan-beribadah-di-mesjid

(2) Surat Edaran Dewan Mesjid Indonesia Nomer: 061/PP DMI/A/III/2020 tertanggal 19 Maret 2020

(3) https://www.cnbcindonesia.com/news/2020032316138-4-147019/jangan-bandel-jaga-jarak-aman-agar-tak-tertular-virus-corona

(4) https://www.suara.com/yoursay/2020/03/30/151403/dampak-dari-lesubya-perekonomian-akibat-wabah-corona

(5) https://www.jppn.com/news/larangan-mudik-1689-kendaraan-pribadi-dan-bus-disuruh-kembali-ke-jakarta

(6) https://m.derik.com/news/berita-jawa-barat/d.4994618/viral-video-kades-di-subang-protes-ridwan-kamil-soal-penyaluran-bansos

(7) https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-4988691/jumlah-peneima-bantuan-tak-sesuai-ini-yang-dilajukan-warga-dermawan

(8) https://www.bbc.com/Indonesia/indonesia-52399147

(9) https://www.radarcirebon.com/2020/04/28/17-rw-di-kota-cirebon-tolak-bantuan-provinsi-ini-alasannya

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA