by

Aku Pulang di Tengah Pandemi

Cerpen esai oleh Eliza Katratun Nada

KOPI, Bogor – Malam itu begitu gelap dan langit di kota Hujan begitu jernih, bintang pun bermunculan bagaikan kembang api di atas awan biru. Suasana yang sepi dan hening membuat rindu ini begitu menusuk-nusuk kalbuku. Sudah tidak sabar menunggu waktu esok untuk pulang ke kampung halaman, karena hampir setahun tidak pulang kampung.

Pagi yang sangat cerah… Ketika di KRL menuju ke Stasiun Pasar Senen, ada sesuatu yang aneh menjalari hatiku. Aku bertanya pada diriku sendiri “Apa yang telah melanda bumi kita ini, sekejap dunia ini mati seketika. Manusia dibumi pun seketika dibuat nya bungkam tanpa berkutik apapun, kendaraan maupun pelayanan di kota Hujan pun seketika mati semati-matinya, bagaikan dunia ini sudah tak bernyawa lagi”. [1]

Ketika di kereta menuju perjalanan pulang dan seiring laju kereta semakin mendekat kota tujuanku, semakin kuat perasaan aneh itu mengalir. Pulang kampung selalu membawa sejuta warna bagi hatiku. Aku membayangkan senyum Ibu dan wajah Bapak tergambar jelas di depanku. Rasanya kangen sekali, mungkin rasa kangen itu yang menimbulkan rasa aneh di hatiku. Aneh tapi rasanya nyaman. Karena kesibukan kuliah dan membuatku selalu menunda kepulanganku.

Hmmm… sebentar lagi rasa penat selama perjalanan dari Bogor akan segera tergantikan oleh lunasnya rasa rindu ini.

Tidak terasa kereta yang ku tumpangi telah tiba di Stasiun Weleri. Aku harus turun, karena kereta yang kutumpangi hanya berakhir di Stasiun ini. Dengan setengah meloncat aku turun sambil menggendong tas ranselku dan tas plastik besar berisi oleh-oleh buat keluaga di rumah. Kemarin Aku sudah menelepon Bapak dan Ibu, pasti mereka sudah menunggu kehadiranku.

Sementara untuk menuju kampung halamanku di Kendal, Aku sudah dijemput oleh Bapak dan Ibu ku didepan Stasiun. “Aduh Nduk (panggilan untuk anak perempuan), akhirnya kamu sampai juga” setengah menjerit Ibu menyambut kedatanganku. Kupeluk tubuh yang mulai renta termakan usia, namun masih terlihat sehat. Kulepaskan beban rindu yang menggelayuti jiwaku selama ini. “Ah Ibu engkau memang muara cintaku” ucapan didalam batinku. Dan Aku raih tangan Bapak yang mulai keriput dan kucium penuh takzim. Sosok sederhana namun kuat yang akan terus menjadi panutan hidupku.

Gimana kuliahmu?” tanya bapak ketika sampai di rumah. “Alhamdulillah lancar Pak, sekarang kuliahnya via online Pak gara-gara musibah Corona” jawabku. [2] “PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) nya sampai kapan Nduk?” tanya Ibu sambil mengambilkan makan untukku. “Masih belum tahu Bu sepertinya sampai musibah Virus Corona ini berakhir dan bulan Ramadhan sampai lebaran masih di rumah” jawabku sambil memasukkan sendok demi sendok ke mulut. “Hmm… tidak ada yang menandingi masakan Ibu di dunia ini karena nikmatnya tiada tara” makan sambil memuji didalam hati.

Bulan Ramadhan sebentar lagi hampir tiba…

Sengaja Aku pulang kampung untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan merayakan lebaran di kampung halaman, karena kebetulan sekarang kuliahku melalui PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) karena musibah pandemi Covid-19. Kesempatan emas tak kusia-siakan. Rasanya lama sekali tidak melahap makanan dan takjil bikinan Ibu. Uih… nggak terasa Aku menelan air liurku sendiri. Rasanya kangen ini telah membuncah untuk menyambut bulan Ramadhan.

Dalam satu bulan ada satu hari yang begitu spesial dan ditunggu-tunggu, dan dalam satu tahun ada satu bulan yang benar-benar memberikan begitu banyak keberkahan. Bulan penuh berkah itu adalah bulan Ramadhan. Di bulan ini semua umat muslim akan berpuasa. Semua umat muslim pasti akan sibuk mempersiapkan segala sesuatu mulai dari menyiapkan makanan, baju baru, hias rumah, dan hal lain yang lebih penting yaitu ibadah puasa itu sendiri.

Sedih sekali rasanya menyambut bulan Ramadhan ditahun ini karena berbeda dengan tahun sebelumnya.”

Seluruh bangsa di dunia ini sedang dirundung duka yang diakibatkan oleh Virus Corona termasuk Indonesia. Pemerintah mulai menerapan kebijakan kepada masyarakat untuk di rumah aja, social distancing, sekolah harus dilakukan di rumah, kerja di rumah, hingga beribadah juga harus dilakukan di rumah. [3]

Malam pertama sholat tarawih di bulan Ramadhan tahun ini sangat memprihatinkan dan menyayat hatiku. Hanya enam orang yang melaksanakan sholat tarawaih berjamaah dan tidak ada satupun anak kecil dan remaja yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah di Musholla karena mengikuti kebijakan pemerintah untuk di rumah aja.

Malam pertama seusai sholat tarawih di bulan Ramadhan, Aku menyempatkan ikut tadarus di Musholla. Dan  juga sempat berbincang-bincang dengan Pak Ahmad (imam) dan warga sekitar. Katanya akan dibentuk RUMUS “Remaja Musholla”, karena banyak anak-anak ABG di sekitar tempat ku yang menuntut ilmu dan bekerja di luar kota dan hanya bisa pulang kampung ketika bulan Ramadhan. Sehingga moment bulan Ramadhan ini harus dijadikan kesempatan untuk memperkuat silahturrahmi. Dari hasil bincang-bincang, kami sangat setuju dengan usulan Pak Ahmad. “Cuma kayaknya dalam waktu dekat ini belum bisa deh Pak karena ada musibah Virus Corona, entahlah kalau Ramadhan tahun depan” jawabku. “Namun jangan khawatir, saya pasti akan bantu untuk perkembangan Musholla ini” jawabku mantap.

Kami melanjutkan perbincangan dengan Pak Ahmad dengan topik yang berbeda. “Nggak terasa bulan Ramadhan sudah datang lagi ya? bulan yang sangat dirindukan oleh semua umat. Seandainya mereka tahu kemuliaan bulan ini mereka tidak akan terjaga sedetik pun” kata Pak Ahmad sambil matanya menerawang ke depan. “Menurut Pak Ahmad apa kemuliaan yang istimewa dari bulan ini Pak?” tanyaku. “Ya karena ini adalah bulan penuh berkah, penuh pahala, perbuatan baik akan dilipat gandakan pahalanya, dan orang yang tidur saat berpuasa pun bisa dapat pahala” jawab Pak Ahmad. [4] “Subhanallah, Allah Maha Baik ya Pak“. Moment seperti ini memang jangan sampai terlewatkan dengan sia-sia, apalagi kalau diisi dengan tidur saja. Iya sih dapat pahala, tapi kan nggak maksimal. Sebaiknya buat melakukan hal yang lebih bermanfaat saja.

Bagi yang mata hatinya terbuka, bagi yang selalu mengingat sang penguasa Jagad Raya, setiap desahan nafasnya adalah rezeki tak terkira di bulan ini. Semua pintu rahmatNya dibuka, semua pintu hidayahNya terbuka, semua pintu ampunanNya terbuka, tinggal manusianya, apakah mereka mampu menerima kemuliaan yang luar biasa ini atau tidak?” “Tapi terkadang puasa ini hanya sebagai penahan lapar dan dahaga saja dan hanya sebagai penggugur kewajiban atas bulan ini, sehingga derajat yang kita capai pun tidak akan pernah naik dari itu” nasihat Pak Ahmad. Akupun ikut terdiam, sehingga hening sejenak malam itu.

Malam semakin merambat pagi, suara jangkrik menimbulkan simphoni tersendiri dimalam pertama bulan Ramadhan ini. Dan desau angin malam semakin menambah dingin suasana. “Puasa tapi masih banyak yang korupsi, puasa tapi masih mengumbar amarah, dan puasa tapi masih menyakiti hati orang lain. Pertanyaannya kenapa masih seperti itu saja? Padahal puasa kita telah berpuluh-puluh tahun. Kenapa tidak ada jejak kenikmatan kita dalam berpuasa. Bahkan tidak berbekas. Selesai puasa kita kembali pada rutinitas kemaksiatan kita. Astaghfirullah...” kata Pak Ahmad. Aku semakin tertunduk… seolah-seolah seperti terkena tamparan keras yang sangat luar biasa sakitnya dipipiku. “Ah kok jadi saya yang banyak ngomong ini” kata pak Ahmad. “Nggak pa pa Pak, itu malah lebih baik buat kami dan buat bekal kami lebih menghayati puasa” kataku dan warga sekitar yang mendengarkan nasihat Pak Ahmad. “Saya pamit dulu ya, InsyaAllah besok ketemu lagi. Assalaam’ualaikum…” tiba-tiba Pak Ahmad beranjak dari duduknya dan segera berlalu. “Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakaatuh” jawabku dan warga sekitar.

Langit mulai terbenam… Kulihat jam dinding di kamar arah jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, ku ambil android ku dan Aku mulai membuka media sosial di Instagram, Twitter, dan Facebook. Seketika rame dengan statement yang dikeluarkan oleh presiden RI Bapak Jokowi ketika di wawancarai oleh Najwa Shihab, beliau mengatakan bahwa “Mudik dan Pulang Kampung Memiliki Arti Berbeda”. [5] Dan itu sempat trending nomor satu di channel youtube Najwa Shihab.

Berawal dari Bpk. Jokowi menjawab pertanyaan dari Najwa Shihab “Mengapa pemerintah tak melarang masyarakat mudik sejak penetapan tanggap darurat Covid-19 sehingga mata rantai penularan ke daerah bisa terputus sejak awal?”. “Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, disini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang. Karena anak istrinya ada di kampung, jadi mereka pulang” kata Bpk. Jokowi menjawab pertanyaan Najwa Shihab dalam program “Mata Najwa” yang tayang pada hari Rabu, 22 April 2020.

Ya kalau mudik itu di hari lebarannya untuk merayakan Idul Fitri. Kalau yang namanya pulang kampung itu yang bekerja di Jakarta, tetapi anak istrinya ada di kampung” ujar Bpk. Jokowi. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan larangan kepada masyarakat dari daerah yang melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mudik dan pemerintah diminta tegas melarang seluruh perantau meninggalkan zona merah selama masa larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Banyak masyarakat yang tidak setuju dengan statement yang dikeluarkan Bpk. Jokowi sehingga menimbulkan banyak kontroversi. Setelah membaca dan mendengarkan percakapan Bpk. Jokowi dengan Najwa Shihab di medsos, membuat hati ini memaksaku untuk membuka buku KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) untuk mencari tahu titik perbedaannya itu dimana?

Aku ambil buku KBBI di tempat buku, dan Aku mulai membukanya. Aku mencarinya dengan mengawali dari huruf M (mulut ku sambil komat-kamit mengeja M…U…D…I…K) dan ternyata oh ternyata artinya “Pulang Kampung”. Lantas apa yang membedakannya? “Kalau pulang kampung dibolehkan sedangkan mudik enggak boleh, nanti perantau banyak yang pulang dengan alasan saya pulang kampung bukan mudik” ujarku dalam hati. Entahlah… membuat ku semakin bingung dan bertanya-tanya pada diri sendiri.

Dalam hatiku berkata “Alhamdulillah yang penting Aku sudah pulang kampung sebelum kebijakan dari pemerintah itu dikeluarkan”.

-Selesai-

Referensi:

[1] 17 Kecamatan di Kabupaten Bogor Masuk Zona Merah Virus Corona https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://amp.kompas.com/regional/read/2020/04/22/22255191/17-kecamatan-di-kabupaten-bogor-masuk-zona-merah-virus corona&ved=2ahUKEwi21tGKpqHpAhWafH0KHSG1BiYQFjAEegQIAxAC&usg=AOvVaw0C-3eDMLQFI0eQr2hjGRCu&ampcf=1

[2] 95 Persen Perguruan Tinggi Terapkan PJJ https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://fin.co.id/2020/04/14/95-persen-perguruan-tinggi-terapkan pjj/&ved=2ahUKEwjPi5iVp6HpAhUVbisKHRe8AbQQFjAGegQIBRAB&usg=AOvVaw2aPYk1RTjD6NQINpnjGBaX

[3] Tentang Social Distance, Cara Pemerintah Cegah Penyebaran Virus Corona https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://m.detik.com/news/berita/d-4940726/tentang-social-distance-cara-pemerintah-cegah-penyebaran-virus-corona&ved=2ahUKEwiCo4PTqaHpAhUBAXIKHTwADC4QFjACegQIBxAB&usg=AOvVaw020ieVXcN4Fh449cmruLNu

[4] Amalan dan Ibadah yang Menjadi Sumber Pahala saat Puasa Ramadhan https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://m.merdeka.com/trending/8-amalan-dan-ibadah-yang-menjadi-sumber-pahala-saat-puasa-ramadhan-kln.html&ved=2ahUKEwj8iv7bqqHpAhWbSH0KHWnkC-cQFjAFegQIAhAB&usg=AOvVaw1lXM3c3hs0NP1nA5riRGro

[5] Jokowi Bedakan Mudik dan Pulang Kampung, Pemerintah Diminta Tegas Larang Keluar Zona Merah https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/04/23/11051321/jokowi-bedakan-mudik-dan-pulang-kampung-pemerintah-diminta-tegas-larang&ved=2ahUKEwjV7-q5qaHpAhWRc30KHaRfD90QFjALegQIAhAB&usg=AOvVaw3vBTSzoc2zZnT-sKJvJDcd&ampcf=1

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA