by

Bukan yang Terhempas dan Ramadhan

Cerpen esai oleh Fransiskus Chois Ochho Bhaga

KOPI, Maumere – Pada tahun 2019 lalu, saya bersama kawan-kawan “Studio Teater KAHE” melakukan riset untuk seni pertunjukan tentang Kampung Wuring yang terletak di pinggir kota Maumere, Flores NTT. Pementasan itu kemudian dilangsungkan pada tanggal 29 Mei 2019 dengan judul, “Yang Terhempas, Yang Terkikis”. Awalnya saya secara pribadi merasa ada kejanggalan dengan term judul tersebut. Apakah Wuring memang selama ini dilihat sebagai locus yang terhempas atau mungkin sudah terkikis dari kenyataan praktis serta kepahitan situasi birokrasi? Penanda apa yang menunjukkan itu? Atau, bagaimana cara pandang terhadap kondisi kampung Wuring? Wuring yang adalah umat Muslim di kampungnya, namun mereka tetap tergolong minoritas karena topografi ruang lingkup berada di tengah mayoritas Kristen Katolik di Maumere.

Dua bulan berselang dengan hitungan hari yang semakin memuncak bersama pertengkaran waktu, dalam menanti sebuah kebenaran itu. Munculah kegelisahan mendalam seolah luka, tetapi tak berdarah. Kemudian menimbulkan refleksi yang lain bagi saya, semacam ada ambivalensi bersama dua bola mata mungil dalam melihat kampung Wuring itu sendiri. Ini juga dipertegas dengan beberapa pertanyaan lanjutan sebagai perangsang untuk menggali lebih komperhensif seperti apa Kampung Wuring?. Berangkat dari situ, barangkali ada rangkaian kata ini merupakan bingkai sederhana sebagai suatu usaha untuk menjawab ambivalensi termaksud serentak melihat Wuring secara lebih tajam dan luas, seluas samudera yang ketika diselam akan menemukan mutiara-mutiara berharga sebagai bukti pemaknaan di bulan suci ini.

Suatu sore di tepi pantai sambil menanti kepergian senja di ujung barat yang selama sehari ia berusaha untuk bercahaya begi semua orang, saya pun berpikir sedikit kikir dalam senyum simpu sedikit dihibur camar bernyanyi di ranting kering. Pun terbersit dibenak secara mendadak, dari manakah Wuring berasal?  Suku Bajo yang bernomaden mengatakan “Buring”, yang secara etimologis berarti sejenis kerang laut. Kerang ini digunakan oleh para nelayan untuk memanggil angin dengan cara ditiup. Sebelum bertumbuh-kembangnya peralatan (mesin) yang modern atau canggih, para nelayan menggunakan perahu layar untuk menangkap ikan. “Buring” sebagai alat tradisional memang sangat dibutuhkan untuk mendatangkan angin demi kelancaran pelayaran dalam mengarungi samudera mencari sesuap nasi.

-000-

Dalam sebuah cerita atau guyon dekat sudut rumah-ruamh nelayan berama setangkep roti dan sepotong ikan goreng bersama bapak Fransiskus Ropi Cinde, tokoh masyarakat yang juga seorang nelayan Palu’e, saya mendapat penjelasan bahwa masyarakat Wuring bermula dari orang-orang nomaden yang berasal dari suku Bajo, Sulawesi Tenggara. Mereka bertatih-tatih sebelum tumit menjadi tua dan uzur bernomaden karena adanya perselisian dalam perang saudara memperebutkan wilayah tempat tinggal. Kelompok yang kalah perang akhirnya tidak mempunyai tempat tinggal dan memutuskan bermigrasi. Dalam hidup nomaden itu, menjadi nelayan merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup bagi mereka.

Sebagai bentuk bertahan hidup maka sejak dahulu, sebagian besar anak laki-laki suku Bajo memang diwajibkan untuk melaut. Sebab, dengan itulah kejantanan seorang lelaki sejati diuji. Untuk konteks Wuring sendiri, menurut cerita nelayan Muhammad Wayudi, banyak anak laki-laki yang drop out atau putus sekolah karena harus melaut. Sementara yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah kaum perempuan. Adapun ketika mendengar kata Wuring, hampir sebagian orang akan mengidentifikasikan sebagai sebuah kampung nelayan yang jorok, menjijikkan, dan tak layak huni -selain dianggap sebagai “surga ikan” di wilayah Maumere Flores, NTT. Di Wuring mereka melihat terdapat banyak sampah plastik yang bertebaran ataupun mencium aroma amis, hingga bau ikan-ikan yang dijemur.

Bahkan, orang akan merasa lucu ketika menyaksikan kambing-kambing yang memakan sampah plastik tersebab tidak adanya tanah atau lahan subur tempat berdirinya rerumputan. Dapat dikatakan, telah terjadi pergeseran yang luar biasa; keadaan lingkungan membawa perubahan bagi hewan itu dalam bertahan hidup. Akan tetapi, ketika saya mengajukan pertanyaan kepada salah seorang nelayan; bagaimana perasaannya dengan kondisi lingkungan yang kotor, dekil, bau, dan ruang gerak anak-anak untuk bermain yang sangat tidak memungkinkan itu? dengan lugas dia mengatakan bahwa mereka sebenarnya merasa biasa-biasa saja. Kondisi tersebut sudah tidak memungkinkan mereka untuk berpindah.

“Pekerjaan pokok kami adalah nelayan. Jika dari pihak pemerintah berencana membangun ruang bermain bagi anak-anak, kami mempersilakan. Tapi, di mana tempat yang paling pas untuk anak-anak ini? Mereka tidak boleh terlalu jauh dari kami sebagai orangtuanya. Kami sudah merasa nyaman dengan kondisi lingkungan yang seperti ini, meskipun secara kasat mata kampung ini adalah kampung yang terkenal dengan lingkungan yang kurang asri,” begitu kata dia. Saya kemudian terkesan oleh opini yang ditulis oleh Eka Putra Nggalu dari Komunitas KAHE bahwasanya problem lain yang masih tersisa dari sekian persoalan yang terjadi di Wuring ialah meskipun sudah ditetapkan sebagai wilayah zona merah bencana, Wuring masih tetap dihuni oleh penduduk dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi, bahkan sampai sekarang semakin membengkak.

Masyarakat sendiri memang bersikap tegas, menolak direlokasi dan memilih tetap tinggal di rumah-rumah panggung, baik yang dibangun di atas air maupun di darat. Argumentasi tajam seperti sebila mata pedang adalah mereka tidak dapat hidup jauh dari sumber penghasilan mereka yang rata-rata berasal dari hasil laut. Segala jenis biota yang hidup di perairan adalah ladang mereka. Alasan ini logis dan terbukti benar. Wuring kini menjadi salah satu tempat dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Sementara itu, pada tahun 2017 lalu, terlihat aktivitas pembangunan di Wuring. Jembatan-jembatan kayu di atas permukaan air laut yang dulu menghubungkan rumah-rumah warga dan menjadikan tempat ini menarik, telah dibongkar. Buldoser-buldoser silih berganti warna datang membangun tanggul-tanggul penghubung rumah sekaligus penghalang dan pemecah ombak. Hemat saya, barangkali itu dilakukan untuk melindungi sekawanan kecil orang yang berani hidup di daerah “terlarang”.

Namun, menarik ulur pada sejarah, keberadaan kampung Wuring seyogianya bisa dibaca dalam paradigma ekonomi-politik perkara relasinya dengan masyarakat Maumere. Di tahun 1470-1500 pada masa pemerintahan Mo’ang Bata Jati Jawa, Sikka mulai berdagang dengan masyarakat Bugis. Perdagangan itu kemudian berkembang hingga sekarang, dan secara ekonomis kampung Wuring merupakan salah satu jantung pendapatan daerah bagi kabupaten Sikka. Mereka memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Adapun agama yang mereka anut adalah Islam.

Pembicaraan tentang agama ini menjadi menarik. Menurut cerita lisan, sekitar tahun 1580-1625, Raja Don Alesu di Sikka bersama para misionaris dari Eropa membangun sebuah kapela (tempat ibadat bagi orang Kristen Katolik) di sekitar wilayah pertigaan -yang dibatasi dengan jalan raya- menuju kampung Wuring. Tujuannya agar masyarakat di kampung itu tidak menyebarkan agama di sekitar daerah pegunungan. Hal ini memang agak diskriminatif, meskipun seiring perkembangan waktu, terjadilah perkawinan campur antarmasyarakat Muslim dan Nasrani. Dari sinilah kemudian muncul wacana-wacana ihwal toleransi antara warga Wuring dan Sikka. Dalam perjalannnya, sempat terjadi sedikit perselisian antara suku Bajo di Wuring dan penduduk asli dari Maumere. Suku Bajo mengkalim bahwa tempat yang mereka tinggali adalah lahan milik mereka, bukan tanah dari warga Maumere. Peristiwa ini sedikit menimbulkan percecokan antara suku Bajo dan masyarakat Sikka, terutama pada zaman Raja Don Thomas. Penyelesaiannya dilakukan oleh raja secara adat.

Dalam kaitannya dengan politik elektoral, bisa terlihat bahwa terdapat beberapa orang Wuring menjadi anggota legislatif di parlemen kabupaten Sikka. Hal ini dalam beberapa penafsiran, meski menurut saya terkesan agak dangkal, dianggap sebagai bentuk toleransi. Toleransi sejatinya mesti bergerak lebih daripada itu. Ia mesti terwujud secara horizontal bukan secara vertikal, sebab manusia sangat membutuhkan relasi sosial yang harmonis agar tidak terjadi diferensiasi di antara sesama yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan.

Pada akhirnya, kebutuhan masyarakat akar rumput di Wuring harusnya lebih jadi perhatian bersama. Dengan begitu, relasi dengan mereka tidak hanya sebatas label “surga ikan” atau simbol rajutan toleransi, tetapi lebih menyoroti hal-hal dasariah yang telah jadi steorotip buruk di kepala kita; jijik, bau, kotor, dan tidak layak huni. Sungguh aneh, sebab pada satu sisi kita memuji, sementara sisi lainnya kita menyindir. Kampung nelayan itu bukan yang terhempas atau yang terkikis. Ramadhan akan membawa kita pada selebrasi kehidupan yang penuh cinta. Sifat empati harus terlibat secara empiris dalam melihat problema yang sekrang sedang mewabah (Covid 19), dengan mencari alternativ sebagai jalan pintas membantu masyarakat. Data aktual tentang kampung nelaya seperti Wuring, mungkin peran pemerintah dengan menerapkan program barter.  Seperti hal yang dilakukan oleh satu visi revolusioner oleh pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat untuk membantu mereka. Mereka melakukan penukaran ikan dengan beras sesuai kespakatan. 2 kg ikan kering akan ditukar dengan 15 kg beras. Hal ini dilakukan bukan untuk mencari laba, melainkan lebih menekankan budaya solidaritas. Bulan suci ini sikap ini bisa dibuat dalam situasi pendemi. Cinta akan kesucian yang dibuktikan amal dalam relung-relung kehidupan yang berbunyi minta jamahan hati yang suci dengan pembuktian sejati pada peristiwa-peristiwa manusia. Sebab ada luka di mereka yang adalah luka kita juga. Agar nama kita bisa ditulis pada pusara aksara dengan damai hingga sampai di rumah paling ujung dengan tenang tanpa harus ada penghalang.

Referensi/Daftar Rujukan

1. Cinde, Fransiskus Ropi. Wawancara per telepon seluler, 29 Mei 2020

2. Dionitius, Dominikus dan Alexius Boer Pareira. Hikayat Kerjaan Sikka. Maumere: Ledalero, 2008.

3. Madung, Otto Gusti. Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi. Maumere: Ledalero, 2017.

4. Wahyudi, Muhammad. Wawancara personal, 19 April 2019

5. Chia, Jasmine. In the Absence of State Support, the Poor Help the Poor. Thlai Enrique, 2020

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA