by

Keramaian dalam Jiwa-jiwa yang Kosong

Cerpen esai oleh Duwi Hartanti

KOPI, Kediri – Pak Rahmat sedang sibuk membaca berita di androitnya. Tampak kemarahan di wajah rentanya.

“Zaman edyan!” teriaknya kesal

“Ada apa, Pak?” tanya sang istri, bu Sulastri

“Ini sampean lihat, Bandara Soekarno-Hatta rame[1]. Orang-orang berjubel! PSBB preet…! apa gunanya kita mendekam di rumah selama hampir tiga bulan? Sebaran virus masih tinggi masyarakat sudah tak terkendali!” pertanyaan sekaligus keluhan Pak Rahmat. Bu Sulastri hanya mengangguk tanpa menimpali. Bu Sulastri sudah terlalu lelah mendengar dan mengomentari segala kebijakan yang ada di negeri ini.

“Kok malah diam saja, menurut ibu bagaimana? Zaman benar-benar sudah edyan… masjid berhasil dikosongkan, tapi mall dan bandara malah meriah! Masyarakat kita memang bebal korona!” maki Pak Rahmat.

“Bapak ini marah-marah melulu. Sabar ini bulan ramadhan, sayang puasa Bapak bisa batal. Biar mereka menanggung resikonya masing-masing!” ucap Bu Sulastri berusaha menenangkan suaminya. Namun komentarnya malah membuat Pak Rahmat semakin emosi.

“Ibu ini bagaimana, kalau mereka berjubel seperti itu kemungkinan untuk tertular virus akan lebih besar. Lalu mereka berkeliaran ke kampung-kampung, bisa ibu bayangkan berapa banyak orang yang akan terinveksi? Sepertinya wacana penerapan herd imunity benar-benar fakta bukan hanya wacana[2].”

“Apa lagi itu , Pak?”

“Ibu ini makanya sering-sering baca berita jangan menmbaca gosip di whatsapp melulu!”

“Baca berita malah bikin nyesekin dada Pak, setiap hari angka-angka itu bertambah[3]… tapi kesadaran masyarakat belum juga bertambah…”

“Herd imunity itu seleksi alam yang keras dan brutal[4], siapa kuat selamat  yang lemah wassalam…punah!”

“Lhah tuukan…  bener  saya bilang apa,  nyesek lagikan kabarnya. Mendengar berita dari Bapak tentang herd imunity sudah membuat broken heart!, mending saya lihat resep masakan saja… nanti hasil prakteknya bisa dibagi ke tetangga untuk berbuka lebih jelas pahalanya dari pada mendengar gonjang-ganjing negara yang semakin hari semakin ndak jelas.” Jawab Bu Sulastri sambil ngeloyor kembali ke kantornya, dapur.

Pak Rahmat masih termenung dalam kekalutannya. Dari dulu susah mengajak istrinya berdiskusi tentang hal-hal yang berat karena pemikiran istrinya sangat simple dan tidak mau ambil pusing. Pak Rahmat sudah terbayang bagaimana nasip anak sulungnya yang menjadi seorang perawat, belum lagi menantunya yang seorang dokter. Merekalah  para pejuang garda depan yang berjuang mati-matian tapi para masyarakat yang diperjuangkan malah asyik kongkow-kongkow ndak jelas, berjubel  di bandara dan tidak mengindahkan anjuran social distancing, bahkan banyak yang  memadati mall untuk membeli baju baru.

“Mengapa tidak sekalian mempersiapkan kain kafan baru?!” gumam Pak Rahmat kesal.

Bu Sulastri muncul dari dapur dengan membawa buku resepnya.

“Pak, terus anak dan menantu kita bagaimana?” pertanyaan dan keluhan Bu Sulastri baru menyadari arah kegelisahan suaminya.

“Ibu ini, selalu telat menyadari arah pembicaraan saya. Dari tadi saya ngomong, arahnya ya ke keselamatan anak dan menantu kita!”

“Hubungi mereka, Pak! Masyarakat susah disuruh stay at home, mendingan tenaga medisnya saja yang stay at home! Yang lain TERSERAH![5]” perintah Bu Sulastri membabi buta.

“Setuju! Oh benar juga. Tumben ibu punya ide berlian!” Pak Rahmat menyetujui perintah istrinya untuk mempengaruhi anak dan menantunya supaya stay at home.

“Nanti malam selepas shalat taroweh kita hubungi mereka, Pak!

Pak Rahmat dan Bu Sulastri sepakat secepat mungkin menghubungi  Diah, sang anak.

“Assalammu’alaikum wr.wb” Pak Rahmat mengucap salam ketika dilihatnya wajah Diah tampil di layar phonecellnya. Anak kesayangannya tampak sehat dan segar.

“Waalaikummusalam wr.wb, bagaimana kabarnya, Pak? Sehat-sehat semuakan? Berbuka dengan menu apa, Pak?” tanya Diah berderet-deret seperti kereta api, dengan antusias.

“Bapak dan Ibu sehat, ndak usah mengkhawatirkan kami, tapi khawatirkan dirimu sendiri!” jawab Pak Rahmat, dan diserobot oleh Bu Sulastri.

“Ibu memasak pecel tumpang kesukaanmu, ibu juga membuat rempeyek super renyah! Kalau kamu di sini pasti masakan ibu ludes ndak bersisa.” ibu Sulastri sibuk mempromosikan masakannya.

“Masakan Ibu memang paling endes! Kangen Ibu,…” puji Diah yang diiringi ungkapan kerinduannya.

“Gimana kabarmu, nduk? Tanya Bu Sulastri lirih.

“Kangen semua Bu,  kangen Bapak, Ibu, Ana, Mas Angga, dan semuanya. Pengen hidup noral lagi. Sekarang saya tinggal terpisah dari Ana maupun Mas Angga. Ana di rumah dengan Mak Iyem. Saya tinggal di mess yang disediakan rumah sakit begitu juga dengan Mas Angga.”

“Kamu itu berkorban demi siapa? Masyarakat saja tidak peduli dengan kesehatannya sendiri. Lihat itu di berita-berita mall penuh, pasar hingar bingar, bandara berjubel, malah ada  ramai-ramai karena penutupan gerai McD Sarinah[6] segala, ada juga yang nekat merayakan ulang tahun dalam keadaan seperti ini[7]. Sepertinya mereka itu sudah tidak ingin berulang tahun di tahun-tahun yang akan datang, belum lagi kerumunan ndak penting lainnya. Gantian kamu saja yang stay at home!” ucap Pak Rahmat mempengaruhi Diah.

“Bapak ini bagaimana, kalau misalnya pandemi ini adalah perang maka Diah ini adalah tentaranya. Kalau saya mundur, berarti kita kalah, Pak.”

“Kamu baca lagi buku sejarah!, Indonesia bisa merdeka karena persatuan seluruh masyarakat, bukan cuma tentara yang berperang. Setiap orang bahu membahu! Lhah sekarang? Lawan kita tak kasat mata sampai para masyarakat terlena dan menganggap musuh tidak ada.”

“Tidak semua masyarakat, Pak. Buktinya Bapak dan Ibu masih taat.”

“Bapakmu mau shalat taroweh jamaah di mushola saja ndak bisa. Mau shalat Jumat saja ada test suhu tubuh, pakai masker, dan lain-lain[8]. Mau iktikaf di masjid juga dilarang tapi kok bandara malah rame! Edyan !” ucap Bu Sulastri kesal.

“Di bandara ada persyaratan surat keterangan bebas covid, Bu. Selain itu juga ada serangkaian pemeriksaan kesehatan. Di mall juga sebagian ada protokol physical distancing[9]”

“Kamu itu jangan sok lugu! Surat begituan zaman sekarang ndak jamin, banyak yang palsu![10]”

“Apa larangan mudik dan physical distancing itu pilih-pilih? Kalau orang-orang kaya yang bisa naik pesawat dan juga surat membuat keterangan bebas covid bebas pula berkeliaran? Kalau orang miskin yang bepergian sampai rela sembunyi di bagasi bus, tetap di kejar-kejar?[11] Memangnya covid-19 milih-milih saat menginveksi?” Pak Rahmat ngotot.

“Bapak, mumpung ini masuk sepuluh hari akhir Ramadhan mendingan Bapak banyak berdoa untuk kesehatan keluarga dan juga untuk kebaikan bangsa dan negara. Jangan terlalu dipikirkan berita-berita yang malah bikin gusar dan galau. Kita harus berpikiran positif. Kita ambil bagian sesuai porsi kita dalam perang melawan pandemi ini. Semoga ketaatan Bapak dan Ibu dalam menjalankan seruan pemerintah, menginspirasi tetangga sekitar.” Saran Dian.

“Semoga perjuangmu dan para tenaga kesehatan  yang lain dimudahkan, nduk.” Doa Ibu Sulastri

“Doa dan restu yang Bapak, Ibu berikan sudah lebih dari cukup bagi Diah. Bapak, biar ndak uring-uringan bisa nonton konser virtual BPIP.[12]”

“Malah ngajak ribut lagi. Kamu itu mengapa suka membangunkan macan tidur?” Protes Bu Sulastri.

“Apa lagi itu…sepuluh hari akhir ramadhan malah mengadakan konser mending Bapak muhasabah diri dari pada nonton konser. Pusing Bapak mikirnya.” Pak Rahmat sewot.

“Niat konser untuk menolong sesama, Pak. Bapak ndak usah pusing mikirin hal-hal negatif ambil sisi positifnya saja, Pak.”

“TERSERAH, Nduk!” Pak Rahmat menyerah.

“Ya sudah cepat istirahat jaga kesehatan, semoga semua urusanmu diberi kemudahan dan kelancaran.” Doa Bu Sulastri mengakhiri pembicaraannya dengan sang anak tercinta.

Di ujung sana Diah terdiam, menangis pilu, dadanya bagaikan ditusuk sembilu. Ia merasa dikhianati oleh bangsanya sendiri. Hanya nurani dan kecintaannya pada profesilah

Selesai berbicara dengan sang anak, sedikit mengendurkan urat kekesalan Pak Rahmat. Keteguhan hati dan semangat Diah untuk terus berjuang di tengah masyarakat yang apatis, membuat Pak Rahmat bangga. Hanya doa yang bisa Pak Rahmat berikan. Sajadah ia gelar untuk meraih keistimewaan di sepuluh hari terakhir  bulan ramadhan. Dengan khusuk dia memohon kepada Dzat yang maha membolak-balikan hati, semoga jiwa-jiwa kosong yang menikmati keramaian di tengah pandemi segera menginsafi kesalahannya.

Foot Note:

  1. Virus corona: Bandara Soekarno Hatta dipadati penumpang, ‘disengaja’ maskapai, kondisi yang dikhawatirkan ciptakan ‘klaster’ baru

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52633690

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA