by

Panggil Saja Aku Ais

Cerpen esai oleh Alin Novina

KOPI, Bandung – Nama aku Aisah Azzahra. Panggil saja aku Ais. Aku anak dari seorang pensiunan pabrik yang sekarang harus bertahan hidup dengan ibu, bapak dan seorang adik perempuanku dari sisa uang pensiunan bapakku yang tidak lebih dari harga sebuah sepeda motor bebek. Sampai aku bisa mendapatkan pekerjaan uang itu jangan sampai habis. Bulan September kemarin aku baru saja lulus sebagai sarjana. Jika harus dihitung untuk bertahan hidup satu tahun ke depan maksimal kita sekeluarga harus memakai uang itu tidak lebih dari Rp 50.000 sehari.

Aku mencoba berjualan makanan instan yang lagi kekinian untuk mencari tambahan ongkos ke sana kemari memasukan lamaran pekerjaan. Belum lagi biaya print surat lamaran kerja, biaya print curriculum vitae, biaya cetak pas foto, biaya terima kasih ke petugas desa dan kepolisian untuk membuat SKCK, biaya cek kesehatan bagiku itu perlu usaha untuk mendapatkan biayanya. Dalam satu lamaran pekerjaan saja kalau semua persyaratan difoto copy aku harus keluarkan uang kurang lebih Rp 5.000 belum amplop cokelatnya juga harus dibeli.

Aku berjualan seblak instan. Aku menjadi salah seorang reseller dari agen seblak instan yang kemasannya seperti pop mie di wilayah Jatinangor Kabupaten Sumedang. Untuk menjadi reseller minimal aku harus membeli 25 cup. Saat akan memulai berjualan aku meminta uang sebesar Rp 500.000 kepada ibu untuk biaya operasional aku mencari pekerjaan selama satu bulan ke depan. Tanpa banyak bertanya ibuku langsung memberiku uang sejumlah yang kuminta bersama doa yang dia sampaikan supaya aku segera mendapatkan pekerjaan. Aku tatap matanya yang penuh harapan namun aku tau ada sekilas kecemasan juga pada dirinya. Salahsatu kecemasannya adalah melepas aku anak perempuannya yang tidak pernah pergi jauh harus berkeliling kota mencari pekerjaan sendiri.

Uang dari ibuku tersisa Rp 125.000 saat aku memulai menjadi reseller dengan melakukan pembelian seblak instan dengan jumlah paling minimal. Satu bulan ke depan aku harus menyiapkan 60 berkas lamaran pekerjaan karena aku memiliki target satu hari memasukkan 2 berkas lamaran pekerjaan. Lagi-lagi aku berhitung jika biaya satu berkas Rp 5.000 dikali 60 saja sudah Rp 300.000 belum lagi ongkos pulang pergi minimal aku harus pegang Rp 25.000. Kalau biaya makan aku cukup hemat karena sering dibekelin ibu. Selain bekal makanan akupun sering membawa minum dari rumah karena kalau beli air mineral botolan di jalan cukup mahal.

Dalam seminggu aku berhasil menjual semua daganganku dengan keuntungan Rp 3.000 per cup. Aku bersyukur setidaknya aku berhasil menguji kemampuan berjualanku. Beberapa hari kemudian aku tertarik berjualan pakaian dan kerudung agar mendapat keuntungan yang lebih besar. Tak sengaja saat aku keliling di Kota Bandung memasukkan lamaran pekerjaan aku melihat grosir pakaian dan kerudung, dari sanalah muncul ide untuk berjualan barang-barang tersebut. Aku mencoba berbicara kepada ibu tentang minatku berjualan dan meyakinkan ibuku jika aku bisa berjualan. Ibuku mengerti maksudku yang tidak hanya menyampaikan keinginanku berjualan namun juga ingin meminta uang untuk modal.

Dengan harapan besar aku bisa mendapatkan rezeki dari berjualan sambil menungggu panggilan kerja ibuku memberikan setengah uang dari sisa pensiunan bapakku yang disimpannya. Jumlah yang tidak sedikit itu ibu berikan dengan tulus padaku. Di sisi lain aku sadar ibuku menaruhkan setengah taun biaya kehidupan keluarga untukku. Semangatku semakin menggelora. Hari Sabtu ini aku akan pergi ke grosir di Kota Bandung itu untuk belanja semua keperluan dagangku.

Sabtu pagi aku begitu semangat untuk segera pergi ke Kota Bandung. Selesai solat Dhuha aku pamit pergi kepada ibu.

“Hati-hati membawa uangnya dan jaga diri baik-baik,” ibuku memberi nasehat sambil aku mencium tangannya.

“Iya bu doakan aku,” lalu aku bergegas.

Aku pergi sekitar jam 10.00 wib menggunakan angkutan umum sampai ke depan kampusku dahulu, lalu melanjutkan menggunakan damri jurusan Kebon Kalapa. Aku turun di depan Masjid Raya Bandung. Karena sudah masuk waktu solat Dzuhur aku solat dulu di Masjid. Di halaman Masjid saya bertemu dengan orang yang dulu sempat bertemu di mobil elf saat akan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menjenguk teman yang sakit. Ini kali keduanya saya bertemu dengan orang itu. Dulu dia kekurangan ongkos di elf dan saya pernah menambahkan ongkosnya. Mungkin dari sanalah dia memngingatku dan menyapaku.

Tidak ada kecurigaan apapun aku terhadap orang itu. Entahlah kadang kala rasa ibaku kepada semua orang yang sedang kesusahan sering kali mematikan kepekaan rasa untuk berhati-hati kepada orang lain termasuk yang baru dikenal. Tak pernah aku memiliki rasa curiga sedikitpun kepada orang yang baru kenal di jalan atau sekedar tegur sapa saat berada di tempat umum. Inilah mungkin kelemahanku yang bisa menjadi celah untuk orang jahat memperdaya. Seingatku sebelum aku masuk ke Masjid dan solat orang itu menawarkanku untuk menitipkan sepatu yang aku pakai sambil dia menyodorkan kantong kresek hitam yang dikeluarkan dari kantong sakunya. Namun aku lupa kata-kata apa yang dikeluarkannya sehingga selain sepatu aku memasukkan juga tas yang aku bawa ke kantong kresek hitam yang cukup besar itu. Lalu aku melangkah ke tempat wudhu dan menyelesaikan solatku. Selesai solat hatiku langsung berdebar kencang tanganku gemetar mengingat tasku yang tidak ada padahal semua barangku di sana. Handphone, uang dari ibuku termasuk dompetku semua raib. Dan orang itupun tidak ada.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un,” ucapku lirih sambil tak kuasa menahan air mata.

Aku lepas mukena lalu bergegas lari ke ruangan pengurus Masjid. Di sana mereka berusaha menenangkanku lalu bercerita jika kejadian seperti ini bukan yang pertama. Orang-orang sering bilang kejadian seperti ini adalah tindakan hipnotis. Di ruangan itu aku seperti orang yang kebingungan. Memang bingung karena untuk keluar mencari orang itu aku tidak ada alas kaki. Untuk pulang aku tidak punya uang karena semua uangku ada di tasku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan para pengurus Masjid yang saat itu ada tiga orang. Satu orang pengurus Masjid memberiku sandal jepit berwarna merah dan dia mengajakku pulang bersamanya menggunakan sepeda motor karena rumahnya satu arah dengan rumahku di Kecamatan Jatinangor.

Setibanya di rumah aku tersungkur mencium kaki ibukku sambil menangis sejadi-jadinya memohon ampun dengan dada yang sangat sesak. Ibuku terdiam dan mengambil nafas panjang. Lalu dia pergi ke dapur memberiku segelas air putih hangat. Kulihat wajah ketabahannya. Membuat hatiku semakin sakit. Air matanya hampir keluar dari sudut matanya namun dia segera menyekanya.

Seminggu berlalu aku mengurung diri di kamar. Mengingat semua kejadian itu membuat aku terus menangis. Samar suara televisi sedang menyiarkan berita tentang sebuah virus yang sedang mewabah di beberapa Negara. Virus tersebut pertama kali muncul di Wuhan, salah satu kota di Cina. Virus tersebut bernama Corona. Dalam berita tersebut belum dikabarkan Corona masuk ke Indonesia. Masih hanya mengabarkan virus ini mengakibatkan banyak korban dibeberapa Negara.

Sebulan dari kejadian di Masjid Raya Bandung mentalku sudah siap untuk kembali berikhtiar mencari pekerjaan lagi. Senin sore aku mendapatkan telepon dari HRD sebuah perusahaan alat kesehatan di wilayah Kopo Bandung untuk melakukan tes psikotes esok hari. Saat menempuh perjalanan aku merasakan perbedaan yang cukup besar. Saat itu jalanan lancar tidak macet seperti biasanya. Aku baru ingat kalau anak-anak sekolah sedang diliburkan untuk pencegahan penularan virus Corona yang sudah sampai ke Indonesia.

Sekolah-sekolah sudah diliburkan dari pertengahan bulan Maret 2020. Beberapa perusahaan sudah ada yang melakukan Work From Home (WFH).

“Ini kok suasana berasa mencekam,” gumamku dalam hati.

“Apa mungkin karena aku baru saja mendapatkan musibah kali ya jadi perasaanku campur aduk,” sambungku dalam hati dan masih belum mengetahui pandemi Corona sudah separah ini.

Beberapa hari ini aku intens mengikuti berita seputar Corona atau disebut juga COVID-19. Di tengah suasana hati yang sedang kacau mengingat rasa bersalahku pada keluargaku aku terus mengikuti beritanya sampai menginstal aplikasi PIKOBAR (1). Sedih, takut, cemas mendengar pasien Corona di Jawa Barat sudah sangat banyak. Menjadi provinsi kedua terbanyak di Indonesia setalah DKI Jakarta.

Empat hari menjelang Ramadan aku mendapat panggilan interview karena tes psikotes kemarin dinyatakan lulus. Namun sekarang tempatnya di Cikutra, masih termasuk wilayah Kota Bandung. Meskipun masih ada trauma sepanjang perjalanan karena angkutan umum yang digunakan sama arahnya ke Kota Bandung seperti arah waktu kejadian dihipnotis, tapi aku berusaha menutupnya dengan semangat akan mendapatkan pekerjaan dan berharap bisa mengganti uang yang hilang.

Di tengah perjalanan tiba-tiba sopir angkot berkata sambil mengeluh kalau sejak sekolah diliburkan dan beberapa pekerja dirumahkan angkutannya sangat sepi. Pagi itu dia bercerita kalau saya penumpang pertamanya karena biasanya setiap pagi banyak yang ke pasar sekarang sepi juga. Diapun mencurahkan ketakutannya soal virus Corona yang menular jika keluar rumah sedangkan dia tetap harus bekerja untuk menafkahi keluarga.

“Kalau saya diam di rumah saja anak istri mau makan apa Neng bingung meskipun takut ketularan juga,” imbuhnya.

Sore hari aku sampai di rumah. Menarik nafas panjang karena sudah menyelesaikan semua urusanku dengan lancar hari ini. Sesudah mandi aku menyalakan televisi. Air mataku merembes melihat berita seorang ibu yang meninggal karena kelaparan selama 2 hari di Banten. Dalam berita menyebutkan untuk mengganjal perutnya, dia beserta 4 anak dan suaminya yang bekerja sebagai pemulung hanya meminum air galon. Wabah COVID-19 berdampak pada perekonomian termasuk keluarga ini. Suaminya tidak bisa bekerja selama pandemi sehingga tidak mendapatkan penghasilan yang biasanya dia dapatkan dari hasil memulung sebesar Rp 25.000 per hari (2).

Hari pertama Ramadan aku merasakan suasana yang sangat teramat berbeda dari Ramadan sebelumnya. Malam hari Masjid sepi tidak ada taraweh berjamaah. Sore hari jalanan sepi tidak ada orang-orang ngabuburit seperti biasanya. Aku sangat butuh ketenangan untuk mengobati rasa sakit atas musibahku kemarin sebelum Ramadan. Aku rindu suasana taklim di Masjid-Masjid. Masjid tempatku biasa mencari ketenangan untuk sementara hampir semua ditutup. Begitupun dengan Pesantren. Mungkin tidak akan sembarangan menerima orang luar dalam kondisi seperti sekarang ini. Padahal ingin rasanya aku pergi ke Pesantren untuk sekedar mendengarkan tausiyah dan alunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang dibaca oleh santri-santri.

Hari kedua Ramadan aku mendapatkan telepon lagi dari HRD perusahaan alat kesehatan yang menyampaikan kalau aku diterima bekerja di sana dan mulai hari Senin sudah bisa bekerja. Sangat senang rasanya mendapatkan rezeki di tengah musibah ini. Senin pagi aku langkahkan kakiku untuk bekerja di hari pertamaku. Namun saat keluar gang aku melihat jalan raya sangat sepi dan kendaraan umum pun belum terlihat.

“Yaa Allah aku baru ingat Bandung Raya sedang PSBB (3) adakah kendaraan untukku?” tanyaku dalam hati (lesu).

1. Aplikasi PIKOBAR (Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat)

2. Selain dari televisi informasi juga didapatkan dari sumber media online https://wartakota.tribunnews.com/2020/04/22/kelaparan-warga-banten-sebelum-meninggal-dunia-ibu-yuli-memelas-sudah-dua-hari-tidak-makan

3. PSBB singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar sebagai upaya Pemerintah dalam penganggulangan dan pencegahan penularan virus Corona yang semakin meluas di Indonesia.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA