by

Menjelang Malam Takbiran

Cerpen esai oleh Yerwinda Kulua

KOPI, Bogor – “Ayoo Abang… cepatlah, nanti keburu hujan.” Suara Gani menyeru cukup keras kepada abangnya, Danang. Sejak pagi mereka sudah merencanakan untuk ke kebun mencari bamboo untuk dibuat mercon bumbung. Ini hari terakhir di bulan Ramadhan, mereka berdua ingin tetap dapat menikmati malam terakhir bulan puasa tahun ini dengan penuh suka cita. Gani, anak bontotku yang baru berusia 9 tahun itu memang sedang senang-senangnya memainkan permainan yang cukup menantang adrenalin, mendengarkan letusan dan ledakan mercon bumbung (1).

“Tunggu bentar lagi, neh sedang cari topi rimba entah dimana Abang simpan lalu, huh!” Danang yang sedikit sedikit temperamental itu menjawab sambil menggerutu. Sifat anak keduaku yang berusia 4 tahun lebih tua dari Gani memang agak kurang tertib, terutama dalam hal menaruh barang-barangnya. Tidak jarang ia terlambat ke sekolah atau ke suatu acara pertemuan teman-temannya hanya gara-gara mencari sepatunya yang entah ditaruh dimana saat dilepaskan.

“Ma, kami pergi bentar ke kebun ya,” kata Danang pamit.

“Yaa, hati-hati dan cepat pulang ya Nak,” jawabku sambil berpesan agar tidak berlama-lama di kebun.

Akhirnya kedua anak itu hilang dari pandanganku setelah pamit mau ke kebun kami yang ada cukup berjarak dari pinggiran desa kami. Almarhum ayah saya meninggalkan sebidang tanah yang cukup luas sebagai ladang palawija di masa hidupnya. Hamparan kebun itu kebetulan dialiri sungai yang lumayan besar untuk ukuran desa kami. Sekira 10 meter lebarnya, dengan kedalaman 1 hingga 2 meter di sepanjang lahan kakeknya anak-anakku. Di beberapa bagian aliran sungai itulah, pinggirannya dipenuhi pokok-pokok bambu yang tumbuh subur dan besar-besar (2).

Sebenarnya, kepergian kedua anakku ke ladang agak merisaukan hatiku. Walaupun kami hanya warga desa, namun informasi tentang merebaknya Virus Corona dalam beberapa bulan ini cukup membuat galau masyarakat desa. Apalagi, desa kami yang terletak di jalur utama Pantai Utara Jawa (Pantura), sehingga ramai lalu-lalang orang dari kota ke kota lainnya, dari barat ke timur. Desa tetangga kami satu kecamatan Bantarkawung, malahan sudah di-lockdown sejak dua mingguan lalu karena beberapa warganya positif terpapar Virus Corona (3). Oleh karena itu, saya cukup khawatir jika anak-anak dan suamiku keluar rumah, walau hanya sebentar ke pinggir jalan besar di seberang masjid sekira 100 meter dari rumah kami.

“Semoga tidak terjadi apa-apa, yaa Allah lindungi anak-anakku,” kataku dalam hati menenangkan diri.

-000-

“Awaaassss Bang!” teriak Gani sekeras-kerasnya. Suaranya seketika tercekat, terpaku di tempatnya. Tubuhnya mulai bergetar mengginggil seperti ketakutan.

“Ada apa?” tanya Danang sambil terus memotong pokok bambu yang ingin dibawanya pulang untuk membuat mercon bumbung. Ia sibuk dengan tugasnya menumbangkan sepokok bambu tua berukuran diameter batang cukup besar. Parang yang dipakai memotong bambu cukup tajam, namun karena bambunya sudah tua maka tingkat kekerasan batangnya cukup menyulitkan bagi Danang memotongnya dengan cepat.

Sejurus kemudian, Danang terkesiap juga. Tidak terdengar suara adiknya lagi. Ia bangkit segera dan mencoba melihat ke arah adiknya tadi berdiri. Terlihat Gani berdiri seperti patung tidak mampu bergerak. Mata dan raut wajahnya menyiratkan rasa ketakutan yang luar biasa. Keringat dingin membasahi tubuh kecil anak itu.

Danang segera sadar. “Ada sesuatu yang tidak beres neh,” batinnya. Ia segera berlari ke arah Gani. Setelah dekat, iapun terkejut alang kepalang. Seekor ular sanca seukuran kira-kira 5 meter dengan badan diamerter sekira 15 centimeter sedang bergerak mendekati Gani. Adiknya itu hanya dapat melihat saja tanpa bisa bicara dan melangkah selangkahpun. Gani seakan terhipnotis, tiada mampu berbuat apa-apa. Pasrah!

Melihat situasi yang menegangkan itu, Danang mencoba menengankan dirinya agar tidak gegabah dalam bertindak. Ia sadar, adiknya dalam bahaya besar. Dan ia harus segera bertindak untuk mengatasi situasi. Tidak banyak waktu, harus segera melakukan sesuatu.

“Tenang dik, jangan bergerak ya,” suara Danang memecah kepanikan kedua adik-beradik itu.

Mendengar abangnya sudah berada di dekatnya, Gani sedikit tenang dan mulai bersemangat. Jiwanya yang tadi seakan hilang dari tubuhnya kini kembali ke dalam raganya. Tenaganya pun berangsur meningkat dan pikiran kosongnya sudah terisi. Beberapa ide mulai muncul di kepalanya.

Namun, pesan abangnya untuk tetap diam jangan bergerak harus dipatuhi. Sebab, salah gerak bisa berakibat fatal.

Danang yang sudah dekat dengan membawa sepotong kayu yang banyak berserakan di tempat itu, secepat kilat mengibaskan kayunya ke arah kepala ular sanca itu. “Brak… brak… brak…!” terdengar suara gebrakan kayu seukuran tangan orang dewasa menghajar ke arah kepala ular besar itu.

“Gani lari..!!” perintah Danang sambil terus menghajar ular yang mengancam hidup adiknya. Gani tidak menunggu aba-aba kedua kali, dia segera mengambil langkah seribu, menjauh tempat dia berdiri tadi.

Melihat mangsanya sudah kabur, dan bahkan dihempas perlawanan oleh sang kakak si mangsa, akhirnya ular itu segera berbalik dan menghilang di balik rimbunan pohon bambu di pinggir sungai. “Wah, meleset… tidak kena pukulanku, ular sialan!” kata Danang dalam hati sambil mengomel. “Tapi yang paling penting adikku selamat,” ujarnya kemudian mengambil hikmah dari kegagalan membunuh ularnya.

“Bang Danang, kita pulang saja yuk, tidak usah diteruskan ambil bambunya,” Gani memberikan usul setelah mereka menjauh dari lokasi berbahaya itu.

“Kita ambil bambunya di pokok yang di sebelah sana saja, gimana?” kata Danang mengusulkan. Sebenarnya, dia hanya ingin memastikan bahwa adiknya benar-benar ingin menyudahi usaha mereka untuk mengambil bambu dan membuat mercon bumbung. Dia tahu adiknya itu paling senang memainkan mercon bumbung di malam lebaran. Sebagaimana tahun-tahun lalu, Gani bisa tahan membunyikan mercon bumbung hingga jauh larut malam.

“Gak usah, kita pulang saja. Mungkin juga di sana ada ular atau binatang berbahaya lainnya,” sergah Gani.

Danang akhirnya setuju. Mereka pulang.

Di perjalanan, Danang membatin. Kebunnya sudah hampir 3 bulan tidak dijamah, tidak dikunjungi, tidak diolah. Semua orang di rumah saja. Termasuk ayah dan ibu hanya di rumah. Walau ayah-ibu punya usaha tokoh kelontong di rumahnya, namun masih cukup sering ke kebun, terutama di akhir pekan. Hari-hari normal biasa, kebunya cukup bersih, tanaman banyak yang bisa dipetik untuk dimasak sehari-hari. Di masa pandemic Covid-19 ini, kebun terbengkalai. Ular dan binatang liar berkembang di kebun dan membahayakan anak-anak.

Danang kemudian teringat berita tentang warga di Sulawesi Tenggara bebeapa tahun lalu. Seorang ibu akhirnya harus tewas ditelan ular sanca sepanjang 7 meter (4). Hiiyyy… dia bergidik membayangkan hal itu terjadi pada adaik atau dirinya.

“Ayo Dik, percepat jalannya. Nanti kita dikejar ular itu!” kata Danang sambil memacu kecepatan langkahnya agar diikuti adiknya.

-000-

“Alhamdulillah, mereka sudah tiba,” kataku dalam hati seketika melihat Gani dan Danang dari kejauhan menuju rumah. Mereka terlihat bergegas, seakan ingin segera tiba di rumah. “Semangat sekali mereka berdua ini,” aku terus membatin.

Setelah agak dekat, aku jadi merasa ada yang aneh. “Katanya mau ambil bambu untuk mercon bumbung, tapi kok tidak bawa apa-apa?” tanyaku dalam hati. “Hemm… mungkin terlalu besar dan berat sehingga mereka berdua tidak mampu memikiulnya,” pikiranku ngelayap kemana-mana.

“Mana bambunya?” tanyaku setelah mereka tiba di rumah. “Main merconnya tidak jadi Ma,” sahut Gani cepat.

“Kenapa begitu?” tanyaku singkat meminta penjelasan. Gani diam saja. Dia terus saja bergegas masuk ke rumah, membuka pakaian dan mandi. Setelah itu dia duduk santai di beranda teras rumah. Mungkin dia masih sedang menuntaskan rasa ketakutan yang masih tersisa, dia kemudian asyik hanyt dengan permainan game offline di hapenya.

Aku akhirnya mencoba menanyakan ke anak lelakiku Danang tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan hati-hati, Danang menceritakan kejadian yang baru saja menimpa keduanya. “Alhamdulillahirobilalamin… Terima kasih ya Allah, Engkau sudah menjaga anak-anakku dari bahaya yang akan mencelakai mereka, Alhamdulillah…” doaku meluncur seketika mengetahui peristiwa sebenarnya.

Kulihat Gani, semakin tenang, ia mulai sibuk dengan permainnya dan sesekali terlihat senyum hingga tertawa kecil. “Semoga lekas stabil kembali jiwa anakku ini,” harapku dalam hati.

“Danang… mandi gih cepat, nanti bantu mama. Pergi beli kembang api di pasar yaa,” pintaku kepada Danang. “Untuk apa ma?” tanyanya. “Ya, nanti ajak main kembang api saja adikmu di halaman untuk menyemarakkan Malam Lebaran (5), sambil mendengarkan kumandang takbir dari masjid depan,” jawabku.

Kembali kutengok ke arah Gani. Dia masih asyik dengan game offline-nya. “Semoga Ramadhan tahun depan masih menjadi milik kita Nak, dan semoga juga pandemic ini segera berakhir, engkau bisa main mercon bumbung di malam lebaran tahun depan.” Aku terus membatin sambil berdoa dalam hati. []

Catatan kaki:

1. Mercon Bumbung, Permainan Populer Saat Ramadan era 90an yang Ternyata Punya Kisah Heroik. https://www.boombastis.com/kisah-di-balik-mercon-bumbung/262744

2. Mengapa pohon bambu banyak ditanam di pinggir sungai dan lereng? https://id.quora.com/Mengapa-pohon-bambu-banyak-ditanam-di-pinggir-sungai-dan-lereng

3. Warga Positif Corona, 6 Desa di Bantarkawung Lockdown. https://www.suaramerdeka.com/regional/pantura/227116-warga-positif-corona-6-desa-di-bantarkawung-lockdown

4. Nasib Tragis Wanita Ditelan Ular Sanca Bulat-bulat di Sultra. https://news.detik.com/berita/d-4069897/nasib-tragis-wanita-ditelan-ular-sanca-bulat-bulat-di-sultra

5. 5 Kegiatan Malam Takbiran di Rumah, Hangatkan Kebersamaan Bersama Keluarga. https://www.merdeka.com/jateng/5-kegiatan-malam-takbiran-di-rumah-bersama-keluarga-bisa-hangatkan-kebersamaan-kln.html

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA