by

Bau Amis Portal Mudik

Cerpen Esai oleh Rika R. Johara

KOPI, Ciamis – “Teng…teng…teng…!” suara tiang listrik dipukul berkali-kali. Regu ronda saat ini sedang aktif menjaga wilayah. Karena banyak berita di media sosial yang mengabarkan ‘musim maling di tengah pandemi’, terlebih lagi banyak warga di dusun tetangga yang kemalingan. Ada yang malingnya tertangkap dan diamuk masa hingga wajahnya bonyok, ada pula yang hanya berita, karena barang dan maling tersebut lenyap dari pengejaran.

Hal itu membuat semua orang waspada. Warga dusun membagi tugas ronda, khususnya laki-laki dewasa. Untuk berjaga dari pukul 9 malam sampai pukul 3 pagi menjelang waktu sahur. Satu regu ronda terdiri dari 5-6 orang.

Tapi beberapa malam ini ada peristiwa lain. Sedikitnya, ada dua minibus atau elf yang masuk ke dusun pada tengah malam. Padahal, dalam masa pandemi, semua orang diwajibkan untuk berdiam diri di rumah. Tidak boleh ada migrasi. Terlebih lagi bagi daerah yang diberlakukan PSBB, pembatasan sosial bersekala besar. Angkutan umum tidak beroperasi. Dan warga dilarang mudik (1).

Mudik, mulih dhisik, pulang dulu atau pulang sebentar, ada pula yang mengartikan pergi ke udik, ke kampung, merupakan budaya menjelang lebaran (2). Seperti yang terjadi malam ini, sebuah minibus masuk ke area dusun. Dan ternyata sebuah mobil sewaan salah seorang warga yang baru datang dari kota. Para peronda pun menghampiri. Pemudik kaget. Lalu terjadilah percakapan diantara mereka yang kemudian menghadirkan Pak Lurah.

“Saudara tahukan aturannya (3)? Tidak boleh mudik. Apalagi saudara dari zona merah. Sekarang ini waktu yang bahaya. Kemarin Pak Achmad Yurianto di Tv mengumumkan jumlah orang yang terinfeksi ada 973 orang (4). Apalagi kita tidak tahu, saudara bersih atau tidak.” Pak Lurah menerangkan dengan suara yang keras sehingga terdengar seperti orang yang sedang marah. Karena ia menggunakan masker dan berjarak sedikitnya satu meter dengan orang yang baru saja turun dari mobil tersebut.

“Saya tahu Pak Lurah, tapi saya ini lajang, dan tidak setiap tahun saya bisa pulang lebaran. Kebetulan tahun ini pekerjaan saya longgar, saya bisa pulang kampung, ketemu Bapak sama Emak. Jadi mohon keringanan dari Pak Lurah dan Bapak-Bapak sekalian.” Jawab orang tersebut. Lalu tangannya menyelipkan selembar uang kertas kedalam sebuah bingkisan paper bag. Gerakan tersebut sangat terang, sehingga Pak Lurah dan para peronda bisa melihat dengan jelas. “Ini sedikit oleh-oleh, buat nemenin ronda”. Sahutnya sambil menyodorkan bingkisan tersebut.

Pak Lurah menyambar bingkisan, sembari berkata. “Ya sudah, saudara boleh tinggal disini. Tapi ingat, besok saudara harus lapor ke balai desa dan mengisolasi diri di rumah selama 14 hari (5). Jika dirasa tidak enak badan, segara melapor kepada saya.” Lalu Pak Lurah berjalan beberapa langkah mendekati pemudik. Dengan agak berbisik ia berkata, “Agar aman dan lancar, besok saya antar ke balai desa, jangan lupa administrasinya.” Pak Lurah menjentikan jarinya pada kata terakhir.

Malam berikutnya, regu ronda yang lain giliran berjaga. Mereka membicarakan peristiwa malam sebelumnya.

“Gila! Kata pemudik semalam, dia borong mobil dari Jakarta ke sini satu juta setengah, yang biasanya cuma dua ratus ribu perorang kalau naik travel (6)!”

Eits, jangan salah, banyak yang minat. Si Mamat, sopir elf yang ke Bandung, hampir tiap hari dia nerima borongan.”

“Iya bener, sekarang banyak travel gelap (7), oprasinya malem-malem”

“Kalo siang takut ketangkep terus disuruh puter balik.”

“Ih..tapi serem juga ya, bagaimana kalau penumpangnya itu korona? Bahaya itu, bisa bawa penyakit!”

Lah zaman sekarang mah yang penting banyak duit. Soal mati mah urusan Allah!”

“Hey! Hey! Sssttt! Lihat, ada cahaya mobil kearah sini. Jangan-jangan pemudik lagi!” Para peronda menghentikan obrolan mereka. Mereka langsung berlari ke arah portal, yang dibuat dari besi dan dicat hitam putih. Palang portal tersebut dapat dibuka dan ditutup dengan cara digerek lalu diikat ujungnya pada tiang. Dan pada ujung lainnya terdapat pemberat dari beton.

Sebuah mobil elf berhenti di depannya. Mereka menghampiri kaca mobil supir yang perlahan terbuka. Para peronda menggunakan masker yang sedari tadi hanya terikat di leher.

“Maaf pak, mau kemana?” tanya salah seorang peronda.

Kemudian seseorang dari kaca belakang supir menjawab. “Pak Ade, saya Mae sekeluarga, mau ke rumah ibu saya, Pak! Ini ada rokok sedikit buat nemenin ronda!” Sahutnya seraya menyodorkan satu bungkus rokok filter.

“Ouh, Neng Mae, iya…iya silahkan!” Peronda itu mengambil rokok yang disodorkan, dan memberi isyarat kepada peronda lain untuk membuka palang portal.

Malam berikutnya, regu ronda yang lain sedang berkeliling sambil bercakap-cakap.

“Sudah dengar intruksi dari Pak Lurah? Katanya aturan untuk pemudik harus diperketat, jangan sembarang masuk.”

Emangnya apa aturannya?”

“Saya juga tidak tahu, Pak! Gak jelas juga aturannya. Katanya dilarang mudik, tapi kok ada yang bisa mudik. Terus katanya harus bawa surat, kalau bawa mau diapakan suratnya, terus kalau tidak bawa, mau dibagaimanakan orangnya. Lagian angkutan umum juga udah mulai oprasi lagi (8).”

“Kayaknya tergantung kebijakan kepala daerahnya aja ya, kita mah ikutin aja lah! Kalo ada yang datang terus ngasih (9), ya terima aja, habis itu kasih arahan suruh ke Pak Lurah, biar Pak Lurah yang ambil tindakan” sahut salah seorang peronda.

“Wah betul juga kata Si Mamang ini, tapi jangan rokok-rokok doang.” timpal peronda yang lain.

Setelah selesai berkeliling, mereka berjaga di portal depan, di jalan masuk ke dusun. Waktu menunjukan tengah malam. Tak lama, dari kajauhan, nampak cahaya lampu mobil. Lalu berhenti di depan palang portal. Peronda mendekati.

“Maaf, Bapak dari mana mau ke mana?” tanya salah seorang peronda.

“Pak, saya anaknya Pak Haji Mansyur, mau ke rumah bapak saya. Ini ada rokok buat nemenin ronda!” jawab salah seorang penumpang mobil.

Duh, maaf, Pak. rokok mah kami sudah punya. Kata Pak Lurah, tidak boleh ada pemudik yang masuk. Takut bawa virus. Bapak dan keluarga harus laporan dulu ke desa.” sahut peronda yang lain.

“Oh gitu ya… sekarang kan tengah malam, aparat desa nya juga pasti sudah pada tidur di rumahnya, bagaimana kalau saya dan keluarga lapor ke desanya besok pagi, dan ini sedikit buat beli kopi.” Pemudik itu menyelipkan uang kertas berwarna merah ke peronda tadi. Kemudian ia langsung tancap gas mobilnya setelah palang portal terangkat.

Malam berikutnya lagi. Kali ini Pak Lurah ikut meronda. Ia sudah menyiapkan tim khusus diluar regu ronda, yang sengaja di tempatkan di portal depan. Menjelang tengah malam, cahaya mobil masuk menyinari jalan dusun yang di palang portal. Pak Lurah dengan menggunakan masker menghampiri mobil tersebut.

“Sudah tahu aturannya? Dilarang mudik!”

“Aduh maaf, Pak. Kasihani saya dan keluarga, Pak. Saya di PHK. Di kota tidak ada kerjaan, tidak bisa makan. Kami cuma punya uang buat sewa mobil. Jadi terpaksa kami mudik.” Sahut salah seorang pemudik yang menyengajakan turun dari mobil.

“Tidak bisa. Bapak dan keluarga harus lapor dulu ke balai desa sebelum masuk ke dusun.” Pak Lurah membentak dengan galak.

Kemudian istri dari pemudik itu turun dari mobil. Ia menghampiri suaminya dan Pak Lurah. “Iya, Pak, kami akan lapor ke desa, tapi malam ini tolong izinkan kami pulang ke rumah orang tua kami, kasihan anak-anak sudah kelelahan.” Sahutnya sembari menyodorkan kantong keresek berisi macam-macam kue. “Sedikit, buat nemenin ronda”, sahutnya lagi.

Hmmm…” Pak Lurah tampak berfikir. “Baiklah, atas rasa kemanusiaan, kalian boleh masuk, dan besok pagi saya antar ke balai desa. Dan agar semuanya aman dan lancar, siapkan juga administrasinya,” Pak Lurah mengedipkan matanya. “Sekarang mobil dan isinya harus disemprot disinfektan dulu, biar tidak bau amis biayanya dua puluh ribu!”

Tanpa banyak kata, pemudik pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Lurah. Mobil, isinya, dan penumpangnya disemprot cairan berbau karbol (10).

Selang beberapa jam, datang lagi mobil ke depan portal dusun. Pak Lurah menginstruksikan hal yang sama. Dan penumpang pun memberikan pelicin agar portal terangkat. Kemudian dibebani biaya tambahan untuk penyemprotan disinfektan. Bahasanya masih sama: “Agar tidak bau amis!”

Malam itu ada tiga mobil asing masuk ke dusun, baik mobil pribadi ataupun sewaan.

Malam selanjutnya, sebelum berjaga, Pak Lurah mengumumkan aturan baru bagi pemudik.

“Baiklah, pemudik boleh masuk ke dusun kita di malam hari. Asalkan mereka sehat. Dan disemprot disinfektan sebelum masuk ke dusun. Harga penyemprotan masih sama, dua puluh ribu, tapi biaya tersebut untuk nyemprot satu orang, belum termasuk mobil. Untuk semprot mobil kita beri harga lima puluh ribu. Jadi, kalau ada empat orang dalam satu mobil, dikenakan biaya semprot seratus tiga puluh ribu. Dan jangan lupa, besok paginya mereka harus melapor ke balai desa, dan harus saya antar, agar lancar dan aman”

Diam-diam, Pak Lurah menghimbau warga yang berada di kota untuk mudik di malam hari. Katanya, biar aman. Dan kejadian ini terus berlanjut hingga menjelang lebaran.

Panjalu, 6 Mei 2020

Catatan kaki:

1. https://nasional.kompas.com/read/2020/04/21/11163681/ini-alasan-jokowi-tetapkan-larangan-mudik-untuk-seluruh-masyarakat

2. https://nasional.kompas.com/read/2018/06/07/09311731/mudik-mulih-dhisik-kembali-ke-udik

3. https://money.kompas.com/read/2020/05/01/131000426/mudik-tetap-dilarang-kemenhub-akan-keluarkan-aturan-turunan

4. Kamis, 21 Mei 2020

5. http://p2ptm.kemkes.go.id/dokumen-ptm/infografis-protokol-isolasi-mandiri-covid-19

6. https://republika.co.id/berita/qaogly436/travel-gelap-pasang-harga-empat-kali-lipat-angkut-mudik

7. https://www.kompas.tv/article/80981/travel-gelap-jadi-bisnis-mudik-saat-corona-jualannya-di-medsos

8. https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/19/06240461/pengamat-aturan-pemerintah-terkait-mudik-lebaran-membingungkan-masyarakat?page=3

9. https://www.motorplus-online.com/read/252139965/pemudik-gelap-bisa-lolos-pemeriksaan-rawan-suap

https://www.medcom.id/ramadan/info-mudik-ramadan/5b2XJ44K-bau-amis-di-pos-pemantauan-mobilisasi-orang

10. https://kumparan.com/kumparanoto/cegah-corona-perlukah-semprot-disinfektan-ke-bodi-mobil-1t9RndsB7Va/full

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA