by

Ramadhan dalam Bayangan Corona

Cerpen esai oleh Ashriady

KOPI, Mamuju – Di saat semangat menabur benih mulai meninggi, ketika kaki hendak mencapai puncak bulan yang berkah, engkau masih saja membayangiku. Menyapa manusia dengan sedikit ketakutan dan kekurangan, merumahkan ibadah berjamaah, mencabut nikmat bertatap muka dengan sanak saudara bahkan tak sedikit engkau telah menjadi wasilah pada persitiwa yang semua makhluk bernyawa akan menemuinya. Ya Rabb, … hanya kepadaMulah kami memohon perlindungan.

Hampir separuh perjalanan Ramadhan yang berkah ini telah mengisi kegundahan hati kaum muslimin diakibatkan musibah Corona. Sebuah peristiwa yang hampir semua kaum muslimin di dunia baru kali ini merasakannya. Amalan ibadah di Bulan Suci seperti shalat tarawih berjamaah di Masjid, buka puasa bersama, i’tikaf, tahun ini semunya di rumah saja. Hampir dipastikan tidak ada suasana takbiran keliling dan bahkan yang paling menyedihkan di momen yang fitri, shalatnya di rumah saja bersama keluarga tanpa salam-salaman dan saling mengunjungi.

Ramadhan kali ini tanpa persiapan baju baru. Baju yang dibeli tahun kemarin, masih tersimpan rapi dalam almari kayu. Bagiku, baju itu sudah cukup jika ingin digunakan untuk melaksanakan shalat di Hari Raya Id nanti. Selama Bulan Ramadhan ini, anak-anak belum pernah meminta untuk dibelikan baju baru yang biasanya baju ini akan dikenakan ketika shalat Idul Fitri berjamaah di rumah nenek. Kelihatannya mereka telah menyadari bahwa lebaran kali ini tanpa pulang kampung.

Selama pandemi corona melanda, si kecil lebih fokus dengan aktifitas sekolah yang diberikan ustadzah (baca: guru) melalui grup WhatsApp. Memasuki bulan penuh berkah, sekolah pun diliburkan. Perhatian mereka beralih ke Program Ramadhan Ceriaku, sebuah program yang berisi panduan bagi orang tua untuk mendampingi anak mengisi waktu di bulan suci yang ditujukan untuk anak usia sekolah usia 6-7 tahun ke atas (1).

Alhamdulillah dengan panduan ini, program ramadhan si kakak pertama dan kedua lebih tertata. Setiap hari nampak mereka bersemangat untuk mengisi aktifitas di Bulan Ramadhan selain berpuasa. Aktifitas yang dimaksud seperti melaksanakan sholat lima waktu, membaca Qur’an, tarawih serta melakukan amal baik. Dua kakak beradik ini senantiasa berlomba agar daftar kegiatan mereka tidak disilang sedikit pun oleh ummi sebagai pengawas mereka pada program ini.

Pernah sesekali si kakak sulung mengalami kesiangan, akhirnya daftar kegiatan pada bagian sahur dan puasa harus di coret oleh ummi. Nampak kekecewaan dari raut wajahnya, tapi dengan kondisi tanpa makan sahur, si kakak tidak mampu menahan puasanya sampai waktu berbuka. Sejak kejadian tersebut, saat dibangunkan di waktu sahur, si kakak selalu terdepan berada di hadapan santapan makanan yang disiapkan ummi.

Sebuah pelajaran bermakna bagi orang dewasa untuk lebih bersemangat melakukan aktifitas ibadah di Bulan Ramahan ini. Jika seorang anak kecil berumur 7 tahun dapat mengambil pelajaran dari kesalahan yang telah diperbuatnya, maka seyogyanya kita sebagai orang dewasa berusaha untuk tidak terjatuh dalam kelalaian melakukan ibadah terutama di bulan yang penuh berkah ini.

Sejak awal merebaknya virus corona di negeri ini, anak-anak kami tidak pernah keluar rumah. Kecuali jika mendapatkan tugas khusus dari ummi untuk menyiram bunga dan tanaman yang ada di teras rumah, namun mereka tidak keluar dari pagar rumah. Sebagai orang dewasa tentu kita bisa membayangkan, bagaimana sumpeknya perasaan mereka. Akhirnya rumahlah yang disulap menjadi tempat permainan yang mereka bisa atur sesuai kreatifitasnya.

Coretan di dinding rumah pun semakin beragam model dan warnanya. Sebagai orang tua harus banyak bersabar untuk mengarahkan si anak dalam kondisi wabah seperti ini, serta tetap berusaha agar mereka tidak merasa terkurung di dalam rumah. Selain fokus pada program ibadah ramadhan, mereka juga diarahkan dalam kegiatan mewarnai gambar. Menurut informasi, kegiatan mewarnai objek gambar sarat dengan manfaat bagi perkembangan keterampilan gerak halus anak (2).

Mereka memilih tokoh kartun superhero dunia untuk diwarnai, seperti; superman, batman, spiderman, hulk, iron man, captain america, dan lain-lain (3). Hari ini baru saja memasuki ke-15 Bulan Ramdhan, tetapi hampir separuh dinding kamar telah ditempeli gambar para superhero itu dengan aksi dan warna khasnya masing-masing. Kondisi kamar tidur layaknya bioskop pementasan film di tahun 90-an. Kondisi seperti ini kelihatannya telah mengalihkan perhatian mereka terhadap keinginan mendapatkan baju baru di hari lebaran.

Bagiku sebagai kepala rumah tangga, pembeli baju baru ini lebih baik disimpan untuk menambah uang cicilan rumah yang akan disetor Bulan Juli nanti. Dalam kondisi wabah yang berkepanjangan ini, keluarga kami pun ikut merasakan dampak secara ekonomi. Memasuki bulan ke-lima biasanya lebih dari separuh uang pembayaran cicilan rumah kami telah terkumpul, tetapi kelihatannya tahun ini kondisinya berbeda. Uang Tunjangan Kinerja (Tukin) 13 dan THR yang biasanya menutupi kendala tersebut, tahun ini harus pupus dengan adanya efisiensi anggaran dan belanja pegawai.

Keluarga kami yang hidup dari penghasilan sebagai ASN tentunya tidak separah dengan apa yang dirasakan oleh sebagian masyarakat karena wabah corona ini. Akhir-akhir ini naluri kemanusiaan kita tersentak mendengar pemberitaan di salah satu media nasional. Sebuah keluarga di Mamuju, Sulawesi Barat berusaha bertahan hidup dengan hanya mengkonsumsi singkong (ubi kayu). Dengan adanya pandemi Covid-19, Rusdin sebagai kepala keluarga terpaksa tidak bisa bekerja lagi mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga (4).

Apabila kita mengikuti perkembangan media informasi terkait musibah ini, maka kasus yang terjadi di Kota Mamuju ini bukanlah yang pertama atau pun yang terakhir sebagai dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat. Beberapa pemberitaan seringkali menyampaikan informasi tentang kematian yang diduga karena kelaparan yang bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Seorang sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Imam Prasodjo mengatakan bahwa dengan terpuruknya perekonomian warga akibat wabah virus ini, jangan sampai muncul musibah baru yakni, masyarakat yang kelaparan (5). Tentu hal ini tidak kita harapkan, belum usai kegelisahan masyarakat dengan jumlah kasus positif yang selalu bertambah, kini muncul masalah ekonomi masyarakat.

Anjuran pemerintah agar senantiasa bertahan di rumah demi pencegahan penularan virus mematikan ini, ternyata telah membuat beberapa aktifitas pekerjaan untuk penghidupan keluarga terhenti. Terutama mereka yang berprofesi sebagai buruh harian, tukang ojek, narik becak, usaha penjual makanan, buruh lepas atau pekerjaan tidak tetap lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, tentu naluri kemanusiaan kita terpanggil. Bulan Ramdhan adalah tempat beramal yang tidak hanya bisa diisi dengan ibadah yang sifatnya individul tetapi juga ibadah sosial. Mungkin ada tetangga-tetangga, teman-teman dekat atau bahkan saudara-saudara dekat kita membutuhkan sedikit uluran tangan demi menyambung sedikit nafas panjang menghadapi musibah ini.

Beberapa hari yang lalu, kami dikabarkan bahwa teman pengajian ummi saat ini dalam kondisi krisis. Keluarga mereka serba kekurangan, butuh sedikit sentuhan walau hanya sekedar kebutuhan pokok untuk makan keluarga. Petang ini kami kembali menerima pesan singkat dari salah seorang teman, bahwa seorang teman dekat kami saat ini dalam kondisi terpuruk, pekerjaannya tidak jalan sebagai dampak wabah corona.

Tak terasa air mata ini menetes, Ya Rabb, … di bulan yang penuh berkah ini engkau telah menguji orang-orang pilihan yang menurut engkau pantas untuk diuji. Aku sangat mengetahui bahwa saudaraku yang terpuruk ini, sangat tidak ingin merepotkan orang lain. Keluarga mereka sangat berat untuk terbuka tentang kondisi keluarganya, walaupun dengan teman dekat sendiri. Semoga Allah segera membuka rezekinya dan menggerakkan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk ikut mengurangi bebannya.

Mungkin ini hanya secarik kisah dari beberapa masalah ekonomi yang melanda negeri ini. Ratap pilu anak negeri yang mulai kelaparan di negeri sendiri harus senantiasa dimotivasi agar lebih kreatif dalam berimajinasi. Saat-saat sulit seperti ini, tentu selain dukungan dari para pengambil kebijakan, yang paling penting adalah keinginan untuk saling memahami, saling bergotong-royong, saling memotivasi kreatifitas agar mereka yang terpuruk segera bangkit.

Sebesar apapun masalah itu, jika dipikul bersama maka akan menjadi ringan. Yakinlah dengan janji Allah Subhanahu Wata’ala bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya (6). Mari kita manfaatkan momentum ramadhan ini untuk banyak berinteraksi dengan Allah dalam kesendirian kita. Mendoakan kemudahan bagi orang-orang yang mengalami kesulitan di masa wabah ini, banyak membujuk Allah agar musibah corona ini segera diangkat. Bukankah di bulan yang agung ini telah disediakan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.

Mamuju ba’da sahur, 08 Mei 2020

Catatan (Foot-note)

(1) Book Ramadhan for Kids. http://dp3akb.jabarprov.go.id/download-ebook-ramadhan-for-kids/

(2) Manfaat Mewarnai Bagi Anak.https://www. kompasiana.com/galengsong/ 5c2b86406ddcae11351e5364/ manfaat-mewarnai-bagi-anak

(3) 10 Superhero Terpopuler di Dunia Sepanjang Masa.https://www.koalahero.com/toplist/10-superhero-terpopuler-di-dunia-sepanjang-masa/

(4) Hanya Makan Singkong, Warga Mamuju Diberi Bantuan dari Donasi Konsumen. https://fajar.co.id/2020/05/07/hanya-makan-singkong-warga-mamuju-diberi-bantuan-dari-donasi-konsumen/

(5) Musibah Kelaparan Melanda Dunia di Tengah Pandemi Covid-19.https://nasional.okezone.com/read/2020/04/24/337/2204105/musibah-kelaparan-melanda-dunia-di-tengah-pandemi-covid-19

(6) Allah SWT Tidak Membebani Seseorang di Luar Kemampuannya.http://www.dakwatuna.com/2008/07/21/829/allah-swt-tidak-membebani-seseorang-diluar-kemampuannya/#ixzz6LsR1sQ9l

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA