by

Yang Mudik, Yang Mudeng*

Cerpen esai oleh Yan Widjaya

KOPI, Jakarta – SIANG itu Din datang tergesa-gesa ke rumah kakaknya, seraya mengucapkan salam langsung berjalan masuk ke beranda. Kakaknya, Yon, yang sedang duduk mengetik di laptop di ruang depan, secara reflek membalas salam, dan menatap wajah Din. Kendati berpeluh, toh wajah Din berseri-seri.

“Mas Yon, ada kabar baik,” ujar Din sambil mengeluarkan saputangan dari saku celananya untuk menyeka cucuran keringat di wajah.

“Duduklah dulu,” anjur Yon menyabarkan adiknya sebelum bertanya, “Kabar baik, kabar baik apa?”

Din duduk di kursi di depan meja Yon dan mencetuskan kabar baiknya, “Aku jadi mudik, mas!”

Berkerut kening Yon, “Sudah kaupikirkan matang-matang? Jabodetabek kan sudah ditutup! Mau naik apa, kereta, bus, atau travel?”

“Bukan, mas, bukan kereta, bukan bus, juga bukan travel, percuma, pasti dicegat di perbatasan, disuruh balik ke Jakarta, malah bisa kena denda besar!”

“Habis, mau naik apa?”

“Ada bang Badar yang menyiapkan kendaraan, truk kontainer besar, mas!”

“Hahh? Truk kontainer?”

“Ya, bang Badar sopir truk kontainer pelabuhan dari Tanjung Priuk ke Tanjung Perak!”

Yon menggelengkan kepalanya.

Namun tanpa menunggu kakaknya berkomentar, Din mengungkapkan panjang-lebar rencananya, “Kontainermya besar sekali, kira-kira hampir dua meter kali tujuh meter. Nanti bagian depan diisi orang, ditutup pakai partisi tripleks, lalu bagian belakangnya dipenuhi kardus-kardus dari Yayasan Kelenteng berisi barang sumbangan untuk rakyat desa, jadi kalau dibuka, yang terlihat cuma kardus-kardus…”

“Astagfirullah!” cetus Yon.

“Ini cara cerdas untuk mudik, mas!”

“Cerdas endasmu*! Berbahaya sekali itu, Din!”

Ora*, mas,” sanggah Din, “Bang Badar menjanjikan pasti aman sampai Ajibarang!”

“Itu lamanya sepuluh jam perjalanan, Din!”

“Biasanya memang travel sepuluh jam, tapi menurut bang Badar situasi sekarang, jalanan pasti sepi. Apa lagi lewat selatan, meskipun lebih panjang, toh paling lama juga delapan jam!”

“Kowe lunga dewekan bae, mbok?”*

“Ora, mas, bojoku, bocah-bocah melu kabeh*!”

“Edan, edan tenan kowe! Mbok sabar ngenteni wayahe aman, nembe mulih!”*

“Mas, ini tradisi, sepuluh tahun lebih kita di Jakarta, saban Lebaran selalu mudik, ketemu si Mbok. Opo maning saiki aku nggawa pesenane si Mbok, teve,”*

“Jadi kamu beli teve baru buat si Mbok?”

“Ora, mas, teve ning omahku sing tak gawa kanggo si Mbok,”*

“Lha, terus, kowe ra duwe teve maning?”*

“Urusan teve gampang, saiki sing penting, sampeyan, gelem melu mudik ora, mas? Mumpung sampeyan perei suwe, bioskop langka sing buka toh? Mumpung isih ana tempate. Bayarane mung sejuta seuwong.”*

Yon menggelengkan kepala dua kali, “Kuwi arane nggolek penyakit dewek, Din! Dudu kanggo kowe dewek, malah sekeluarga seberayan!* Nekat, nekat!”

Dadi mas Yon mboten gelem melu?”*

Yon menggeleng tegas. Tiga kali.

Berubah wajah Din melihat ketegasan sikap kakaknya, “Mas wedi* sama Corona, ya?”

“Ini bukan soal takut atau berani, tapi kamu belum mudeng ya kalau Corona ini pandemi, wabah penyakit yang menyebar ke negara-negara di seluruh dunia.”

“Tapi mas, ada yang bilang Corona ini sebenarnya cuma konspirasi,”

“Sapa sing ngomong?”*

“Itu Deddy Corbuzier yang bilang di youtube-nya,”

“Aduh, keblinger kamu! Tukang sulap kamu percaya? Semua sulapan itu kan cuma trick, akal-akalan belaka. Apa kamu percaya cewek yang digergaji itu betul-betul dipotong tubuhnya?!”

“Kalau sulapan memang aku tahu cuma bo’ong-bo’ongan, mas, tapi sekarang dia bilang pakai data-data akurat, katanya…”

“Terus kamu percaya begitu saja?”

“Ada juga yang bilang Corona cuma konspirasi dari China dan Amerika untuk mengekang agama kita. Malah ada yang bilang melarang shalat berjamaah di mesjid itu musyrik.”

“Astaga, orang yang baru jadi mualaf, terus keminter begitu? Merasa lebih tahu agama? Dibanding kamu yang sejak bayi sudah Islam, dia itu baru kemarin, Din!”

Din bungkam, cuma sekejap, karena segera kembali pada tujuan semula kedatangannya menemui sang kakak, “Yo wis, nek mas Yon ora gelem mudik, tapi aku njilih duite, barang rong juta, ya mas?”*

“Kowe iki ya, wis duitmu kurang nggo mudik malah dilakoni ngutang.* Coba pikir lagi, dan pikir lagi lah, sebelum kamu mudik. Lebih aman di rumah saja zaman sekarang!”

“Mas lihat aku sehat wal-afiat, kan? Aku percaya urip*-mati itu sudah digariskan Gusti Allah…”

“Omonganmu Din, persis seperti guru pembimbing Pramuka di Sleman, waktu diperingati penduduk jangan membawa anak-anak ke kali Sempor. Dia juga bilang, mati-hidup tergantung Allah. Tahu akibatnya? Puluhan anak mati kendang*!”

“Nah, kan betul, mas? Ingat cerita Perjanjian di Samarra, kalau memang sudah waktunya dipanggil, mau di rumah, di jalan, atau di mesjid pun, mati ya tetap saja mati!”

Yon menukas mengkal, “Kowe iki dikandani ngengkel terus, yo wis ngana sakarepmu!”*

Din menggaruk-garuk kepalanya seolah-olah merasa ubun-ubunnya gatal, toh ia yakin kakaknya pasti akan menyokong kekurangan uangnya untuk membayar ongkos pada bang Badar.     

Yon menghela napas panjang. Ia kenal benar watak adiknya yang sama kerasnya seperti dirinya. Sekali memutuskan untuk berbuat sesuatu takkan bisa dicegah. Jadi satu-satunya yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah berharap semuanya akan baik-baik saja. Din sekeluarga mudik ke kampung, bertemu ibu mereka, dan kelak kembali ke Jakarta, untuk mencari nafkah lagi seperti semula. Tapi benarkah dunia akan bisa kembali pulih normal seperti tahun lalu? Tidak berani Yon memastikannya…

***

“KRIIINGNG!!!”

Telepon berdering nyaring dalam sebuah rumah sederhana di Ajibarang. Di dapur, si Mbok yang baru saja menaruh sepanci kolak pisang kepok dari kompor ke atas meja, berseru, “Iya, iya, sebentar, bentar!” Tetapi pesawat telepon itu tidak bisa mendengar dan terus saja berdering seolah tak sabar disuruh menunggu. Si Mbok pun buru-buru berjalan ke ruang tengah untuk mengangkat pesawat telepon.

“Halo, sopo iki?”* tanya perempuan tua itu sambil menyibak rambut ubannya yang jatuh mengalingi sebagian matanya.

“Halo, si Mbok, iki anakmu, Yon saking Jakarta,”*

“Oh ya, ana apa Yon? Kowe sekeluarga sehat-sehat kabeh toh?”*

“Sehat, pandongamu, Mbok, ngendi si Din, ana sing arep kutakoni?”*

“Lho, kowe takon si Din, pancen deweke arep mulih merene?”*

“Iya, Mbok, wis mangkat kawit wingi, masa durung tekan?”*

“Lha, lagi jaman kaya kiye, mestine kowe ngelarang deweke ra sa mulih,”*

Uwis, Mbok, uwis tek larang, tapi deweke ngeyel.”*

“Banjur saiki wis tekan ngendi?”*

“Ya, embuh, Mbok, wong hapene mati, ora nyaut tak kontak.”*

“Apa kena karantina, ya?!”

“Ya wis, Mbok, mengko nek deweke wis teka, dikon nelpon aku bae, ya Mbok. Nuwun.”*

Yon meletakkan gagng telepon ke tempatnya dengan pikiran galau. Perasaaannya sungguh tidak enak. Apa yang terjadi pada keluarga adiknya setelah mereka mudik kemarin? Mendadak telinganya mendengar orang mengucap salam, spontan ia pun menyahut, “Waalaikumsalam!”

Yon membuka pintu. Lho, kosong melompong tidak ada seorang pun di depannya! Jalanan di luar halaman  rumah amat lengang, jangankan orang lewat, kucing pun tidak terlihat. Yon termangu-mangu.

“Ada apa, mas?” tanya isterinya, di belakang punggungnya.

“Barusan aku mendengar ada yang mengucapkan salam,” jawab Yon, “Kamu dengar juga kan?!”

“Enggak, mas, Dinda nggak dengar apa-apa,”

“Rasa-rasanya seperti suara si Din tadi,” gumam Yon, “Aku sudah telanjur senang karena kupikir dia batal mudik…”

***

PAGI  ini Yon terkesiap demi membaca berita daerah yang dimuat di sebuah koran terbitan Jawa Tengah. Begini cuplikannya:

“….. Ditemukan sebuah truk peti kemas besar terguling masuk ke jurang menjelang Majenang dari arah Banjar, selewat perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Masyarakat setempat yang menemukan truk tersebut pada pagi hari menduga kecelakaan terjadi dalam hujan lebat semalam. Ketika penduduk  menjebol  pintu kontainer, isinya selain ratusan kardus mie instan, yang menggemparkan adalah ditemukannya sepuluh jenazah dalam kondisi mengenaskan, terdiri dari tujuh orang dewasa (empat lelaki, tiga perempuan), juga tiga anak kecil……”

Yon tak kuasa membaca lebih jauh. Pandangan matanya nanar berkunang-kunang. Jatuh terjungkal. Kelenger!*

***

TERJEMAHAN:

*) Mudeng, bahasa Jawa yang berarti paham, atau memahami.

*) endasmu, makian berarti kepalamu.

*) ora, bahasa Jawa, berarti tidak.

*) “Kowe lunga dewekan bae, mbok?” (“Kamu pergi sendirian saja, bukan?”)

*) “Bojoku, bocah-bocah melu kabeh.” (Isteriku, anak-anak ikut semua.”)

*) “Edan, edan tenan kowe! Mbok sabar ngenteni wayahe aman, nembe mulih!”  (“Gila, gila betul kamu! Coba sabar menanti sampai aman, baru pulang!”)

*) “Opo maning saiki aku nggawa pesenane si Mbok, teve,” (“Apa lagi sekarang aku membawa pesanan Ibu, televisi.”)

*) “Teve ning omahku sing tak gawa kanggo si Mbok,” (“Televisi di rumahku yang kubawa untuk Ibu.”)

*) “Kowe ra duwe teve maning?” (“Kamu tidak punya televisi lagi?”)

*) “Saiki sing penting, sampeyan, gelem melu mudik ora, mas? Mumpung sampeyan perei suwe, bioskop langka sing buka toh? Mumpung isih ana tempate. Bayarane mung sejuta seuwong.” (“Sekarang yang penting, Anda mau ikut mudik tidak, mas? Selagi Anda libur lama, bioskop tak ada yang buka toh? Selagi masih ada tempatnya. Biayanya cuma sejuta seorang.”)

*) “Kuwi arane nggolek penyakit dewek, Din! Dudu kanggo kowe dewek, malah sekeluarga seberayan!” (“Itu namanya mencari penyakit sendiri, Din! Bukan hanya buat kamu sendiri, bahkan sekeluarga sekalian!”)

*) “Dadi mas Yon mboten gelem melu?” (“Jadi mas Yon tidak mau ikut?”)

*) wedi (takut)

*) “Sapa sing ngomong?” (“Siapa yang bicara?”)

*) keminter (sok pintar)

*)Yo wis, nek mas Yon ora gelem mudik, tapi aku njilih duite, barang rong juta, ya mas?” (“Ya sudah, kalau mas Yon tidak mau mudik, tapi aku pinjam uangnya, hanya dua juta, ya mas?”)

*)“Kowe iki ya, wis duitmu kurang nggo mudik  malah dilakoni ngutang.” (“Kamu ini ya, sudah uangmu kurang untuk mudik bahkan sampai berhutang.”)

*) kendang (hanyut)

*) “Kowe iki dikandani ngengkel terus, yo wis ngana sakarepmu!” (“Kamu ini dinasihati tetap berkeras, ya sudah sana sekehendakmu!”

*) sopo iki (siapa ini)

*) “si Mbok, iki anakmu, Yon, saking Jakarta,” (“Bu, ini anakmu, Yon, dari Jakarta,”)

*) “Ana apa Yon? Kowe sekeluarga sehat-sehat kabeh toh?” (“Ada apa Yon? Kamu sekeluarga sehat semuanya, bukan?”)

*) “Pandongamu, Mbok, ngendi si Din, ana sing arep kutakoni?” (“Berkat doamu, Bu, mana si Din, ada yang ingin kutanyakan?”

*) “Kowe takon si Din, pancen deweke arep mulih merene?” (“Kamu tanya si Din, memangnya dia mau pulang ke sini?”

*) “Wis mangkat kawit wingi, masa durung tekan?” (“Sudah berangkat sejak kemarin, masakan belum tiba?”)

*) “Jaman kaya kiye, mestine kowe ngelarang deweke ra sa mulih,” (“Zaman seperti ini, seharusnya kamu melarang dia tidak usah pulang,”)

*) “Banjur saiki wis tekan ngendi?” (“Lantas sekarang sudah sampai mana?”)

*)“Ya, embuh, Mbok, wong hapene mati, ora nyaut tak kontak.” (“Ya, entah, Bu, orang ponselnya mati, tidak menjawab waktu ditelepon.”

*) “Ya wis, Mbok, mengko nek deweke wis teka, dikon nelpon aku bae, ya Mbok. Nuwun.” (“Ya sudah, Bu, nanti kalau dia sudah tiba, suruh menelepon aku saja ya, Bu. Terima kasih.”

*) Kelenger (jatuh pingsan)

FOOTNOTE:

1. Headline KOMPAS Jumat, 24 April 2020: Jabodetabek Ditutup. Larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19 berlaku hingga 31 Mei. Selama kebijakan ini, kendaraan pribadi dan angkutan umum  yang keluar-masuk Jabodetabek sangat dibatasi.

2. Headline KOMPAS Sabtu, 25 April 2020: Pertahankan Ketegasan. Sekitar 3.000 kendaraan yang keluar Jakarta pada Jumat diminta balik arah kembali ke Jakarta. Setelah 7 Mei 2020, sanksi dijatuhkan pada kendaraan yang melanggar larangan mudik.

3. TEMPO.CO, Jakarta. Jumat, 20 Maret 2020. Kadin dan Yayasan Buddha Tzu Chi Galang Donasi Penanganan Corona. Mereka menargetkan menghimpun dana Rp 500 Miliar.

4. Jarak Jakarta – Ajibarang lewat jalur utara 350 km, lewat jalur selatan menjadi 375 km.

5. Pengumuman dari jalur bioskop XXI di Jakarta, “Semua bioskop menghentikan kegiatan operasionilnya mulai tanggal 22 Maret 2020 sampai waktu yang ditentukan kemudian.”

6. Deddy Corbuzier pada tanggal 19 April 2020 mengunggah video di akun YouTube miliknya, berdiskusi dengan rapper Young Lex, sepanjang durasi 68 menit, berjudul, “Corona Hanya Sebuah Kebohongan Konspirasi!?”

7. Pada tanggal 21 Februari 2020, sebanyak 250 siswa SMPN I Turi, saat melakukan kegiatan Pramuka susur sungai Sempor, di Dukuh Donokerto, Sleman, hanyut oleh banjir. Kemudian 22 anak ditemukan meninggal dunia.

8. Cerpen Appointment in Samarra (1933) karya William Somerset Maugham, berkisah tentang seorang pelayan saudagar di Baghdad yang meminjam kuda tuannya untuk kabur ke kampungnya demi menghindari sang Elmaut. Padahal sang Elmaut memang ingin menjemputnya di Samarra, bukan di Baghdad.***

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA