by

Lilin Covid

Cerpen esai oleh Duwi Hartanti

KOPI, Kediri – Mentari belum menampakan sinarnya ketika Latifah tengah sibuk di depan lap topnya. Jemarinya sibuk menari di atas papan keyboard yang telah tampak usang, layar monitor lap top itu hanya menampilkan separuh gambar. Monitornya retak, Latifah tidak tahu pasti bagaimana monitor leppy kesayangannya itu retak, mungkin tak sengaja terantuk saat ia meletakan tasnya, atau tertendang ketika ia tertidur pulas di depan leppynya itu. Yang pasti Latifah belum punya cukup uang untuk memperbaiki lap top itu.

“Sarapan dulu!” teriak ibunya menghentikan aktifitas Latifah ketika jam dinding menunjukan pukul 08.00

“Ia Bu, sebentar lagi, tanggung ini tinggal ngirim tugas ke anak-anak.” Jawab Lathifa.

Ibu Latifah tidak mengerti apa yang sedang anak kesayangannya itu kerjakan, yang ia tahu sekolah libur karena corona[1], tapi anaknya tampak lebih sibuk dari biasanya. Tak jarang ia melihat Latifah bekerja sampai larut malam. Terkadang ia melihat Latifah sedang sibuk memelototi laptopnya. Saat ditanya Latifah akan menjawab bahwa ia sedang mencari bahan materi pembelajaran. Di lain hari tangan Latifah sibuk menari di atas keyboardnya untuk membuat soal. Bahkan dilain hari sang ibu melihat Latifah sibuk syuting video.

“Sekolahkan libur, kamu kok malah lebih repot?” pertanyaan yang Ibu Latifah lontarkan di awal-awal penerapan teaching from home[2]

“Bukan libur Bu, tapi belajar di rumah. Ini Latifah sedang mengirim materi dan juga tugas –tugas untuk para siswa.” Latifa mencoba menjelaskan.

“Kalau Ibu sekolah dulu, belajar di rumah ya.. artinya libur.” Jawab Ibu Latifa, dan hanya dibalas senyuman oleh Latifah.

Menjelaskan tentang teaching from home yang kesemuanya dilakukan dengan sistem daring kepada Ibu Latifa, seperti menerangkan soal logaritma kepada siswa SD kelas satu yang bahkan belum cakap menghitung penjumlahan, sangat gelap, dan hampir mustahil. Karenanya Latifah hanya bisa  mengelus dada ketika suara nyaring ibunya selalau menghiasi rapat virtual yang Latifa ikuti.

Pernah suatu pagi Latifah sedang melakukan rapat virtual dengan menggunakan aplikasi zoom[3]. Saat Latifah sedang serius mendengarkan pengarahan dari kepala sekolahnya tiba-tiba ibunya dengan entengnya berteriak di belakangnya.

“Ibu mau ke pasar membeli daging untuk acara megengan. Ibu masak air jangan lupa diangkat kalau sudah mendidih! Kamu sedang apa kenapa pakai jilbap tapi pakai celana pendek?!” teriak ibunya tanpa rasa berdosa. Ingin Latifah pergi ke dunia lain saat itu juga. Belum lagi dilain hari saat Latifah sedang membuat video pembelajaran tentang panduan tata cara mencuci tangan yang baik,CTPS[4]. Tiba-tiba dengan entengnya sang ibu masuk frame.

“Wudhu yang lengkap bukan tangan aja yang dibasuh!” seperti biasa ibunya berteriak ngegas. Latifah hanya bisa menggerutu demi melihat ulah jahil sang ibu.

Sekarang sudah hampir satu bulan pelaksanaan teaching from home, sang ibu sudah lebih memahami mekanisme pelaksanaan pembelajaran online, sehingga ganguan teknis yang disebabkan oleh sang ibu mulai bisa diminimalisir.

Latifah adalah guru yang mengajar di salah satu sekolah dasar swasta yang cukup ternama di kotanya. Ia adalah guru kelas untuk siswa-siswi kelas lima. Untungnya sebagian besar wali muridnya adalah dari kalangan menengah ke atas. Jadi dia tidak bernasip seperti Pak Guru Avan, yang harus mengajar dari rumah ke rumah karena siswa tak mempunyai ponsel[5]. Sebagian besar siswanya berpartisipasi aktif dalam pembelajaran daring  yang diagendakan sekolah.

Setiap hari Latifah sibuk mencari materi yang dapat memberi pengalaman yang bermakna bagi para siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, sesuai dengan anjuran dari Kemendikbud[6]. Dimasa pandemi seperti ini, Latifah memilih memberikan materi dan penugasan yang dapat membuat para siswa lebih aware dengan Covid-19. Misalnya Latifah menugaskan para siswanya membuat poster yang berkaitan erat dengan covid. Beberapa siswa mengumpulkan gambar penyebaran covid, ada juga siswa yang membuat poster cara mencegah terjangkit covid, ada pula poster cuci tangan pakai sabun yang sesuai dengan anjuran WHO, bahkan ada poster yang mengajak berdonasi membantu para korban terdampak covid. Dari penugasan ini Latifah mendorong para siswa untuk peduli dan berperan aktif dalam pencegahan penularan covid, selain itu juga meningkatkan kreativitas siswa dalam membuat poster.

Dalam kesempatan lain alih-alih menugaskan para siswanya mengerjakan soal seperti saat pembelajaran di kelas, Latifah memilih menugaskan para siswanya melakukan sebuah kebaikan sederhana[7]. Karena adanya tugas ini para siswanya berlomba-lomba melakukan kebaikan sederhana yang mungkin dilakukan oleh anak kelas lima sekolah dasar. Beberapa foto kegiatan berbuat baik yang mereka kumpulkan antara lain; foto ketika membantu memasak, menyapu, mengepel, mengaji, melaksanakan shalat sunah, sampai membantu menjaga adik, dan lain-lain. Latifah sangat bangga dengan apa yang siswanya lakukan.

Phonecell Latifah tidak pernah sepi dari dentingan notifikasi pesan masuk semenjak diadakannya pembelajaran dalam jaringan. Namun hari ini banyaknya notifikasi yang masuk lebih dari hari-hari biasanya. Ternyata grup whatsapp guru-guru sedang membahas tuntutan para wali murid tentang pemotongan sumbangan pembinaan pendidikan (spp). Sebagai sekolah swasta tentu saja gaji guru sangat bergantung dengan pemasukan dari uang sumbangan pembinaan pendidikan. Dari obrolan para guru Latifah dapat menyimpulkan bahwa wali muridpun terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu pro pemotongan spp dan kubu yang tidak setuju akan adanya pemotongan spp.

Whatsapp grup SDI Al-Hikmah

Pak Rahmat           :”Wali murid ada juga yang tidak setuju akan adanya pemotongan spp.”

Bu Endang             :”Ia Pak sebagian wali murid kita paham bahwa operasional sekolah tidak melulu untuk gaji guru. Sekolah juga membutuhkan dana untuk listrik, pemeliharaan kebersihan sekolah, apalagi di zaman covid, sekolah harus melakukan sterilisasi sekolah secara mandiri, belum lagi kebutuhan paket data internet.”

Pak Bambang         :”Mantul Bu Endang!” komen Pak Bambang diakhiri emotikon ibu jari berderet.

Bu Rizna                :”Seharusnya sekarang wali murid lebih paham susahnya menjadi guru. Baru mengajar di rumah selama satu bulan saja sudah banyak yang mengeluh migrain[9]”

Pak Bambang         : menuliskan emotikon wajah tersenyum sampai berlinang air mata.

Bu Fatma               :”Mereka yang menuntut pemotongan SPP, karena iri dengan kebijakan sekolah sebelah.”

Bu Endang             :”Kalau iri itu dilihat dulu keadaannya, sekolah sebelah memang tidak aktif memberikan pendampingan saat teaching from home seperti ini. Lhah… kita setiap hari aktif mendampingi. Meskipun dari rumah, para guru kita proaktif. Bahkan banyak yang sampai berdagang untuk membuat materi lebih mengena dan lebih menarik. Belum lagi kita harus memelototi pekerjaan anak-anak.”  Ketik Bu Endang sedikit ngegas.

Bu Endang             :”#begadang” ralat Bu Endang ketika tahu tulisannya ada yang typo.

Pak Rahmat           :”Sabar Bu, corona mempengaruhi perekonomian seluruh lapisan masyarakat.”

Bu Endang             :”Untuk wali murid yang terdampak bisa saja mengajukan keringanan, tapi kalau dari kalangan wali murid yang tidak terlampau terdampak semoga dibukakan pintu hidayah.”

Pak Chandra          :”Sampingan sebagai ojol juga sedang sepi.”

Sedang serius membaca obrolan para guru tiba-tiba ibunya menginterupsi.

“Serius sekali lihat hp nya?” tanya ibu Latifah

“Ini Bu, sepertinya bulan depan gaji Latifah mulai dipotong.” Jawab Latifah lesu

“Zaman kayak gini ndhuk… yang sabar, yakinlah pintu rejeki bisa datang dari mana saja.” Ucap Ibu Latifah membesarkan hati anaknya. Latifah beruntung mempunyai seorang ibu yang pantang menyerah seperti ibunya. Dialah orang yang meyakinkan Latifah untuk terus melanjutkan kuliah meskipun dalam  keadaan serba kekurangan. Sebagai orang tua tunggal karena ayah Latifah sudah meninggal sejak adiknya berumur lima tahun, sang ibu bertekad membuat kedua putrinya sukses. Bermodal menjadi seorang penjual gorengan dan jajanan pasar, meskipun harus bekerja lebih keras, sang ibu rutin menyisihkan uang untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Latifah sangat mengagumi sang ibu.

“Ia Bu, masih beruntung gaji Latifah hanya dipotong, di sekolah swasta lain ada yang sudah tidak menerima gaji[8].”

“Sekarang jualan ibu juga sedang lesu.” Keluh sang Ibu.

“Tadi saya disuruh sabar, yakinlah pintu rejeki datang dari mana saja.” goda Latifah menirukan ucapan ibunya, yang hanya dibalas senyuman oleh sang ibu.

“Menjelang hari raya biasanya ibu mendapat orderan kue-kue lebaran, tapi ini sepi.” Sang ibu mengeluh lagi.

“Bagaimana kalau kita menjahit masker saja Bu, sepertinya bakalan laris. Lumayan untuk mengisi waktu senggang” Usul Latifah.

“Ia nanti ibu bantu jual di pasar… eh tapikan pasar sepi bahkan ini mau ditutup[9].” Ibu Latifah mengeluh lagi

“Nanti biar saya iklankan dan saya jual online Bu… kalau perlu jajanan ibu juga kita jual online sekalian, sekarang jamannya semua serba online,Bu [10]” Saran Latifah, dan dijawab acungan jempol oleh sang ibu.

Selesai mengobrol tentang rencana cadangan menghadapi masalah ekonomi di era pandemi dengan ibunya, Latifah kembali menekuni obrolan dalam grup yang tampaknya masih akan berlangsung lama. Rentetan keluhan dari para guru membayangkan jika gaji mereka dipotong mewarnai obrolan seru mereka. Latifah masih sedikit lebih beruntung karena dia masih single jadi tidak harus dipusingkan dengan  biaya anak dan lain-lain. Meskipun dia juga membantu menyokong ekonomi keluarga namun masih ada sang ibu yang bisa diajak untuk bekerja sama. Latifah tidak bisa membayangkan betapa pusingnya para bapak guru jika gaji mereka harus dipotong, yang notabene mereka adalah kepala keluarga dan juga tulang punggung keluarga.

Tidak ingin terhanyut dalam keluh kesah, Latifah memutuskan menutup aplikasi Whatsapp nya. Dia memilih melanjutkan kegiatannya mempersiapkan agenda dan tugas yang harus para siswanya kerjakan di bulan ramadhan. Latifah mencoretkan kata sedekah seikhlasnya, arisan khataman Al-Quran, taroweh berjamaah, tadarus rutin harian, dan lain-lain. Latifah hanya ingin memberikan pembelajaran yang terbaik. Dia yakin tidak ada usaha yang sia-sia.

Latifah memilih menjadi lilin yang akan terus menerangi meskipun harus hancur lebur terbakar panasnya api.

Foot Note:

  1. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200318222319-20-484760/sekolah-libur-karena-corona-kpai-sebut-guru-buat-siswa-stres
  2. https://metrojambi.com/read/2020/03/29/52180/metode-belajar-daring-berbasis-it-google-classroom-di-tengah-pandemi-covid19
  3. https://katadata.co.id/berita/2020/04/01/zoom-dan-4-aplikasi-rapat-online-selama-pandemi-covid-19
  4. https://www.liputan6.com/health/read/2480347/enam-cara-mencuci-tangan-yang-benar-menurut-who
  5. https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/18/140342165/kisah-pak-guru-avan-mengajar-dari-rumah-ke-rumah-karena-siswa-tak-punya
  6. https://lpmplampung.kemdikbud.go.id/detailpost/pembelajaran-bermakna-bagi-generasi-millenial-di-masa-pandemi-covid-19
  7. https://www.kompasiana.com/lukman2686/5e7dd0be097f36136736b394/ubah-pr-pelajaran-anak-menjadi-pr-berbuat-baik
  8. https://www.liputan6.com/regional/read/4250942/pandemi-covid-19-tak-berkesudahan-sekolah-swasta-kesulitan-bayar-gaji-guru
  9. https://surabaya.liputan6.com/read/4248167/deretan-pasar-di-surabaya-tutup-sementara-imbas-corona-covid-19-di-mana-saja
  10. https://infobrand.id/ketika-masa-pandemi-semua-aktivitas-brand-berjalan-online.phtml

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA