by

Pandemi Corona Bukan Penghalang untuk Beribadah

Cerpen Esai oleh Adio Seftiwan (Vhio)

KOPI, Lubuklinggau – Ramadhan 1441 H ini dijalani umat Islam di seluruh dunia dengan suasana yang muram. Semua ini merupakan akibat dari pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara, tak terkecuali negara-negara Muslim. Bahkan masjid paling agung dan paling suci bagi umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pun sempat ditutup untuk umum guna mencegah persebaran Corona. (1)

Puasa sesungguhnya merupakan ibadah untuk menahan diri. Selama berpuasa, kita dilatih untuk menahan diri dari keinginan mengonsumsi makanan lezat dan hal-hal lain yang dilarang. Harapannya, kita juga mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak penting dalam hidup ini yang mengganggu upaya kita mencapai keridhaan Allah.

Bahkan, keberhasilan kita di dunia pun ditentukan oleh kemampuan kita menunda konsumsi hari ini untuk diganti di masa depan dengan hasil yang lebih besar. Banyak anjuran dalam pencegahan Covid-19 tercermin dalam ibadah puasa. (2)

Kami tinggal di Kota Lubuklinggau yang terletak di tengah pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Sumatera Selatan. Yang mana biasanya di tempat kami jika datangnya bulan suci ramadhan selalu penuh dengan keceriaan dan banyak sekali kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan oleh pemerintah setempat dalam menyambut ramadhan. (3)

Akan tetapi, sejak mewabahnya Virus Covid-19 yang telah menghebohkan hampir semua se isi bumi ini, semua aktifitas di bulan suci ramadhan di daerah kami yang biasanya bisa dijalani dengan penuh keceriaan dan silahturahmi yang indah, berkumpul bersama rekan-rekan untuk beribadah di masjid serta mengadakan acara berbuka puasa bersama. Kini tidak lagi terlihat suasana seperti itu. (4)

Saya pernah menanyakan kepada bapak Wali Kota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe, “Apa kegiatan Pemkot Kota Lubuklinggau bulan ramadhan tahun ini pak, ditengah pandemi Covid-19?.”

Dengan senyuman khasnya, sosok pemimpin yang selalu akrab dengan masyarakatnya ini menjawab, “Kalian tetap di rumah saja, biarkan kami yang bekerja,” jawabnya singkat. (5)

“Terus jika kami tetap di rumah saja dan kami tidak bekerja bagaimana kami bisa menafkahi keluarga kami dan apa yang akan kami makan, pak?.”

Lalu beliau menjelaskan, demi kalian sebagai masyarakatku akan kami cari solusi yang paling terbaik dan kami bersama Pemerintah Kota Lubuklinggau akan bekerja secara maksimal untuk bersama-sama mempercepat penanggulangan wabah Covid-19 ini. Biarkanlah kami yang bekerja, kalian tetap dirumah saja, karena dengan kalian berdiam diri di rumah itu telah membantu program pemerintah.

Perihal logistik, Insyallah kita akan salurkan sembako secara bertahap ke masyarakat melalui Pemerintah Kota Lubuklinggau dan jajaran, terutama didahulukan yang betul-betul sedang mengalami kesulitan. Seperti halnya Kaum Dhuafa, yang hilang pekerjaan, pedagang-pedagang kecil, sopir angkutan umum, pengendara ojek-ojek, dan masyarakat yang memang membutuhkan. (6)

“Kita bersama-sama menahan diri dari keluar rumah kecuali untuk urusan yang tidak diperlukan. Kita perlu menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi akan berakhir. Bersikaplah hidup bersih dan sehat karena puasa juga mengajarkan pola hidup sehat,” ujar Pak Wali.

Puasa selama ini telah diidentikkan dengan makan-makan enak ketika berbuka. Menu makanan selama sebulan penuh dibuat lebih istimewa dibandingkan dengan hari-hari di luar puasa. Tak heran, harga barang-barang konsumsi menjadi naik dan volume sampah meningkat. Sementara di sisi lain, produktivitas menurun. (7)

“Ya, mungkin inilah salah satu hikmahnya yang bisa kita ambil dari pandemi Corona di bulan ramadhan ini, ya pak Wali…,” balas Saya.

Puasa telah menjadi waktu  para produsen mempromosikan berbagai produk dan jasa. Kita menyadari puasa akan segera tiba ketika di TV mulai muncul iklan sirup beberapa bulan sebelumnya.

Ketika kehebohan pemesanan tiket kereta api sudah dimulai dua bulan sebelumnya. Ketika mall dan pusat-pusat perbelanjaan mulai merias dirinya untuk menyambut kedatangan konsumen. (8)

“Terus bagaimana dengan saudara-saudara kita yang lagi dalam perantauan di daerah seberang, dan bagaimana jika masyarakat ingin berbelanja di pasar dan pertokoan,” imbuh Saya.

Beliau menjawab sambil tertunduk sedih, “Situasi ini tentu berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang  kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan konsumsi dan dengan berleha-leha. Untuk memuaskan berbagai keinginan yang tak terbatas tersebut, kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan. Hutan ditebang, bumi dikeduk, laut dicemari. Semua hal ini menyebabkan keseimbangan alamiah alam menjadi terganggu,” ujarnya.

Kelompok kaya membentuk klaster-klaster tersendiri untuk menjaga gaya hidup mewahnya, sementara kelompok miskin menjadi korban karena ketidakseimbangan alam ini. (9)

Sampai akhirnya, muncul sebuah  penyakit yang tak mempedulikan kelas sosial. Tak pandang bulu apakah negara kaya atau miskin. Ini adalah sebuah pesan yang patut kita renungkan. Puasa kali ini mengajak kita untuk mengingat  kembali bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita kembali menyadari ketidakberdayaan sebagai manusia dengan adanya ancaman penyakit dan kematian yang bisa datang kapan saja. Mengingatkan kembali bahwa ternyata kita telah mengeksploitasi alam tanpa batas demi keinginan-keinginan yang tidak penting sementara lingkungan menjadi rusak.

Refleksi ini sudah seharusnya digunakan untuk menata visi hidup baru yang lebih substansial bagi kita sebagai individu dan untuk para membuat kebijakan seperti pemerintah supaya lebih bersikap adil dalam mengelola kekayaan negara dan lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam dengan pendekatan kelestarian lingkungan.

Sesungguhnya, perilaku kita menentukan takdir yang kita jalani. Ada banyak hal yang kita sebagai manusia bisa mengendalikannya untuk menuju takdir yang kita inginkan. Kita menjalani peran sesuai dengan kapasitas kemanusiaan kita, tidak dengan menyerahkan semuanya kepada tuhan dengan alasan beribadah kepadanya.

Ketika kita menjaga jarak sosial (social distancing), maka telah mengurangi risiko tertular dan menularkan Covid-19 kepada orang lain. Ini juga merupakan bagian dari kita menentukan takdir yang akan kita jalani.

“Jadi, buat saudara-saudara kita yang sedang diperantauan jika memang masih bisa mampu bertahan di negeri seberang alangkah baiknya berdiam dirilah dulu disana, jaga keluarga. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu,” jelasnya lagi. (10)

Lalu, saya tersenyum kepada beliau sembari berucap, “Masyallah…. semoga pandemi ini segara berakhir.”

Bagamaina jika profesi seperti kami para jurnalis ini ya pak wali? Coba pikir jika kami tidak keluar rumah dan bekerja, bagaimana kami bisa mendapatkan informasi yang akan kami sampaikan kepada masyarakat…?

“Hmmm… iya sih dan sepertinya kalian juga tidak bisa hanya berdiam diri di rumah saja, jika kalian berdiam diri dirumah saja bagaimana masyarakat yang dirumah akan mendapatkan informasi kejadian yang di luar,” jawab Pak Wali sambil tersenyum.

Kalian para jurnalis salah satu bagian dari garda terdepan, dalam kita bersama-sama mempercepat penanggulangan wabah Covid-19 ini. Kita harus selalu bersinergi dan bekerjasama dengan Pemerintah, Tim Medis, TNI, dan Polri.

“Informasi yang kalian sampaikan ke publik juga sangatlah berpengaruh dengan keadaan kondisi pandemi seperti ini, jangan sampai informasi yang tersampaikan Hoaxs karena hal tersebut akan menimbulkan keserahan dan kegaduhan di masyarakat. Sampaikanlah informasi yang sesuai fakta agar masyarakat dapat terus waspada tanpa menimbulkan kepanikan, akan tetapi kalian ketika liputan di lapangan harus selalu menaati protap dan SOP penanggulangan Covid-19 seperti halnya menjaga jarak, memakai masker, dan selalu cuci tangan, serta harus ada hand senitezer, terus ketika pulang kerumah jangan langsung melakukan aktifitas lainnya dan bersentuh dengan keluarga, pergilah mandi dan pakaian langsung di rendam dengan diterjen,” ujarnya. (11)

Covid-19 juga telah mengingatkan kembali pentingnya kerja sama karena sesungguhnya manusia adalah makhluk sosial. Belakangan ini kita mengagung-agungkan individualisme sebagai sumber kemajuan peradaban manusia. Bertindak semau sendiri demi kepentingan dirinya sendiri kita menjadi ancaman bagi banyak orang lainnya.

Dalam situasi seperti ini, para muzakki berkewajiban segera membayarkan zakat, dan menambahkannya dengan infak serta sedekah. Saat ini banyak sekali orang yang kehilangan pekerjaan sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan bekerja sama, maka beban menjadi lebih ringan.

Ramadhan ini, saatnya kita melakukan refleksi secara lebih mendalam, lebih komprehensif, dan lebih substantif terhadap perjalanan kita sebagai pribadi atau terhadap perkembangan peradaban manusia yang selama ini dimotivasi oleh hedonisme dan konsumerisme. Saatnya kita kembali mencari jati diri kemanusiaan kita yang mungkin telah terlupakan karena kesibukan pekerjaan yang sedemikian menuntut atau karena hal-hal yang sesungguhnya tak penting seperti gim dan media sosial yang kini menjadi keseharian kita.

“Ketika semua tak ada, kita akan tetap bersama demi cinta yang lain, ALLAH SWT senantiasa bersama pejuang yang berdo’a. Tak ada kata lelah walau wabah di depan mata, kita bisa bersama dan bersama kita bisa lawan penyebaran Corona, semangat! Tetap waspada kita yakin kita bisa,” imbuh Pak Wali dengan suara lantangnya.

Tinggal di rumah sebenarnya merupakan kesempatan langka yang sebelumnya selalu kita dambakan. Inilah saat untuk merefleksikan hubungan kita dengan Allah. Inilah saat kita untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita. Dan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk menjalaninya. Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu sia-sia. (12)

Mei 2020

Catatan :

1. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Tutup Selama Ramadhan. https://dunia.tempo.co/read/1333753/arab-saudi-tutup-masjidil-haram-dan-masjid-nabawi-selama-ramadan

2. Anjuran Pencegahan Covid-19 Tercermin dalam Ibadah Puasa. https://www.goriau.com/berita/baca/memaknai-arti-puasa-di-tengah-covid19.html

3. Kegiatan Pemkot Kota Lubuklinggau Ramadhan 1440 H. https://www.hariansilampari.co.id/tarawih-berjamaah-malam-perdana-bulan-ramadhan-1440-h/

4. Walikota Lubuklinggau Adakan Acara Buka Bersama. https://www.linggaumetropolis.com/buka-bersama-walikota-pertegas-realisasi-seragam-sekolah-gratis-bpjs-hp-android-rt-dan-danau-dan-pantai-buatan/?page28332434234=125

5. Walikota Himbau Agar Tetap di Rumah Saja. https://www.facebook.com/diskominfolubuklinggau/videos/himbauan-wali-kota-lubuklinggau-h-sn-prana-putra-sohe-dalam-rangka-pencegahan-da/3102058276500692/

6. Walikota Lubuklinggau Telah Salurkan 37.000 Sembako. https://www.linggaumetropolis.com/salurkan-37-ribu-paket-sembako-walikota-adil-itu-tidak-semuanya-harus-dibagi-rata/

7. Harga-harga Naik dan Volume Sampah Meningkat Saat Bulan Ramadhan. https://www.kompasiana.com/adrian.su4/59250bb96423bd2c309913d2/kenapa-tiap-jelang-ramadan-harga-barang-naik

https://mediaindonesia.com/read/detail/235100-volume-sampah-justru-naik-saat-ramadan

8. Tiket Kereta Api Habis Terjual Menjelang Ramadhan. https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01349372/belum-juga-puasa-ramadan-835000-tiket-kereta-api-untuk-lebaran-telah-terjual

9. Eksploitasi Alam Tanpa Perhitungan. https://www.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan-hidup-dan-hutan/16/05/21/o7igvh368-eksploitasi-sumber-daya-alam-berlebihan-hilangkan-kebudayaan-lokal

10. Seputar Wabah Penyakit Menurut Pandangan Islam. https://islam.nu.or.id/post/read/118402/ini-hadits-rasulullah-seputar-wabah-penyakit–thaun–atau-covid-19

11. Tantangan Jurnalis Saat Pandemi Corona. https://republika.co.id/berita/q8pi87385/jurnalis-dan-tantangan-peliputan-pademi-covid19

12. Anjuran Pemerintah Untuk di Rumah Saja. https://nasional.kompas.com/read/2020/03/16/15454571/jokowi-kerja-dari-rumah-belajar-dari-rumah-ibadah-di-rumah-perlu-digencarkan

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA