by

Nur Aini Belum Mati

Cerpen esai oleh Duwi Hartanti

KOPI, Kediri – Pagi itu Nur sibuk membuka aplikasi berita yang ada di phonecellnya. Rumah sakit daerah tempat tinggal Nur sedang membutuhkan perawat sebagai garda depan penanggulangan covid-19[1]. Batin Nur memberontak, dia sangat ingin turut ambil bagian dalam pertempuran ini. Dilihatnya bayi mungil yang tengah tertidur lelap dalam ayunannya. Bisakah? Bagaimana dengan ibu? Sanggupkah dia meninggalkan bayi mungil itu? Dan Mas Burhan? Timbul beribu pertanyaan dalam benaknya.

“Assalammu’alaikum!” terdengar salam yang diucapkan oleh Burhan dari depan pintu.

“Waala’ikummusalam.” Jawab Nur Aini.

Sebagai seorang guru sudah hampir satu bulan terakhir Burhan melaksanakan teaching from home[2]. Hari ini Burhan pergi ke sekolah tempat ia biasa mengajar untuk mengambil beberapa berkas.

Melihat suaminya telah duduk santai, Nur Aini bermaksud mengutarakan keinginannya untuk kembali aktif sebagai seorang perawat. Baru tiga tahun terakhir Nur Aini tidak aktif dalam keperawatan karena ingin fokus mendapatkan momongan. Mulut Nur Aini terasa terkunci, sangat sulit bagi Nur untuk  mengutarakan maksud hatinya. Nur Aini hanya bisa mondar-mandir di hadapan Burhan, tanpa memulai pembicaraan.

“Ada apa?” tanya Burhan akhirnya.

Nur Aini menyodorkan phonecellnya. Dia memperlihatkan artikel lowongan perawat yang telah ia baca.

“Bagaimana menurutmu, Mas?” Nur, memberanikan diri untuk bertanya. Suasana hening untuk beberapa saat. Burhan sedang berpikir tentang niatan mulia istrinya. Masih Burhan ingat dengan jelas bagaimana wanita yang sekarang di hadapannya ini merawat ibunya dengan sangat baik. Saat itu, Ibu Burhan terkena serangan stroke, Burhan segera membawa ibunya ke rumah sakit. Dan di sanalah ia bertemu dengan Nur untuk pertama kali. Burhan terpesona dengan ketelatenan, kecakapan, dan juga kesabaran yang dimiliki oleh Nur. Wanita ini telah berhasil meningkatkan semangat ibunya untuk kembali sehat. Ibu Burhan sangat menyayangi Nur melebihi sayangnya kepada anak kandung.

Burhan berhutang budi dan juga sangat mencintai wanita ini, dan sekarang wanita ini meminta izin padanya untuk pergi berperang. Perang yang bahkan belum diketahui kapan akan berakhir[3] dan bagaimana cara untuk memenangkannya. Tanpa perlu berpikir lamapun sudah jelas Burhan akan menjawab, tidak, dia belum siap kehilangan pegangan hidupnya.

“Tidak,..!” itulah kata yang ingin Burhan ucapkan, namun melihat kesungguhan di mata Nur membuat Burhan tak kuasa mengatakan kata tidak.

“Pikir masak-masak dulu, Dhek… pertimbangan baik dan buruknya lebih dulu. Pertimbangkan Hasnah dan Ibu. Shalat istikharah dulu..!” kalimat itulah yang akhirnya menjadi jawaban Burhan.

“Ia, Mas… terima kasih atas pengertiannya.” Nur, sangat bahagia mempunyai suami sebijaksana Burhan. Sesuai anjuran Burhan, mereka melakukan shalat istikharah dengan khusuk berharap mendapatkan petunjuk dari Allah dalam mengambil keputusan terbaik.

Berita tentang keinginan Nur bergabung sebagai perawat relawan covid-19 sampai juga di telinga ibu mertuanya.

“Nur, kenapa kamu ingin jadi perawat saat keadaan seperti ini. Lihat Hasnah masih sangat membutuhkan kamu. Anak yang telah lama kamu inginkan apa sekarang kamu mau menelantarkannya?” tanya Ibu mertuanya

“Ibu… Nur yakin bisa membagi waktu, tidak mungkin Nur menelantarkan Hasnah.”

“Apa ndak ada orang lain, kenapa harus kamu!?”

“Semua Ibu pasti akan mengungkapkan keberatannya saat melihat anaknya harus berjibaku dengan virus yang mematikan ini, tapi Nur tahu Ibu berbeda. Ibu pasti akan rela melepaskan Nur karena Ibu tahu bahwa Nur mampu. Nur akan menjaga diri sebaik mungkin, Bu.” Ucap Nur meyakinkan Ibu mertuanya. Bu Rosma, mertua Nur tampak berpikir, dia memang sangat yakin akan kemampuan Nur sebagai seorang perawat, dia juga yakin banyak pasien covid yang akan sangat terbantu dengan kualitas yang dimiliki oleh Nur. Tidak ada yang lebih tahu akan kualitas Nur sebagai perawat selain dirinya sendiri. Tapi keegoisan mencegahnya untuk memberi Nur izin, dia masih ingin melihat menantu kesayangannya hidup.

“Tapi Nur,…!”

“Ibu,… Nur mohon doakan Nur agar dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.” Pinta Nur tulus, memperlihatkan keteguhan hatinya. Bu Rosma akhirnya luluh pada keinginan Nur. Dia mengizinkan Nur untuk kembali bertugas dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Sesudah mengantongi izin dari suami dan ibu mertuanya, hanya merekalah keluarga yang Nur miliki, Nur segera mengirim surat lamaran. Dari 16 pelamar yang dipanggil ternyata hanya 8 orang yang memenuhi panggilan[4]. Ini mengisyaratkan bahwa  hanya sedikit orang yang cukup bernyali untuk membantu negeri melawan covid. Nur merasa sedih akan fakta itu. Hal ini semakin meningkatkan semangatnya untuk menjadi relawan.

Selesai interview, keesokan harinya Nur sudah diminta untuk  mulai bekerja karena rumah sakit benar-benar membutuhkan perawat akibat membludaknya pasien covid.

“Mas, besok Nur sudah harus mulai kerja, saya sudah bicara dengan Mbak Dian, tetangga sebelah. Dia bersedia membantu mengasuh Hasnah.” Izin Nur kepada Burhan

“Sayakan teaching from home, biar Hasnah sama saya saja, saat puasa seperti sekarang saya lebih santai dalam memberi tugas kepada anak-anak. Biar mereka  mempunyai lebih banyak waktu untuk beribadah.”

Suwun,  Mas…” Jawab Nur sambil memeluk erat Burhan. Mereka berpelukan sangat lama seolah-olah itu adalah momen kebersamaan mereka untuk terakhir kalinya.

Suasana bekerja di hari pertama sebagai relawan sungguh melelahkan. Nur harus mengenakan APD lengkap rata-rata 8 jam perhari[5]. Untunglah saat ini bulan puasa jadi Nur tidak terlalu tersiksa saat harus menahan lapar dan haus, sebelumnya para perawat banyak yang mengeluhkan sakit pencernaan karena tidak bisa makan dan minum saat mengenakan APD. Selain itu perawat juga mengeluhkan inveksi saluran kencing, karena tak jarang mereka harus menahan kemih[6]. Nur memilih mengenakan diaper orang dewasa. Meskipun tidak nyaman, setidaknya dia tidak harus menahan kencing.

Di hari pertama dia bekerja Nur harus berurusan dengan pasien covid yang depresi[7]. pria setengah baya yang sedang dirawat oleh Nur itu terus mengamuk, dia melempar barang apa saja yang dapat ia raih. Nur memilih mendiamkan ulah pasiennya tersebut. Setelah kelelahan sang pasien tampak meringkuk di atas tempat tidurnya. Badannya bergetar, antara menahan amarah atau sedang menangis pilu.

“Istri saya sudah direnggut oleh penyakit laknat ini. Saya sudah sebatang kara.” Akhirnya pasien itu membuka pembicaraan. Suaranya lirih dan bergetar menahan tangis.

“Anda tidak sendiri, ada sanak saudara dan juga kami yang akan menemani Bapak.” Ucap Nur berusaha meyakinkan sang pasien.

“Apa kau tuli? Atau kau ini bodoh? Tak mengertikah kau arti sebatang kara?!” sang pasien berteriak, kembali menunjukan kemarahannya.

Nur menceritakan tentang Hasnah, putri kecilnya. Bagimana lucunya wajah Hasnah, pipi tembem,mata bulat, dan juga bau harum tubuhnya. Selain itu Nur juga menceritakan tingkah polah Hasnah yang menggemaskan.

“Mulai hari ini saya harus meninggalkannya. Kebiasaannya saat akan tidur adalah menggenggam jemari saya, jari mungil itu pasti kebingungan mencari tangan saya.” Nur bercerita sambil melihat tangannya, air mata sudah menggenang di mata beningnya. Sang pasien tampak termenung, mendengarkan dengan seksama cerita Nur. Hatinya mulai luluh, kemarahan yang sebelumnya menghiasi wajahnya telah sirna.

“Saat anda sembuh nanti, mungkin anda bisa menemuinya dan menganggapnya sebagai cucu anda?” pertanyaan dan tawaran Nur. Sang pasien tersenyum tipis. Nur merasa lega karena bisa menenangkan sang pasien.

Ketika jam kerjanya telah selesai Nur segera membersihkan seluruh badannya, meskipun ia telah melakukan seluruh protokol kesehatan dengan teliti kekhawatiran akan adanya virus yang menempel di badannya sangat mengganggu Nur. Melihat rentannya tenaga medis untuk tertular, Nur berniat untuk sementara waktu tinggal di salah satu ruang rumah sakit yang telah disulap menjadi rumah sementara bagi para tenaga medis[8]. Ia tidak ingin melihat orang-orang yang ia cintai sampai terjangkit covid.

Sesampainya di rumah, Nur menceritakan setiap detail peristiwa yang ia alami kepada Burhan. Selesai sahur dan menunggu saat shalat subuh adalah waktu yang mereka pilih untuk berbincang dari hati ke hati. Hasnah terjaga, dia tampak nyaman di pangkuan Nur. Saat-saat seperti ini tidak ingin Nur lepaskan, karenanya keinginan untuk tinggal di mess yang sebelumnya ingin ia sampaikan urung ia utarakan.

*****

Hari ke-dua Nur bekerja, ia khusus membawa foto Hasnah yang lucu sebagai hadiah untuk pasien istimewanya.

“Assalammu’alaikum” salam Nur ketika masuk kamar sang pasien istimewa.

“Waalaikummussalam” jawab sang pasien tampak tenang. Sang pasien pasrah ketika Nur melakukan beberapa prosedur kesehatan kepadanya. Setelah selesai melakukan rentetan pengecekan kesehatan, Nur mengeluarkan foto bayi mungil yang telah ia persiapkan.

“Saya mempunyai sesuatu untuk anda.” Ucap Nur sambil menyerahkan foto Hasnah.

“Apa ini foto malaikat kecilmu?” tanya sang pasien

“Ia,… malaikat kecil itu mengirim pesan, dia ingin segera bertemu kakeknya.” Ucap Nur mengiakan. Sang pasien tersenyum cerah.

Dengan semangat dan motivasi yang diberikan oleh Nur, perlahan keinginan sang pasien untuk sembuh meningkat. Hal ini sangat membantu dalam melawan covid-19.

****

Di hari ke-9 Nur melaksanakan tugasnya, berita buruk datang menghampiri. Beberapa perawat yang berjaga di UGD disinyalir telah terpapar covid. Kejadian ini bermula dari seorang pasien yang tidak jujur[9]. Pasien yang datang dalam kondisi koma itu ternyata juga seorang PDP, namun pihak keluarga menutup-nutupi informasi tersebut. Seluruh tenaga medis yang kontak dengan pasien tidak ber APD. Akibatnya mereka reaktif terhadap rapid test.

Nur gemetar saat mendengar berita tersebut, karena sejauh yang Nur ingat ia sempat kontak dengan salah satu perawat yang menangani pasien kecelakaan itu. Nur gemetar saat memegang hasil swabnya. Positif itulah kata yang ia baca, seketika pandangannya kabur, gelap. Sekilas wajah Hasnah, Burhan, Ibu mertua, dan pasien istimewanya. Silih berganti berputar di atas kepalanya.

Nur harus mengisolasi diri bersama beberapa rekan sejawatnya. Untunglah Nur tidak mengalami gejala parah, bahkan dia masih bisa memompa asi untuk Hasnah[10]. Setelah dua minggu dalam pengawasan dan perawatan, Nur dinyatakan sembuh. Namun masih ada kekhawatiran di hati Nur, akankah dia diusir dari lingkungannya seperti nasib beberapa koleganya[11], ataukah Nur akan disambut hangat bak sahabat oleh para tetangganya[12]. Nur Aini belum mati, dia berharap nurani masyarakat masih sesehat badannya.

Foot Note:

  1. https://surabaya.liputan6.com/read/4249139/lowongan-tenaga-medis-corona-covid-19-di-kediri
  2. https://radarkediri.jawapos.com/read/2020/04/22/190263/gara-gara-korona-belajar-di-rumah-diperpanjang-hingga-usai-hari-raya
  3. https://www.tribunnews.com/nasional/2020/05/19/tak-ada-kepastian-kapan-pandemi-berakhir-doni-monardo-mungkin-kita-selamanya-hidup-dengan-covid-19
  4. http://ayoyogya.com/read/2020/04/16/39144/saat-pandemi-rsud-wates-kekurangan-paramedis
  5. https://www.tribunnews.com/nasional/2020/04/19/keluh-kesah-perawat-gunakan-apd-8-10-jam-tahan-lapar-buang-air-kecil-dan-haus-demi-pasien-corona
  6. https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1207427-curhat-perawat-tangani-pasien-covid-19-alami-isk-hingga-kulit-iritasi
  7. https://www.liputan6.com/tag/pasien-positif-covid-19-mengamuk
  8. https://surabaya.tribunnews.com/2020/04/19/demi-jaga-keluarga-selama-pandemi-covid-19-perawat-pilih-tetap-di-mess-ketimbang-pulang
  9. https://mataram.tribunnews.com/2020/04/21/pdp-corona-koma-keluarga-tak-jujur-berkacak-pinggang-saat-ditanya-riwayat-21-petugas-rs-diisolasi
  10. https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/07/190700565/ibu-menyusui-yang-positif-covid-19-tetap-aman-berikan-asi-ini-panduannya
  11. https://nasional.kompas.com/read/2020/04/19/12252611/duka-perawat-pasien-covid-19-diusir-dari-kontrakan-hingga-gugur-dalam-tugas
  12. https://sosok.grid.id/read/412129205/belum-turun-dari-mobil-ambulans-pasien-covid-19-di-nganjuk-yang-dinyatakan-sembuh-disambut-bak-pahlawan-oleh-tetangganya?page=all

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA