by

Badai Kan Berlalu

Cerpen esai oleh Ulfa Arifah

KOPI, Wonosobo – Hampir dua bulan aku tak bertemu suami dan anak-anakku. Pandemi korona membuat kami sekeluarga tak bisa bersama hingga akhir bulan suci ini, bahkan mungkin sampai lebaran nanti. Kedua anakku yang duduk di bangku SMA dan SMP, Majda dan Naila harus tetap di pesantren. Mereka menolak untuk dipulangkan karena sayang dengan hafalan Al-Qur`an dan ngaji kitabnya. Mereka khawatir, di rumah tidak bisa tadarus. Gadjet akan menggantikan aktifitas produktif mereka dengan semena-mena.

“Mak…, ijinkan kami tetap menemani kyai sampai akhir ramadlan ya… Di rumah, kami tidak bisa menjaga hafalan. Sayang juga kalau tidak ngaji. insyaAllah Kyai akan mengantarkan kami pulang menjelang lebaran nanti. Sehat selalu ya mak.., jangan lupa do’akan kami.., restui kami..” pinta anakku, Majda via whatsapp pengurus pesantren.

“Emak merestuimu nak. Jaga adikmu, patuhlah pada kyai. Semoga kondisi segera pulih, dan kita bisa berkumpul lagi,” jawabku haru.

Covid-19 memang bisa menimbulkan berbagai komplikasi penyakit hingga kematian (1). Terlebih bagi yang memiliki penyakit tertentu atau orang dengan imunitas lemah. Padahal penyebarannya pun sangat mudah. Tak semua orang menunjukkan gejala, tetapi bisa menularkan virusnya ke orang lain. Itulah mengapa aku menyetujui keinginan anak-anakku dan meminta suami untuk tidak mudik.

Lihatlah, puluhan dokter dan perawat gugur dalam berjuang merawat korban korona ini (2).Betapa berdosanya kita jika sampai menyia-nyiakan pengorbanan mereka dan keluarganya.

Berdiam diri di rumah sambil melakukan aktifitas produktif akan lebih bermakna dari pada menggerutu atau menyalahkan pemerintah. Sejak korban korona semakin meningkat, aku mulai meluangkan waktu untuk olahraga, banyak minum air putih, konsumsi makanan sehat, cukup istirahat dan menghindari stres. Aku juga mulai membaca buku yang sempat tertunda Meski hanya seorang penjahit, tapi aku selalu berusaha mencoba mengembangkan hobi menulisku. Terlebih lebaran tahun ini tidak banyak pelanggan yang datang. Aku jadi punya lebih banyak waktu. Menjahit adalah kamuflase dari impianku yang kandas menjadi designer. Kelak, semoga anak perempuanku yang mewujudkannya. Bakatnya sudah nampak sejak kecil. Naila sudah suka membuat kreasi baju boneka. Dia juga suka berinovasi menciptakan masakan dari bahan seadanya di kulkas, menjadi makanan yang bisa dibilang lumayan. Naila juga suka berjualan. Alhamdulillah..

Aku pun mematuhi protokol kesehatan (3).Memakai masker jika sakit atau keluar rumah, mencuci tangan kebih sering, menggunakan siku untuk menutup mulut saat batuk, tidak menyentuh wajah, menjaga jarak aman, dan berusaha tetap di rumah. Itu juga yang selalu aku pesankan kepada keluargaku.

Pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pemerintah daerah bahkan tengah merumuskan sanksi bagi pelanggar PSBB (4). Sanksi tersebut dimulai dengan teguran, denda, sampai sanksi sosial. Dendanya pun tidak main-main, yakni seratus juta rupiah. Jika masih keras kepala, maka sanksinya adalah penjara. Kasihan suamiku, ia hampir putus asa. Keinginannya untuk mudik pupus sudah.

Pada awal masuknya covid-19 ke Indonesia, pemerintah belum gencar menyosialisasikan social distancing. Sehingga suamiku bertekad akan menyelesaikan proyek bangunan majikannya bersama beberapa temannya. Namun setelah wabah tersebut semakin menyebar, kami pun gelisah. Suamiku berniat mudik sebelum puasa, karena proyek ditutup sementara. Jika proyek ditutup, berarti tidak akan ada masukan, namun pengeluaran tetap jalan. Meskipun suamiku sudah berhemat, tetap saja persediaan menipis. Biaya hidup di ibu kota tidaklah murah. Sampai akhirnya suamiku nekat pulang, tapi malah di tengah jalan dipaksa kembali ke Jakarta.

Larangan mudik pada akhir April kemarin, membuat kepolisian menindak kendaraan yang melanggar aturan. Menurut laporan, ada seribu lebih kendaraan yang dipaksa putar balik ke Jakarta (5). Beginilah nasib, tak bergerak salah, bergerak tambah salah. Ya sudahlah dari pada denda atau dipenjara, lebih baik manut pemerintah saja. Kami hanya bisa berdo`a.

Kami bersyukur pemerintah pusat memikirkan nasib kami. Pada akhir Maret lalu, presiden telah menyampaikan program bantuan. Diantaranya adalah Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, Kartu Pekerja, Pembebasan dan diskon tarif listrik, serta kebijaksaan lain berkaitan dengan ibu kota Jakarta (6). Bantuan sebesar enam ratus ribu mungkin tidak seberapa, namun sangat berarti dalam konsisi seperti sekarang ini.

Aku percaya, selalu ada hikmah di balik ini semua. Setiap keluarga jadi bisa meningkatkan quality timenya. Orang tua yang biasanya sibuk beraktifitas di luar rumah, menjadi lebih dekat secara psikologis dengan anak-anak dan pasangan mereka. Buah hati lebih terkontrol semua kagiatannya. Pengeluaran juga jadi lebih irit karena ada batasan keluar rumah. Konsumsi makanan juga terjaga, sehingga tubuh lebih sehat. Kita juga bisa merasakan betapa manusia itu sejatinya makhluk yang tidak berdaya. Kesombongan manusia tak ada artinya sama sekali di hadapan-Nya. Keangkuhannya ternyata dengan mudah terkalahkan oleh makhluk super kecil yang tak kasat mata. Ramadlan kali ini seharusnya bisa menjadi pelajaran yang berharga.

Meskipun aku tak sebahagia keluarga lainnya karena tak bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta, namun aku tetap bersyukur. Bersyukur karena semua anggota keluargaku selamat. Beryukur atas anugerah anak-anak dan suami yang baik. Dan bersyukur karena masih diberi rizki makanan, sehingga aku bisa bertahan. Semoga semua yang masuk ke dalam tubuh kami menjadikan hidup kami berkah. Menjadikan kami lebih taat kepada Allah.

“Mbok…, nyuwun gunging pangapunten njih.., dalem mboten waget sowan tahun punika. Dalem ugi mboten waget peparing punapa-punapa, amargi kahanan mbok. Dalem namung waget nyuwun, mugiya Gusti Kang Murbeng Dumadi tansah paring anugerah kawilujengan saha kasarasan, panjang yuswa, ugi rizki ingkang berkah.. simbok ugi nyuwunaken kagem dalem njih mbok..” berderai air mataku mengiringi suaraku yang parau saat voice call dengan simbokku. Aku percaya, simbokku tak pernah putus mendoakan kebahagiaanku dan cucu-cucunya. Sejak bapak dipanggil Allah setahun yang lalu, simbok kutitipkan pada adik laki-lakiku yang belum menikah. Sungguh berat rasanya belum bisa membahagiakan simbok di usia tuanya.

“Assalamualaikum.. Mak… kami pulang….!” seru Majda dan Naila. Mereka langsung menuju kamar dua kali tiga meter tempatku biasanya bersujud pada malam lebaran. Diraihnya tangan kananku, lalu punggungnya ditempelkan pada hidung mereka bergantian.

“Mak…, maafkan kesalahan kami ya.. doakan kami semoga bisa menjadi anak solih yang berbakti. Doakan hidup kami berkah, bermanfaat bagi orang banyak. Semoga emak sama bapak selalu diberi kesehatan, panjang umur, rizki yang berlimpah dan berkah, aamiin..” pinta Majda yang diaminkan Naila dan aku.

“Sama-sama nak.., bapak sama emak banyak kekurangan, tolong dimaafkan ya. Semoga Allah melimpahkanmu kesabaran dan kekuatan. Doakan bapak sama emakmu husnul khotimah ya..” do’aku. Tak terasa bola mata mereka menggenang. Kukecup kening mereka berdua, lalu kami pun berpelukan.

Malam itu, menjelang tidur, aku menceritakan kisah perjalanan hidupku pada mereka. Aku berharap apa yang kukisahkan bisa menjadi penyemangat mereka dalam menimba ilmu. Aku berjuang meniti kuliah dengan swadana. Bapak dan simbok hanya seorang petani biasa yang tidak memiliki lahan sendiri. Lalu aku memutuskan untuk menikah sambil kuliah. Dalam keadaan hamil besar, aku berjalan berkilo-kilo meter sambil menjual pakaian. Aku juga menerima kursus bahasa Inggris untuk anak-anak SMP menjelang ujian nasional. Semua itu kulakukan demi biaya kuliah dan kebutuhan rumah tangga. Namun aku tak pernah putus asa hingga wisuda tiba. Aku memutuskan tidak bekerja demi merawat mereka. Suamiku putus kuliah dan memilih bekerja di Jakarta. Kami sepakat, saat uang sudah terkumpul, kami akan mendirikan sebuah toko kecil di desa. Hanya mengaduh di sepertiga malam itulah yang menjadi penguatku untuk bertahan. Sejenak, kedua anakku memelukku sekali lagi. Lalu merekapun tidur.

Begitu banyak lelaki sukses yang berusaha masuk dalam kehidupanku hingga saat ini. Mereka bahkan berjanji akan membiayaiku jika ingin kuliah lagi, termasuk membiayai anak-anakku. Bulan ini benar-benar bulan ujian bagiku. Namun, tidak ada alasan bagiku untuk menghianati suamiku. Meskipun dia belum mampu memuliakanku sebagai wanitanya, tetapi aku mempunyai kewajiban sebagai istri yang wajib taat kepada suami.

Impianku adalah memberangkatkan haji simbokku. Aku juga ingin anak-anakku masuk ke SMA dan perguruan tinggi terbaik sesuai dengan bakat dan minat mereka. Aku sudah berusaha menyisihkan sebagian uang yang aku dapatkan sejak anak pertamaku mulai sekolah, tanpa sepengatuan suamiku. Entah kapan Allah akan mengabulkan semua itu.

“Farah.., aku sangat memahami kondisimu saat ini. Kamu butuh bahu untuk bersandar. Ijinkan aku kali ini.

Farah.., apa yang membuatmu masih bisa bertahan dengan lelaki semacam dia. Bukti apa lagi yang bisa meyakinkanmu jika dia selingkuh? Foto-foto yang aku berikan, ditambah perlakuannya yang selalu kasar. Apa itu belum cukup? Sampai kapan kau akan menyiksa diri? Jika anak yang kau jadikan alasan, kenapa tidak kau biarkan mereka tahu? Mereka sudah cukup umur mengetahui yang sebenarnya. Anak-anakmu akan bahagia jika kau bahagia. Aku percaya, kau mampu menjelaskan kepada mereka tanpa melukai.

Kau tahu, sampai sekarang aku masih sendiri, aku masih sangat mencintaimu, dan aku tetap akan menunggumu.” Pesan yang ke sekian dari teman sekelasku semasa SMA itu cukup mengusikku. Aryo, lelaki cerdas dan menawan yang sempat singgah di hatiku tanpa pernah terungkap.

Aku sesenggukan merenungi nasib yang belum berpihak.  Rasanya lelah sekali. Hampir saja aku menyerah. Apalagi jika teringat perlakuan keluarga suamiku yang tak pernah menyenangkan. Apapun yang kulakukan selalu salah. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menempati gubuk sederhana peninggalan kakekku di Surabaya. Ini pula yang menjadi awal keretakan rumah tanggaku.

“Ya Allah.., aku serahkan hidup dan matiku ini kepadamu… Laa khaula walaa quwwata Illa billah..” kututup malam yang dingin itu dengan hajat dan witir, hingga aku terjaga kembali di sepertiga malam idul fitri.

2. https://tirto.co.id, diakses tanggal 23 April 2020

3. https://kemkes.co.id

4. https://detik.news, Jumat, 8 Mei 2020 oleh Arief Ikhsanudin

5. http://www.cnbcindonesia.com

6. https://setkab.co.id

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA