by

Buatlah Sakitku Lebih Parah

Cerpen esai oleh Fitria M Ways.

KOPI, Ternate – “J-jadi, hasilnya adalah d-dua, dua ratus em-empat puluh.” Jawabku terbata-bata. Ibu Aqila tetap tersenyum, walau kemungkinan besar jawabanku salah.

“Siska, bagaimana caranya kamu mendapat hasil itu? Coba jelaskan ke Ibu.” Tanyanya dengan nada lembut. Dari semua guru home schooling (1)yang pernah mengajarku, Ibu Aqila adalah orang yang paling sabar dalam mengajarku. Kuharap dia mau menetap menjadi guruku.

“S-saya, mengalikan e-empat…d-dan, enam p-puluh.” Aku langsung memberikan kertas yang kugunakan untuk menghitung soal yang diberikan olehnya tadi. Ibu mengambilnya lalu memerhatikannya dengan seksama. Aku menelan ludah dengan susah payah, takut dengan apa yang akan dikatakan oleh beliau selanjutnya. Payah sekali diriku. Hal sepele ini saja aku takutkan.

“Wah, hebat sekali Siska! Jawabanmu betul! Ibu kasih nilai seratus ya.” Serunya sambil tersenyum. Aku senang, jarang sekali aku mendapatkan nilai seperti ini. Tapi, aku yakin wajahku tidak menunjukkan kalau aku sedang senang. Mungkin malah kelihatan seperti sedang tersenyum paksa. Aku merasa bersalah kepada Ibu Aqila yang selalu sabar menghadapi anak ‘cacat’ sepertiku.

“Ah, sudah jam begini. Ibu pulang dulu ya. Untuk pelajaran selanjutnya, nanti lewat video call, karena Ibu tidak bisa keluar rumah.” Jelasnya. Aku mengangguk paham.

Tak lama kemudian, ibu pamit dan pulang. Untuk beberapa minggu, atau mungkin beberapa bulan ke depan, aku tidak akan bertemu dengan Ibu Aqila maupun orang luar lainnya. Seluruh warga dilarang berkeliaran keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Bagi orang lain, itu pasti terasa sulit. Sedangkan bagiku, itu adalah hal yang biasa. Aku sekolah dirumah, bermain dirumah, sholat dirumah. Semua kegiatan yang lain pun selalu kulakukan dirumah.

“Siska, uhuk uhuk…..,Siska, ayo buka puasa.” Panggil kakakku. Apakah dia sedang sakit? Hari ini dia selalu batuk-batuk.

“I-iya kak.” Jawabku gagap. Aku bahkan tidak bisa berbicara dengan lancar bersama kakakku sendiri. Semua ini karena aku mengidap sindrom asperger (2). Aku selalu kesulitan ketika harus berinteraksi dengan orang lain. Singkatnya, aku anak autis (3). Karena alasan itulah orang tuaku menyuruhku homeschooling. Aku pernah masuk ke sekolah luar biasa (4), tapi aku selalu sendirian karena takut untuk bersosialisasi dengan yang lain.

Aku bahkan selalu didatangi oleh psikiater (5) tiap minggu. Tapi sampai sekarang, aku selalu seperti ini.

“Firsya, kamu sakit?” tanya Mama kepada kakakku. Kak Firsya menggelengkan kepalanya.

“Nanti, kita periksa ke dokter. Bahaya kalau kamu kena corona.” Ujar Papa. Aku melihat kearah kak Firsya, dan dia balas menatapku. Kak Firsya hanya tersenyum, tapi dia pasti takut jika apa yang dikatakan Papa itu benar.

***

Dan begitulah kami sekeluarga berakhir dirumah sakit. Ternyata, kak Firsya terkena virus corona, dan kami sekeluarga juga tertular. Mama, papa, dan kak Firsya terlihat gelisah, tapi aku malah sebaliknya. Jarang sekali aku pergi ke tempat lain selain rumah. Aku senang, tapi disisi lain aku takut. Bukan karena virusnya, tapi karena banyak anak seumuranku yang berada diruangan yang sama denganku. Mereka semua sedang bermain, berlarian kesana kemari tanpa memedulikan suster yang sedang memarahi mereka.

Aku…ingin bergabung dengan mereka. Pasti asyik jika aku juga bisa bermain. Tapi, tubuhku malah gemetaran karena takut. Aku pasti tidak akan bisa berteman dengan mereka.

“Halo! Siapa namamu?” Tiba-tiba, salah satu dari mereka menghampiriku. Gadis seumuranku itu menjulurkan tangannya kepadaku. Bagaimana ini? Aku mencari keluargaku, tapi semuanya sudah berada diruangan yang berbeda. Tidak ada yang bisa membantuku.

“H-ha-halo. S-saya, Siska.” jawabku seberani mungkin lalu menjabat tangannya. Tanganku gemetar hebat.

“Sista? Siska? Maaf, suaramu kekecilan.” Gadis itu mendekatkan kepalanya ke arahku. Aaa! Ini makin membuatku gugup.

“S-sis-siska! Siska!” Sekarang tanganku mulai dingin. Gadis ini belum mau melepaskan genggamannya.

“Siska ya? Salam kenal ya, aku Lidya!” jawabnya sambil tersenyum. Aku mencoba untuk tersenyum balik, tapi bibirku terasa kaku. Sepertinya aku lupa cara untuk tersenyum. Atau mungkin dari awal aku tidak tahu cara tersenyum.

Mendadak, Lidya menarik tanganku, memaksaku untuk mengikutinya.

“Siska mau ikutan main sama kita kan? Asyik loh!” ajaknya. Aku ingin bermain dengan mereka, tapi aku takut. Apakah mereka mau bermain dengan orang sepertiku?

“T-tapi, s-saya..”

“Kenapa kamu bicaranya kayak gitu, Sis? Cara bicaramu juga, kenapa formal begitu?” Lidya berhenti menarikku, tapi malah bertanya kepadaku.

Tenanglah diriku. Tenang. Aku harus mencoba menjawabnya dengan normal.

“S-saya, em, m-maksudnya… Aku, b-boleh b-ber, bermain dengan k-kalian?” Pasti bicaraku masih gagap, tapi bagiku, ini adalah pertama kalinya aku bisa berbicara sebanyak itu dengan orang lain.

“Bolehlah!” jawab Lidya yakin.

“T-tapi, aku…a-autis.” Lanjutku. Lidya menatapku dengan pandangan terkejut. Hah. Sepertinya ini akhir dari harapanku untuk bermain dengan mereka.

“Autis itu, orang yang susah bicara sama orang lain kan?”

Kurang tepat jika dibilang seperti itu, namun akan susah jika harus menjelaskan kepadanya, jadi aku mengangguk mengiyakan.

“Berarti, kamu jarang berbicara dengan orang lain?”

Sekali lagi aku mengangguk.

“Hm? Berarti kamu tidak punya teman?”

Lagi-lagi aku menggangguk.

“Betulkah? Yeaay!” serunya seraya tersenyum lebar. Kenapa dia malah senang mendengar bahwa aku tidak mempunyai teman? Jangan-jangan Lidya itu orang jahat?!

Lidya lagi-lagi menarik tanganku, membawaku menuju tempat teman-temannya sedang berkumpul.

“Siska, aku adalah teman kamu yang pertama! Dan kami semua akan menjadi temanmu!” ujar Lidya lalu memperkenalkan teman-temannya kepadaku.

Begitu banyak orang yang mengajakku bicara hari ini. Aku sangat takut. Aku ingin memanggil kak Firsya untuk membantuku. Tapi entah kenapa…

Aku sangat senang! Ini menyenangkan sekali!

***

Sudah seminggu aku dirumah sakit. Sekarang, aku sudah berteman baik dengan mereka semua. Ini mungkin saat yang paling membahagiakan dihidupku.

“Siska, cita-citamu apa?” tanya Lidya kepadaku yang sedang menggambar.

“C-cita-cita? A-aku tidak punya. Kamu?”

“Aku sih ingin jadi kayak Bruce Schneier (6)!” jawab Lidya dengan semangat. Aku menatap Lidya dengan tatapan bingung. Siapa yang dia maksud?

“Eh, dia itu seorang kriptografer (7). Aku ingin jadi sepertinya, karena aku suka matematika!” jelasnya. Aku hanya terdiam mendengarnya. Cita-cita ya? Aku tidak pernah memikirkannya.

“Wah! Gambaranmu bagus sekali!” seru Lidya ketika melihat gambaranku. Dengan terburu-buru aku menutupinya dengan tanganku. Aku malu ketika orang melihat gambaranku.

“Kamu bisa menjadi pelukis, Sis-uhuk uhuk! Uhuk!” ucapan Lidya terputus karena batuk. Pelukis? Hal itu membuatku sedikit penasaran, tapi aku lebih khawatir kepada Lidya. Beda dengan diriku, Lidya selalu batuk-batuk.

“Tenggorokanku rasanya kering sekali, Siska. Padahal aku tidak puasa.” keluh Lidya.

“M-mungkin, kamu termasuk o-orang yang gejalanya agak parah. K-kalau aku, tidak ada g-gejala khususnya (8).” Aku tersenyum kepada Lidya sambil menggenggam tangannya, berharap bisa menyemangatinya walaupun hanya sedikit.

Aku sendiri tidak tahu sejak kapan, tapi sekarang, aku bisa tersenyum dengan begitu mudah. Semua ini berkat Lidya dan teman-teman. Walaupun bicaraku masih sering gagap.

“Siska, kamu dipanggil bu dokter!” ujar Farhan yang sedang berlari kearah kami berdua. Dia juga salah satu teman yang diperkenalkan oleh Lidya kepadaku.

“L-lidya, aku pergi dulu ya.” Ujarku lalu pergi menemui bu dokter. Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaanku tidak enak.

Perlahan, aku mendekati bu dokter. Aku masih susah untuk berbicara dengan orang dewasa. Jadi aku sengaja berdiri ditempat yang akan dilihat oleh bu dokter, agat beliau mengajakku bicara duluan.

“Ah, Siska. Mulai hari ini kamu pindah ruangan ya.” Ujar bu dokter.

Pindah ruangan? Kenapa? Bukankah itu berarti aku terpisah dari mereka?

“K-ken-kenapa dok?” tanyaku tidak terima. Aku tidak mau! Aku masih ingin bersama mereka.

“Kamu bisa lebih cepat sembuh kalau pisah ruangan sama yang punya gejala, Siska. Ayo sini, ikut bu dokter.” Beliau langsung menarik tanganku. Aku mencoba untuk kabur, tapi sia-sia. Aku tidak bisa mengalahkan kekuatan orang dewasa.

Dari kejauhan, Lidya dan teman-teman lainnya menatapku. Aku tidak mau berpisah dari mereka!

“L-lidya! Teman-teman! A-aku, aku, tidak mau pergi! Aku mau gejalanya parah saja! A-aku, tidak mau!” rengekku sambil berusaha kabur. Aku memberontak dan menangis seperti anak kecil yang direbut mainannya. Orang-orang lain mulai menghalangiku. Kenapa mereka jahat begini?

“Siska bodoh! Pindah ruangan sana!”

Suara itu, Lidya? Aku berhenti memberontak dan melihat kearah Lidya.

“Kamu harus cepat sembuh, Siska! Kalau kamu sudah sembuh, berhenti home schooling saja! Pindah ke sekolahku! Nanti kita kejar cita-cita kita masing-masing!” teriak Lidya dari kejauhan.

“Iya, iya! Cepat sembuh, Siska!” tambah Farhan.

“Kalau kamu mau, pindah ke sekolahku juga boleh loh!” seru teman-temanku yang lain.

Padahal mereka pasti lebih takut dengan apa yang sedang mereka alami. Tapi mereka mendukungku dan menyemangatiku.

Aku menghapus air mataku lalu tersenyum. Aku tidak boleh bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Aku harus sembuh, agar bisa bertemu kembali dengan mereka.

“Tunggu aku, ya!” ujarku kepada mereka. Walaupun hanya kalimat singkat, aku pertama kalinya bisa berbicara dengan sangat lancar. Mereka semua tersenyum, lalu melambaikan tangan kearahku.

Aku melambaikan tanganku juga. Setelah itu, aku mengikuti bu dokter dengan patuh.

■■■■■

 Pada pagi itu, kelas sangat gaduh. ‘Liburan’ yang begitu panjang akhirnya berakhir. Mereka bisa bertemu kembali, walau masih harus menjaga jarak antara satu dengan yang lain.

“Anak-anak, tenang sedikit!” ujar seorang ibu guru yang baru saja masuk ke dalam kelas. Semuanya langsung kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Hari ini, kita kedatangan murid baru.” Lanjutnya.

Sekarang giliranku. Setelah membaca basmalah berulang-ulang kali, aku melangkahkan kakiku untuk memasuki kelas itu.

Aku menarik nafas sedalam mungkin. Aku pasti bisa. Aku sudah latihan perkenalan diri dirumah.

“A-assalamualaikum. Halo semuanya, saya Siska!”

Catatan kaki:

(1) Homeschooling atau sekolah rumah adalah istilah untuk menyebut proses belajar mengajar yang dilakukan dirumah, dengan guru pribadi yang mengajarnya. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekolah_rumah

(2) Sindrom Asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalamgangguan spectrum autisme. https://www.alodokter.com/sindrom-asperger

(3) Autis atau autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. https://www.alodokter.com/mengenali-ciri-ciri-anak-autis-sejak-dini

(4) Sekolah luar biasa atau yang sering disingkat SLB merupakan sekolah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. http://www.jejakpendidikan.com/2019/08/pengertian-sekolah-luar-biasa-slb.html?m=1

(5) Psikiater merupakan sejenis pekerjaan yang bertugas merawat orang-orang dengan gangguan jiwa, dari yang ringan hingga yang berat. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Psikiater

(6) Bruce Schneier adalah seorang kriptografer asal Amerika yang cukup terkenal. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bruce_Schneier

(7) Kriptografer adalah sebuah pekerjaan untuk membuat dan memecahkan sandi. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kriptografi

(8) Sebagian besar orang yang terinfeksi virus corona tidak menunjukkan gejala khusus. https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2020/04/07/103258323/70-persen-orang-terinfeksi-corona-tanpa-gejala-dan-bisa-tularkan-virus

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA