by

Simpang Empat dan Mangut Lele

Cerpen esai oleh Nashrul Hanif al-Hakim

KOPI, Yogyakarta – Dara 18 tahun itu memang langka. Dia memiliki mental pilih tanding. Terbukti dari tiga jahitan luka di atas alisnya, tanda itu ia dapatkan dari perkelahian seru melawan preman pasar di kota. Ia pernh didaftarkan ibunya ke sanggar tari di desa. Empat kali pertemuan dalam sepekan, hanya sekali dia benar-benar hadir di tempat kursusan, sisanya menemui gurunya yang tinggal jauh di kota, belajar silat secara privat. Puncaknya adalah ketika dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia bercita-cita menjadi prajurit pasukan elite (1), kalau bisa pasukan khusus. Sayang, cita-cita itu harus pupus.

Tiga pekan lalu, bapaknya kena pecat. Pimpinan bapaknya tidak mau menggaji satpam penjaga supermarket yang terpaksa tutup karena bangkrut. Bapak Rumi mengayuh sepeda sejauh 120 kilometer, pulang ke rumah dengan perasaan bersalah.

Laksana badai, wabah virus corona mengguncang dunia (2). Konon, virus itu lebih ganas daripada sawan (3). Benda sekecil itu ternyata mampu merampas sesuatu yang amat berharga dalam hidup Rumi: ibunya, pendidikannya, termasuk mimpinya-mimpi besarnya. Bapaknya yang banting setir menjadi pekerja serabutan, tengah malam ketika pulang kerja beliau terjatuh dari sepeda, kepalanya membentur trotoar. Beliau terkejut karena dihadang begal. Melihat kepala calon korbannya berdarah-darah, jangankan menyentuhnya, komplotan begal amatiran itu justru melarikan diri karena tidak mau menanggung resiko. Tak ada orang melintas malam-malam begitu, bapak Rumi meninggal karena gegar otak dan kehabisan darah.

Sekarang, Rumi mendapati dirinya sedang duduk di trotoar simpang empat, gorengannya baru laku tiga biji. Simpang empat kini sepi, prevalensi mortalitas (4) yang tinggi akibat penyebaran virus COVID-19, baru membuat orang sadar betapa protokol kesehatan mutlak ditunaikan dengan patuh. (5)

***

 Rumi siap berangkat. “Semangat, Nduk! Ingat adik-adikmu yang di desa.” Pesan Mbah (6) Kasan, guru sekaligus pengasuhnya di kota. Riang gembira Rumi berjalan menuju simpang empat. Di dekat gang love, Rumi dipergoki Brongot dan jongos-jongosnya. Mereka segera menghadang Rumi.

“Eh, Eneng..” Rumi bergidik, ia jijik, “A..a.. apa mau kalian? Kemarin aku sudah memberi kalian uang!” Brongot mendekati Rumi, ditariknya tangan kanan Rumi. Termos es lilin dan nampan gorengan jatuh berantakan. Reflek, kaki kanan Rumi melayang bebas di udara, mendarat tepat di pangkal selakangan Brongot. Preman bertubuh gempal penuh tato itu roboh, mengerang kesakitan. Digenggamnya pusat lokasi tumbukan, ditengoknya TKP, memastikan apakah masa depannya masih terjamin atau tidak.

Serentak prajuritnya menguber Rumi. Gadis manis itu berlari gesit masuk ke pasar, meliuk-liuk di antara lapak-lapak penjual sayur-mayur. Macam di filmfilm laga, mentimun, tomat, terong dan labu siam beterbangan menghantam berandal yang mengejar Rumi.

Rumi sengaja memojokkan diri di gang buntu. Brongot datang agak telat, caranya berjalan mirip orang habis dikhitan. “Hajaarrr..!!!”, Pisau knuckle tercabut dari saku-saku celana jeans mereka. Hari semakin gelap-segelap hati nurani mereka yang tega mengeroyok dara jelita, di tengah sepinya pasar kota.

Pertempuran berakhir. Lima pemuda kekar lumpuh-terkapar. Rumi puas, dendam atas kematian bapaknya sudah terbalaskan. Merekalah satu-satunya komplotan geng di kota ini. Tentu mereka yang menyebabkan bapaknya mati, pikir Rumi. Ah, ilmu beladiri yang selama ini dipelajarinya dari Mbah Kasan ternyata berguna.

Tiba-tiba, sejurus kemudian Rumi terdiam. Angin berhembus pelan, semilir menerpa wajahnya yang manis. Sekelebat bayangan orangtuanya muncul dalam kepalanya… Rumi disergap rasa malu yang hebat. Rumi kalut usai digempur rentetan musibah. Dua pekan sudah ibunya yang sudah sepuh meninggalkannya setelah terjangkit virus COVID-19. (7) Ia tinggalkan kedua adiknya di desa, diasuh pamannya. Dia menyesal telah mengecewakan manusia-manusia yang dicintainya itu, dia menyesal telah menghantam kepala preman pasar itu dengan timbangan dacin. Bisa saja dia hanya memberi sedikit jurus tanpa membuat mereka cedera separah itu. Nafsu angkara telah membutakan mata-hatinya. Rumi menangis, jiwanya terguncang.

Kota mulai sunyi. Polisi dan tentara menyisir kota, memastikan tidak ada orang ngeyel keluar rumah. Semakin ngilu hati Rumi mendengar derap langkah prajurit infanteri yang beralih tugas membantu patroli polisi, turun dari truk-truk pengangkut personil dengan gagah berani.

***

Pawarta, pria gemulai itu membuka liputan siangnya di pasar kota, “Eh, ibu-ibu tahu ndak toh, kenapa minggu ini kita sudah ndak disatroni berandal-berandal terlaknat itu lagi? Tahu ndak kalian? Tahu ndak..?”, tak ada angin tak ada hujan dia jawab sendiri pertanyaannya, “Mereka itu sudah ditangkap warga kampung saya karena nyolong (8) gabah. Pernah babak belur di kota, bukannya tobat malah beraksi di desa. Memang kurang ajar betul mereka itu, ya?!”, ibu-ibu disekelilingnya kaget, maling gabah itu tak lain adalah komplotan Brongot. Keganasan geng ini tak ubahnya internet satelit: menjangkau hingga ke pelosok negeri, “Babak belur, kau bilang, Ta?”, kata Lik Karsinem, “Heh, Saya berani sumpah! Minggu lalu saya melihat mereka di ujung gang sana, tertatih-tatih membopong salah satu kawannya yang cidera parah, kepalanya berdarah-darah. Ih, bergidik saya kalau ingat pemandangan seperti itu.”

Rumi yang mendengar berita itu dari Lik Karsinem semakin gelisah. Seperti dosa yang menagih janji taubatnya, bayangan preman yang diciderainya itu selalu menghantuinya.

Di tengah kekacauan hatinya, Rumi justru memergoki Mbah Kasan sedang menyerahkan sejumlah uang kepada sisa-sisa anggota geng Brongot. Mereka adalah anak buah Brongot yang tidak tertangkap karena tidak ikut beraksi di desa. Rumi segera berbalik karena tak ingin Mbah Kasan mengetahui keberadaannya. Keesokan harinya masyarakat heboh. Netijen gonjang-ganjing. Mereka tak habis pikir, bagaimana mungkin di bulan ramadhan begini orang yang mereka hormati, lelaki tua yang selama ini mereka kenal bijaksana dan wara’ (9), tanpa rasa bersalah memberi uang kepada para pelacur di warung remang-remang selatan pasar kota? Ketika seorang warga menanyakan perihal tersebut kepadanya, justru Mbah Kasan terkekeh sambil menjawab singkat, “Bedermalah dengan welas-asih!”, yang bertanya semakin keheranan.

Malamnya, cerita tentang Mbah Kasan tersaji di warung kopi, “Loh, bukannya bederma itu lebih baik kepada yang memutuhkan? Ke yatim piatu kek, ke fakir miskin kek, ke janda kek. Kok, malah disodorkan ke pelacur begitu?” Protes Pak Kaseno di warung kopi, “Sudahlah, ndak usah terlalu kita pikirkan! Jangankan bederma, berterimakasih saja kita ini jarang.” Mbah Marto mencoba menengahi sambil menyeruput kopi hitam pesanannya. Di ujung meja, Rumi hanya diam sambil menerima kembalian. Ia tak berminat lagi memikirkan orang tua yang sedang mereka ributkan.

Tengah malam, Rumi memutuskan untuk kabur dari rumah Mbah Kasan. Baginya, tindakan gurunya itu sudah keterlaluan. Menurutnya, gurunya itu sama saja dengan berandal lokajaya yang mengutil harta aristokrat demi berbagi dengan orang melarat, seperti legenda Robbin Hood dari Inggris (10), hanya bentuknya saja yang berbeda. Rumi tidak menemukan pembenaran atas perbutan seperti itu. Baginya, benar dan salah cukup ditentukan dengan panca indera saja, lebih tidak.

Seharian mencari ma’isyah (11) membuat Rumi lelah. Malam itu, ia tertidur pulas di serambi masjid. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat sang guru mendatanginya sambil mengusap dahinya dan berbisik lirih, “Anakku, apakah kamu sudah lupa bagaimana memandang makhluk tuhan dengan pandangan rahmah, pandangan welas asih?” lantas gurunya itu memberinya sebungkus nasi mangut lele. Ketika Rumi ingin mengucapkan terimakasih, ternyata Mbah Kasan sudah tidak ada. Ia memanggil-manggil gurunya itu, tak ada jawaban, sepi. Rumi terbangun dari tidurnya, ia mendapati sebungkus nasi mangut lele yang masih panas di sampingnya. Rumi makan sahur dengan nasi mangut lele itu. Seribu rasa membuncah hebat di dalam dadanya. Sukar dilukiskan dengan kata-kata.

***

Lima bulan berlalu, pola hidup sehat diterapkan masyarakat, kegiatan yang mendukung penyebaran virus COVID-19 juga dihindari. Data epidemiologi (12) membuat pemerintah akhirnya mengizinkan kegiatan yang melibatkan pengumpulan masa, termasuk pengajian di Masjid Baitul Hakim. Rumi terperanjat, ia mendapati tiga pemuda anggota geng pasar kota itu sedang asyik menatakan sandal para jama’ah.

”Eh, Eneng… silakan, Neng (13), snacknya!” Tiba-tiba salah satu pemuda itu menyodorkan snack kepadanya. Padahal Rumi hanya menumpang lewat di depan masjid.

Usai pengajian, Rumi langsung menghampiri pemuda tadi, “Bukannya kamu yang waktu di sudut gang itu…” Si pemuda akhirnya bercerita panjang lebar tentang sedekah dari Mbah Kasan itu, “Ketahuilah, Neng.. aku terpaksa membegal karena aku butuh uang. Mbah Kasan tiba-tiba datang memberiku uang. Sekarang katakan, apakah aku masih pantas menjadi begal?!” katanya kepada Rumi.

Hari itu juga, Rumi sowan (14) ke rumah Mbah Kasan. Betapa ia melihat gurunya itu berseri-seri layaknya seorang bapak yang menyambut kepulangan anak kandungnya sendiri. Rumi dipersilakan duduk, Mbah Kasan memulai percakapan, “Jadi, mengapa hujan-hujan kamu nekat mengunjungi orang tua ini, Anakku? Apakah kamu ingin bercerita seperti yang dulu sering kamu lakukan?”

Rumi semakin merasa berdosa, “Maafkanlah anakmu yang pendendam ini, Guru, maafkan..!” Tangis Rumi pecah, air matanya tumpah, lesung pipinya itu kini basah.

“Nduk Rumi, bukannya kamu masih ingat nasihatku ini? Orang yang benar-benar mengenal tuhan tidak akan pernah menjadi pendendam. Mereka akan kembali sebagai sosok-sosok yang asing.” Rumi diam meresapi nasihat gurunya.

Sesaat kemudian tiba-tiba ia bertanya, “Lantas, bagaimana muridmu ini harus berbagi cinta untuk makhluk-Nya..?” Mbah Kasan tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Gusti (15) Allah itu Maha Cinta, Nduk. Mereka yang menyembah Allah tidak akan membagi cintanya, tapi mereka selalu melipatgandakannya.” Ucapan sang guru mengalir begitu derasnya ke mata-hati Rumi.

Mbah Kasan meraih tongkatnya dan pergi ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, beliau kembali sambil membawa bungkusan. “Ambillah, Nduk (16) Rumi. Buat hidangan sahurmu nanti. Sudah 8 Dzulhijah, berpuasalah! Lusa jangan lupa puasa juga, ya, Nduk..!” Tak seperti perlakuannya kepada preman dan pelacur itu, Mbah Kasan tidak pernah memberi Rumi uang. Hanya saja ia sering memberi mangut lele pada muridnya itu.

Dari mana Mbah Kasan mendapatkan uang-uang itu? Tak satu pun warga yang tahu-menahu, dan tak ada pula yang berani sok tahu. Mereka terbungkam karena melihat perlahan lokalisasi selatan pasar kota mulai tutup.

Catatan kaki:

1. Billy B, Kuswardyan I, et al., Implementasi Artificial Intelligence pada game Defender of Metal City dengan menggunakan Finite State Machine. Jurnal Teknik ITS 6 (2), A701-706, 2017.

2. Susilo A, Rumende M, Pitoyo W, dkk. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7.(1), 45-67, 2020.

3. Berbagai-bagai penyakit (biasanya datang dengan tiba-tiba, menyebabkan kejang, kancing mulut, dan sebagainya).

4. Prevalensi mortalitas adalah jumlah keseluruhan rata-rata kasus kematian akibat penyakit yang terjadi pada suatu waktu dan wilayah tertentu.

5. R.B. Dana, “Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Meghadapi Pandemic Virus Corona (COVID-19-19) dan Kiat Menjaga Kesehatan Jiwa.” Jurnal sosial dan budaya syar-i  7 (3), 219-220, 2020.

6. Kakek.

7. Irianti E, Ardinata D. “Pengaruh Aktifitas Fisik Sedang terhadap Hitung Leukosit dan Hitung Jenis Leukosit pada Orang Tidak Terlatih.” Repository.usu.ac.id, 266-267, 2008.

8. Mencuri.

9. Bersifat menjauhi perkara yang belum jelas status hukum halal dan haramnya karena takut-khawatir pada keharamannya.

10. Kusuma, Bayu. Islam, Asymmetric Policy and Social Conflict: The State’s Role as a Root of Radicalism in the Philippines and Thailand. IKAT: Indonesian Journal of Southeast Asian Studies 1(1), 2017.

11. Bahasa arab dari “sumber penghidupan atau mata pencarian yang halal.”

12. Ilmu tentang penyebaran penyakit menular paa manusia dan faktor yang dapat memengaruhi penyebaran itu.

13. Kata sapa untuk anak perempuan atau gadis (yang orang tuanya patut dihormati).

14. Menghadap (kepada yang harus dihormati); berkunjung.

15. Sebutan bangsa jawa untuk tuhan.

16. Panggilan bangsa jawa untuk anak perempuan.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA