Cerpen esai oleh Duwi Hartanti

KOPI, Kediri – Patmi memandang langit malam yang tampak kelam tanpa bintang-bintang. Dilihatnya tajam celengan jago yang ia dekap erat. Tangannya sibuk merabai setiap guratan yang menghiasi celengan jago itu, seolah-olah guratan itu menandakan jumlah uang yang mungkin ada di dalam celangan. Cukupkah uang dalam celengan ini membiayai hidup anak-anaknya setidaknya selama bulan ramadhan ini? Pikiran itulah yang sedang menggelayut di dalam benaknya.

Sudah dua tahun terakhir Patmi harus berjuang seorang diri menghidupi kedua buah hatinya. Sudah lama suaminya merantau ke Malaysia untuk menopang hidup keluarga. Diawal keberangkatannya, suami Patmi mampu membelikan rumah untuk Patmi, meskipun rumah itu hanya sebuah gubug reot. Setidaknya rumah mungil itu mampu melindungi keluarga kecil Patmi dari teriknya matahari, dinginnya angin malam, maupun derasnya hujan.

Namun dua tahun ini suami Patmi seolah lenyap dari muka bumi tanpa pernah ada kabar berita.

Kecanthol wedokan liyo!” itulah kalimat terkutuk yang sering Patmi dengar dari para tetangga. Patmi tetap percaya kepada suaminya dan menganggap ucapan para tetangganya itu seperti angin lalu. Tak pernah sedetikpun harapan Patmi untuk bertemu suaminya pupus. Hati Patmi semakin kalut mengingat keadaan Malaysia yang lockdown karena corona[1]. Bagaimana jika suaminya di rumahkan dan tidak bisa bekerja[2]. Jika cinta sejati itu nyata, maka mungkin cinta Patmi adalah salah satunya, karena meski telah dua tahun ditinggal tanpa kabar, Patmi tetap mengingat suaminya dalam setiap doa yang ia ucap.

Ingatan akan suaminya terhenti ketika tangan mungil menyentuh bahunya.

“Angga mau pipis, Mak.” Ucap Angga anak sulung Patmi yang baru berusia tujuh tahun. Dengan tergesa-gesa Patmi meletakan celengan jago yang ia pegang ke atas meja, kemudian mengantarkan Angga ke kamar mandi. Setelah selesai, Patmi segera mengantar Angga kembali ke kamar tidur. Di kamar itu Patmi melihat Rahmat anak bungsunya tertidur pulas, begitu nyaman memeluk guling lusuh kesayangannya. Patmi tersenyum getir melihat wajah kedua jagoannya. Akankah dia sanggup mengantar dua malaikat itu mewujudkan mimpinya? jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka saja Patmi harus banting tulang tidak karuan.

Sebelum covid-19, virus dari Wuhan[3] ini menyerang dan berubah menjadi pandemi yang memdemi, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Patmi berjualan sempol dan nuget, di depan sekolah. Namun karena pandemi ini sekolah diliburkan[4]. Hal ini membuat Patmi kehilangan mata pencahariannya.

Dua bulan terakhir Patmi dapat bertahan hidup dari menjual barang-barang yang mungkin bisa ia jual. Televisi kecil yang biasanya menghiasi sudut ruang tamunya adalah barang pertama yang ia jual. Sering kedua anaknya merengek meminta agar televisinya dikembalikan. Namun apa daya Patmi tak berdaya.

Barang selanjutnya yang menjadi korban adalah handphone jadul. Hasil penjualan hp[5] itu ia tukar dengan beras 10 kg, beras itu akan ia hemat hingga mungkin dapat digunakan sampai 1,5 bulan ke depan. Dengan terjualnya hp itu pupus sudah harapan Patmi untuk menerima kabar dari suaminya.

Selesai menidurkan Angga, Patmi kembali ke ruang tamu untuk mengambil celengannya. Dia mengamati seluruh sudut rumahnya, tak ada lagi barang yang bisa ia jual untuk menyambung hidup. Bahkan kebaya dan jarit satu-satunya kenangan pernikahannyapun telah masuk rumah pegadaian[6]. Tinggal celengan jago itulah harapan satu-satunya. Semakin erat dia memegang celengan itu seolah-olah itu adalah nyawanya dan tak ingin ia lepaskan.

Patmi mengingat percakapannya dengan kedua anaknya pagi ini,

“Emak, besok megengan kan? Hore bisa makan enak, Mak?!” suara ceria Angga dan Rahmat pagi tadi. Patmi hanya tersenyum. Masih dia ingat tahun-tahun sebelumya tepatnya tiga tahun yang lalu saat suaminya masih rutin mengirimkan uang bulanan, Patmi bisa menyembelih seekor ayam untuk merayakan megengan. Dia memasak ayam bakar khusus untuk dibawa ke mushola dekat rumahnya. Di mushola itu semua warga kampung akan membaca tahlil dan do’a lainnya menyambut datangnya bulan suci. Selesai berdoa, mereka makan bersama takiran yang telah dikumpulkan. Saat pulang anak-anak itu akan membawa berkat sisa yang masih melimpah. Tahun itu kegembiraan menyambut datangnya bulan ramadhan sangat terasa. Tahun ini anak-anak tetap antusias menyambut bulan suci, terutama dengan adanya ritual megengan. Makanan enak dan melimpah telah terbayang di benak mereka. Lain halnya dengan Patmi yang menatap kosong ramadhan tahun ini, semuanya terasa berat bagi Padmi. Tapi dengan celengan itu Padmi mencoba menenangkan hatinya dan bersiap menyambut ramadhan dengan suka cita.

Dibukanya celengan jago itu, gemerincing beberapa uang koin mengganggu tidur Angga dan Rahmat. Angga tampak menggeliat begitu pula Rahmat bergeser dari guling lusuh yang sedari tadi ia dekap erat.

“Tujuh ratus lima puluh ribu… setidaknya uang ini cukup selama ramadhan.” Gumam Patmi. Dia berencana membeli ayam meski cuma seperempat kilo, kemudian dia juga akan membeli mie instan meski hanya satu bungkus. Makanan instan murah, yang dihujat dan dicap tidak sehat itu[7] adalah menu istimewa bagi Patmi dan anak-anaknya. Dia juga berencana membuat kue apem yang lezat. Semuanya harus special demi menyambut bulan istimewa.

“Tujuh puluh lima ribu sepertinya cukup untuk megengan…Sisa uangnya dapat digunakan selama sebulan asalkan berhemat.” rencana Patmi dalam hati. Patmi rajin menanam sayuran di lahan sempit sekitar rumahnya. Misalnya sawi, kangkung, cabai, tomat, dan lain-lain. Dengan adanya sayuran itu, Patmi dapat menghemat pengeluaran.

Pagi-pagi Patmi bersiap berangkat ke pasar untuk berbelanja.

“Kalau bosan di rumah ajak adikmu nonton tv di tempat Bulek Semi ya, Le!” pesan Patmi kepada Angga. Angga hanya mengangguk, dia masih malas beranjak dari kasur lepeknya.

Pagi-pagi buta, selesai shalat shubuh Patmi bergegas menuju ke pasar. Dari tempat tinggalnya Patmi harus berjalan sejauh kurang lebih dua km. Ditentengnya tas butut dari plastik sintetis itu. Di dalam tas itu Patmi meletakan dompet kecil tempat ia meletakan uang. Hari ini selain berbelanja untuk megengan, Patmi juga berniat berbelanja bulanan seperti beras, gula, minyak goreng, sabun mandi, dan lain-lain. Karenanya dia membawa seluruh uang yang ada di celengan.

Di depan pertokoan yang masih sepi, tiba-tiba sebuah sepeda motor mendekati Patmi dan menjambret tas busuknya. Patmi tersungkur saat ia berusaha mempertahankan tasnya. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan urusannya serta merta mengerubuni Patmi.

“Sekarang memang musim penjambretan. Mungkin karena adanya program asimilasi[8].” Ucap salah seorang pengerumun

“Ia bahkan kemarin ada korban penjambretan yang meninggal[9].” Tambah yang lain.

“Ibu tidak apa-apa?” tanya pengerumun yang sedang membantu Patmi berdiri.

“Ia tidak apa-apa.” Ucap Patmi lirih.

Setelah memastikan bahwa tidak ada luka di tubuh Patmi, kerumunan itu segera membubarkan diri dan kembali keaktivitas masing-masing. Tidak ada luka di tubuh Patmi namun ada rongga menganga di hatinya. Bagaimana orang begitu tega mengambil uangnya, tidakkah mereka lihat baju lusuhnya, atau tas butut itu belum cukup mengisyaratkan betapa terpuruknya keadaan Patmi.

Sekarang pikiran Patmi melayang kepada dua jagoannya, wajah ceria bersiap merayakan megengan yang ia lihat kemarin, dalam bayangannya berubah menjadi raut kesedihan dan kekecewaan. Ingin dia berteriak dan menangis sejadinya, namun tubuhnya terlalu lemas. Patmi duduk terpekur di bawah pohon meratapi kemalangannya. Orang-orang hanya melihat iba kepadanya tanpa banyak membantu. Bagi mereka Patmi hanyalah secuil cerita yang bisa mereka jadikan bahan obrolan saat bercengkrama.

Dengan langkah gontai Patmi pulang menuju gubuk reotnya.

“Mana belanjaanya, Mak?” tanya Angga. Patmi hanya menggeleng dan segera masuk ke kamar, dia sibuk mencari uang receh yang sekiranya masih tersisa. Dia kumpulkan koin-koin itu, lalu pergi ke toko di sebelah rumahnya.

“Setidaknya hari ini anak-anak harus merayakan megengan!” mantra yang Patmi ucapkan. Dengan berbekal uang tiga ribu rupiah, ia pergi ke toko Mbak Yanti.

“Mbak Yanti!” panggil Patmi

“Eh, Mbak Patmi, saya sudah mendengar apa yang menimpa sampean di pasar. Yang sabar ya..” Ucap Mbak Yanti, dijawab anggukan oleh Patmi. Betapa berita cepat menyebar, pikir Patmi.

“Saya ingin membeli mie instan dan telur satu butir, telurnya agak retak juga tidak apa-apa karena uang saya hanya tiga ribu rupiah.” Akhirnya Patmi berhasil mengutarakan maksud kedatangannya.

“Oh, Ia ndak apa-apa, Mbak.” Ucap Yanti

“Ini ada tiga bungkus mie instan, dan kebetulan ada beberapa telur yang agak retak bisa sampean bawa. Ini juga ada kue apem untuk anak-anak.”

“Terima kasih, Mbak.” Ucap Patmi gembira.

Berkali-kali Patmi mengucapkan syukur, dia merasa bahagia karena setidaknya anak-anaknya bisa ikut merayakan megengan sore ini.

Patmi telah selesai membuat dua buah takir untuk dibawa ke mushola.

“Kok cuma telor, Mak? Angga dan Rahmat pengen makan daging ayam.”ucap Angga. Patmi hanya terseyum getir mendengar protes Angga.

“Nanti semoga di mushola dapat ayam, Mas.” celoteh lugu Rahmat yang diam-diam diamini oleh Patmi.

Saat mereka asyik membayangkan nikmatnya daging ayam, terdengar pengumuman dari mushola. Pengumuman itu menyatakan bahwa megengan tidak bisa diadakan di mushola karena Pak Asnan pemangku mushola dinyatakan positif covid[10]. Mendengar pengumuman itu ke dua jagoan Patmi tampak kecewa.

“Telur juga enak!” Bujuk Patmi. Telur ayam dan mie instan adalah makanan mewah buat mereka, karenanya mendengar megengan tidak digelar di mushola, ke dua anak Patmi segera memakan berkat mereka sampai habis.

“Kenyang, Mak! Nanti taroweh juga di rumah, Mak?” tanya Angga dijawab anggukan oleh Patmi.

Selesai shalat taroweh, Patmi menidurkan kedua anaknya, kemudian Patmi duduk kembali di atas sajadahnya. Perutnya terasa lapar, beras terakhir yang ia miliki telah ia masak sore tadi dan sudah ditandaskan oleh kedua anaknya. Patmi berdoa mengungkapkan segala keluh kesahnya kepada Sang pencipta. Patmi yakin bahwa Allah maha kaya, bukankah Allah menjamin rizki setiap mahkluk bahkan mahkluk melata sekalipun[11]. Patmi menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, hal inilah yang menjadi penguat Patmi. Pintu rejeki bisa datang dari segala arah mungkin besok ada tetangga yang memberinya pekerjaan, mungkin BLT dari pemerintah akan turun[12], atau Mas Karmannya pulang. Angan Patmi melayang sebelum tubuhnya terlelap dalam lelah.

Arti kata dan kalimat bahasa jawa:

*“Kecanthol wedokan liyo!” (Tertarik dengan perempuan lain)

* Mak/ emak (Ibu)

* Mendemi (membuat pusing tujuh keliling)

* Megengan (tradisi menyambut Ramadhan di jawa yang sarat makna)

* Berkat/ takiran (nasi beserta lauk yang dipersiapkan untuk acara tertentu)

* Le (Panggilan anak laki-laki dalam bahasa jawa)

* Sampean (kamu)

Foot Note:

1. Malaysia Lockdown Akibat Corona COVID-19, Aksi Pemerintah Cepat dan Tegas. https://www.liputan6.com/global/read/4212670/analis-malaysia-lockdown-akibat-corona-covid-19-aksi-pemerintah-cepat-dan-tegas

2. Imbas Corona, Banyak TKI di Malaysia di Rumahkan. https://www.metrotvnews.com/play/kj2C1WoO-imbas-virus-corona-banyak-tki-di-malaysia-yang-dirumahkan

3. Benarkah Virus Corona Penyebab Covid-19 Berasal dari Pasar Wuhan?
https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/09/061000865/benarkah-virus-corona-penyebab-covid-19-berasal-dari-pasar-wuhan.

4. Virus corona: Sekolah, universitas meniadakan kelas, pemerintah Indonesia belum resmi liburkan sekolah. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51769074

5. Kisah Bapak 7 Anak Keliling Jual HP Rusak Rp10 Ribu Buat Beli Beras Saat Corona. https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-bapak-7-anak-keliling-jual-hp-rusak-rp10-ribu-buat-beli-beras-saat-corona.html

6. Gadai Barang demi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona
https://tirto.id/gadai-barang-demi-bertahan-hidup-di-tengah-pandemi-corona-eQcz

7. Kenapa kebanyakan makan mie instan tak baik untuk kesehatan tubuh? https://www.merdeka.com/sehat/kenapa-kebanyakan-makan-mie-instan-tak-baik-untuk-kesehatan-tubuh.html

8. Asimilasi Ditengah Pandemi Covid 19 dan Penegakan Hukum Pidana

9. Korban Jambret di Kediri Meninggal Kecelakaan saat Kejar Pelaku https://www.medcom.id/nasional/daerah/ybDl4BXb-korban-jambret-di-kediri-meninggal-kecelakaan-saat-kejar-pelaku

10. Takmir Masjid di Sumenep Positif Covid-19 Klaster Asrama Haji. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200425120349-20-497202/takmir-masjid-di-sumenep-positif-covid-19-klaster-asrama-haji

11. Rezeki setiap mahkluk sudah dijamin oleh Allah Azza Wa Jalla.

12. Bagikan BLT saat Pandemi Corona, Ini Mekanisme Pendataan hingga Penyaluran. https://www.liputan6.com/news/read/4238139/bagikan-blt-saat-pandemi-corona-ini-mekanisme-pendataan-hingga-penyaluran

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA