by

Tapal Batas

Cerpen esai oleh Duwi Hartanti

KOPI, Kediri – Tanggal 21 April 2020, pukul 23.00 Rizki terbangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh yang berasal dari tetangga sebelah. Ia bergegas keluar kamar dan melihat apa yang sedang terjadi. Dari balik jendela rumahnya, ia melihat Faisal sedang sibuk mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil travel yang ditumpanginya. Faisal adalah tetangga Rizki yang telah lama merantau di Jakarta. Kabarnya dia membuka usaha kuliner di sana. Rizki merasa was-was akan kedatangan Faisal, covid-19 telah sukses menimbulkan rasa paranoid pada setiap orang [1]. Rizki heran kenapa Faisal memutuskan untuk mudik, meskipun saat ini larangan mudik belum dimulai [2] namun bukanlah sikap yang bijak untuk mudik ketika pandemi masih menggila. Apalagi Jakarta adalah episentrum covid-19 [3]. Sehingga sangat mungkin jika orang yang baru dari sana merupakan carier atau orang tanpa gejala (OTG)[4].

Keesokan paginya Rizki dan Bapaknya duduk santai mengobrol tentang kedatangan Faisal di teras rumah.

“Faisal mudik, Pak.” Ucap Rizki memulai obrolan sambill minum kopi yang telah disiapkan oleh ibunya.

“Ia… dan sepertinya dia belum melapor ke balai desa perihal kepulangannya. Menurut protokol mudik, seharusnya dia melapor dulu. Supaya bisa dicek kesehatannya dan juga dapat dipantau oleh para petugas gugus tugas covid.”[5]

“Faisal itu kok egois, sudah tahu Jakarta gudangnya penyakit malah di bawa ke kampung. Bocah gemblung!” sahut Bu Salma dari dalam rumah.

“Ibu itu kalau tidak tahu permasalahan orang, tidak usah menghakimi.”

“Bapak itu memang sok bijak, tapi aslinya Bapak juga takutkan kalau ketularan?”

“Ia takut Bu, tapi ya jangan asal ngecap orang gemblung. Siapa tahu usaha Faisal sudah tidak bisa jalan di Jakarta [6], terus dia sudah tidak bisa cari makan. Kalau keadaannya seperti itu kemana lagi kalau tidak kembali ke kampung? Siapa yang tanggung jawab kalau dia mati kelaparan di sana? Mending kalau mati kelaparan lhah… kalau bertindak kriminal? Bukannya malah mencoreng nama kampung?” ucap Pak Ridwan panjang lebar.

Sak karepmu Pak!” jawab Bu Salma sambil melengos meninggalkan teras dan masuk ke dalam rumah.

Obrolan mereka terhenti saat mereka melihat beberapa pamong desa yang juga merupakan gugus tugas covid-19 mendatangi rumah Faisal. Para petugas tersebut tampak membawa tabung disinfektan  dan juga sebuah thermo gun. Selang beberapa waktu tampak Faisal keluar dari rumah bersama para petugas tersebut. Para petugas menginstruksikan kepada Faisal untuk membentangkan kedua belah tangannya. Gerakan yang sama seperti saat penjahat akan ditangkap. Kemudian cairan disinfektan disemprotkan ke seluruh bagian tubuhnya. Para petugas itu beraksi seperti seorang petani yang sedang membasmi hama, dan hama itu bernama Faisal. Para petugas menginstruksikan Faisal untuk berbalik arah. Saat membalik badannya Faisal tampak menutup erat kedua matanya, takut akan terjadi kerusakan pada matanya seperti berita yang telah banyak beredar [7]. Selesai menjalankan kewajibannya, para petugas itu meninggalkan tempat Faisal. Sebelum pergi  mereka mewanti-wanti  Faisal bersedia mengkarantina diri secara mandiri karena faisal tidak mengalami gejala Covid-19[8].

Rizki dan ayahnya melihat adegan demi adegan dengan seksama.

“Mas mu Ridho yang sekarang ada di Surabaya sebaiknya jangan pulang dulu. Bapakmu ndak sanggup melihat kakakmu diperlakukan seperti  itu. Sudah kayak teroris saja. Lihat saja para pasien covid itu, ada yang digelandang paksa seperti pelaku kriminal[9]. Belum lagi para tetangga pasti merasa was-was dan merasa tidak aman. Syukur-syukur kalau mereka berempati kalau malah memusuhi dan menjauhi kan kasian sekali. ”

“Ia saya juga setuju, Pak. Lebih banyak mudhorotnya daripada manfaatnya jika mudik dalam situasi seperti ini.” Jawab Rizki.

Belum selesai pembicaraan antara Rizki dan Bapaknya tiba-tiba sekelompok warga mendatangi rumah Faisal.

“Tolak Faisal!”, “Jangan perbolehkan Faisal tinggal di sini!”, “Kami ingin sehat!”, “Jangan sebarkan virus di sini!” gelegar suara warga di depan rumah Faisal. Mereka menuntut agar Faisal pergi dari kampung mereka. Ayah Faisal yang renta keluar dari rumahnya dan mencoba menenangkan warga. Dia berusaha menjelaskan bahwa gugus tugas covid telah  melakukan pengecekan dan pendataan. Namun warga sekitar tetap tidak dapat menerima kedatangan Faisal.

Bapak Ridwan, ayah Rizki, yang juga pemuka di kampung itu akhirnya tampil menengahi.

“Bapak-Bapak! seperti yang Bapak-bapak ketahui bahwa Faisal telah diperiksa oleh petugas. Selain itu Faisal juga telah berjanji untuk melakukan isolasi mandiri.” Ucap Bapak Rizki menenangkan warga.

“Faisal memang diisolasi tapi bagaimana dengan Pak Kasnan dan Mak Jum. Mereka tetap berinteraksi dengan warga, padahal kemungkinan mereka untuk tertular sangat besar. Suruh mereka semua mengisolasi diri di balai desa saja [10].” Protes warga bersikeras.

Bapak Rizki mendekati Pak Kasnan yang merupakan orang tua dari Faisal. Pak Kasnan mengungkapkan keberatannya jika harus mengisolasi diri di balai desa. Dia takut jika dia harus mengisolasi diri di balai desa maka ayam dan bebek yang biasa ia rawat di pekarangan belakang rumahnya tidak terurus. Bapak Ridwan memikirkan jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ini.

“Begini Bapak-Bapak, jika Bapak Kasnan harus diisolasi di balai desa, kasian ternaknya yang ada di rumah. Saya mempunyai usul bagaimana jika Bapak Kasnan beserta keluarga tidak usah dikarantina di balai desa. Saya akan membantu menyediakan keperluan harian mereka jadi mereka tidak perlu keluar rumah dan berinteraksi dengan warga yang lain.” Usul Bapak Ridwan.

Usulan Bapak Ridwan ternyata dapat diterima oleh para warga. Merasa telah mendapat jaminan dan   win-win solution, para warga segera membubarkan diri. Bapak Kasnan beserta keluarga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ridwan karena bersedia membantu mereka.

Melihat gagasan dan kesanggupan ayahnya untuk membantu tetangganya itu, membuat Rizki lebih hormat dan bangga akan sikap Bapaknya. Rizki menunggu Bapaknya di depan pintu rumah mereka.

“Bapak memang jempol.” Puji Rizki pada Bapaknya sambil mengacungkan jempol tangannya.

“Sudah saatnya kita turut mengedukasi warga dan menunjukan pada dunia bahwa corona hanya bisa menyerang paru-paru ataupun organ tubuh penting lainnya, tapi tidak hati nurani kita.”

‘Siap Komandan!” Balas Rizki

“Faisal yang ODP saja sudah dikucilkan dan ditolak, pengasingan ini pasti menimbulkan beban yang berat bagi dia dan keluarganya. Kita harus bisa meringankan beban mereka. Beban pikiran bisa mengurangi imun tubuh. Kalau sampai daya tubuh mereka menurun karena penolakan ini kan malah bahaya. Semakin berkurang imun tubuh maka corona bisa semakin merajalela. Corona hanya bisa sirna kalau kita bisa menjaga satu sama lain.” Ceramah Bapak Ridwan

“Kenapa jadi saya yang dikuliahi, Pak.” Protes Rizki

“Tapi kamu setujukan dengan keputusan Bapak untuk membantu menyediakan kebutuhan harian Bapak Kasnan beserta keluarga?”

“Tentu saja, saya dukung seratus persen.”

“Bagus berarti nantinya kamulah yang menjadi kurir untuk mengantar kebutuhan mereka,” ucap Pak Ridwan santai.

“Ughh… ternyata tetap saja saya tim pelaksananya.” Keluh Rizki

“Ya tetap kita-kita ini korban gagasan Bapakmu!” tambah Bu Salma.

“Tapi Ibu maukan menambah porsi makanan kita sehari-hari?” tanya Pak Ridwan dan dijawab gelengan oleh Bu Salma.

“Ayolah sayangku, istri solehaku, aku tahu kamu pasti juga akan mendukung keputusanku kan..?!” rayu Pak Ridwan yang akhirnya melelehkan hati Bu Salma.

“Bapak ini memang pandai membuat ide tapi prakteknya tetep antek-anteknya yang harus beraksi di garda depan.” tambah Rizki

“Ide dan gagasan itu mahal harganya, kamu tinggal jadi tim pelaksana jangan protes.” Canda Pak Ridwan

Enggeh… sendiko dawuh, Bapak.” Ucap Rizki mengiakan argumen Bapaknya.

***

Tanggal 23 April 2020 pukul 04.00, rumah Rizki sudah dihebohkan oleh suara berisik ibunya, Ibu Salma.

“Rizki ayo antar Ibu ke pasar! Ayo…cepetan bangun!” teriak Ibu Salma.

“Kenapa tho Bu, baru pukul segini sudah heboh mau ke pasar?” tanya Pak Ridwan

“Hari ini ibu harus belanja banyak, Pak. Apa Bapak lupa kalau nanti sore megengan[11]. Ibu harus membeli ayam, daging, mie, wortel, buncis dan lain-lain. Oh ia ibu juga harus membeli tepung terigu, tepung beras, fernipan, dan tape untuk membuat kue apem. Terus ibu kok kepengen kue apemnya diberi nangka biar lebih sedap. Tapi mana Rizki yang ibu suruh ngantar malah ndak bangun-bangun. Kalau kesiangan sampai di pasar, ayam dan daging segarnya keburu habis.” Cerocos ibu Salma.

“Ibu lupa kalau desa sebelah sudah membuat portal pembatas gara-gara Faisal mudik. Itukan satu-satunya akses menuju pasar. Portalnya baru dibuka pukul 6 Bu… Untung kemarin saat penempatan portal tidak terjadi bentrok antar warga[12] kabarnya beberapa warga dari desa kita sempat tidak terima kalau jalan itu diberi portal karena itu akses tercepat menuju kota”

“Terus gimana ceritanya Pak?”

“Sempat panas Bu, terjadi adu mulut antar anak muda dari dua belah pihak. Bahkan katanya sampai ada adegan dorong-dorongan fisik. Corona bukan hanya membentuk tapal batas antar desa tapi juga menggeser tapal batas kemanusiaan.”

“Bapak ini malah berpujangga. Lalu, siapa yang menentramkan suasana, Pak?” tanya Bu Salma

“Untung Pak Kepala Desa dari kedua belah pihak datang, hinggga diambil kesepakatan portal ditutup lebih larut dan dibuka lebih pagi.”

“Hadeh… gara-gara satu orang mudik jadi susah semua.” Keluh Ibu Salma

“Makanya saya juga sudah mewanti-wanti Ridho agar tidak mudik, karena ada yang lebih cepat menyebar dan lebih berbahaya daripada corona yaitu prasangka.

“Ia Pak, semoga kita bisa selalu berprasangka yang baik terutama prasangka terhadap ketetapan Allah SWT, tapi kangen Ridho, Pak” Jawab Ibu Salma.

“Kangennya ditunda dulu biar lebih menumpuk kan lebih asyik nanti pas bisa ketemu saat semua aman tanpa was-was, tanpa prasangka.”

“Enggeh Pak, aku mengerti karena kalau mudik hari ini bukan membawa bahagia malah membawa petaka.”

“Lagian Ibu mau masak banyak, memangnya megengan diperbolehkan? Kan tidak boleh ngumpul-ngumpul dulu Bu, nyegah corona.” Ucap Pak Ridwan.

“Apa megengan juga dilarang?” tanya Bu Salma sambil tampak menunduk, bersedih hati merindukan saat-saat meriah dan penuh suka cita menyambut Ramadhan seperti tahun-tahun yang lalu.

Arti kata/kalimat bahasa jawa:

  • Gemblung (gila, sinting)
  • Sak karepmu, Pak!” (Terserah Bapak!)
  • Enggeh… sendiko dawuh, Bapak!” (Ia…. siap laksanakan, Pak!)

Footnote:

1. Panik Berlebihan Saat Membaca Berita Covid-19, Waspada Gejala Psikomatis. https://med.unhas.ac.id/sinovia/2020/04/12/panik-berlebihan-saat-membaca-berita-covid-19-waspada-gejala-psikomatis/

2. Sah, Larangan Mudik Berlaku Mulai 24 April Pukul 00.00 WIB. https://money.kompas.com/read/2020/04/23/160006326/sah-larangan-mudik-berlaku-mulai-24-april-pukul-0000-wib.

3. Jakarta dan sekitarnya menjadi epicentrum covid-19. https://kompas.id/baca/foto/2020/04/03/jakarta-dan-sekitarnya-menjadi-epicentrum-covid-19/

4. Mengenal Istilah orang tanpa gejala yang berpotensi tularkan covid-19. https://www.liputan6.com/otomotif/read/4229811/mengenal-istilah-orang-tanpa-gejala-yang-berpotensi-tularkan-corona-covid-19

5. Gugus tugas desa covid-19 minta gunakan balai desa untuk isolasi pemudik. https://jogja.tribunnews.com/2020/04/23/gugus-tugasdesa-covid-19-minta-gunakan-balai-desa-untuk-isolasi-pemudik

6. Terancam Gulung Tikar Pengusaha Restoran Minta Bantuan Pemerintah. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4983004/terancam-gulung-tikar-pengusaha-restoran-minta-bantuan-pemerintah

7. Bahayabta Cairan Disinfektan Bisa Mengganggu Mata dan Saluran Pernapasan, Sudah ada Korban. https://kesehatan.rmol.id/read/2020/04/13/429975/bahayanya-cairan-disinfektan-bisa-mengganggu-mata-dan-saluran-pernapasan-sudah-ada-korban

8. Tolong OTG duduk tenang di rumah dan karantina mandiri. https://www.jpnn.com/news/tolong-otg-duduk-tenang-di-rumah-dan-karantina-mandiri

9. Menolak diisolasi seorang pdp dijemput paksa petugas. https://mediakaltara.com/menolak-di-isolasi-seorang-pasien-pdp-yang-kabur-dijemput-paksa-petugas/

10. Pemudik dari Surabaya reaktif suami dan anaknya diisolasi di Ponorogo. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5008779/pemudik-dari-surabaya-reaktif-suami-dan-anaknya-diisolasi-di-ponorogo

11. Megengan Tradisi Menyambut Ramadhan yang Sarat Makna. https://thr.kompasiana.com/casmudi/5cd3306095760e4eff3d14a0/megengan-tradisi-menyambut-ramadhan-yang-sarat-makna

12. Gegara Corona 2 Desa di Malang Saling Portal Jalan. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5009417/gegara-corona-2-desa-di-malang-saling-     portal-jalan

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA