Cerpen esai oleh Aznizenti

KOPI, Payakumbuh – “Aung.. aung… aung..” bunyi raungan serine ambulance pagi ini membuat ku tersentak.

“Bertambah lagi yang positif”, desahku getir.

Namun Aku tidak menghiraukan itu lagi. Jiwaku lelah sudah dengan keadaan negeri ini. Tiba-tiba masker yang Aku pakai melorot jatuh ke leher dan segera Aku benarkan lagi sehingga menutupI mulut dan hidungku. Sekarang harus begitu, harus pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

Bunyi raungan sirene itu tidak terdengar lagi namun Aku tetap merasakan hal yang teramat pahit.

Aku terus menyapu halaman belakang rumah. Sudah beberapa Minggu ini Aku tidak membersihkan pekarangan rumah, baik yang di belakang maupun yang di depan. Aku terlalu sibuk dengan urusan yang lain yang menyita hari-hari ku.

Minggu pertama Ramadhan Aku telah kedatangan tamu. Tamu yang tidak diundang.

Tamu itu telah merenggut kebahagiaan keluargaku. Bahkan tamu itu juga telah menghancurkan nama baik keluarga ku hingga sampai detik ini semua orang memandang keluarga ku dengan sebelah mata. Dulu kami adalah keluarga yang disegani, namun kini semua menjadi berubah. Aku bahkan seperti tidak dianggap. Kalau pun dianggap namun dianggap bukan siapa-siapa.

Tamu itu datang tanpa permisi. Dia datang tidak berbentuk dan begitu tiba-tiba. Dia dengan seenaknya mengambil kebebasan hidup semua orang termasuk hidup putera sulungku.

“Tidak..!!!

Putera ku bukan penjahat. Putera ku anak yang baik dan penuh kasih buat sesama. Putera ku anak yang sholeh bahkan lebih taat beribadat di banding kami orang tuanya.

“Jangan…!!!”

Tiba-tiba saja Aku berteriak tanpa sadar dan tangan ku bergetar hebat menahan amarah yang teramat sangat. Banyak sesal yang bisa ku jadikan alasan kenapa putera ku dan ada apa dengan putera sulung ku. Namun semua itu buat apa??, sesal kemudian tiada berguna.

Air mataku meluncur begitu saja ke pipi ku yang mulai tirus. Kemudian Aku mengambil ujung daster yang aku kenakan pagi ini dan menghapusnya ke pipi ku yang telah basah.

Tamu itu telah memberi stempel pada dinding rumah ku dan memberi sebuah nama hitam pada anak ku. Betapa kejamnya tamu tidak diundang itu. Dia membuat hidup anak ku dan keluarga ku menjadi kelam dan berdebu.

Malu, itulah kata yang terlontar dari mulut ku ketika itu.

“Aku malu Ayah, Aku sangat malu”, desah ku pada suami ku

“Aku ingin pulang saja ke kampung, Aku tidak sanggup berada di sini lagi”, ucap ku membuat suami ku kaget bukan kepalang.

“Apa??, pulang??”,

“Sudah berapa lama kita tidak membahas kata itu, Piah”, suara suami ku tiba-tiba menjadi sangat keras.

“Jangan kau sebut juga itu, pulang bukan jalan nya. Bukankah kita sudah sepakat tidak akan menginjakkan kaki ke tanah leluhur kita itu sebelum waktunya?”

Aku menyeka air mata ku saat itu. Aku merasakan kemarahan yang sangat luar biasa dari suami ku . Pulang kampung, adalah kata yang sudah tabu bagi kami sejak 40 tahun yang lalu sejak Aku dan suami ku di usir oleh ibu ku yang tidak merestui pernikahan kami. Sejak meniggalkan rumah bahkan sampai ibu ku meninggal, kami tidak pernah lagi melihat tanah Singgalang.

“Tapi di sini Aku malu, Yah”.

“Aku merasa ini hukuman Allah kepada kita. Ini aib”, kembali Aku mengatakan rasa yang ada dalam batin ku saat itu.

“Untuk apa kita malu, itu bukan aib. Itu hanya wabah pandemi yang seluruh dunia mengalaminya. Kebetulan, takdir Allah membuat Si Buyuang  [1]] terserang. Kita bisa apa?”, Lihatlah data pasien positif covid di negara barat sana, negara Italia, Amerika dan negara besar lainnya di Eropa tidak luput dari wabah virus corona itu,”  [2]] suami ku berkata seakan tidak punya perasaan.

Hatiku sakit dengan kata-kata suami ku itu. Aku marah dan benci entah kepada siapa.

“Iya, tapi itu putera sulung kita ayah. Bukan orang lain. Anak kita”, jawab ku sedikit kesal.

“Kenapa virus biadab itu menyerang anak kita, kenapa??”, teriakku tidak bisa di tahan. Suami ku terlihat diam tanpa menjawab pertanyaan ku.

Si Buyuang dinyatakan positif covid berdasarkan hasil Swab dari Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand Padang [3]] dan itu hanya disebabkan karena Ia hanya kontak fisik dengan penderita positif covid di sebuah mesjid ketika sholat berjamaah.

“Begitu marahkah Tuhan pada anak ku, apa salah anak ku”, pertanyaan itu hingga kini tiada yang bisa menjawabnya.

Kenyataan pahit begitu terasa ketika melepas Si Buyuang pergi. Ketika Ia harus meninggalkan rumah ini. Entah kapan akan kembali pulang. Sampai saat ini Aku tidak pernah kontak dengan anak ku itu. Si Buyung tidak menghendaki itu. Ia tidak mau ada yang melihat, mendengar bahkan mengetahui apa yang tengah Ia alami selama si isolasi.

“Buyuang pergi Bu, dan entah kapan akan pulang”, lalu Ia membalikkan tubuh nya pergi meniggalkan ku, ayah nya suami ku, Rubiah isterinya, kedua putera putrid nya para cucu ku dan kedua adiknya yang selalu di sayangi nya.

“Pergi lah nak,” hanya itu yang bisa Aku ucapkan.

Ku lihat anak ku pergi tanpa salaman apalagi berpelukan. Rubiah melarikan tangis nya ke belakang. Cucu-cucu ku berteriak memanggil Bapak nya.

“Jangan pergi, Papa”,

Suami ku dan kedua adik nya hanya menatap kepergian Buyuang tanpa bicara apa-apa.

Petugas kesehatan telah datang menjemput Si Buyuang untuk di bawa ke rumah sakit untuk di isolasi, hidupku bagai sudah mati. Rasanya langit mau runtuh.

“Aku tidak percaya corona itu ada”, begitu Buyuang selalu berkata pada ku. Buyuang selalu menjalankan aktivitas seharti-hari tanpa rasa ketakutan apapun.

“Allah selalu melindungi kita”, begitu Buyuang berkata.

Namun Allah telah memperlihatkan sesuatu yang mungkin Buyuang terlupa. Manusia diperintahkan untuk waspada dan menghindari malapetaka. Bukan Allah tidak sayang atau tidak melindungi umatNya melainkan Allah ingin memberi sebuah pembelajaran hidup bagi setiap yang bernyawa. [4]]

Pandangan dan kata-kata para tetangga waktu menyaksikan kepergian Si Buyuang dari jauh masih segar diingatan ku.

“Itu hukuman untuk orang yang sombong”.

“Bagaimana tidak akan positif, Si Buyuang itu pergi bekerja masih saja tidak mentaati himbauan pemerintah.  Pergi juga sholat berjamaah. Tidak pakai masker pula”.

“Jangan dekat-dekat dengan keluarga mereka, nanti positif pula.”

“Sekarag Si Buyuang yang positif, bisa jadi seluruh keluarganya juga positif.”

“Yang pasti bakal ada yang positif di komplek ini”, celetuk yang lainnya

“Hah, siapa”, jawab isterinya

“Kamu, karena Aku terlalu lama Wfh, [5]] bisa positif hamil toh”, celetuk suaminya

Tawa kedua tetangga brengsek itu membuat Aku merasa terhina.

Begitu banyak lagi kata-kata sinis yang tidak sedap ku dengar dari jauh tapi masih bisa ku tangkap maknanya. Walau mereka tidak berani mendekati pekarangan ku tapi melihat dari kejauhan dari pintu rumahnya masing-masing dengan pandangan yang aneh menyaksikan kepergian Si Buyung adalah drama yang tidak akan Aku lupa seumur hidup.

“Kata orang yang positif covid pulangnya banyak yang meninggal”

“Meninggalnya menyedihkan lho. Tidak bisa kita lihat, tidak diselenggarakan jenazahnya seperti umumnya orang Islam meninggal dan banyak lagi yang menyakitkan.

“Tidak boleh di bawa pulang sebelum di kubur”.

“Tidak boleh dimandikan, tidak di sholatkan…dan tidak boleh diantar keluarga ke pemakaman”.

“Tidak…!!” teriak ku menghentikan percakapan itu.

“Diam..!!”

“Bubar…!!!” bentak ku akhirnya.

Perlahan ku lihat mereka masuk ke dalam rumah masing-masing tapi mereka mengintip dari balik jendela kaca dan itu makin membuat ku sakit hati dan muak. [6]]

Kedatangan tamu tidak diundang telah membuat Aku, menantu ku, cucu ku dan kedua adik Si Buyuang bahkan suami ku pun amat tertekan dan menderita.

Seminggu setelah Si Buyuang di isolasi, Aku mencoba keluar rumah. Aku berbelanja ke pasar dan membuka toko untuk berdagang. Namun apa yang Aku alami? semua mata seakan menatap ku penuh ketakutan. Tidak ada yang berani mendekati ku bahkan menyapa pun mereka enggan.  Sejak saat itu Aku tidak berani lagi keluar rumah. Toko Aku tutup saja. Batin ku sangat tersiksa.

Suasana kota makin tak menentu. Walikota sebagai kepala daerah telah mengumumkan untuk stay at home, pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Walikota sebagai ketua gugus tugas telah membetuk tim percepatan penanganan covid. [7]. Pemerintah pun membuat larangan untuk tidak berkumpul-kumpul. Sholat jamaah di mesjid mulai dilarang. Bahkan sholat Jumat pun juga dihentikan. Tidak boleh mengadakan pesta apapun. Jika ada yang menikah maka hanya boleh dilakukan di kantor urusan agama dan yang hadir tidak boleh lebih dari yang berkepentingan saja. Tidak boleh mengundang banyak orang. Kantor-kantor mulai diperkecil kegiatan yang mengumpulkan banyak orang bahkan pada akhirnya benar-benar dihentikan kegiatan kantor yang mengundang banyak orang. Keadaan kota ku semakin tidak menentu.

Makin hari penderita positif covid kian bertambah. Karena masyarakat kota ku masih banyak yang keluar rumah, masih ada yang berkumpul di pasar dan bahkan dengan diam-diam melaksanakan sholat berjamaah di mesjid. Akibatnya mata rantai penyebaran covud sulit untuk diputus. Padahal setiap raungan serine ambulance seakan megingatkan kematian bagi yang menderita positif corona. Di pulau Jawa telah mulai berjatuhan para pahalwan kusuma bangsa. Dokter dan tenaga medis, sudah ada yang meninggal dunia karena menyelamatkan pasien positif covid. [8]

Melihat dan mendengar semua itu Aku makin resah. Apalagi kemudian Walikota di kota ku mengumumkan PSBB [ 9] hingga akhir April dan kemudian diperpanjang sampai akhir Mei ini. Pasar pun mulai sepi bahkan ditutup untuk memutus mata rantai covid.

Kota ku bagai kota mati dan semua orang seperti menyalahkan putera ku.

Aku terus membersihkan halaman belakang rumah ku. Rasanya tubuh ku mulai lelah karena dari pagi bekerja sendiri. Namun Aku belum mau berhenti. Hatiku masih ingin membersihkan pekarangan belakang rumah agar terlihat rapi kembali. Ramadhan hampir habis. Lebaran akan tiba. Walau tidak akan ada yang akan tiba ke rumah ku namun kebesihan adalah sebagian dari iman bukan? Demikian aku me nghibur diri ku sendiri.

“Mandeh… !!!“ [10] teriakan seseorang memanggil nama ku begitu keras tapi Aku lagi-lagi tidak peduli.

“Mandeh…!!!”, sekali lagi teriakan keras itu menyapa kuping ku.

Aku tersentak, bagai disambar petir aku meninggalkan pekerjaanku dan langsung setengah berlari menuju datangnya suara.

Tidak ada siapa-siapa.

Bulu roma ku berdiri. Tidak mungkin di pagi hari Aku lagi berhalusinasi.

“Jangan-jangan ada hantu di rumah ku ini.”, bisikku mulai ketakutan.

Dengan terbirit-birit Aku memasuki rumah ku dan tidak pergi ke halaman belakang lagi. Hati ku kecut dan ciut.

“Suara siapa tadi itu”, Aku tak habis pikir. Rasanya suara itu begitu jelas dan nyata. Tapi siapa?

“Si Buyuang ….???, tidak mungkin

Tiba-tiba dadaku berdegup kencang.

“Apakah gerangan yang telah terjadi pada anakku Buyuang.”

“Apakah anak ku baik-baik saja di rumah sakit sana??”, Aku duduk termenung di ruang makan sendiri.

“Pertanda apakah ini, Tuhan,” gumamku dalam hati. Tanpa kusadari air mataku berlinang. Aku takut sesuatu telah terjadi pada anakku lebih buruk dari awal dia di jemput oleh petugas medis tiga Minggu yang lalu. Ramainya rumah ku waktu itu dan semua mata tertuju pada putera ku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti sampai sekarang masih seperrti mimpi.

“Ayo minggir, pakai masker, jaga jarak.” teriakan petugas kesehatan waktu menjemput Buyung masih jelas di telingaku.

“Onde Uda, ba lai ko da, lah ditagah Uda pai juo ka musajik sumbayang jamaah”.[11] suara tangis dan ratok Rubiah isteri Buyuang juga masih hangat di telinga ku. Suasana duka dan penuh luka itu masih terbayang-bayang di mataku dan kini bagaimana keadaan Buyung?? Belum hilang trauma itu dari pikiran ku. [12]

“Nenek, Astronout itu datang lagi…!! [13]

Tiba-tiba jeritan suara cucu ku mengejutkan dan membuyarkan lamunan ku.

Aku segera mencari kedua cucu ku. Aku merasa mereka memanggil dari halaman depan.

Ternyata suami ku, kedua anak ku yag lain dan Rubiah menartu ku berlari menuju datangnya suara. Secara bersamaan kami tiba di pintu masuk rumah.

Ku lihat para tetangga sudah ada di depan rumahnya masing-masing. Persis sama waktu Si Buyuang di bawa pergi. Kaki ku gemetaran. Aku memegangi kedua cucu ku dengan ketakutan.

Dua orang petugas kesehatan dengan pakaian lengkap alat pelindung diri yang memang seperti astronaut seperti di bilang cucu ku sudah berada di bawah pohon rambutan di sudur kiri pekarangan rumah ku.

“Tuhan, ada apa ini. Siapakah yang akan mereka jemput lagi??”

“Apakah hasil Swab dari salah satu anggota keluarga ku bakal ada yang mengikuti nasib Buyung”, bibir ku bergetar hebat menahan ketakutan yang amat sangat.

“Ayah, bagaimana ini,” bisik ku pada suami ku dengan ketakutan yang amat sangat.

Kurasakan tubuhku mulai agak sempoyongan. Mataku berkunang-kunang tapi aku menguatkan hati untuk tetap berdiri.

“Jangan dekati dulu,“ tiba-tiba suara suamiku sudah berada dekat denganku dan langsung menahan tubuhku.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Buyuang, Piah. Kota Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, sudah makin bertambah yang positif covid. Bahkan daerah tetangga kita dikabupaten limo puluah kota, sudah ada yang positif covid hari ini,” [14]] ucapan suamiku membuatku makin tak berdaya.

Aku dan keluarga ku diam membisu menatap ambulance dan petugas kesehatan berpakaian APD [15]] lengkap itu. Mereka juga tidak bergerak sepertinya mereka menunggu kami yang mendatangi mereka.

Rasa yang bercampur aduk mulai menyerang hati ku. Apakah anak ku Buyuang lelaki yang bijaksana, taat beribadah dan santun pada siapa saja, suka menolong orang kesusahan dan selalu welas asih, telah terjadi sesuatu padanya?

Buyuang kecil dulu paling takut dengan lampu mati. Buyuang kecil akan menjerit minta tolong jika listrik di rumah mati di malam hari dengan tiba-tiba. Apakah sekarang Ia telah …. dan Aku tidak sanggup melanjutkan pikiran buruk ku.

“Sekarang mari kita temui petugas medis itu,” tiba-tiba suamiku membimbingku melangkah menuju ambulance.

Kedua cucu ku berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Rubiah berlari ke sudut kanan rumah ku. Kedua adik Buyung hanya diam tak bergerak menatap ku pergi dengan ayah nya menuju ambulance dan petugas itu.

“Kita tanya keadaan si Buyuang. Apakah penyakitnya makin parah atau bagaimana. “ ujar suami ku lagi .

“Atau apakah ada diantara kita yang ternyata juga positif corona, kita harus tahu” suara rendah suamiku membuatku makin tak menentu

Kualihkan pandangan ke sekeliling rumahku. Aku menyaksikan tetanggaku berdiri di depan rumahnya masing-masing dengan pakai masker dan saling jaga jarak. Aku merasakan hal yang sangat luar biasa, pedih dan secara terhina. Ini bensr-benar mimpi buruk bagi anggota keluarga ku seumur hidup.

Tatapan mereka seakan menyatakan kalau anakku pembawa petaka di kota ini. Bahkan mungkin mengejek dan mengatakan anakku monster yang siap menelan korban berikutnya.

Dari kejauhan aku melihat cucu-cucuku anak Si Buyuang dengan wajah yang tidak berekspresi mengintip dari balik jendela kaca. Di sudut kanan rumahku, aku melihat Rubiah menyeka air matanya. Aku tahu perasannya. Rubiah menantu yang baik. Setiap malam sejak Si Buyuang pergi Rubiah tak henti-henti menangis dalam sujudnya. Berdoa dan bermohon kepada Sang Pencipta Alam Semesta buat kesembuhan suaminya. Namun dihadapan kami semua, terutama anak-anaknya, senyum Rubiah selalu mengembang, saat berbuka dan sahur tiba.

“Rubi yakin ayah, ibu dan saudara-saudaraku, uda Buyuang akan sembuh. In Shaa Allah dengan Kun Fa Yakun Allah, uda Buyuang pasti sembuh”, itu yang selalu diucapkannya ketika kami semua ingat nasib Buyung yang lagi isolasi di rumah sakit.

“Kapan papa pulang, mama”, demikian selalu sepasang cucuku bertanya pada Rubiah. Hampir setiap hari pertanyaan itu di jawab Rubiah dengan senyum tulusnya.

“Sebelum Ramadhan habis nak, papa In Shaa Allah pulang.

“Sebelum lebaran tiba, papa akan bersama kita”, itu kalimat-kalimat indah Rubiah untuk anak-anaknya atau mungkin juga untuk kami orang tuanya bahkan mungkin untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Buyuang akan baik-baik saja.

“Ini adalah pelajaran berharga bagi kita terutama Buyuang. Akibat melanggar ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, inilah jadinya,” begitu suami ku berucap sambil terus membimbing ku berjalan menuju pohon rambutan dimana petugas kesehatan itu berdiri.

“Kita tidak boleh menyesali takdir [16]. Apa yang dialami uda Buyuang itu sudah takdir beliau. Sudah tercatat di mahfuzd Allah kalau uda Buyuang suatu ketika dalam hidupnya akan mengalami penyakit aneh ini. Bukankah sebagai umat Islam kita harus percaya akan takdir baik dan takdir buruk yang merupakan rukun Iman yang keenam,” kata-kata Rubiah waktu itu seakan menguatkan kaki ku untuk terus melangkah.

Semua drama tiga pekan lalu itu masih sangat segar dalam ingatanku. Kini drama baru apalagi yang akan terjadi pada keluarga ku. Batinku berkecamuk. Rasanya begitu jauh jalan yang aku tempuh dari tempatku berdiri tadi menuju petugas medis yang masih berdiri kaku di dekat mobil ambulance.

Kakiku terasa makin berat. Tapi aku terus berjuang untuk tidak jatuh dan sampai ke hadapan petugas medis itu. Aku terus berzikir. Aku ingat doa-doa yang selalu dilafazkan Rubiah untuk anakku. Doa dari seorang isteri yang sholehah.

“Banyak-banyak berdoa saja Rubiah, ibu dan bapak, semoga saudara Buyuang pulang dengan sehat dan berkumpul lagi dengan keluarga”, begitu Walikota menghibur keluarga ku beberapa hari yang lalu ketika beliau mengunjungi keluarga ku sebagai bentuk tanggung jawabnya selaku pemimpin negeri ini.

Rasanya dunia makin tenggelam karena virus corona. Begitu mudahnya bagi allah untuk menyatakan kebesaranNya yang nyata. Bahwa keseimbangan itu ternyata benar adanya. Seimbang dalam menakar bagian apapun. Seimbang dalam membagi urusan dunia dan akhirat. Manusia yang beragama Islam pasti percaya akan rukun Iman. Inilah rukun Iman yang keenam yang harus diyakini dan bukan hanya diucapkan bahwa takdir baik dan takdir buruk itu harus kita terima. Sering kita mendengar keluhan ketika takdir buruk itu tiba, semua kesalahan malah yang tidak bersalah pun di persalahkam karena tidak menerima takdir buruk. Manusia telah terlalu serakah dengan urusan dunia.

Allah telah mengurangi seluruh nikmatNya dari takdir baik yang ada. Tuhan ada dalam setiap takdir yang nyata. Jangan kau tanya itu mengapa dan kenapa, jangan kau hujat itu karena apa dan salah orangnya, karena tiada sehelai daun kering pun yang jatuh ke bumi tanpa seizinNya. Lalu mestikah selalu kita pertanyakan yang merupakan urusanNya??

Berbaik sangkalah pada Sang Pencipta karena apa yang kau lihat dan alami semua semata mata untuk diambil hikmahnya. Bersabarlah karena sabar itu tidak ada batas nya. Jika masih ada batas, itu bukanlah sabar karena Allah telah menjanjikan sorga buat orang oramg yang sabar atas jalan hidupnya. Itu pemikian yang selalu kusimpan dalam diam csejak Buyuang pergi di isolasi hingga sampai saat ini dan pemikiran itu yang membuatku masih sanggup melangkahkan kaki di situasi seperti ini.

Dengan langkah yang mulai terseok aku akhirnya tiba juga di hadapan dua orang tenaga medis yang memakai alat pelindung diri lengkap itu. Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman tapi petugas itu dengan cekatan mengatupkan kedua telapak tangannya tanda kami tidak boleh bersalaman. Aku mengangguk sambil mengatupkan kedua telapak tanganku dan membawanya ke dadaku.

Aku ingin bertanya mengapa merekaa datang ke rumah ku tapi lidahku tiba-tiba kelu dan tanganku mulai bergetar. Peluh dingin mengucuri tubuhku. Begitu cepat reaksi pshykis ku akhir-akhir ini jika sudah melihat ambulance dan para medis berpakaian APD lengkap ini. Oleh cucu-cucu ku dinamakannya baju astronout.

Tiba-tiba Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku hampir jatuh namun segera ditahan oleh sepasang tangan kokoh yang tidak lain adalah suamiku.

“Jangan paksakan jika kau tak sanggup Piah”, hanya itu yang aku dengar dan setelah itu aku tak mendengar apa-apa lagi.

Bau bawang putih menyengat hidungku dan itu membuatku tersedak karena baunya yang kurang sedap di hidung. Aku merasakan nafasku sedikit sesak dan aku membuka mataku.

“Alhamdulillah, nenek sudah sadar”, kudengar dan kurasakan pelukan hangat kedua cucuku.

“Alhamdulillah,” kudengar pula beberapa suara tak jauh dari tempatku.

“Dimana aku”, keluhku dan berusaha menegakkkan badan ku yang sedang dipeluk cucuku.

“Kau sudah di dalam kamar, Piah”, jawab seseorang dan itu suamiku.

Aku melihat sekelilingku, ada cucuku, suamiku dan beberapa tetangga dekatku. Mereka satu persatu membuka masker di wajahnya agar terlihat olehku dan setelah tersenyum mereka meutupnya lagi. Tapi mereka tidak ada yang mendekati ku. Mereka tetap berdiri di dekat pintu masuk kamarku.

“Mana Rubiah”, tanyaku sambil mencari-cari sosok menantuku itu

“Mama sholat dhuha nek”, jawab cucuku.

Kulihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 10.30 wib.

“Memang jam sholat dhuha”, gumamku.

Tanganku di pijit-pijit cucuku. Terasa enak, Aku merasakan betapa mereka amat meyayangi ku. Air mataku meleleh begitu saja. Aku mulai ingat apa yang terjadi pagi tadi. Kulihat suamiku duduk menyandarkan tubuhnya di kursi santai kamarku sambil matanya terpejam.

“Betapa raut wajahnya menyisakan luka namun aku menemukan garis kelegaan. Entah kenapa darahku berdesir. Aku ingat Buyung.

“Nenek mau minum,” suara cucu perempuanku menyapa telingaku dengan lembut. Aku tersenyum sambil menggeleng.

“Nenek puasa. Sekarang kan bulan Ramadhan”, Aku menjawab tanya cucuku.

“Nenek tadi pingsan, kami takut”, celetuk cucu laki-lakiku.

“Sekarang kan sudah siuman”, jawabku lemah.

Aku mencoba mengingat dengan baik dan runut apa yang telah aku alami tadi.

“Petugas itu, mana petugas itu..!!”, tanya ku lagi.

Kulihat para tetangga dekatku saling menatap. Aku terkesiap.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan memijit pundakku. Kurasakan pijitan lembut itu menjalar ke punggungku. Aku tersentak. Itu pijitan yang tidak asing bagiku. Tangan yang kuat namun lembut jika memijit. Terasa tulang-tulangku kembali kuat dengan pijitan itu. Aku membalikkan tubuhku seketika itu juga dan mataku melotot kaget melihat siapa yang ada di belakangku.

Mataku melotot kaku.

“Jangan..!! jangan nak …!!.

 Kenapa kau ada disini?” Aku segera mencoba untuk menjauh.

“Nenek, jangan ..!!”

“Nenek jahat..!!”, teriak cucu ku.

“Ini Buyuang, Mandeh”, suara itu membuat ku benar-benar bagai bermimpi.

“Itukan papa”, teriak kedua cucuku lagi.

Suami ku memandang ku dengan tersenyum dan berkata,” Anak kita sudah pulang, Piah”,

Kulihat air mata suami ku menetes di pipinya. Itu baru pertama kali Aku melihat suami ku menangis setelah 40 tahun kami hidup bersama sebagai suami isteri yang selalu ada dalam setiap suka dan duka.

“Mengapa? kenapa? Apa yang telah terjadi yang aku tidak tahu”, jeritku histeris.

“Tenang Piah, kau tak boleh panik begitu”, tiba-tiba suami ku segera memelukku.

“Mandeh, ini uda Buyuang. Uda sudah bisa berkumpul lagi dengan kita mulai hari ini. Uda Buyung sudah sembuh.”, suara Rubiah menyambar kupingku seperti suara bidadari dari sorga.

Bagai tidak percaya Aku menatap si Buyuang ku lama sekali.

“Benarkah itu nak, jawab Mandeh nak.” Jeritku penuh isak tangis

Aku melihat anggukan kepala Buyuang, wajahnya basah dengan kucuran air mata.

“Allahu akbar.. Allahu akbar..Allahu akbar”, aku langsung menjatuhkan tubuhku mencium lantai kamarku.

“Buyuang sudah dinyatakan negative dari virus covid Mandeh,” itulah kalimat paling indah yang pernah aku dengar seumur hidupku dari putera sulungku ini. Kebebasan, yah kebebasan dari maut sudah dilewati anakku.

Aku langsung memeluk Buyuang dan Rubiah sekaligus. Air mataku benar-benar tertumpah ruah di kamarku. Air mata bahagia.

“Doa-doa kita diijabah Allah Rubiah. Doa seorang ibu dan isteri yang sholehah telah membuka arasy Allah untuk membawa suamimu, anakku pulang.

Pulang, yah.. Si Buyuang telah kembali pulang dengan selamat.

Ternyata kata-katamu benar Rubiah. Suamimu akan pulang diakhir Ramadhan dan sebelum Lebaran tiba. Masih ada seminggu lagi kita tarwih bersama di rumah tua ini,” Aku berkata kepada putera dan menantu ku dengan berurai air mata yang tiada bisa kutahan lagi.

Semua yang ada di kamarku ikut menangis.

“Bu Leni, bu sovi dan bu Lili, tolong sampaikan di komplek ini kalau anakku sudah pulang. Anakku pulang kepangkuan ku dan Alhamdulillah tidak pulang kepangkuan Sang Khalik sebagaimana para pahlawan kemanusiaan itu.

“Tolong bersihkan nama baik anakku. Jangan jauhi anakku”, suara ku bergetar mengatakan itu kepada para tetangga terbaikku itu .

Kulihat mereka mengangguk kepalanya sambil menyeka air mata..

“Mandeh membayangkan, kau pulang sama seperti berita-berita di media sosial itu, nak. Pulang ke tempat peristirahatan yang terakhir. Namun Allah masih sayang pada kita, kau pulang dengan sehat. Lihatlah dokter dan petugas medis di Jakarta  mereka hanya tinggal nama.” isakku

“Tolong bersihkan nama baik anakku. Jangan jauhi anakku”, suara ku bergetar mengatakan itu kepada  para tetangga terbaikku itu . Kulihat mereka mengangguk kepalanya sambil menyeka air mata..

Hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku. Namun menciutkan rasa bagak  [17] yang selama ini ada di dalam diri ku. Rasa bagak itu benar benar telah dibeli oleh Yang Maha Kuasa. Aku tercampak pada realita bahwa rajin ibadah , suka bersedekah dan menjadi heroik bagi siapa saja, punya segalanya. Apa saja bisa aku punya , semua tinggal perintah bahkan pesuruh ku begitu banyak yang setia umtuk membuat ku seakam telah menjadi ratu dan anakku adalah pangeran di kerajaanku. Tapi keadaan membuat ku terpana. Aku ternyata hanyalah ratu tanpa mahkota. Tanpa tahta. Tidak ada kerajaan yang aku bangun nyata, aku hanya membangun bangunan megah tanpa makna. Aku telah sia sia. Aku hanya seonggok daging yang berbalut sutra tapi ternyata tidak berguna. Aku telah menjadi jelaga bagi anakku. Aku tidak memberi pelajaran hidup kepada anakku bahwa di atas langit masih ada langit. Aku telah berdosa ya Tuhan, karena didikanku yang tidak sempurna anakku hanya menjadi ahli ibadah namun belum menjadi ahli sorga. Bukankah seorang ahli sorga adalah orang yang menjaga keseimbangan dalam hidupnya. Menjaga keseimbangan antara kepentingan sesama di tengah-tengah masyarakat yang dipimpin oleh sebuah lembaga yang disebut pemerintahan? Aku yang salah. Aku hanya memperkenalkan ilmu agama kepada puteraku namun kurang mematuhi titah sang raja di negeri ini. Aku membiarkan puteraku tidak patuh pada aturan pemerintah hanya dengan alasan takut pada ajaran Islam. Padahal saat ini negara lagi berperang dengan wabah pandemi. Tidak hanya di negeri ini tapi hampir seluruh negara di dunia lumpuh oleh virus corona.

Cerita Buyuang selama tiga minggu di isolasi membuatku makin pilu. Bagaimana tenaga medis dan para dokter membantunya menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya karena bertarung melawan maut jika imum tubuh tidak membaik, seperti mencabik-cabik batin ku. Ingin rasanya aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga secara langsung kepada pejuang kemanusiaan covid itu, namun saat ini tidak bisa aku lakukan.

 “Negeri kita menangis, Mandeh. Tapi jauh lebih menangis orang -oramg yang berada di garda depandi rumah sakit. Mereka tidak lagi menikmati indahnya kebebasan rasa. Kebersamaan keluarga entah dimana. Masih beruntung yang menangis karena kesulitan perekonomian karena masih bisa beekumpul dengam orang orang tercinta. Walau wfh, masih bisa merdeka. Walau isolasi mandiri di rumah masih bisa merasakan hangatnya keluarga, rumah yang damai. Namun mereka yang mengabdi di garda terdepan memberi cinta untuk semua yang terinfeksi corona dan dinyatakan positif serta harus berada di ruamg isolasi khusus rumah sakit, hanya bisa menatap luka. Hari – hari yang dijalani para medis itu penuh air mata hingga rasa ikhlas menerima takdir Sang Pencipta.

Siapa yang salah, adakah yang harus dipersalahkan. Kesombongam kita Mandeh, kini menjadi senjata yang tak berguna. Dia telah kehilangan peluru untuk di muntahkan pada yang diinginkanmya. Kesombongam kini telah tergadai oleh kekuasaan Sang Khalik. Bahwa kita manusia bukan tuan di bumi ini. Kita hanya lah hamba sahaya dan paling tinggi hanya tamu yang singgah sementara,” begitu Buyuang mengakhiri ceritanya.

.

Terbayang oleh ku kebiasaan diujung gang komplek rumah ku ini, yang biasanya penuh tawa, anak anak kecil yang bersahaja, kini tidak lagi berlari mengejar mimpi siang nya. Tidak ada lagi yang memanjat pohon sambil melempar-lempar keinginan girangnya bersama teman-teman. Mata bocah itu kini seperti ketakutam mengintip dari jendela tanpa dia tahu apa sesungguhnya yang telah melaramgmya keluar rumah. Para ibu dan bapak tua, juga menatap hari tanpa daya.

PSBB ternyata telah membungkam kebebasan masyarakat pasar. Hari ini aku juga rindu teriakan pedangang yang merusak telinga, rindu bau tanah lantai pasar yang nyeri nyeri sedap oleh hidung. Rindu senyuman pemilik pelaku pasar yang banyak juga yang cantik cantik dan menebar sumringah agar kita singgah membeli. Rindu hardik petugas pada pedagang yang tidak taat ketentuan dan segudang rindu lainnya..

Ramadhan di penghujung. Langang [18] itu lah yang kurasa sore ini. Toko-toko yang tertutup rapat dan terkunci seakan menggambarkan keadaan kota yang tak bisa bicara lagi. Jalan jalan tak berpenghuni derap langkah kaki yang terhenti, lampu merah kuning hijau di setiap persimpangan seperti tak berarti. Langang pasar kota ku kini bagai berada di hutan mati. Masihkah kita akan terus berlari mengejar mimpi jika hari ini mimpi itu sudah menyemai sepi.

Pasar kota ku kini bisu. Tidak ada lagi senyuman pramuniaga yang tengah menunggu pembeli entah dimana kini. Kucoba pergi berjalan-jalan dnegan puteraku si Buyung mengeliligi kota dengan mobilku tanpa turun ke jalan. Lagi-lagi air mata ku berlinamg di ujung pandangan yang lengang. Bumi ku seperti patah hati. Teriakan teriakan heroik dan penuh energik dari pedagamg asongan yang sering memekakkan telinga , ” bali lah mak ..bali lah pak..seribu ciek dan jan di ago juo lai mak ..lah murah mah .” .kini tak terdengar lagi. [19]

Pemimpin negeri ku lelahmu adalah darma bakti buat ibu pertiwi namun rakyatmu masih belum mengerti atau tidak mau mengerti arti pentingnya berdiam di rumah (stay at home), jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Ku kutip isi telepon mu beberapa waktu lalu kepadaku, “taatilah aturan pemerintah”. Seperti juga ku kutib kata-kata Baginda Bagas,” Salus populi suprema lex esto. Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu negara, itulah pesan Marcus Tullius Cicero atau Cicero”. [20]

Sebentar lagi Ramadhan usai, tidak ada yang menjamin tahun depan Ramadhan akan bisa aku dapatkan kembali. Seperti tahun 2020 ini, siapa yang menyangka akan ada virus kecil tak berwujud dan mematikan mengacaukan seluruh kehidupan manusia di dunia. Namun bagiku, bagi seorang ibu yang melihat anaknya terpapar positif covid, masih berharap Ramadhan tahun depan aku dan keluargaku masih bisa bertemu dan menikmarti indahnya bulan suci. Karena Ramadhan tahun ini aku dan keluargaku telah mendapatkan pelajaran berharga dari Tuhan, balasan atas kesombongan dan atas ketidakpeercayaan adanya pandemi ini. Bagiku, pandemi covid-19 adalah sejarah panjang di sisa-sisa usiaku yang masih ada. Ironisnya masyarakat di ibu kota Jakarta masih berkeliaran di pasar, katanya persiapan lebaran. Sementara mesjid-mesjid masih sepi dari jamaahnya. Ada apa di balik kebijakan pemerintah ini?? Aku hanya menatap langit yang masih berawan hitam.  Aku dengar tadi selentigan kalau di kota ku Walikota telah mengeluarkan surat edaran bahwa pasar akan ditutup kembali tanggal 23 Mei mendatang.

“Mandeh…!!!

Tiba-tiba teriakan Rubiah mengagetkan jantung ku yang baru saja tiba di rumah bersama Buyuang sepulang jalan-jalan sore melihat keadaan pasar.

“Ada apa???, jawab Buyuang

“Rubiah positif ,Uda”, jawab Rubiah tanpa basa-basi

“Apa..??? Positif covid ??”, teriakku panik.

“Tidak Mandeh, ini..” dan Rubiah menyerahkan secarik kertas pada ku.

“Alhamdulillah…jadi kau positif hamil”, suara ku girang bukan kepalang.

“Pulang, Aku akan pulang besok ke kampung halaman ku melihat pusara ayah ibu”, teriak ku tanpa berpikir panjang.

Kulihat suami ku yang lagi membaca koran hanya tersenyum dan itu artinya kami akan pulang kampung setelah 40 tahun pergi. *****

Situjuh Batur, 20 Mei 2020

Catatan kaki

[1] Di masyarakat Minang Sumatera Barat kata “Buyuang” adalah panggilan untuk anak laki-laki kesayangan di keluarga. Id.quora.com

[2] Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 4.979.924 (4,9 juta) kasus hingga Rabu (20/5/2020) pagi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.957.600 (1,9 juta) pasien telah sembuh, dan 324.417 orang meninggal dunia. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 2.697.907 dengan rincian 2.652.841 pasien dengan kondisi ringan dan 45.066 dalam kondisi serius. Berikut 10 negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak: 1. Amerika Serikat, 1.568.518 kasus, 93.407 orang meninggal, total sembuh 362.571. 2. Rusia, 299.941 kasus, 2.837 orang meninggal, total sembuh 76.130. 3. Spanyol, 278.803 kasus, 27.778 orang meninggal, total sembuh 196.958. 4. Brasil, 265.896 kasus dan 17.840 orang meninggal, total sembuh 100.459. 5. Inggris, 248.818 kasus dan 35.341 orang meninggal. 6. Italia, 226.699 kasus dan 32.169 orang meninggal, 129.401 total sembuh. 7. Perancis, 180.809 kasus, 28.022 orang meninggal, total sembuh 62.563. 8. Jerman, 177.827 kasus, 8.193 orang meninggal, total sembuh 155.700. 9. Turki, 151.615 kasus, 4.199 orang meninggal, total sembuh 112.895. 10. Iran, 124.603 kasus, 7.119 orang meninggal, total sembuh 97.173. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Update Virus Corona di Dunia 20 Mei: 4,9 Juta Orang Terinfeksi |https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/20/074000665/update-virus-corona-di-dunia-20-mei-49-juta-orang-terinfeksi-ancaman-as-ke.

[3] Swab test corona adalah pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona. Tes ini juga disebut tes PCR (polymerase chain reaction). Dalam swab test corona, petugas medis akan mengambil sampel apus dari saluran pernapasan. Misalnya, hidung dan tenggorokan. Sampel ini kemudian dibawa diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya DNA virus corona. Tes PCR menganalisis DNA atau RNA (materi genetik virus) yang terdapat dalam virus. Meski sampel hanya mengandung materi genetik dengan jumlah sedikit, pemeriksaan ini dapat melipatgandakan DNA atau RNA tersebut. Selain swab test corona, jenis tes deteksi infeksi virus corona lainnya adalah tes cepat atau rapid test corona yang menggunakan sampel darah. Namun pasien dengan hasil tes cepat yang positif perlu menjalani pemeriksaan PCR agar diagnosis bisa dipastikan.Oleh karena itu, tes cepat antibodi menjadi tes skrining awal dan pemeriksaan PCR tetap menjadi tes konfirmasi.

https://www.sehatq.com/tindakan-medis/swab-test-corona.

Untuk Sumatera Barat Swab test dapat dilakukan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand Padang.

[4] Pandemi corona Covid-19 menyerang nyaris seluruh negara di dunia saat ini, ternyata peristiwa serupa pernah terjadi pada zaman kenabian

Wabah penyakit sudah pernah terjadi di zaman Rasulullah yaitu penyakit kusta atau lepra yang dapat menular dengan cepat dan juga menyebabkan kematian. Dalam menghadapi wabah ini, Nabi mengajarkan kepada sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit, dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim)

Rasulullah juga memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: “Jangan kamu terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

https://www.google.com/search?q=cerita+wabah+pada+zaman+nabi+muhammad&oq=cerita+wabah+&aqs=chrome.1.69i57j0l7.8329j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8

[5] WFH adalah singkatan dari work from home yang berarti bekerja dari rumah. Secara umum biasanya work from home diartikan dengan cara kerja karyawan yang berada di luar kantor. Entah dari rumah, dari cafe atau restoran sesuai dengan keinginan karyawan. Sistem kerja wfh memang memiliki fleksibilitas yang tinggi. Hal ini guna mendukung keseimbangan karyawan antara pekerjaan dan kehidupan. Tapi nyatanya kini wfh sedang menjadi solusi karena adanya wabah virus corona. Hal ini agar mengurangi risiko penularan virus corona dan keselamatan karyawan.

https://www.jurnal.id/id/blog/wfh-pengertian-dan-tipsnya/

[6] Arti kata “Muak” menurut KBBI adalah sudah jemu /merasa jijik sampai hendak muntah/merasa bosan atau jijik mendengar atau melihat

https://jagokata.com/arti-kata/muak.html

[7] Kalimat seperti social distancing dan stay at home akhir akhir populer ternyata kurang dimengerti benar oleh masyarakat.  Mereka dengan asik masih berkeliaran diluar dengan bebasnya. Bahkan dr. Erlina Burhan tidak mau menggunakan kalimat itu karena kurang dimengerti oleh masyarakat luas. Beliau lebih suka menggunakan kalimat jaga jarak karena virus corona ini penyebarannya melalui tubuh manusia.

https://www.kompasiana.com/muchammad32838/5e874bcf097f363f38096d93/stay-at-home-dan-social-distancing

Gugus Tugas Covid adalah Tim yang dibentuk berdasarkan  Keppres No.7 Tahun 2020  dengan tujuan mempercepat pemutusan mata rantai penyebaran covid. Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Sumbar Jasman Rizal menyampaikan, klarifikasi data pasien yang perlu diluruskan dari pasien Kota Payakumbuh dengan pasien Kabupaten Lima Puluh Kota.”Sebelumnya ada warga Kabupaten Lima Puluh Kota berinisial IDR (28), warga Tanjuang Jati Kecamatan Guguak yang sekarang isolasi di BPSDM Provinsi Sumbar dan AMN (68), warga Batang Tabik yang sekarang dirawat di RSUD Achmad Muchtar Bukittinggi. “Yang keduanya telah masuk dalam data pasien Kota Payakumbuh,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima KLIKPOSITIF , Minggu (10/5/2020). Jasman menambahkan, setelah dilakukan konfirmasi, klarifikasi dan investigasi oleh tim Gugus Tugas Provinsi Sumbar.”Dinyatakan mereka berdua merupakan warga Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan demikian harus terdaftar atas nama pasien Kabupaten Lima Puluh Kota,” ujarnya. Jasman melanjutkan, artinya Kota Payakumbuh yang semula warganya tercatat 13 orang positif COVID-19, dengan demikian menjadi 11 orang dan otomatis Kabupaten 50 Kota bertambah catatan warganya terkonfirmasi positif 2 orang lagi. “Jika kemarin hanya 1 orang, ditambah hari ini 2 orang dan hasil pengurangan kota Payakumbuh 2 orang, maka total sampai hari ini warga Kabupaten Lima Puluh kota telah positif menjadi 5 orang,” tuturnya. Jasman menyebutkan, hal ini merupakan masalah administrasi saja, untuk memudahkan tracing riwayat kontak yang bersangkutan.

https://www.google.com/search?safe=strict&sxsrf=ALeKk02ORIKFBDNmWCQ2gAG58yikPRr7ng%3A1589969287484&ei=hwHFXsuMHYT99QP_rouQBA&q=tim+gugus+covid+kota+payakumbuh&oq=tim+gugus+covid+kota+payakumbuh&gs_lcp=CgZwc3ktYWIQAzoECCMQJzoCCAA6CAghEBYQHRAeOgUIIRCgAToHCCEQChCgAVCLFFiIOWCNQmgAcAB4AYAB8QSIAfgZkgEMMC4xNC4wLjIuMC4xmAEAoAEBqgEHZ3dzLXdpeg&sclient=psy-ab&ved=0ahUKEwiL7NWUmcLpAhWEfn0KHX_XAkIQ4dUDCAs&uact=5

[8] Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat 55 tenaga medis meninggal dunia selama pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia. Mereka yang wafat terdiri terdiri dari dokter dan perawat. “Sampai saat ini, ada sekitar 38 dokter dan 17 perawat meninggal,” kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers lewat video conference, Rabu (6/5/2020). Ada 13 Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kudus, 3 di Antaranya Dokter Spesialis  Menurut Wiku, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kematian tenaga medis di Indonesia cukup tinggi.  Pertama, banyak tenaga medis tidak menyadari mereka tengah menangani pasien Covid-19 sehingga protokol kesehatan tidak diterapkan. Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pasien yang tidak terbuka dengan riwayat kontak atau perjalanan mereka. Faktor lain adalah minimnya alat pelindung diri dan kelelahan karena jam kerja yang panjang. Namun, Wiku memastikan pemerintah terus berupaya mencegah resiko penularan Covid-19 terhadap dokter. Salah satu caranya adalah dengan mengedepankan aspek pencegahan  daripada pengobatan. Masyarakat diminta untuk menerapkan pola hidup sehat dan terus menjalankan protokol pencegahan Covid-19. “Kami menganggap ini sebagai pekerjaan rumah yang harus diperbaiki. Perubahan perilaku hidup sehat lewat edukasi kesehatan secara masif menjadi kunci dalam menghentikan penyebaran virus,” kata Wiku.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Gugus Tugas: 38 Dokter dan 17 Perawat Meninggal Selama Pandemi Corona

https://nasional.kompas.com/read/2020/05/06/17352511/gugus-tugas-38-dokter-dan-17-perawat-meninggal-selama-pandemi-corona.

[9] Walikota Payakumbuh Riza Falepi menyebutkan daerahnya sudah siap jika pengajuan Provinsi Sumatera Barat dalam memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) disetujui oleh Menteri Kesehatan RI. “Kemarin memang kami seluruh kepala daerah telah menyetujui ini. In syaa Allah kita sudah siap,” kata Riza Falepi di Payakumbuh, Kamis (16/4).

Meski begitu, katanya nantinya tentu harus ada sosialisasi-sosialisasi yang harus dilakukan kepada masyarakat sebelum penerapan. Baik aturan, mekanismenya, prosedurnya tentu masyarakat harus tahu. Kami tentu akan melakukan sosialisasi. Terkait anggaran sendiri, katanya pihaknya juga telah menyediakan anggaran untuk penanganan COVID-19. Anggaran ini nantinya memang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Untuk anggaran kita juga didampingi pihak kejaksaan dan kita juga konsultasi dengan BPKP. Walikota mengatakan pihaknya juga akan menyalurkan bantuan kepada masyarakat kurang mampu yang terdampak COVID-19. Sedangkan untuk bantuan yang sudah sampai kepada masyarakat adalah bantuan dari pemerintah pusat. Bantuan dari pusat itu kan Rp 600 ribu untuk tiga bulan. Dan juga akan ada bantuan dari provinsi yang ditambah dengan bantuan dari Pemkot Payakumbuh.Untuk yang mendapatkannya, juga sudah didata oleh SKPD terkait. Namun, Riza memastikan masyarakat yang nantinya tidak mendapatkan bantuan, tapi terdampak oleh COVID-19 dipersilahkan untuk melapor.”Kalau memang butuh, lapor saja. In syaa Allah kita akan berikan. Anggaran untuk ini cukup,” Riza juga mengatakan sebelumnya Pemerintah KotaPayakumbuh telah menganggarkan Rp37,8 miliar untuk penanggulangan dan penanganan COVID-19 di Payakumbuh.

https://republika.co.id/berita/q8vyls313/payakumbuh-siap-jika-sumbar-berstatus-psbb

Sampai saat ini Walikota Payakumbuh selaku ketua tim gugus tugas beserta anggota tim dan tenaga medis berupaya keras melawan vireus covid-19 di Kota Payakumbuh. Berkat usaha dan perjuangan yang luar biasa baik dari pasien itu sendiri untuk berkeinginan sembuh maupun  kerja keras dari tim gugus tugas Kota Payakumbuh , saat ini dua orang dari sebelas  pasien positif corona telah dinyatakan sembuh atau negative.

[10] Di masyarakat Minang Sumatera Barat kata “ Mandeh” adalah pengganti panggilan untuk Ibu/Mama/Mami

[11] Dalam bahasa Indonesia nya kata-kata tersebut bermakna bahwa isteri Buyuang menyesali ketidakpatuhan suaminya dalam mengikuti aturan pemerintah tentang  covid-19 dimana tidak boleh sholat berjamaah di mesjid, beribadah di rumah saja.

[12] Trauma merupakan pengalaman emosional yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari memori kejadian buruk di masa silam. Pengalaman traumatis ini dapat bersifat objektif maupun subjektif, baik itu karena kekerasan fisik, emosional, hingga kejadian yang mengancam nyawa.

https://www.google.com/search?q=trauma+adalah&oq=trauma&aqs=chrome.1.69i57j0j46j0l5.9489j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8

[13] Antariksawan (lazim disebut astronaut) adalah sebutan bagi orang yang telah menjalani latihan dalam program penerbangan antariksa manusia untuk memimpin, menerbangkan pesawat, atau menjadi awak pesawat antariksa. Istilah “astronaut” juga kadang digunakan untuk merujuk secara spesifik kepada antariksawan yang berasal dari Amerika Serikat atau negara sahabat, berbeda dengan seorang kosmonaut yang berasal dari Uni Soviet / Rusia. Kosmonaut pertama adalah Yuri Gagarin. Semenjak tahun 2003 dikenal pula istilah taikonaut (meski bukan istilah resmi pemerintah Tiongkok), untuk antariksawan dari Tiongkok. Taikonaut pertama adalah Yang Liwei.Antariksawan-antariksawan pertama, baik di AS maupun Uni Soviet, biasanya merupakan pilot pesawat tempur (umumnya pilot-pilot penguji ) dengan latar belakang militer. Antariksawan militer biasanya menerima tanda kualifikasi khusus, dikenal di AS dengan nama Astronaut Badge setelah menyelesaikan latihan dan mengikuti penerbangan ke luar angkasa. Lebih dari 32 negara sudah pernah mengirimkan antariksawannya ke luar angkasa. Hingga kini (April 2007), sembilan belas antariksawan telah tewas dalam misi perjalanannya, dan setidaknya sepuluh antariksawan telah meninggal dalam kecelakaan latihan di darat.

https://id.wikipedia.org/wiki/Antariksawan

[14] Jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 di Sumatra Barat mencapai 420 kasus hingga Selasa (19/05/2020). Kasus positif corona tersebar di 17 kabupaten dan kota.

“Total hingga hari ini telah 420 orang warga Sumbar terinfeksi Covid-19,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar Jasman Rizal, Selasa (19/05/2020). Kata Jasman, dari 420 kasus tersebut, 117 pasien di antaranya dinyatakan sembuh dan 22 orang meninggal dunia. Sedangkan 141 orang masih dirawat di berbagai rumah sakit rujukan, 50 orang isolasi mandiri, 6 orang isolasi daerah, 11 orang karantina di Bapelkes dan 73 orang di BPSDM.

Kasus terbanyak masih terdapat di Kota Padang dengan 270. Kemudian Kota Solok yang sempat bertahan lama dengan nol kasus, akhirnya mencatatkan kasus perdananya setelah terdapat satu warganya yang positif corona. Sebaran 420 kasus positif corona dapat dilihat pada situs  https://corona.sumbarprov.go.id/ per Selasa (19/05/2020):

[15]  Singkatan APD seringkali kita dengar belakangan ini. Terutama semenjak virus corona mewabah.APD adalah alat pelindung diri. APD merupakan perlengkapan yang wajib dipakai untuk melindungi seseorang saat sedang bekerja dari bahaya. Bahaya yang dimaksud misalnya cedera atau infeksi penyakit. Setiap APD sudah dirancang khusus sesuai dengan jenis pekerjaannya. Ada APD untuk pekerja konstruksi bangunan, petugas laboratorium, dan lain sebagainya. Penggunaan APD bagi tenaga medis memiliki sejumlah ketentuan. Adapun jenis APD antara lain meliputi masker, pelindung wajah, pelindung mata, celemek (apron), baju hazmat, sarung tangan, pelindung kepala, dan sepatu pelindung. Baju hazmat ini sering kita lihat dan tampak mirip dengan baju astronaut. Penggunaan APD bagi tenaga medis juga harus dilakukan sesuai dengan petunjuk dan standar kesehatan dunia dari WHO. Selain itu juga mengacu pada standar ketentuan dari Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

https://kids.grid.id/read/472103146/singkatan-apd-dan-penjelasan-tentang-penggunaannya-yang-bervariasi?page=all

[16] Takdir (Arab: قدر, qodar) adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi karena pilihan makhluk itu sendiri, yang akan dipertanyakan dan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di Mahsyar kelak. Takdir merupakan hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti sesuai dengan ketentuan Allah SWT, yang baik maupun yang buruk. Sedangkan ikhtiar merupakan kebebasan atau kemerdekaan manusia dalam memilih serta menentukan perbuatannya. Dalam bahasa Arab, takdir disebut qadara atau yuqaddiru atau taqdir. Arti harfiahnya adalah ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian. Sedangkan ikhtiar dalam bahasa Arab adalah ikhtara atau yakhtaru atau ikhtiyar yang berarti memilih. Kata ini seakar dengan kata khayr yang berarti baik. Ikhtiar dapat pula diartikan memilih yang lebih baik diantara yang ada. Berikut definisi takdir dalam Islam. Takdir dalam Alquran  terdapat dalam Alquran Surah Al Anam ayat 96, Surah Al Furqan ayat 2, Surah Yasin ayat 38, dan Surah Fussilat ayat 12. Keseluruhan ayat tersebut terdapat tiga kesimpulan. Pertama, takdir berlaku untuk fenomena alam, artinya hukum dan ketentuan dari Tuhan mengikat perilaku alam sehingga hukum sebab akibat yang terjadi di alam ini dapat dipahami manusia. Kedua, takdir Tuhan terkait hukum sosial (sunnatullah). Hukum ini melibatkan manusia di dalamnya. Ketiga, akibat dari takdir dalam arti hukum kepastian Allah yang baru diketahui setalah berada di akhirat. Takdir yang seperti ini yang harus diyakini dengan keimanan. Selama manusia masih di dunia, dampaknya belum bisa dibuktikan hanya melalui Alquran, manusia membayangkannya saja. Inilah yang disebut qadarullah, nasib manusia yang ditentukan oleh perbuatannya selama di dunia. Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak bisa diubah. Manusia secara fisik tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti hukum alam. Tetapi manusia memiliki daya kreatif. Inilah yang menyebabkan manusia bebas berpikiran dan berkehendak. Kehidupan manusia, menurut teologi Asy’ariah, merupakan realisasi dari apa yang digariskan Tuhan pada saat azali, baik kehidupan yang baik ataupun yang buruk, beruntung atau merugi, dan senang atau menderita. Manusia akan menjalani semua ini sejak lahir sampai mati. Takdir tidak sama dengan menerima nasib secara pasrah, dalam arti tidak mau berusaha sama sekali. Doktrin tentang takdir dalam Islam tidak mengarah-kan manusia ke sikap fatalistik atau menyerah kalah kepada nasib (fate). Islam sangat menekan-kan pentingnya usaha dan amal perbuatan. Dalam Alquran dinyatakan manusia tidak akan men-dapatkan sesuatu selain yang dia usahakan, dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal sesuai Surah An Najm ayat 39-41. Ayat inl sering dijadikan nujukan pandangan bahwa makna takdir harus diletakkan secara proporsional. Bertopang dagu sambil menerima nasib merupakan salah satu gejala fatalistik.

https://www.google.com/search?safe=strict&sxsrf=ALeKk02uxePYY6aXCbKwU5AP5OzZYut8FA%3A1589972483738&ei=Aw7FXvjPLPWLmgf9zaGQCA&q=takdir+adalah&oq=takdir+&gs_lcp=CgZwc3ktYWIQARgEMgQIIxAnMgIIADICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAMgIIADICCAAyAggAOgcIIxDqAhAnOgQIABBDOgUIABCDAVAsWIIqYOZNaAFwAHgEgAGVA4gBnxOSAQk0LjIuMC40LjGYAQCgAQGqAQdnd3Mtd2l6sAEK&sclient=psy-ab

Keadaan yang melanda dunia saat ini, sudah seharusnya kita yakini sebagai sebuah takdir.

[17] Pengertian dari bagak adalah besar hati/ bangga/berani, KBBI

[18] Dalam bahasa Minang kata “Langang” artinya sepi, Kamus Minang-Indonesia

[19] Arti atau makna kalimat dalam bahasa Minang , dimaknai pedagang di Minang kalau berjualan suka bersorak sorai dan mengeluarkan kata-kata yang mengajak pembeli untuk membeli dagangannya dan tidak boleh ditawar lagi karena harganya sudah sangat murah.

[20] Salus populi suprema lex esto. Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu negara, itulah pesan Marcus Tullius Cicero atau Cicero (106 SM – 45 SM), filsuf Italia beberapa abad lampau pada kehidupan manusia terutama dalam berbangsa dan bernegara. Di mata Cicero, aspek keselamatan lebih diutamakan ketimbang aspek-aspek lain. Tidak hanya individu, tetapi juga hal yang lebih besar. Apapun. Banyak contoh. Indonesia misalnya, juga mengadopsi gagasan Cicero karena lebih mendahulukan perlindungan segenap tumpah darah daripada aspek kesejahteraan, pencerdasan bangsa dst sebagaimana tersurat pada pembukaan UUD 1945. Amerika (AS) apalagi. Kerap dijumpai, penyelamatan jiwa warga AS, sangat diherokan dan mengalahkan segala-galanya. Kenapa? Jelas. Orang membangun rumah saja, aspek pertama yang dirancang ialah keamanan dan/atau keselamatan bagi penghuni dibanding aspek keindahan, kenyamanan dst. Retorikanya begini, “Percuma ada kesejahteran tanpa keselamatan; untuk apa mencerdaskan bila abai terhadap keselamatan; sia-sia keindahan dan kenyamanan jika tidak ada keselamatan.” Syukur-syukur setiap aspek saling melekat satu dan lainnya.Islam sendiri asal katanya dari aslama, artinya SELAMAT. Tatkala manusia lahir ia tak bisa apa-apa, tidak punya daya apa-apa. Substansi kelahiran apapun makluk atau organisme, hanyalah pasrah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa. Dengan makna lain, sejak lahir manusia cenderung menuju KESELAMATAN atau aslama. Bahkan doa para nabi, pendeta, bante, rahib dsb tentang keselamatan di dunia dan akhirat dinilai sebagai doa sapujagat. Jadi, ketika sebuah kebijakan di sebuah negara lebih mementingkan kesejahteran, misalnya, atau lebih mendahulukan aspek pencerdasan daripada sisi keselamatan warganya maka kebijakan dimaksud tergolong menyalahi kodrat. Apapun alasannya tim gugus tugas di garda terdepan dalam penanganan Covid 19 segera bertindak cepat merespon segala bentuk informasi dan pengaduan demi menjaga stabilitas, keamanan dan kenyamanan masyarakat, facebook baginda bagus.

BIO DATA SINGKAT PENULIS:

AZNIZENTI, lulusan Pasca Sarjana Universitas Andalas Padang , jurusan Ilmu Hukum. Aku seorang Pegawai Negeri Sipil yang sejak remaja memiliki hoby tulis menulis, dunia seni dan teater serta jurnalistik. Pernah menjadi reporter harian Singgalang KMD Payakumbuh/50 Kota  di sebuah Koran Daerah di Sumatera Barat (tahun 1993-1998). Selama jadi reporter pernah mewawancari artis kawakan Mathias Muchus dan Marissa Haque dalam film Masih Ada Kapal Ke Padang, mewawancari Kedubes Arab Saudi dan Menteri Penerangan tahun 1990 Bapak Harmoko serta telah melahirkan banyak tulisan berupa berita, tulisan popular, puisi dan cerpen yang dimuat di KMD Payakumbuh/50 Kota Harian Singgalang. Tahun 1995-1997 pernah mengajar di sebuah perguruan tinggi ilmu hukum swasta di 50 Kota. Pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Hukum Setdako Payakumbuh (2016-2020) dan kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Industri Kota Payakumbuh serta aktif mengajar di Sekolah Tinggi Darul Al Quran Kota Payakumbuh (2018- sekarang) . Aku juga aktif di berbagai organisasi sejak remaja hingga sekarang. Saat ini menjadi pengurus organisasi Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh dan organisasi PGRI Kota Payakumbuh.

Menulis adalah panggilan jiwa sehingga tahun 2020 telah melahirkan sebuah karya fiksi berbentuk novel dengan Penerbit Edwrite Publishing Bandung, dengan judul novel “Sebuah Prahara Di Atas Kapal Tembaga”. Selain menulis aku juga pernah menjuarai lomba baca puisi pelajar tingkat kabupaten tahin 1986  dan tingkat provinsi tahun 1993.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA