by

Arief, Chili, dan Pink Tide

Arief Budiman (Alm)

Oleh: Dr. Nur Iman Subono, Dosen FISIP Universitas Indonesia

KOPI, Jakarta – Apa yang menarik dari Arief Budiman? Bagi saya, Arief itu menarik – bukan hanya karena kepribadiannya yang santun, sederhana, dan mau mendengarkan — tapi juga karena disertasi doktornya di Harvard University, AS, yang membahas eksperimen demokrasi dan sosialisme di Chili.

Saya yang pernah studi politik di Universidad de Guadalajara, Mexico, tentu sangat tertarik dengan disertasi tersebut. Ini karena Chili dan Mexico berada di Selatan Amerika — sebuah kawasan yang secara politik agak labil. Karena itu, untuk mengenang Arief, saya akan membahas disertasinya, yang kebetulan sudah dibukukan dengan judul “Jalan Demokratis ke Sosialisme: Pengalaman Chili di bawah Allende (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987). Di samping itu, saya akan mengulas perkembangan Gerakan Kiri dan Pink Tide yang sangat dinamis di Selatan Benua Amerika tersebut.

Disertasi Arief membahas kegagalan eksperimen sosialisme melalui jalan politik elektoral di Chili yang demokratis. Kenapa gagal? Banyak faktor penyebabnya. Antara lain: ambisi militer, intrik politik, dan konspirasi pengusaha-penguasa. Juga campur tangan Washington, gerakan neoliberalisme, dan Gerakan Kiri Baru (Left Turn) ikut mempengaruhi dinamika Chili dan negara-negara Amerika Latin yang lain. Dalam merespon kegagalan tersebut, ada yang ekstrim, ada yang moderat. Hasilnya, ada yang sukses membangun ekonominya, ada yang terkapar!

Chili dan Allende

Peristiwa mengejutkan yang kemudian menjadi fokus bahasan Arief adalah kudeta militer 11 September 1973 terhadap Presiden Salvador Allende yang sosialis. Kudeta yang dibacking Jenderal Augusto Pinochet — dengan nama sandi unik “Jakarta Operation” itu — meruntuhkan kekuasaan Allende. Lalu, runtuhkah sosialisme di Chili Pasca-Allende? Nanti dulu. Panjang ceritanya.

Pasca kudeta, lahirlah junta militer di bawah kepemimpinan Jendral Augusto Pinochet. Sang Jenderal yang didukung Amerika memegang sederet jabatan puncak dengan kekuasaan mutlak. Sebagai Presiden, Kepala Negara, dan Panglima Angkatan Bersenjata. Dengan tangan besi, Pinochet berkuasa selama 17 tahun (1973-1990). Selama masa pemerintahan junta militer itu, Jenderal Angkatan Darat Augusto Pinochet “membunuh” puluhan ribu orang oposisi di Chili. Tentu saja, pembunuhan itu dilakukan tangan kanan Pinochet — yaitu militer dan agen intelejen bentukan Sang Jenderal. Agen intelejen yang menakutkan itu, bernama DINA.

Ya, DINA adalah singkatan dari Dirección de Inteligencia Nacional, atau Direktorat Intelijen Nasional. Atas perintah Pinochet DINA melakukan penculikan, penyiksaan, penghilangan, dan pembunuhan terhadap musuh-musuh politik Sang Jenderal. DINA menjadi lembaga paling menakutkan di zaman Pinochet berkuasa.

DINA yang berlumur darah itu, didirikan Pinochet, November 1973 — beberapa saat setelah kudeta. Kedudukannya sebagai unit intelijen Angkatan Darat Chili. Tak lama kemudian, karena menuai kecaman publik, DINA dipisahkan dari militer. Sejak Juni 1974, DINA independen, berdasarkan Dekrit Presiden Nomor 521. Ini artinya, DINA langsung berada di bawah Presiden Pinochet. Untuk mengelabui publik, tahun 1977, Pinochet merubah nama DINA menjadi CNI — Central Nacional de Informaciones, atau Pusat Informasi Nasional. Sebuah nama yang netral, tak berbau militer dan intelejen. Tapi fungsinya sama: alat represi Jenderal Pinochet terhadap oposisi.

Pertanyaan berikutnya: Kenapa Jenderal Pinochet mengkudeta Presiden Allende? What’s wrong? Adakah kesalahan Allende sehingga militer mengambil alih? Biasanya, jika militer mengambil alih kekuasaan ada kesalahan serius dari rejim yang harus diperbaiki. Seperti ketika Jenderal Abdul Fattah El-Sisi mengkudeta Presiden Mohamad Morsi di Mesir yang terpilih secara demokratis, 2013. El-Sisi yang didukung kalangan intelektual moderat dan pengusaha; juga sejumlah negeri kaya tetangganya seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Kuwait tampaknya takut, Morsi akan membawa Mesir menjadi negeri seperti Afghanistan. Negeri Islam radikal dan konservatif. Jika itu terjadi, ekonomi Mesir ambruk. Dan Mesir dikucilkan dari pergaulan internasional. Ini terjadi karena Morsi didukung dan ditunggangi partai-partai berbasis Islam radikal. Sehingga militer khawatir, jika Mesir diperintah Morsi, Negeri Piramida tadi akan mengalami kekacuan, baik politik maupun ekonomi.

Lalu, apa kesalahan Allende? Mungkin mirip kasus kudeta Mesir tadi. Meski terpilih jadi Presiden Chili, 1970, secara demokratis – tapi Allende didukung Partai Sosialis, Partai Komunis, dan partai-partai kecil berhaluan kiri. Ingat saat itu, perang dingin antara blok Uni Soviet yang sosialis versus blok Amerika yang kapitalis sedang seru-serunya. Paman Sam pasti tak menyukai politik kiri Allende. Barangkali nama sandi “Jakarta Operation” untuk menjatuhkan Allende adalah ide CIA untuk mengenang operasi penjatuhan Bung Karno sewindu sebelumnya. Jadi, bukan ide Pinochet.

Inilah kilas balik Allende sebelum terjungkal: Dukungan partai-partai kiri ini, dibalas Allende dengan reformasi ekonomi prorakyat. Sistem perekonomian kapitalis yang prokorporat asing dirombak Allende. Jadilah ekonomi rakyat kecil membaik. Ekonomi Chili pun tumbuh positif. Tapi reformasi Allende tampaknya kebablasan. Allende tertarik dengan program partai-partai kiri radikal seperti nasionalisasi perusahaan asing dan multinational corporation (MNC).

Tentu saja, kebijakan nasionalisasi tersebut mendapat tantangan AS. Karena mayoritas perusahaan asing di Chili milik warga negara Amerika. Presiden Richard Nixon pun beraksi. Harga tembaga dunia diturunkan hingga menyentuh titik nadir. Ekonomi Chili yang tergantung ekspor tembaga goyah. Kondisi tersebut makin parah setelah Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lain dipaksa Paman Sam untuk menghentikan bantuannya ke Chili. Hancurlah ekonomi negeri sosialis tersebut.

Dalam kondisi seperti itulah, militer dipimpin Jenderal Pinochet mengkudeta Presiden Allende, 1973. Militer mengepung istana. Allende ditemukan tewas bunuh diri dengan pistol. Kasus kudeta Allende mirip dengan kejatuhan Bung Karno di Indonesia. Amerika tidak suka melihat Bung Karno dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selanjutnya, puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dihilangkan oleh Angkatan Darat yang mendukung Jenderal Pinochet. Tak lama setelah kudeta September 1973, 5000-an orang “kiri” dikumpulkan di stadion utama Santiago untuk diinterogasi atau langsung ditembak mati. Mirip dengan kondisi Indonesia pasca pemberontakan G30S PKI.

Chili dalam perjalanan politiknya sejak tahun 1865, sebetulnya punya “tradisi” demokrasi presidensial yang stabil. Seperti AS. Tradisi ini berkembang bersamaan dengan mapannya “rule of law” serta otonomi legislatif dan yudikatif yang kuat (Huneeus, 2018). Kestabilan demokrasi presidensial Chili ini, sampai akhir abad ke-20, hanya terusik dua kali kudeta militer. Masing-masing oleh Jendral Carlos Ibanez (1926-1931) dan Jendral Augusto Pinochet (1973-1990). Itu pun, karena rejim yang dikudeta, berhaluan kiri radikal sehingga AS tidak menyukainya.

Kembali ke Sosialisme?

Setelah lebih dari 15 tahun kembalinya pemerintahan demokratis di Chili pasca-kudeta militer Pinochet, ada dua presiden terpilih berasal dari Partai Sosialis. Yaitu Ricardo Lagos Escobar (2000-2006) dan Michelle Bachelet Jeria (2006-2010), yang kemudian terpilih kembali (2014-2018).

Ricardo Lagos adalah doktor ekonomi lulusan Universitas Duke, North Caroline, AS. Ricardo sempat bekerja di berbagai lembaga internasional PBB sebelum akhirnya kembali ke Chili dan memimpin Koalisi Anti-Pinochet tahun 1986. Tampaknya Koalisi menggetarkan rejim. Ketika Pinochet selamat dari upaya pembunuhan, 7 September 1986, Ricardo dituduh ikut mendalangi. Ia pun ditahan rejim selama tiga pekan. Tapi kemudian Ricardo dilepaskan karena tidak ada bukti keterlibatannya. Karir politik Ricardo Lagos sebagai oposisi makin moncer pasca-penahanan. Ia makin populer setelah menggolkan ide plebisit untuk menghentikan usaha Pinochet yang ingin memperpanjang kekuasaanya. Tahun 1987, Ricardo Lagos membentuk “Komite Kiri untuk Pemilu Bebas”. Ia berkampanye agar rakyat dan partai politik berani menyatakan pendapat. Lagos juga menyerukan, agar warga Chili tidak takut menghadapi kediktatoran Pinochet. Kampanye Lagos berhasil. Dalam pemilu berikutnya, Pinochet kalah. Tapi, Sang Jenderal tetap menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Chili.

Presiden sosialis berikutnya adalah Michelle Bachelet Jeria. Ia punya kisah hidup yang tragis. Pada masa pemerintahan Salvador Allende, ayah Michelle, Alberto Arturo Miguel Bachelet Martínez adalah soeorang Brigadir Jenderal Angkatan Udara Chili. Dia menentang kudeta Jenderal Augusto Pinochet tahun 1973. Akibatnya, Martinez dipenjara dan disiksa hingga tewas 1974. Pada saat bersamaan, Michelle dan ibunya ditahan dan disiksa di Villa Grimaldi, Santiago. Tahun 1975, mereka berdua dibuang ke Australia, tempat abang Bachelet, Alberto, tinggal. Michelle dan ibunya kemudian pindah lagi ke Jerman Timur. Ia kembali ke Chili pada tahun 1979. Kemudian Michelle aktif di Partai Sosialis Chili. Tahun 1995, Michell duduk di Komite Sentral Partai Sosialis. Ia menjadi tokoh politik penting di Chili.

Oh ya, sebelum hadirnya kedua presiden sosialis – Ricardo Lagos Escobar (2000-2006) dan Michelle Bachelet Jeria (2006-2010 dan 2014-2018) – pasca Pinoochet kalah dalam Pemilu, Chili dipimpin Presiden Alwin Azocar (1990-1994) dan Eduardo Frei Ruiz-Tagle (1994-2000). Alwin Azocar didukung koalisi “Concertacion” — aliansi Partai Sosialis dan Partai Kristen Demokrat. Kedua partai ini berseteru di era Salvador Allende sebelum dikup Jenderal Pinochet.

Just you know, rejim militer Pinochet sebetulnya tidak buruk-buruk amat seperti dilansir Arief Budiman. Proyek ekonomi neoliberalisme yang diusung Pinochet — tentu atas perintah Paman Sam – sebetulnya cukup berhasil membangun ekonomi Chili yang runtuh di ujung pemerintahan Allende. Meski biaya sosialnya sangat mahal.

Di bawah dua pemerintahan koalisi Concentration — Presiden Alwin Azocar dan Eduardo Frei Ruis-Tagle, ekonomi Chili membaik. Alwin dan Eduardo tetap meneruskan ekonomi neolib Pinochet yang cukup berhasil, diikuti reformasi gradual pada sektor ekonomi strategis untuk mengatasi kemiskinan. Dampaknya Chili tumbuh menjadi negara termakmur di Amerika Latin.

Menariknya, setelah ekonomi membaik, dua tokoh politik sosialis — Ricardo Lagos Escobar dan Michelle Bachelet Jeria terpilih menjadi Presiden Chili. Uniknya, kedua Presiden dari Partai Sosialis ini, tetap menjalin hubungan baik dengan Washington. Kejatuhan Allende yang melawan kebijakan AS tampaknya menjadi pelajaran berharga bagi Chili. Untuk tidak membangkan kepada Paman Sam.

Pertanyaan berikutnya: apakah kedua presiden sosialis itu konsisten menjalan proyek ekonomi sosialismenya yang kiri? Jawabnya, tidak. Kedua presiden sosialis ini, berbeda dengan Allende, bersikap pragmatis. Maksudnya, mereka tetap menjalankan ekonomi neolib Pinochet yang terbukti berhasil sambil melakukan reformasi gradual untuk mengurangi kemiskinan rakyat.

Dinamika politik Amerika Latin yang pragmatis sosialis berawal dari kebijakan pergeseran dari Kiri ke Pink Tide atau Left Turn. Pergeseran ke Pink Tide ini berujung pada dua sisi yang bersebrangan. Satu sisi ekstrim kiri populis. Sisi lainnya, kiri modern terbuka.

Kita lihat kilas balik dinamika perjalanan politik Kiri Amerika Latin. Sejak akhir abad 20 sampai awal abad 21, dunia terkejut menyaksikan sejumlah kandidat presiden berhaluan Kiri atau Kiri-Tengah memenangkan Pemilu di Amerika Latin.

Luisa Blanco dan Robin Grier (2011) mencatat: Pada awal 1990-an, sekitar 64 persen presiden di negara-negara Amerika Latin berasal dari partai sayap Kanan. Selanjutnya, 2005-2008, sekitar 33 persen dari presiden “Kanan” itu jatuh. Ada yang jatuh karena impeachment di Parlemen; mengundurkan diri karena desakan publik; dan kudeta militer.

Yang unik, di awal 2009, terjadi hal sebaliknya. Lima belas dari 21 negara di Amerika Latin dipimpin Presiden yang berasal dari partai sayap Kiri atau Kiri Tengah. Mereka, antara lain, Presiden Bolivia Evo Morales; Presiden Ekuador Rafael Correa; Presiden Nikaragua Daniel Ortega; Presiden El Savador Mauricio Funes; Presiden Uruguay Tabarez Vasquez dan penerusnya Presiden Jose Mujica. Saking prorakyatnya, Jose Mujica, misalnya, dikenal sebagai presiden termiskin di dunia. Hampir semua gaji dan fasilitasnya sebagai presiden diserahkan kepada rakyat miskin yang membutuhkan. Luar biasa dermawannya.

Saat ini, tahun 2020, hampir semua presiden di Amerika Latin berhaluan Kiri atau Kiri Tengah. Kiri Tengah maksudnya, Kiri moderat. Tidak seperti Allende, Kiri ekstrim. Dan Pinochet, Kanan ekstrim.

Lebih jauh, ternyata negara-negara sosialis Amerika Latin terbagi dua gerbong. Pertama, sosialis kiri populis. Gerbongnya berisi Presiden Venezuela Hugo Chavez, Presiden Bolivia Evo Morales, dan Presiden Equador Rafael Correa. Mereka mempromosikan apa yang disebut Chavez sebagai “Sosialisme Abad 21”? Mereka Anti-Washington, antikapitalis, dan antineolib. Tentu saja, dalam gerbong ini, sudah ada musuh bebuyutan Washington, kakak adik duo Castro (Fidel dan Raul) dari Kuba, yang hampir setengah abad “perang” melawan AS secara konsisten.

Gerbong kedua, berisi Chili, Argentina Nestor Kirchner; dan Presiden Brazil Ignacio “Lula” da Silva. Mereka tetap kiri sosialis, tapi tidak anti Amerika dan Eropa Barat. Mereka mengundang investor asing, tapi tetap mengelola ekonominya secara sosialis. Lula da Silva, misalnya, meski didukung Partai Komunis, tapi bergeser ke kiri tengah. Semula Lula anti Washington. Tapi kini, ia mendekati Paman Sam. Mungkin belajar dari kasus Chavez yang ekonominya hancur karena melawan Uncle Sam. Begitu juga Kirchner-Argentina. Ia ikut Chili dan Brazil. Bergeser ke kiri terbuka.

Betul, sejarah mencatat, periode 1980-1990, mayoritas rejim di Amerika Latin mempromosikan proyek neolib kreasi Washington. Hasilnya: kemiskinan bertambah dan ketimpangan sosial menajam. Kegagalan neolib tersebut menjadi pembenaran untuk menciptakan “Gerakan Anti-Neolib” di Amerika Latin. Sekaligus mengundang kembalinya “Sosialisme” radikal. Hal ini konsisten dilakukan Venzuela, Bolivia, dan Equador.

Jorge G. Castañeda, Profesor di New York University, mantan Menteri Luar Negeri Meksiko, menggambarkan fenomena Amerika Latin secara sederhana: ada dua Kiri di Selatan Amerika. Pertama, ”Kiri” yang memiliki karakter modern, reformis, terbuka (open-minded), dan internasionalis. Menariknya, ”Kiri” modern ini berasal dari kelompok garis-keras (hard-core). Yaitu ”Kiri” masa lalu. Mereka dulu menginduk pada Partai Komunis Uni Soviet. Sedangkan kedua, Kiri Populis. Ia menginduk pada tradisi besar populisme Amerika Latin yang berwatak nasionalis, vokalis, dan tertutup (close minded).

Pada yang pertama, muncul kesadaran bahwa mereka telah melakukan kesalahan di masa lalu. Seperti mengadopsi begitu saja model komunisme Uni Soviet apa adanya. Patuh pada tutorial Komunisme Internasional di Moskow. Chili, Brazil, dan Argentina berada di Kiri Modern.

Kesadaran semacam ini nihil pada yang kedua, Kiri Populis. Kelompok Kiri Populis justru anti-komunis tapi dekat dengan fasisme yang dikembangkan Spanyol (di bawah Franco) dan Portugal (di bawah Salazar). Venezuela, Bolivia, dan Ekuador masuk golongan Kiri Populis.

Kembali ke Chili. Kenapa Chili paling berhasil secara ekonomi di Amerika Lati meski presidennya dari partai sosialis? Karena proyek neoliberalisme Chili berhasil. Hal ini terjadi karena proyek neolib Chili tidak dipaksakan oleh lembaga-lembaga internasional. Chili telah menjalankan proyek Neolib sebelum dijalankan Inggris era Margareth Thatcher dan AS era Ronald Reagan.

Sejak 1990, Chili – siapa pun presidennya dan apa pun sayap politiknya, kini dipimpin Presiden Sebastian Pinera — tetap mengembangkan persahabataan dan kerjasama perdagangan dengan negara-negara Eropa Barat, AS, dan sekutunya. Chili juga aktif mengundang investasi dari negara-negara Barat dan Jepang.

Hubungan Chili dengan Jepang, misalnya, sangat dekat dan kultural, karena banyak penduduk Chili berdarah Nippon. Mereka dikenal sebagai Nipo-Chilano. Yaitu orang Chili berdarah Jepang. Gelombang imigran Jepang ke Chili terjadi tahun 1903, saat industri pertambangan tembaga mulai ramai beroperasi di Chili. Chili adalah produsen tembaga terbesar dunia.

Strategi pembangnan ekonomi Chili yang kiri modern, tidak memberikan tempat bagi retorika populis yang anti-imperalisme dan anti-globalisasi seperti digaungkan Chaves-Venezuela dan Morales-Bolivia. Dampaknya positif: Ekonomi Chili terdepan di Amerika Latin. Ini berkat diplomasi “silaturahim” yang membangun persahabatan.

Akhirul kalam, Chili yang kritis sosialis dan bersahabat dengan Barat, memberikan nuansa lain dalam diamika politik negara-negara Amerika Latin yang cenderung Kiri. Lalu, apakah model Chili masih punya elemen sosialisme di dalamnya? Tidak mudah menjawabnya. Tanyakan pada Arief Budiman di “sorga” yang selama ini konsisten memuji politik kiri sosialisme!

Semoga Arief Budiman mendapat tempat terbaik di Sisi Tuhannya. Aamiin!

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA