by

Melihat dengan Mata yang Lain, Positivity

Oleh: Denny JA

KOPI, Jakarta – Lihatlah lukisan Stereogram itu. Dalam kanvas yang sama, untuk lukisan yang itu- itu juga, nampak gambar yang berbeda-beda. Itu tergantung dari bagaimana mata kita menggabungkan aneka titik, garis dan warna. Itu tergantung pula dengan di mana posisi kita berdiri. Ini lukisan yang dibuat dengan teknik optical ilusion: ilusi persepsi. (1)

Saya menikmati lukisan stereogram berjudul “Satu Gambar Empat Musim.” Itu jelaslah gambar pohon. Tapi jika saya berdiri melihat gambar itu dari paling kiri, ia nampak pohon di musim semi. Rimbun. Banyak daunnya. Segar dan warna warni.

Ketika saya berdiri bergeser agak ke kanan melihat kembali kanvas itu. Lukisan tersebut nampak seperti pohon di musim panas. Berbagai daunnya mulai mengering. Lebih banyak warna daun kecoklatan. Tak lagi segar. Tak lagi warna warni.

Saya berdiri semakin ke kanan lagi. Lukisan itu seperti pohon di musim gugur. Daun- daunnya mulai berguguran. Hanya beberapa daun yang tinggal di ranting. Lebih banyak yang gugur di tanah. Itu pohon ditinggal oleh daun-daun. Sepi.

Saya ubah posisi berdiri paling kanan. Ia nampak seperti pohon di musim salju. Rantingnya tanpa daun, diselimuti es. Putih. Dingin. Beku.

Bagaimana bisa? Satu kanvas tapi menampakkan pohon di empat musim? Yang mana realitas sebenarnya dari kanvas itu? Pohon musim gugurkah? Pohon musim salju kah? Musim semi? Musim panas? Semuanya benar, tergantung di mana posisi kita berdiri.

-000-

Gambar stereogram ini miniatur dari realitas hidup yang jauh lebih besar dan kompleks. Peristiwa yang sama. Duka yang sama. Bencana yang sama. Tapi semua itu bisa nampak berlainan jika dilihat dari perspektif yang berbeda.

Lebih jauh lagi, peristiwa yang sama memberi makna yang berbeda jika dilihat dari mata yang berbeda. Aneka kejadian bisa nampak berbeda jika direnungkan dengan paham yang berlainan.

Realitas hidup yang kompleks memang seperti kanvas lukisan stereogram itu. Multi rupa. Multi warna. Multi makna pula.

Kitapun teringat renungan Jalaluddin Rumi. Ia mengatakan, “Tutuplah dua matamu. Lihatlah dunia dengan mata yang lain.” Ada cara melihat yang berbeda melalui mata yang lain. Dengan mata yang lain itu, satu musibah, misalnya, yang oleh mata biasa dianggap sebagai derita, sebagai celaka, oleh mata yang lain, musibah itu justru dianggap berkah.

Ujar Rumi, “Bagi yang sampai di pucuk nurani, apa yang melukai, juga memberkahi. Apa yang gelap juga bercahaya.”

Mereka yang sudah berkelana, yang sudah dilezatkan perenungan mendalam, sudah mampu melihat peristiwa secara berbeda dibandingkan dengan yang dilihat orang banyak. Bahkan derita, jika dilihat dengan mata yang lain, derita itu justru bermakna. Derita itu justru berkah.

Sambung Rumi lagi, “Jika datang bencana padamu, sambutlah ia sebagai tamu kehormatan. Bencana itu datang membawa pesan Tuhan untuk pertumbuhanmu.

Melihat dunia secara berbeda, memberi makna kepada derita, itu adalah satu kemampuan tertinggi homo sapiens. Kemampuan itu dapat dipelajari, dilatih. Ketrampilan itu bagian penting dari kecerdasan spiritual.

-000-

Kisah hidup Victor Frankl (1905-1997) sebuah contoh nyata tumbuhnya mata yang lain dalam melihat dunia.

Frankl seorang Yahudi, lahir di Austria. Di tahun 1944-1946, ia dijebloskan ke dalam empat kamp konsentrasi yang berbeda- beda oleh Nazisme. (2)

Tiga tahun Ia disiksa dan diteror. Ia melihat sendiri kakak dan Ibunya mati di kamp konsetrasi itu. Ia mengalami dan menyaksikan betapa teman temannya tak kuat atas siksaan berbulan- bulan. Sebagian memilih mati bunuh diri.

“Saya harus hidup,” ujar Victor Frankl. “Saya harus keluar dari kamp ini dengan tubuh dan pikiran yang sehat. Harus saya ceritakan kepada dunia apa yang saya alami. Akan saya buktikan bahwa manusia unggul bisa membentuk dirinya sendiri ketimbang lingkungan membentuknya.”

Fankl teringat banyak kisah teror di kamp itu. Pemerintahan Nazi memang sengaja ingin mematahkan mental tawanan Yahudi. Suatu ketika, mereka disajikan makanan ikan. Dari kepala ikan itu, keluar cacing.

Teman Yahudi lain menolak makan. Tapi Victor Frankl melihat ikan itu dari mata yang berbeda. Ia sihir dirinya. Ia katakan betapa lezat ikan ini. Jika dimakan, ikan ini tak hanya mengenyangkan perutnya. Tapi juga akan menyehatkannya.

Tiga tahun dalam kamp konsentrasi, Victor Frankl tak hanya survive dan hidup. Iapun menjadikan pengalaman di Holocoust itu untuk menciptakan gelombang baru ilmu psikologi. Frankl dianggap ikut mendirikan dan dianggap bapak paham psikologi humanistik. Pendekatannya disebut Logotherapy.

Tradisi sebelumnya, psikologi behaviorisme berpandangan; manusia dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Manusia ibarat kertas putih. Jika lingkungannya bewarna merah, merah pula kertas itu kemudian.

Lahir pula psikologi analisa dari Sigmun Freud. Aliran psikologi ini beranggapan manusia dibentuk terutama oleh sejarah masa kecilnya. Trauma, derita, perlakuan masa kanak kanak manusia, apalagi yang berurusan dengan seksual, itulah yang lebih banyak mencetak prilaku individu itu selanjutnya.

Victor Frankl mengembangkan paham psikologi yang berbeda. Dengan pengalamannya sendiri di Holocoust, Ia menyatakan. Manusia yang unggul tidak semata produk lingkungannya. Ia tidak semata hasil trauma dan kisah seksual masa kecilnya. Manusia yang unggul bisa membentuk dirinya sendiri.

Menurut Frankl, kekuatan utama manusia adalah kemampuannya memberikan makna bahkan kepada derita. Jika individu berhasil memberi makna hidupnya, memiliki sense of purpose; derita sehebat apapun bisa dilewati.

Logotherapy yang dikembangan Victor Frankl ini semacam penyembuhan dengan memberikan makna. Ini sikap hidup yang mengembangakan mata yang lain. Ia menumbuhkan cara melihat yang berbeda.

Ketika datang itu derita dan musibah, bencana itu akan kuat dipikul karena bencana itu membawa makna. Misalnya, derita itu ia tangkap secara positif. Derita yang datang itu Ia anggap justru untuk membuatnya lebih kuat lagi.

Mengapa ia perlu lebih kuat lagi? Karena Ia meyakini selalu mungkin datang berkah yang lebih besar jika ia bertambah kuat. Sikap hidup positif ini kemudian dibuktikan benar oleh aneka riset.

-000-

Mata yang lain itu, yang berguna untuk membuat hidup bahagia dan bermakna, kita sebut positivity. Term ini adalah sebuah mindset, sebuah habit untuk selalu melihat sisi positif dari setiap peristiwa.

Seperti lukisan stereogram itu, realitaspun bisa nampak berbeda jika dilihat dari mata yang berbeda. Positivity adalah mata yang memang secara sengaja melihat dunia, bahkan derita, dari sisi yang positif, optimis, dan ikhlas.

Di bawah ini ada tiga riset yang menunjukkan efek sikap hidup kepada kesehatan, prestasi dan kebahagiaan. Mereka yang cenderung mengembangkan sikap hidup positif versus mereka yang cenderung mengembangkan sikap hidup negatif akan mengalami kualitas hidup berbeda.

Riset pertama dilakukan oleh Dr Seligman dan Christopher Peterson dari Michigan University, sejak tahun 1946 sampai sebelum tahun 1987. Responden mereka adalah 99 mahasiswa Harvard University, lulusan tahun 1939-1944. (3).

Para mahasiswa ini ikut berperang dalam perang dunia kedua. Sepulang dari perang, setiap lima tahun sekali, mereka kembali diriset. Sejak hasil riset pertama, 99 alumni Harvard ini sudah diketahui kelompok yang sikap hidupnya optimis versus kelompok dengan sikap hidup pesimis.

Kesulitan hidup, apalagi setelah perang dunia kedua teramat nyata. Yang optimis cenderung melihat sisi terangnya: potensi ke depan dan kesempatan yang terbuka dari kesulitan yang ada. Sementara yang pesimis, untuk kesulitan yang sama, cenderung melihat sisi gelapnya: beban dan bayangan persoalan yang akan menimpa.

Ini hasil riset itu. Mereka yang optimis cenderung hidup lebih sehat. Mereka yang optimis cenderung hidup lebih lama. Sistem kekebalan mereka yang optimis jauh lebih kuat. Gaya hidup mereka yang optimis juga cenderung lebih bugar.

Riset kedua dilakukan oleh Dr Seligman dan Laslie Kaeman dari University of Pennsylvania, di tahun 1984. Mereka meriset 500 mahasiswa yang baru saja tamat SMA. (4)

Mereka juga dipilah dalam dua kategori. Kelompok yang sikap hidupnya positif dan optimis. Kedua, kelompok yang sikap hidupnya negatif dan pesimis. Kedua kelompok ini diamati dalam jangka waktu yang panjang.

Hasilnya bisa diduga. Mereka yang positif dan optimis cenderung memiliki prestasi dan nilai kelas lebih tinggi. Mereka lebih rajin belajar. Mereka lebih fokus. Mereka lebih mempunyai need for achievement.

Riset ketiga dilakukan oleh California State University tahun 2009. Riset ini menggunakan data dari National Longitudinal Survey of Youth (1979). Salah satu yang dikur adalah efek dari sikap hidup positif dan optimis versus yang negatif dan pesimis terhadap kebahagiaan. (5)

Dalam riset itu yang menjadi responden adalah para pekerja. Hasil juga terang. Pekerja yang persepsi hidupnya lebih positif umumnya memiliki kenaikan penghasilan yang lebih cepat dan tinggi.

Mereka juga lebih berbahagia. Kebahagiaan mereka juga memberikan efek kepada prestasi kerja yang lebih baik lagi.

Menghidupkan mata yang lain, lebih melihat sisi positif dari hidup sudah dibuktikan riset berkali- kali. Positivity itu membuat hidup tak hanya lebih bermakna, lebih bahagia, lebih berprestasi dan juga lebih sehat.

-000-

Ini fondasi kedua dari spiritualitas baru. Yang pertama, dibahas dalam esai sebelumnya, adalah memiliki hubungan personal yang hangat. Kedua adalah sikap hidup yang memberi makna bahkan pada derita. Sikap hidup yang positif dan optimis.

Prinsip hidup ini berasal dari gelombang ketiga narasi besar ilmu pengetahuan. Spiritualitas baru tak lagi menyandarkan legitimasi pada mitologi (narasi besar gelombang pertama), juga tidak pada wahyu dan aneka interpretasinya (narasi besar gelombang kedua).

Spiritualitas baru menyandarkan aneka panduan pada pohon ilmu pengetahuan, dari hasil riset empirik. Tak ada panduan spiritualitas baru tanpa lewat riset yang masif.

Hasil riset ini dapat diterapkan dalam hidup siapapun, apapun agamanya, tanpa mengganggu keyakinan atau akidah agama.

Apapun jenis kelamin, asal negara, kekayaan, tingkat pendidikan. Apapun warna kulit; apapun jenis kelamin, apapun agama yang dipeluk. Jika individu mengembangkan sikap hidup yang positif dan optimis (positivity), Ia cenderung menempuh hidup yang lebih sehat, berprestasi dan bahagia.

Riset sudah membuktikan pentingnya positivity. Pentingnya mengembangkan mata yang lain, yang memberi makna bahkan kepada musibah.

Kembali kita teringat Jalaluddin Rumi: “Sambutlah derita sebagai tamu kehormatan. Sambut bencana karena Ia membawa pesan Tuhan untuk pertumbuhanmu.”

Juni 2020

Catatan

  1. Lukisan bercorak Stereogram memang menggunakan ilusi persepsi. Apa yang nampak sekilas pada lukisan itu bisa berbeda dengan yang nampak kemudian ketika kita mengubah cara memandang. Deceiving Art: A Guide to Stereograms
  1. Kisah Victor Frankl dalam hubungannya dengan Kamp Konsentrasi dan lahirnya Logotherapy dibahas di banyak sumber. Ini salah satunya: https://medium.com/the-art-of-work/celebrating-viktor-frankl-how-a-holocaust-survivor-s-philosophy-on-happiness-remains-relevant-1cda8f5343e4
  1. Riset sikap hidup positif dalam hubungannya dengan hidup sehat https://www.nytimes.com/1987/02/03/science/research-affirms-power-of-positive-thinking.html
  1. Riset hubungan prestasi dengan sikap hidup positif, sumbernya sama: https://www.nytimes.com/1987/02/03/science/research-affirms-power-of-positive-thinking.html
  1. Ini juga riset hubungan sikap hidup positif dengan kebahagiaan.

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S016748700900097X

Link: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/2975363095893153/?d=n

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA