by

Renungan Simon Syaefudin: Tokoh Sejarah dan Mitologi

KOPI, Bekasi – Tak semua Rasul adalah tokoh sejarah. Yang bisa dibuktikan keberadaannya secara sains modern, antropologis, arkeologis, dan historiografis. Misal Nabi Musa. Meski paling banyak disebut dalam kitab suci, terutama Qur’an, ternyata Nabi Musa bukan tokoh historis.

Ini berbeda dengan Fir’aun — sebutan untuk raja Mesir kuno. Ramses II, misalnya, adalah tokoh sejarah. Ada jejak arkeologisnya. Yang membingungkan, kenapa kisah Ramses II disandingkan dengan Musa dalam Quran? Campur aduk.

Sejarawan, misalnya, mengalami kesulitan merunut jejak-jejak Musa yang disebutkan kitab suci. Sehingga tak sedikit sejarawan menganggap Musa sebagai tokoh mitologi. Seperti Hercules dan Midas. Mana mungkin, hanya dengan mengetukkan tongkatnya, Musa dapat membelah Laut Merah?

Nabi Nuh, juga bukan tokoh sejarah. Keberadaannya sulit dilacak secara saintifik. Kisah banjir besar di era Nuh, misalnya, menurut sejumlah sejarawan, lebih bersifat mitologis. Seperti kisah Roro Jonggrang dan Ki Semar.

Yesus atau Isa Al Masih juga bukan tokoh sejarah. Namun jejaknya bisa dirunut sejarawan. Tapi, apakah betul, Yesus putra Bunda Maria, lahir tanpa ayah? Fakta atau mitos?

Muhammad adalah tokoh historis. Jejaknya jelas. Punya ayah dan ibu. Pernah menjadi kepala daerah Madina dan memimpin perang. Tapi jangan lupa, mitologi di sekitar sosok Nabi Muhammad sangat banyak. Di kitab-kitab tarikh Nabi, misalnya, ada cerita Nabi Muhammad membelah bulan. Dalam Quran ada kisah Nabi Muhammad terbang bagaikan kilat dari Mekah ke Jerusalem, lalu terbang secepat kilat ke luar angkasa untuk bertemu Tuhan. Karena kisah itu tidak saintifik, maka jelas, mitologi.

Orang beriman wajib percaya terhadap kisah-kisah di kitab suci tadi. Pertanyaannya: bila kepercayaan seseorang terhadap kitab-kirab suci lebih pada “mengambil pelajaran dan hikmah dari mitos-mitos” tersebut, apakah ia termasuk orang beriman?

Selanjutnya, bila seseorang membaca kitab suci, lalu mengkontekstualisasi kisah kitab suci dengan kondisi sekarang, apakah termasuk beriman?

Misal, karena di Arab sering terjadi badai Padang pasir dan orang Arab nafsu seksnya tinggi, maka kitab suci mewajibkan wanita menutup aurat — terutama bagian-bagian tubuhnya yang merangsang seks pria. Seperti paha dan susu. Lalu bagaimana dengan wanita berpakaian tradisional yang terbuka di bagian-bagian sensualnya?

Itu sekadar contoh. Bagaimana agama terkonteks dengan lokasi dan kulturnya. Belum lagi terkonteks dengan mitologi setempat di mana agama itu lahir.

Mungkin kita perlu berpikir rasional dan matang dalam beragama. Tidak asal meniru budaya dan tradisi di tempat kelahiran agama.

Sebagai muslim, misalnya, saya tidak alergi dengan mitos yang ada dalam kitab suci. Fun aja. Toh, membaca mitos itu, indah dan mencerdaskan. Tapi, plis, jangan kaitkan mitos dengan pembuktian sains. Biarlah masing-masing eksis dengan perannya yang unik dan distinktif.

Kafirkah saya bila menulis demikian? Aku percaya kepada Tuhan. Percaya kepada Hukum Alam.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA