by

MUSIBAH CORONA: Pemantik Kebangkitan ‘Swa’ Alat Kesehatan

KOPI, Jakarta – Corona tidak melulu diisi cerita duka, tetapi juga dapat membangkitkaan mimpi Indah!

Kok bisa? Bisa saja, mengapa tidak. Kita harus bisa melihat dari sisi positifnya. Indonesia kan negara yang mempunyai budaya gotong-royong. Tinggal pimpinan tertinggi serta jajarannya saja yang harus dibangkitkan rasa nasionalismenya. Paham bisnis oligarkinya diguyung untuk berkompetisi dalam bisnis meningkatkan swa industri. Salah satunya industri alat kesehatan. Ini juga bisa membuat kantong tebal kok. Sambil mendongkrak martabat bangsa. Jadi, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Mengapa Kesehatan harus diprioritaskan? Karena manusia yang sehat adalah elemen utama dalam membangun kekuatan bangsa. Bagaimana bisa berfikir jernih dan ber inovasi cemerlang jika kesehariannya didominasi memikirkan tubuh yang sakit. Apalagi dihantui kematian. Seperti tantangan memerangi wabah korona saat ini.

Kelambanan pemerintah dalam memulai perang terhadap Virus Corona telah melahirkan penolakan, keengganan mematuhi aturan dan kemarahan masyarakat. Walaupun sederet efek tersebut juga terjadi pada negara besar, seperti Amerika.

Kasus di Indonesia disinyalir akibat paham yang sangat bergelayut pada rasa ke khawatir yang tinggi terhadap dampak ekonomi. Sehingga mengakibatkan penundaan langkah-langkah penguncian atau Lock Down. Strategi yang telah digunakan salah satunya dengan menebarkan isu yang tidak berbasis ilmiah. Seperti, pernyataan bahwa penebaran Virus Corona akan lambat di negara tropis. Ini isu yang memabukan pola pikir masyarakat. Ini ‘Candu’ yang akhirnya membuat masyarakat menganggap serangan Virus Corona tidak perlu dianggap ancaman yang serius.

Tapi apa akibatnya? Indonesia sebagai negara yang mengkontribusi sekitar 5% total penduduk dunia, negara terpadat keempat di dunia, menempati peringkat pertama penggondol angka kematian tertinggi di Asia tenggara. Kalah cerdas dengan Vietnam.

Inilah taruhan dari tebaran isu yang tidak bertanggung jawab. Justru membuahkan hasil yang memilukan. Angka korban meningkat terus. Akhirnya Indonesia sekarang menghadapi sistem kesehatan yang runtuh. Hingga muncul kepercayaan, ke rumah sakit berarti menyerahkan nyawa.

Mengapa? Karena memang sangat mencekam. Sudah berapa tenaga medis baik senior maupun junior yang telah menjadi pahlawan. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan APD lainnya untuk para tenaga medis. Juga tidak diimbangi asupan gizi yang seharusnya disediakan oleh pemerintah. Dan tidak tersedianya ruang istirahat yang benar benar bisa memulihkan rasa penat jiwa dan fisik mereka.

Bagi pasien bagaimana? Kurang memadainya jumlah rumah sakit, serta yang paling utama krisis adalah sedikitnya jumlah ventilator – alat bantu pernafasan.

Pemanufaktur ventilator dunia kewalahan memenuhi pesanan seluruh dunia. Presiden kita juga meminta bantuan Amerika untuk membantu Indonesia terkait ini. Tetapi Amerika sendirikan sedang berusaha keras melawan Virus Corona. Mereka mempunyai angka tertinggi didunia dalam kematian. Mengapa meminta? Gratiskah? Sepertinya tidaklah. Makanya pemerintah me revisi kelola anggaran negara kembali.

Kelangkaan ventilator yang membuat miris hati karena berimbas pada meningkatnya angka kematian, serta rasa kemanusian yang tinggi, telah menggerakkan Nurani masyarakat. Orang Indonesia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi dalam menghadapi musibah bencana alam. Seperti Tsunami, gunung Meletus dan lain sebagainya. Sebenarnya terbiasa. Dan punya pengalaman tinggi, meski jauh dari sempurna implementasinya.

Kekecewaan masyarakat yang telah menggantungkan harapan yang sangat tinggi pada pembenahan administrasi bencana saat ini, lagi dan lagi selalu berusaha mencari solusi sendiri. Juga terkait kelangkaan ventilator. Rasa tidak percaya pada pemerintah selalu muncul disetiap badai yang menimpa. Musibah yang menghantarkan pada pilihan hidup atau mati. Tetapi, sekali lagi, masyarakat sudah terbiasa menerantasi musibah bencananya secara mandiri.

Masyarakat hampir bisa dipastikan, selalu bekerja sendiri berbasis pada rasa ‘Gotong Royong’ dan ke’heroik’an hati. Menggalang kantong kantong donasi, dan penyaluran dengan sistim yang bebas korupsi selalu menjadi ‘headline’ di media. Begitu pula ditengah pandemik Corona, ada seorang Polwan dengan gaji yang rendah, rela menyumbangkan gajinya untu menolong sesama. KORPRI yang selalu mendapat nyinyiran sinis oleh era penguasa saat ini, selalu tergerak mengumpulkan dana bantuan. Tidak jarang pula, kelompok kartini Indonesia banyak yang langsung bergerak membantu orang terdekat yang bisa dibantu, dan semampunya. Mahasiswa mletik menciptakan ventilator sendiri untuk membantu rumah sakit. Juga dosen universitas ternama, semedi untuk karya ventilatornya di masjid Salman ITB Bandung, dibantu dana masjid, menciptakan ventilator. Bekerjasama dengan manufaktur dalam negeri, PT Pindad dan yang lainnya. Proses Ijin departemen Kesehatan bisa dipersingkat. Big Tumb. Yang selama ini tersebar isu sulitnya menembus mafia terkait medis.

Negara Republik Indonesia butuh 1668 ventilator. Terdiri dari dari 1.000 ventilator jenis Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dan sekitar 668 ventilator jenis Ambu Bag, tegas pak Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P. S. Brodjonegoro, Ph.D.. Jenis Ambu Bag buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dipakai untuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau ruang Emergency. Untuk membantu pasien yang dalam kondisi emergency. Sedangkan yang jenis CPAP untuk di ruang operasi. BRIN adalah badan yang mengkordinatori BPPT, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Standarisasi Nasional (BSN), Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). BRIN bekerjasama dengan ITB, UI, BPPT, dan perusahaan swasta, sedang akan memproduksi empat prototipe ventilator. Tingkat Komponen Dalam Negerinya (TKDN) hampir 100%. Saat ini dalam proses uji dan ijin Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam bulan Mei diharapkan sudah bisa menggelontorkan produknya ke rumah sakit. Pembiayaan bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Nyatanya bangsa ini mampu ‘swa’ produksi!

Mengapa harus dipantik oleh wabah dahulu. Rasa cemas dan ketakutan ternyata bisa menggoyang rigiditas sistim perijinan terkait medis – yang kaya mafia impor. Semoga pula, kedepannya, pengalaman ini bisa mengocok sistim penganggaran negara ini sehingga jelas peruntukannya. Dapat merajut Kerjasama antara Lembaga Litbang dengan ujung depan konsumen. Uang negara bisa benar benar amanah.

Ini bukti bahwa anak bangsapun mampu menyumbangkan kepiawaiannya dalam memanufaktur alat Kesehatan. Yang selama ini didominasi oleh impor. Yang hanya menebalkan kantong segelintir kelompok.

Budaya impor inilah yang menimbun penyakit inferioritas di kalangan para insinyur Indonesia yang mengabdi di Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LitBang). Para pemikir teknologi. Yang selalu berusaha merangkak membawa Indonesia menjadi negara yang mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Jangan bicara kualitas. Tetapi mari bicara terkait nilai bangsa. Kuat dalam ‘SWA’ Kelola di berbagai sektor, akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat. Bangsa yang mampu mengelola tantangannya dengan segenap SDM yang ada.

Budaya impor ini pula yang telah mencetak SDM yang tinggi inferioritasnya. Merasa tidak berguna. SDM yang tidak percaya diri. SDM yang selalu minder jika berbicara di podium terkait pamer kemampuan industri lokal.

Sebenarnya Indonesia banyak mempunyai hasil LitBang yang sudah mendekati komersial, seperti produk BATAN, Renograf, Kursi Pintar ber-energi Nuklir Pelacak Kelainan Ginjal. Alat ini dapat mendeteksi kemampuan kerja ginjal secara dini. Tetapi komersialisasinya selalu terhambat ijin edar bertahun tahun dan juga tebaran isu bahwa alat ini sudah ketinggalan jaman.

Ketinggalan jaman? Mungkin benar. Jika dibandingkan dengan produk impor. Tetapi nilai menolong manusia Indonesianya tidak ketinggalan jaman. Lebih murah dan bisa dimanufaktur dalam negeri, jika memang niat membangun bangsa.

Jarum suntik. Selalu diterpa isu kurang steril. Sehingga tidak lolos ijin ekspor. Wow. Memang pandai mencari alasan untuk membunuh produk dalam negeri.

Terkait sterilisasi, Indonesia mempunyai teknologi radiasi sinar gamma, yang dimiliki BATAN, ini Lembaga pemerintah. Mengapa tidak dipakai untuk sterilisasi. Masuk kategori teknologi tinggi – yang merupakan terobosan jitu. Tapi selalu dibenamkan dengan sejuta isu yang pada prinsipnya lebih baik impor daripada ‘swa’. Teknologi sinar gamma ini cepat, murah, karena ini milik pemerintah. Dikelola berbasis pada Pendapatan Negara Bebas Pajak (PNBP). Ongkosnya bisa lebih dari sepertiga dari jika memakai jasa yang dimiliki oleh swasta. Atau jika menggunakan teknologi yang lain.

Sebagai info tambahan, sterilisasi sinar gamma ini dipakai untuk membunuh bakteri dan kuman pada produksi bedak, masker, alat Kesehatan lain, dll. Yang hendak di sterilkan. Juga, teknologi ini dipakai untuk membunuh telur calon ulat. Dimana jika tidak dimatikan, ulat ini akan membuat kualitas buah menjadi buruk, sehingga tidak lolos syarat ekspor.

Prinsipnya, banyak sekali kemampuan anak bangsa yang dapat diproduksi sebagai produk dalam negeri. Termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Dimana kemampuan Sumber Daya Manusia BATAN sudah menelorkan desain sendiri yang bisa meraup TKDN lebih dari 40%. PLTN, selain menghasilkan listrik yang kompetitif, adalah juga alat Kesehatan dalam menciptakan udara nan bersih.

Akhirnya, Pandemik Corona yang melanda bangsa, seharusnya bisa menjadi pembelajaran bahwa ‘SWA’ kelola produk bangsa, adalah pondasi yang harus dikuatkan di tanah air. Menjadi pe bisnis dalam mempromosikan produk dalam negeri untuk bangsa sendiri, sepertinya harus dilakukan bersama, secara gotong royong. Dan ini harus dibantu turun tangan pemerintah. Uluran kekuatan dalam kawalan hukum, kebijakan serta pendanaan sebagai start up.

Kuatnya menggunakan produk sendiri akan membawa negara ini menjadi negara yang dapat berdiri tegak berjalan melintasi tantangan yang selalu datang silih berganti serta purwarupa.

Indonesia pasti BISA!

(Oleh Dr. Geni Rina Sunaryo, Alumnus Tokyo University)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA