by

1 Juta BOPD dan Upaya Mewujudkan Ketahanan Energi

KOPI, Jakarta – Sejak dimulainya industrialisasi minyak dan gas bumi (migas, red) modern pada pertengahan abad ke-19, industri migas telah memainkan peran dominan bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia, baik dari sisi penghasil (produsen) maupun dari sisi pengguna (konsumen). Begitu pula di Indonesia, industri migas yang sudah dieksploitasi lebih dari 125 tahun, berawal dari ditemukannya sumur minyak bumi pertama di Desa Telaga Said, Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Miliaran barel migas telah mengalir dari perut bumi yang menjadi sumber pendapatan bagi negara, juga sebagai salah satu motor penggerak perekonomian nasional setiap tahunnya.

Industri migas yang sudah dieksploitasi dan meliputi area kontrak wilayah kerja mulai dari Sumatera sampai Kalimantan telah melalui berbagai siklus dan perubahan yang mengharuskannya beradaptasi. Dipengaruhi perubahan teknologi, tingkat kebutuhan dan juga fluktuasi harga migas dunia, produksi produksi gas nasional beberapa tahun terakhir justru menunjukkan angka yang lebih besar dibanding produksi minyak buminya.

Indonesia tidak hanya mengandalkan produksi minyak dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), tapi juga impor. Kebutuhan BBM dalam negeri sendiri sekitar 1,3 juta barel per hari (bopd) di tahun 2017, dan  kebutuhan BBM itu dipenuhi dari produksi minyak mentah dalam negeri, impor minyak mentah, dan impor BBM. Untuk produksi minyak mentah sebanyak 525 ribu bopd atau sekitar 59% berasal dari dalam negeri. Minyak mentah dari impor sendiri sebesar 360 ribu bopd atau mengambil porsi 41%. Secara total, jumlah minyak mentah yang diproduksi mencapai 885 ribu barel bopd. Namun, minyak mentah ini tak semuanya menjadi BBM, setelah masuk kilang, minyak mentah yang menjadi BBM hanya sebesar 680 ribu bopd. Tentu, jumlah BBM yang diproduksi itu masih belum memenuhi kebutuhan BBM nasional sebesar 1,3 juta bopd. Dengan demikian, Indonesia masih mengimpor minyak mentah sebesar 360 ribu bopd dan 370 ribu bopd BBM.

Harapan Besar pada Target 1 juta BOPD

Besarnya kebutuhan BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, akhirnya kembali membangkitkan semangat pemerintah dan SKK Migas untuk menetapkan  target produksi minyak satu juta barel. Target tersebut diangkat di tengah tren penurunan produksi minyak dalam beberapa tahun terakhir. Terakhir, produksi satu juta barel minyak tercatat pada 2006. Setelah itu produksi terus turun hingga pada 2019 tercatat sebesar 745 ribu barel per hari (bopd).

Keberadaan atas target 1 juta bopd memiliki arti penting bagi Indonesia. Selain memberikan dampak langsung, juga akan memberikan dampak tidak langsung serta dampak berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional. Keberadaan kegiatan usaha migas ini akan memicu tumbuhnya perekonomian nasional. Sektor migas di Indonesia merupakan sektor strategis dalam mendorong roda perekonomian nasional, dengan menyumbang sekitar 20%-30% terhadap pendapatan negara per-tahunnya.  Kontribusi sektor migas dalam perekonomian bisa dilihat dari peran sektor tersebut dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Sudah seharusnya sebagai penyumbang pendapatan yang signifikan, daerah penghasil migas juga memperoleh manfaat “multiplier” terbesar dengan adanya wilayah kerja tersebut. Namun, kondisi sosial-ekonomi masyarakat di beberapa daerah penghasil justru menunjukan beberapa indikator ekonomi sosial dan pembangunan yang lebih rendah dibanding daerah lain yang bukan penghasil di provinsi tersebut.

Upaya Mewujudkan Ketahanan Energi

Tentu bukan perkara mudah untuk merealisasikan target tersebut. Dwi Soetjipto  selaku ketua SKK Migas pun mengakui ada yang menganggap target satu juta barel mustahil diwujudkan. Namun yang tidak bisa dipungkiri, target tersebut sudah menjadi wacana umum. “Ada yang menganggap kok mustahil, tapi sekarang sudah menjadi wacana umum. Setelah itu, publik akan menagih,” kata Dwi.Jika melihat realisasi produksi 2019 dan target tahun ini sebesar 755 ribu bopd, ada sekitar 250 ribu bopd yang harus diupayakan dan dicari sumbernya.

Langkah awal, tentu saja harus meningkatkan cadangan terlebih dahulu. Bagi Dwi potensi untuk meningkatkan cadangan sebesarnya masih sangat terbuka. Apalagi melihat kenyataan bahwa dari 128 cekungan yang ada di Indonesia, baru sekitar 50-an yang digarap dan hanya 20 cekungan yang telah diproduksikan. Peningkatan cadangan, apalagi dalam jumlah besar, tentu harus dimulai dari kegiatan eksplorasi yang massif. Untuk itu, tentu saja butuh investasi yang tidak sedikit. Padahal, iklim investasi di sektor hulu migas nasional masih menjadi salah satu tantangan terbesar.

Untuk kembali mencapai Visi bersama, Indonesia kembali meraih 1 juta BOPD di tahun 2030, SKK Migas telah melangkah dengan pelaksanaan 5 (lima) transformasi hulu migas yaitu : 1. Clear Vision, Produksi 1 juta barrel oil perhari di 2030; 2. Organization as center of excellence, Penataan organisasi & SDM lebih baik; 3. One Door Service Policy (ODSP), Berperan aktif dalam setiap pengurusan perizinan; 4. Commercialization, mengakselerasi komersialisasi potensi yang ada; 5. Digitalisasi, Mewujudkan Integrated Operation Center (IOC). Dalam rangka meningkatkan produksi migas, sebagai pelaksanaan dari transformasi SKK Migas, telah ditetapkan dan secara konsisten dilaksanakan 4 (empat) strategi meningkatkan produksi migas, yaitu: 1. Mempertahankan tingkat produksi existing yang lebih tinggi; 2. Transformasi sumberdaya ke produksi; 3. Mempercepat Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR); dan 4. Eksplorasi untuk penemuan besar.

Target 1 Juta BOPD 2030 sangat penting diwujudkan karena tidak hanya bermanfaat bagi perekonomian nasional, tetapi juga dapat mewujudkan ketahanan energi. Dengan  adanya data 128 cekungan dan yang belum digarap sama sekali ada 74 cekungan, sementara yang sudah digarap, baru 54 dan itupun baru 20 cekungan yang berproduksi, menjadi sebuah harapan bahwa industri migas bukanlah sunset industry melainkan sunrise industry. Hal senada diungkapkan Dwi “ saya ingin mengangkat sebuah harapan bahwa industri migas bukanlah sunset industry tapi adalah sunrise industry. Kalau ingin membangun masa depan harus ada keberanian untuk membangun harapan. Harapan bisa dibangun dengan mimpi. Jadi awalnya dari sini” semoga hal ini dapat menjadi semangat bersama dalam mewujudkan energi yang kuat bagi negeri, Amin.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA