by

Budaya Slovenia dan Mencintai

Oleh : Dr Geni Rina Sunaryo

KOPI, Jakarta – Slovenia itu indah.

BLED, Danau indah di Slovenia, Beberapa km dari Ljubljana, ibu kota slovenia.

Termasuk negara Eropa timur, yg memang terlihat lebih kurang terawat dibandingkan Eropa Barat, tapi basic budayanya rapih.

Seperti biasa, dengan modal cuap hasil penelitian, aku kirim makalah ke seminar internasional yang diselenggarakan komunitas eropa, Eropean Community (EC). Sampai deh ke Slovenia.

Bagiku, dua kali ke sini, ndak bosen.

EC, selalu menggelar conferencenya di kota yang indah dari setiap negara anggotanya. Kalau di Slovenia, ya di pusat kotanya, Ljubljana. Yang mempunyai jargon DRAGON bersayap. Yang bisa kita lihat di salah satu jembatan di kota itu. Jika mampir kesini, jangan lupakan berfoto dibawah dragon ini. Bukti bahwa kita sudah pernah menikmati keindahan Ljubljana.

Menginap di salah satu hotel, hanya dengan modal jalan kaki, sudah bisa liat ujung depan wisata mereka, dan membuat hati menjadi super bahagia. Yang paling menarik adalah 3 Bridges. Jembatan ini terdiri dari 3 jembatan yang hanya melintas sungai yang tidak terlalu deras. Mirip sungai ciliwung Jakarta. Sebenarnya jembatan di Indonesia pun menarik. Tetapi kurang dibuat nyaman untuk pejalan kaki.

Keindahan melintas 3 bridges Ljubljana di dukung oleh udara nan bersih dan sejuk. Tidak kumuh. Sehingga deretan pedagang kaki lima pun malah membuat kota menjadi warna warni. Termasuk pasar tradisionalnya. Bersiiih. Tidak buang sampah semarangan. Variasi warna buah yang dijual menjadi keindahan tersendiri. Juga bunga. Begitu ditata rapih, membuat segar dimata.

Ndak jauh dari pasar tradisional, langsung bisa naik sky lift ke atas bukit. Mau jalan kaki bakar lemak juga OK. Tapi aku lebih suka bakar dompet cari makanan enak.

Sesampai diatas bukit, bisa lihat pemandangan kota. Betah berlama ria hanya untuk berdiam melihat keindahan kota dari atas. Bisa dibayangkan jikala malam hari, pasti jaun lebih indah dengan kerlap lampunya.

Di bukit ini disediakan cafe café. Dan tentunya pasti ada Castle. Yang merupakan ciri khas Eropa.

Having rest dengan minum kopi serta ngobrol sama temen sesama partisipan Conference – wow sejuta banget memorinya. Tukar cerita terkait polemik negara masing masing, termasuk juga isu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan reaktor nuklir riset tentunya. Karena conference nya terkait bagaimana mengelola bahan bakar reaktor nuklir riset.

Balik lagi ke cerita Castle, yang selalu ada, hampir di setiap negara Eropa yang saya kunjungi. Mayoritas, selalu ada cerita terkait budaya kerajaan tentunya. Yang menarik untuk disimak dan ditengok. Dan membuat decak kagumku.

Satu cerita yang selalu ada, pasti Pertikaian Kekuasaan. Seperti Castle HohelZohlern di Jerman. Yang saling menghabisi nyawa kompetitornya.

Cerita sejenis, masih menjadi ide narasi menarik lho, sampai ke cerita di drakor K2 yg baru saja saya tamatkan. Perebutan HARTA.

Memantik pertikaian keluarga. Yang padahal, tanpa bertikaipun, sudah bisa hidup nyaman menurutku. Kesimpulannya, memang manusia itu SERAKAH. Tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Dan akhirnya, untuk selalu ber SYUKUR itu perlu kita dedikasikan ke diri sendiri dan juga lingkungan terdekat. Termasuk dalam mendidik anak.

Cerita pertikaian internal keluarga memang menarik untuk ditulis.
Tetapi membuat desir jantungku berlaju cepat karena ngeriii….

Karena sejarah ini, anakku yg semata wayang pernah berceloteh mengungkapkan rasa syukurnya sbg anak tunggal. Sambil tertawa, dia becanda, gak kudu berebutan harta katanya. Dan dia bercita juga hanya mempunyai anak satu, biar gak ribut katanya….

Pelajaran yang bisa ditarik dari cerita diatas, tetaplah selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, menjadi profesional, selalu meraih rekam jejak yang bermanfaat untuk sesama di lingkungan kita. Niscaya akan membuat kita bahagia.

Tapi, pendapatku…..kita bisa kok menjadi berguna untuk bangsa tercinta ini dengan tetap menjaga kelestarian BUDAYA leluhur BANGSA. Jangan mudah teracuni dengan budaya negara lain. Ini yang sangat menjadi musuh laten kita. Dengan menyilahkan budaya mereka merasuki keseharian kita, sudah pasti menjadi jaminan – kita terjajah secara pola pikir. Menjadi robot negara lain….hmmm….

Dalam teknologi pun demikian. Saya sih selalu miris kalau diantara kita berdiskusi masalah kecanggihan HP merk inilah, itulah… Miris karena tidak satupun yang digossipkan itu produk kita sendiri. Hiks.. Begitu juga dengan gosip terkait mobil. Apalagi ada wacana ke mobil listrik untuk Indonesia yang bersih di kemudian hari.

Tapi tidak untuk pembangkit listrik berbasis nuklir. Anak bangsa ini sudah tercatat sebagai penghasil desain PLTN lho di Oktober 2020 ini. Keren kan… Diam tapi PASTI. Dan hasilnya, membanggakan bangsa Indonesia. Ndak usah gembar gembor anti PLTN. Anak bangsa ini sudah mampu kok. Jangan lagi menginjak, atau meragukan kemampuan milenial bangsa ini. Hanya untuk bisa menjadi monopolis energi selama hayat. Bangsa ini butuh saling bergandengan tangan untuk ketahanan energinya. Untuk negara ini menjadi negara besar nan maju industrinya.

Tercatatnya desain PLTN merah putih dengan nama Reaktor Daya Eksperimental (RDE). Adalah pecah telur. Prestasi yang pertama setelah 60 tahun berkiprah di dunia nuklir. Tepatnya buku ARIS IAEA. Advanced Reactor Information System, dari International Atomic Energy Agency. Yang dilepas pada bulan Oktober 2020.

Mengapa kami berikan nama PeLUIt?
Karena jenis PLTN ini adalah Pembangkit Listrik dan Uap untuk Industri, PeLUIt. Selain listrik, juga uap panas dengan temperatur 573C. Bisa menggandeng fasilitas pengelolaan industri lainnya yang butuh injeksi uap panas tinggi, sepeti pengolahan mineral. Di Indonesia timur banyak tambang mineral yang harus diolah menjadi bahan jadi, dengan menggunakan smelter. Butuh panas tinggi.

Jika mencintai negeri ini, pakailah hasil desain anak bangsa sendiri. Jangan selalu terkagum dan berdecak dengan teknologi asing. Perbanyaklah frekuensi detak jantung untuk mengagumi hasil kerja anak bangsa. Siapa lagi yang bisa mengangkat bangsa ini, jika tidak dari diri kita sendiri.

Memang tidak mudah membawa budaya untuk mencintai produk dalam negeri di bumi pertiwi ini. Butuh usaha yang super duper untuk meyakinkan para gurita besar. Tapi jangan pernah menyerah untuk terus berprestasi dan membangun negeri ter-CINTA.

Penulis: Dr Geni Rina Sunaryo, alumnus Tokyo University, Jepang

#Yuk_Bangun_Industri_Nasional
#Indonesia_Pasti_BISA

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA