by

Gendis

Cerpen Simon Syaefudin

KOPI, Bekasi – Pandemi corona tak hanya bikin aku parno. Tapi juga ganko. Yang pertama, bikin capek karena di mana-mana aku paranoid. Yang kedua, bikin senang karena di mana-mana banyak gadis cantik mirip londo (ganko).

Aku sempat mikir, kenapa tiba-tiba banyak gadis cantik buka lapak pinggir jalan di Bekasi. Ada yg buka lapak makanan kering. Masakan serba pepes. Aneka boneka lucu. Busana lebaran. Hape murah tak bermerk. Jam tangan kawe. Macam-macam.

Menariknya, rata-rata penjualnya cantik. Ramah dan bicaranya tertata. Mereka kelihatan terpelajar. Aku pikir, ini korban PHK dari perusahaan karena pandemi corona.

Jumat sore kemaren, aku mau beli pepes ikan emas. Untuk buka puasa. Begitu aku
ketemu lapaknya di depan Bank BRI Perumnas Tiga Bekasi, weih aku sampai lupa mau beli ikan pepesnya. Penjualnya ternyata cantik sekali. Tinggi semampai. Kuning langsat. Hidung Bangir. Bibirnya merah ranum seperti merah buah kepundung. Rambutnya kecoklatan. Matanya hitam agak kebiru-biruan. Dengan busana batik coklat muda bercorak klasik, gadis itu lebih cantik dari Nia Ramadhani. Hebatnya lagi, jika Nia Ramadhani tidak bisa membuka kulit buah salak, gadis ini malah jualan pepes ikan. Luar biasa.

Sengaja aku tak membuka masker hijau dan kaca mata coklat bening agar leluasa menikmati kecantikannya.

“Teh, ada pepes ikan emas?”
“Ada A.”
“Berapa harganya?”
“35.000 rupiah “
“Dua biji Teh.”

Kusodorkan uang 100.000. Setelah pepes berpindah tangan, aku langsung pergi.
“Kembaliannya untuk Teteh aja,” kataku sambil memacu Honda ADV-250 ku yang macho.

Hari berikutnya, Sabtu aku datang lagi.
“Ada pepes ikan kembung Teh?
“Ada. Beli berapa biji A? Satunya 20 ribu.”
“Tiga aja Teh.”

Kusodorkan uang 100.000, lalu aku pergi. Kembaliannya untuk Teteh aja — kataku setelah nangkring di motor. Oh ya Teh, besok tolong buatkan pepes ikan patin lima biji yang beratnya masing-masing setengah kilo. Ada teman minta pepes ikan
patin — kataku sebelum memacu motor.

Hari Mingggu sore, dari rumah aku sudah siapkan uang satu juta rupiah utk bayar pepes patin. Uangnya aku masukkan amplop.

Begitu sampai di lapak gadis cantik itu, aku langsung mendekat. Ia sudah membungkus pesanananku. Aku segera memberi amplop.

“Teh, kalau uangnya kurang, ngomong aja. Nanti besok aku mo beli pepes ikan lagi. Sekalian nglunasi kekurangannya,” kataku sebelum meninggalkan lapak.

“Baik A, makasih,” katanya sambil tersenyum.

Jam 10 malam tiba-tiba ada WA masuk di hape Vivo V19-ku. Siapa nih? Setelah kubaca, ternyata dari penjual pepes ikan yang cantik itu.

“Aa Dino, aku Gendis Van Bruinessen, pedagang masakan serba pepes. Kartu nama AA tertinggal di amplop. Oh ya A, uangnya sudah aku hitung. Tapi kurang A. Jadi besok AA ke lapak ya. Akan aku beritahu kekurangannya.”

Ya Tuhan. Rupanya aku lupa memeriksa dalaman amplop yang tergeletak di meja laptop. Ternyata kartu namaku tertinggal di sana. Tapi ya sudahlah. Ini namanya blessing in disguisse. Aku jadi kenal Gendis. Gadis cantik indo itu.

Deg..deg..deg…dadaku berdetak kencang setelah baca WA. Aku kaget. Lantaran, pertama, gadis cantik itu akhirnya tahu namaku. Dia berani me-WA aku. Kedua, mosok sih lima pepes patin harganya lebih dari satu juta rupiah? Mahal amat. Tapi ya, gak apa-apa. Uang sejuta rupiah tak ada artinya bila aku bisa mengenal Gendis lebih jauh.

Senen sore aku meluncur lagi ke lapak Gendis. Ia langsung menyambutku dengan meyebut namaku.

“Mau pepes apa lagi Aa Dino?”
“Aku mau pepes gendis aja.” Kataku bercanda.

“Ada A pepes gendis. Kebetulan masih fresh.”

“Wah, mau aku. Pasti enak sekali. Pepes Gendis pasti manis. Apalagi gendis yang terbuat dari kelapa. Baunya harum dan manisnya menyehatkan.”

Gendis tersenyum. Giginya yang putih tertata rapi terlihat sangat indah ketika bibirnya terbuka.

“Tapi A, aku bukan gendis Jawa Lo. Aku gendis Sunda. Kan beda rasanya.”

“Gendis Sunda kata MAW Brouwer lebih enak.” Kataku sekenanya.

“Lo, Aa Dino pernah baca kumpulan tulisan MAW Brouwer!”

“Waktu SMP aku suka baca tulisannya di koran Kompas. Enak bahasanya. Logikanya kadang mengagetkan.”

“Aa, Brouwer itu masih saudara ayahku dari kakek. Maksudku kakek ayahku Van Bruinessen dan kakek Brouwer adalah kakak beradik. Jadi masih saudara ‘kan. Beliau lama di Indonesia. Dan suka menulis di koran,” jelas Gendis.

“Aku ini lahir di Bandung. Tapi namanya kejawa-jawaan, Gendis. Nama Gendis itu pemberian dari Brouwer. Pas waktu aku lahir beliau sedang berada di rumah orang tuaku di Bandung. Jadilah Brouwer mengusulkan nama Gendis. Soalnya dia suka sekali gula Jawa atau gendis.

Batinku, pinter gadis ini. Mungkin karena sedarah dengan Brouwer. Kutatap wajahnya. Ternyata makin nggemesi saja.

“Aku mo beli ikan mas pepes lagi Gendis. Masakanmu enak. Ngangeni seperti penjualnya. Beli tiga ya.”

“Bisa saja Aa Doni. Wartawan emang pinter ngarang,” ujarnya sambil mengedipkan mata. Gendis tahu aku wartawan karena di kartu namaku tertulis profesiku sebagai wartawan.

Kuberi uang 200 ribu pada Gendis. Tiba-tiba begitu aku mau pergi, ia memanggilku. Gendis memberi amplop kecil warna merah muda.

“Aa Dino, ini kekurangan bayar pepes patinnya. Rinciannya ada di amplop.”. Katanya sambil mengulurkan amplop cantik bergambar bunga mawar.

Sampai rumah, kubuka amplop dari Gendis. Lo kok, gak ada rincian kekurangan bayar pepes patinnya? Yang ada, malah baris-baris kalimat tulisan tangan Gendis yang rapi jali.

Mataku terkejap-kejap ketika membaca surat Gendis. Saking kagetnya. Kayak mimpi.

“Aa Dino, perasaan wanita itu sedalam samudra. Pertama aku kenal Aa Dino (waktu itu belum tahu namanya, Jumat sore pekan lalu), aku sudah merasa jatuh cinta pada Aa. Entah kenapa. Gendis juga tak mengerti. Tiba-tiba saja, tatapan mata Aa saat bertemu pertama kali dengan Gendis, sulit sekali dilupakan. Tatapan mata Aa meski tertutup kacamata coklat, tapi Gendis melihatnya. Aku merasa pernah melihat Aa, entah di mana. Kalau tidak di Yogya, karena Gendis kuliah di FEB UGM, atau di Bandung karena Gendis lahir di Bandung, mungkin di Bombay. Kata Papahku almarhum yg percaya reinkarnasi, aku dulu hidup di Bombay, India dan punya suami tampan bernama Raja. Aku merasa, Aa Dino adalah Raja — suamiku dulu di Bombay 1500 tahun lalu. Ah ini sulit dipercaya. Tapi nyata A. Ayahku sering menceritakannya. Oh ya A Dino, bolehkah aku videocall nanti malam dengan Aa? Aku sebenarnya ingin ngobrol langsung dgn Aa, tapi karena pandemi corona, kita lebih baik ngobrol di WA videocall aja. Nanti malam jam 22 aku VC Aa ya. Miss U. Gendis.”

Ya Allah. Perjalanan hidup kadang tak terduga. Gendis ternyata menyukaiku. Jujur, pertama lihat Gendis, aku pun langsung jatuh cinta. Gendis sepertinya gadis impianku. Ibuku yang cantik Mamah Mona almarhum pernah menyarankan aku menikah dengan gadis yang mirip Gendis. Waktu itu Mamah melihat bintang film India, Hema Malini, dari majalah yang aku bawa. Ibuku langsung menunjuk gadis itu dan memberitahu kalau aku pilih istri, sebaiknya cantik seperti dia. Kini, wajah cantik yg mirip Hema Malini seperti ditunjukkan ibuku, ada pada diri Gendis.

Jam 22 hapeku berdering. Foto Gendis yang cantik muncul di layar HP.
“Assalamualaikum Aa Dino.”
“Waalaikum Salam Teteh Gendis.”
Ia tersenyum. Di layar hape wajah Gendis kelihatan lebih cantik. Ia pakai rok warna biru muda dg leher terbuka. Antingnya yang bertatahkan berlian menghiasi telinganya yang bening.

“Bolehkan Gendis bercerita langsung saja tanpa basa basi kepada Aa?”

“Mangga. Aa senang Gendis bercerita apa adanya. Aa suka Gendis kok.”

“Ah, Aa suka merayu. Tapi Gendis senang kok dirayu Aa. Begini Aa. Kenapa Gendis jualan pepes ikan? Ya itu, jalan keluar sementara setelah Gendis kena PHK. Gendis sebelumnya bekerja sebagai manajer Humas di Hotel Raffles, Jakarta. Tapi karena tamu sepi saat ini, aku kena PHK. Manajemen Hotel sudah tak punya uang untuk menggaji karyawan. Aku dapat pesangon sedikit. Aku pakai untuk jualan pepes ikan. Aku punya tiga lapak. Di Perumnas Tiga. Di Jatiwaringin. Dan di Wisma Asri. Aku menunggu sendiri di Perumnas Tiga karena rumahku dekat. Di Taman Kebayoran Tambun.’

“Oh dekat dengan rumahku di Perumnas Tiga.” Kataku agak terkejut. Taman Kebayoran hanya dua ratus meter dari rumahku.

“Gendis sudah berkeluarga?”

“Itulah yang ingin aku ceritakan pada Aa. Suami Gendis, Efron Efendi, sebulan lalu meninggal A. Karena corona. Sedih sekali. Aku juga tertular A. Positif Corona. Gendis diisolasi di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Untung Gendis sembuh. Alhamdulillah A.”

“Aku ikut sedih Gendis. Semoga suamimu mendapat tempat terbaik di sisi Allah.”

“Terimakasih A atas doanya.”

“Gendis sudah punya anak?”

“Belum A. Gendis baru menikah satu tahun. Rencana Gendis ingin punya anak setelah dua tahun menikah. Tapi ketentuan Tuhan tak bisa dihindari. Suamiku meninggal.”

“Aa sendiri bagaimana? Sudah punya istri?’

“Sudah. Aa sudah punya anak dua. Tapi istri Aa itu aneh.”

“Apa anehnya A?”

“Istriku mengizinkan Aa nikah lagi. Bahkan bila perlu tinggal serumah. Soalnya istriku anak bungsu. Dari dulu dia ingin punya adik perempuan. Itu cita-citanya yg belum terwujud sampai sekarang. Istriku pernah bilang ke Aa, boleh nikah lagi. Asal istri keduanya cantik dan lebih muda dari dia. Terus bisa bahasa Sunda. Nanti akan dianggap sebagai adik sendiri.”

“Ha? Baik sekali istrinya Aa.”

“Ya begitulah Gendis. Wanita kadang-kadang punya pandangan yg unik.”

“Kalau begitu, Aa tolong katakan pada Teteh, Gendis siap jadi adiknya.”

Ha? Aku terkejut sekali.

“Terimakasih Gendis. Aku suka sekali dengan keterus-teranganmu.”

“Makasih kembali A Dino. Aku juga suka dengan kebaikanmu.”

Tampak wajah Gendis makin berbinar di layar HP. Kusentil hidungnya. Lalu kucium. Gendis tesenyum manja. Tangannya berusaha memelukku. Tapi tak bisa. Karena belum ada aplikasi virtual yg memungkinkan kami berpelukan di layar hape.


The End.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA