by

Gendis (3)

Cerbung Simon Syaefudin

KOPI, Jakarta – Masakan pepes tiap hari tersedia di meja makan. Anakku, Melati dan Gading, ternyata suka dengan menu pepes. Meski tiap hari pepes tersedia di meja, tapi habis terus. Istriku, Yanti, juga suka pepes, terutama pepes ikan mas.

“Pah, pepesnya enak ya pah. Sekarang tiap hari papah beli masakan pepes. Tumben. Padahal sebelum-sebelumnya papah jarang beli pepes ikan. Tapi sekarang rajin beli pepes. Malah teman-teman papah dibelikan pepes ikan patin segala.” Ucap Yanti dengan ekspresi datar.

“Iya mah. Papah suka pepes belakangan ini. Papah baru tahu kalau pepes itu makanan sehat. Semua kandungan gizi makanan pepes tak ada yg terbuang. Beda kalau digoreng atau direbus. Kandungan gizinya banyak yang ambyar.”

“Apa pah. Ambyar?” Istriku tertawa mendengar penjelasanku.

“Ambyar itu kan sahabatnya Didi Kempot, The God Father of Broken Heart.” “Papah nih pinter molak-malik bahasa. Mosok kata ambyar masuk dalam narasi pepes. Ada ada aja,” kata Yanti. Aku berharap, masakan pepes benar-benar tidak membuat ambyar gizi keluarga kita — tambahnya sambil mesem.

“Sayang ya pah , orang sebaik di Didi Kempot usianya tidak panjang. Hanya 53 tahun. Coba usianya seperti Rhoma Irama yg tembus 70 tahun lebih. Pasti asyik.” Ujarnya sambil mencuil pepes ikan mas di meja makan.

“Bagi mamah, Didi Kempot dan Rhoma Irama itu sama. Dua-duanya legenda. Keduanya maestro musik. Dan keduanya punya istri lebih dari satu.” Istriku mulai mancing-mancing. Aku tahu maksudnya.

Tapi aku pura-pura bersiksp biasa saja. Karena faktanya memang begitu. Mau apa lagi. Meski istriku pernah bilang aku boleh nikah lagi asal dengan wanita Sunda, cantik, dan umurnya lebih muda darinya agar bisa dijadikan adiknya — tapi tetaplah, hati wanita pasti terluka kalau diduakan.

Karena itu, jika ada wanita mempersilahkan suaminya nikah lagi, pasti ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang disembunyikan. Tapi mengorek hati wanita Jawa atau Sunda agar terus terang mengemukakan isi hatinya, lebih sulit dari menemukan vaksin corona. Beda dengan Gendis. Dia bisa terus terang karena Gendis berdarah Barat. Aku membatin.

“Ayo kita makan pah. Mamah sudah bikin orek oncom bandung. Pas untuk mendampingi pepes ikan.” Ujar Yanti tenang. Tapi matanya kelihatan menyimpan sesuatu.

“Oncom bandung itu enak pah. Seperti mojang kota kembang. Enak dipandang.”

Aku mulai menangkap sesuatu. Kata-kata Yanti sedikit-sedikit mulai mengarah pada misteri yang akan terbedah. Aku tahu betul sifat Yanti. Ia peka sekali. Perasaannya sangat halus, mampu menembus tembok tebal rahasia. Seperti radiasi gamma.

Pernah suatu ketika, aku pulang kantor terlambat. Sampai rumah pukul 12 malam. Ia langsung tahu kenapa aku telat pulang. Yanti bilang, awas pah, reuni dengan mantan itu bisa membawa bencana keluarga. Tepat sekali tebakannya. Aku memang terlambat pulang karena mantan pacarku waktu kuliah di UGM, Sri Lestari dari Sastra Inggris, ngajak bertemu di cafe Ngalam, Senayan. Dia kangen makan bakso Malang denganku. Dulu waktu pacaran di Yogya, aku dan Sri sering makan bakso Malang di jalan Kaliurang Km 5.

“Kok rasa oncom bandungnya agak manis mah. Kenapa?” Tanyaku pada Yanti penasaran.

“Oh ya, pah. Aku tadi nambahin gula kelapa sedikit saat masak orek oncomnya. Supaya rasanya enak. Biasanya sih pakai gula pasir. Tapi tadi nyoba pakai gula kelapa. Kata orang Jawa gula kelapa itu namanya gendis.”

“Byar. Mulutku ternganga. Hampir kepencok. Istriku tahu nama Gendis. Tadi ia bilang tumben beli pepes tiap hari. Terus nyinggung oncom bandung. Sekarang sampai mengucapkan kata Gendis.”

“Kok papah berhenti makan? Ada apa?”

“Aneh aja. Mosok orek oncom dikasih gula Jawa.”

“Tapi papah suka gula Jawa kan? Papah suka gendis kan?”

Ha? Hatiku bergejolak. Rahasia terbuka. Radar Yanti ternyata sudah mendeteksi Gendis, mojang Bandung yang cantik itu. Aku salah tingkah. Tanpa permisi, akuu masuk kamar sebentar. Mengambil hape.

“Yanti, sayang. Dengarkan suara dari hape papah.”

“Baik pah, mamah siap mendengarkan.”

Suara Metrotivi yang mengumumkan pelarangan mudik , langsung Yanti matikan. Istriku serius sekali mau mendengarkan suara dari hapeku.

“Aa Dino, aku mau kok kalau papah nikah lagi. Tapi ada syarat. Pertama dari Sunda dan bisa berbahasa Sunda. Kedua cantik. Ketiga, umurnya lebih muda dari mamah. Aku anak bungsu pah. Rindu punya adik. Nanti dia akan aku anggap adik sendiri.”

Istriku kaget sekali mendengarkan rekaman hapeku. Ia terdiam sebentar. Mulutnya terkatup. Mungkin ia tak menyangka aku merekam suaranya. Aku pun langsung memecahkan keheningan itu.

“Maaf ya sayang. Saat Mamah bilang seperti itu, papah merekamnya. Dan mamah dua kali menyatakan hal yang sama di saat yang berbeda. Berarti mamah serius kan ingin punya adik?”

Istriku terdiam. Mungkin tak menduga aku merekam suaranya. Wajah Yanti yang semula tegak karena merasa bisa membongkar rahahasiaku berhubungan dengan Gendis, kini tertunduk. Ia tahu suara di hape itu berasal darinya. Tanpa rekayasa sedikit pun.

“Baiklah Pah. Papah menang. Dan mamah konsisten. Mamah sudah tahu siapa Gendis. Mamah memang pernah mengucapkan hal seperti itu. Mamah berpikir Gendis memang cocok untuk kriteria calon adikku. Semua persyaratan memenuhi. Bisa berbahasa Sunda, cantik, dan lebih muda dariku. Lebih dari itu semua, Gendis pun siap menjadi adikku.”

Ya Allah, akhirnya istriku sudah tahu semua. Ia juga tahu Gendis mau menjadi adiknya. Perasaannya yang halus mampu mendeteksi getar-getar gelombang suara yang paling lembut sekali pun. Yanti rupanya bisa membaca suara hatiku. Dan ia konsisten dengan apa yang pernah diucapkannya. Duh Gusti…..aku makin mencintai Yanti. Tapi aku juga menyintai Gendis. (Bersambung)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA