by

Memilih Hidup dan Berumah di Mobil

Oleh: Denny JA

KOPI, Jakarta – “Saya tidak homeless. Saya houseless. Memang saya tidak punya rumah bangunan seperti orang kebanyakan. Tapi saya punya rumah juga. Rumah saya adalah hati saya. Dan hati saya memilih hidup dan berumah di mobil.”

Demikian, Fern menjelaskan situasinya kepada ponakan bocah. Dulu Fern mengajarkan puisi kepada bocah itu. Hingga remaja sang bocah tetap hafal puisi itu luar kepala.

Namun sang bocah yang cerdas itu sedih. Ibunya menyatakan entah Bibi Fern kini ada dimana. Ia tak pernah menetap. Ia seorang nomad, tak punya rumah.

Fern mencoba riang di hadapan bocah ponakan. Ia menutup rasa sedih.

Fern tak sedih harus menetap berumah di dalam Van, di mobil itu. Tapi Ia sedih, merenungkan awal dan penyebab Ia berumah di dalam mobil.

Kesedihan Fern sangat tergambar di wajahnya. Walau Ia coba tutupi.

Cukup apik Frances McDorman memerankan Fern. Tak heran, Frances memenangkan Aktris wanita terbaik meraih Oscar tahun ini.

Dan Film Nomadland juga terpilih sebagai film terbaik pemenang Oscar tahun 2021.

-000-

Film ini dibuat berdasarkan buku non-fiksi: Nomadland, Surviving Amerika in Twenty First Century (2017). Buku ini ditulis oleh Jessica Bruder. (1)

Film ini tak hanya mengangkat kisah sebenarnya. Tapi tiga tokoh sebenarnya, yang hidup di mobil, ikut menjadi pemain dalam film ini.

Salah satunya adalah Bob Wells. Ia mungkin “nabi” bagi warga negara yang kini memilih hidup di mobil.

Bob Wells bermain memerankan dirinya sendiri. Ia mengajarkan hidup secara minimalis. Ia melukiskan dirinya secara politik sebagai orang “Far Left.” Yaitu posisi ideologis yang kiri ekstrem secara budaya.

Ia melawan gaya hidup modern kapitalistik. Ia tidak melawan dengan cara memimpin demo ke istana.

Tapi Ia mempropagandakan gaya hidup yang berbeda. Hidup secara minimal. Hidup secara nomadik. Hidup secara apa adanya di dalam mobil.

“Apa yang kau miliki, juga memilikimu. Karena itu, raihlah kebebasanmu dengan hanya memiliki sesedikit mungkin.”

-000-

Di halaman parkir mobil yang luas itu, Fern bicara empat mata. Dari hati ke hati. Ia mencari waktu bertemu Bob Wells.

“Kematian suamiku mengubah hidupku. Hilang sudah matahariku.”

“Hidup seperti ini, pindah dari sini ke sana, tak menetap, sesuai dengan hatiku. Entah aku berlari. Atau gelisah. Entah sampai kapan.”

Bob Wells menyatakan hal sama. Ujar Bob Wells, kita harus mulai dengan menerima situasi. Bahwa gaya hidup yang kita pilih berbeda dengan orang kebanyakan.

Bob Well menatap angkasa. Lirih Ia berkata. “Sangat jarang aku berterus terang, ujar Bob Wells. “Bahkan mencari kalimat lengkap untuk itu aku gagal.”

“Tapi kematian anakku sungguh berat. Kadang aku menyesali. Tak adil aku hidup. Sementara anakku tak lagi hidup.”

“Akhirnya kuhabiskan waktu mencari makna hidup. Kutemukan dengan cara menolong orang lain. Memberi pengetahuan dan kekuatan kepada mereka yang memilih hidup secara nomadik, hidup dan berumah di mobil.”

Di dunia nyata, Bob Wells menyelenggarakan festival tahunan bagi para nomadian modern, yang hidup di mobil.

Ia membuat pertemuan tahunan yang disebut: Rubber Tramp Rendezvous.

Di tahun pertama, 2010, hanya 45 peserta yang hadir dengan rumah mobil masing masing. Tapi di tahun 2019, yang hadir 10 ribu peserta dengan mobil rumahnya. (2)

Pertemuan ini tercatat terbesar sepanjang sejarah untuk jenis itu. Dalam festival tahunan, aneka tips untuk hidup survive di mobil diajarkan.

Tak lupa Bob Wells sendiri menyampaikan filsafat hidup minimalis, yang Ia yakini.

Selalu ada ruang “give away” dalam pertemuan itu. Siapa saja yang ingin membagi barangnya kepada sesama Vandwelling, di sediakan ruang khusus.

-000-

Tengah malam, kala sendiri, Fern acap goyah. Rasa sepi di hati tak hendak pergi. Kadang Ia pandang lagi foto suaminya. Itu foto yang selalu Ia bawa.

Beberapa kali orang orang yang menyayanginya, dan yang Ia sayangi, menawarkannya untuk kembali hidup normal.

“Tinggalah di sini, kak. Ada lubang di hatiku setiap kali memikirkanmu. Ini kamarmu.”

Demikian adiknya membujuk. Berkali- kali.

Yang paling berat ajakan teman dekatnya. Ia lelaki sesama komunitas Vandwelling. Ini istilah untuk mereka yang hidup di dalam Van.

Lelaki itu sudah menjadi sahabat. Fern ikut merawatnya ketika Ia sakit. Lelaki itu pula ikut mencarikan kerja musiman untuk Fern.

Acapkali mereka nikmati malam bersama, sepulang kerja. Tukar cerita kisah derita masing masing. Di masa lalu.

Kini lelaki itu memilih menetap di rumah lamanya yang asri. Dekat dengan alam.

Ujar lelaki itu, “aku memilih menetap lagi di rumah ini. Tinggalah bersamaku. Ada pavilion di sana. Kau bisa tinggal di situ.”

“Kau pasti merasa. Aku menyukaimu. Keluargaku sudah pula tahu. Mereka menerimamu. Tinggalah bersamaku.”

Lama Fern gelisah dengan tawaran itu. Hidup di dalam mobil juga tak seindah yang Bob Well kampanyekan.

Apalagi kadang Ia tak punya uang. Mobil rusak. Ban pecah di tengah jalan. Usia juga semakin tua.

Fern teringat sahabatnya yang lain. Juga sesama Vandwelling. Kini sahabat itu wafat, dalam kesendirian.

Fern melihat cincin di jarinya. Suaminya walau sudah wafat, tetap Ia hadir-hadirkan. Akankah Ia terima pinangan cinta lelaki itu. Lalu hidup normal kembali di rumah.

Entah mengapa. Fern menangis. Ia menangis saja.

Itulah jawaban Fern. Pagi-pagi, Ia pergi dari rumah lelaki itu. Ia nyalakan mobilnya. Yang juga menjadi rumahnya.

Fern kembali pergi. Kali ini entah kemana. Hatinya tetap sepi. Tapi cinta pada suami, walau sudah wafat, tetap Ia bawa serta.

Selesai menonton film ini, saya terpana. Rasa sedih yang dominan di film itu menyelinap di hati. Sedih. Juga sepi.*

April 2021

Catatan:

(1) Buku yang menjadi sumber film Nomadland:
Surviving America in Twenty First Century (2017)

https://www.amazon.com › Nomadl…Nomadland: Surviving America in the Twenty …

(2) Bob Wells, sang inspirator hidup di dalam mobil

https://en.m.wikipedia.org › wikiWeb resultsBob Wells (vandweller) – Wikipedia

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA