by

Gendis (4)

Cerbung Syaefudin Simon

KOPI, Jakarta – Setelah tahu hubungan Dino dengn Gendis, lalu rekaman suara Yanti yang membolehkan suaminya nikah lagi, kini wanita cantik asal Tasik itu menghadapi dilema. Sebagai wanita, jelas ia tak suka dimadu. Mana ada wanita yang mau dimadu di seluruh jagad ini? Tak ada. Aisyah saja cemburu kepada istri-istri Rasulullah Muhammad yg lain. Padahal Aisyah istri Rasul Tuhan lo! Yang imannya seluas langit. Apalagi Yanti, manusia biasa. Jika Dino nenyunting Gendis, niscaya hatinya pedih. Pedih sekali. Karena cemburu.

Di pihak lain, Yanti sadar diri. Ia dari dulu ingin punya adik. Tapi gak keturutan. Sampai ia bernadzar: rela jika sang adik itu jadi istri kedua suaminya. Nah, sekarang ada orang yang bersedia menjadi adiknya. Tentu ia sangat senang.

Yanti juga merasa merasa tak muda lagi. Usianya 40 tahun. Ia kecapekan karena harus menyediakan makanan yang menunya khas, kesukaan Dino. Menu ini tak ada yg bisa membuatnya kecuali Yanti. Lagi pula, Dino adalah tipe orang yang hanya mau meniknati makan kalau istrinya yg masak. Dino tidak antusias makan kalau pembantunya yang masak.

Tapi lebih dari itu semua, Yanti merasa ada sesuatu yang tidak beres di tubuhnya sejak tiga tahun lalu. Ia cepat lelah, capek sedikit badannya meriang, dan nafsu seksnya menurun. Yang terakhir ini, menjadi alasan tambahan mengapa ia mengizinkan Dino menikah lagi. Supaya secara seksual, suaminya terpuaskan. Bukanlah kepuasan seks akan menambah keharmonisan keluarga?

Dalam dilema itu, Yanti memilih jalur aman dan damai. Ia menanggalkan egonya. Menerima kehadiran orang kedua dalam rumah tangganya. Konsisten terhadap pernyataannya — sebuah nadzar yang wajib hukumnya untuk ditunaikan.

Yanti harus menekan rasa sakit di hatinya; berusaha menenangkan dirinya, bahwa Tuhan mengizinkan seorang pria muslim untuk mempunyai istri lebih dari satu. Bahkan sampai empat. Memang saratnya berat, sang pria harus mampu bersikap adil terhadap istrinya. Tapi Yanti yakin Dino mempu bersikap adil terhadap kedua istrinya.

Kehidupan rumah tangganya bersama Dino yang sudah berjalan 15 tahun cukup memberikan keyakinan kepada Yanti, bahwa suaminya orang yang baik, bisa berbuat adil. Jadi terlalu naif jika ia menolak istri kedua suaminya. Apalagi calon istri kedua Dino adalah Gendis. Wanita yang memenuhi semua syarat Yanti untuk menjadi adiknya.

“Pah sebaiknya segera melamar Gendis. Aku sarankan A Dino melangsungkan pernikahan tanggal 17 Ramadhan saja. Itu hari istimewa Pah. Hari diturunkannya kitab sucil Alquran. Aku yakin pernikahan di bulan Ramadhan akan diberkati Allah.” Kata Yanti mengejutkanku.

” Kok cepat sekali sayang?”

“Perbuatan baik itu menurut hadist Nabi harus segera dilaksanakan. Jangan ditunda-tunda.” Kilah Yanti.

“Hari ini 15 Ramadhan. Nanti malam ba’da Isya, kita melamar Gendis. Aku yang melamarkannya untuk A Dino. Aku ikhlas dan bahagia A. Membahagiakan suami adalah tujuan utama pernikahanku.” Sambung Yanti serius. Ia menatapku dg mata berbinar. Tandanya hatinya sudah menerima kenyataan dgn tulus. Bila sudah demikian, yang ada di hatinya hanya rasa bahagia. Bahagia karena menyenangkan suami. Dan itu terlihat dari matanya yang berbinar.

Ya Allah, keberkahan apa lagi yang akan Engkau berikan kepadaku? Sungguh ini peristiwa yang tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan dalam mimpi sekali pun. Istriku yang masih muda dan cantik melamarkan seorang wanita yang masih sangat muda dan cantik untuk madunya.

Aku akan tercatat sebagai orang beruntung dalam berumah tangga di dunia. Prestasi gemilang Prof. Baroroh Baried — tokoh Muhammadiyah dan perempuan pertama yang menjadi Guru Besar di Indonesia — dalam hal melamar wanita muda untuk suaminya terpecahkan. Yang memecahkan rekor Prof. Baroroh Baried adalah wanita cantik, mojang Priangan. Namanya Yanti Cipta Hasananingrum. Istriku tercinta.

Yanti segera berdandan. Ia memakai setelan batik coklat muda dengan motif klasik. Kerudungnya juga berwarna coklat muda dengan aksesori warna mutiara. Tak kalah cantik dibandingkan Gendis. Bedanya, wajah cantik istriku lebih menyerupai indo-hindustan, sedangkan Gendis indo-eropa.

Aku pun segera berpakaian. Aku cukup pakai baju batik bermotif Megamendung, khas Cirebon. Warnanya coklat muda agar serasi dengan Yanti.

Sampai di Perumahan Taman Kebayoran, Tambun, aku dan Yanti langsung menuju rumah Gendis. Gendis tinggal sendirian, hanya dengan asisten rumah tangganya. Ketika aku mengetuk rumahnya, Gendis keluar dengan busana batik motif kontemporer warna biru bergambar bunga tulip dan kincir angin. Batik yang menggambarkan negeri Belanda, kelahiran nenek moyangnya, Van Bruinessen. Mata birunya sengaja ia perjelas dengan eye shadow warna ungu, mungkin untuk menunjukkan etnis Nordik-nya yang terkenal pemberani itu.

Begitu pintu terbuka, Gendis langsung memuji Yanti. “Wah cantik sekali Teteh. Tak kalah cantik dari Marissa Haque.” Ujarnya sumringah.

“Iya, Adikku Gendis juga cantik. Tak kalah dari Nia Ramadhani.” Yanti membalas pujiannya. Ketika kedua wanita cantik itu hendak berjabat tangan, aku langsung mengingatkan.

..”No …no…Don’t hand shake. Ini musim pandemi. Cukup bicara saja dengan jarak minimal 1,5 meter.”

“Oh I’am sorry A Dino,” kata Gendis.

“Papah sayang, aku juga minta maaf. Lupa saking senengnya ketemu adik baruku, Gendis.” Istriku mengucapkan hal itu dengan wajah tulus. (Bersambung)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA