by

Sri

Loading…

KOPI, Bekasi – Pagi buta, Sabtu, 23 Maret 2019, pukul 4.30.00, aku sudah sampai di terminal Jombor, Yogya. Salat Subuh di mushala terminal, lalu naik Gojek ke masjid Syuhada, asramaku dulu waktu kuliah di UGM. Mandi sebentar di masjid Syuhada, pukul 6.30 langsung ke Kridosono. Kulihat dua temanku Farid Mustofa dan Fauzi Rahman sudah ada di Kridosono.

Keduanya masuk ke dalam stadion, mungkin akan menata panggung hiburan. Kalau Farid, dosen Fulsafat UGM ini, jelas akan menata sound system karena dia memang ahlinya. Sedangkan Fauzi Rahman akan menata interior panggung hiburan. Maklumlah, alumnus IAIN ini, lebih dikenal sebagai arsitek rumah etnik ketimbang ahli tafsir hadist. Sudah ribuan rumah etnik ia bangun di seluruh Indonesia, termasuk galerinya pelukis Sapto Hudoyo.

Aku datang ke Yogya dengan antusias bukan hanya karena mau ikut deklarasi Jokowi for Presiden 2019-2024 – tapi juga karena mau bertemu mantan pacarku dulu, Sri. Aku tahu Sri mau datang ke acara deklarasi Jokowi for President (dari seluruh alumni Perguruan Tinggi se-Yogya) dari temanku, Denok.

Denok adalah temanku di HMI, yang juga teman sekos Sri, tapi beda fakultas. Denok dari Fakultas Farmasi. Sri dari ekonomi. Ia memberitahuku, kalau mau ketemu Sri, datang saja ke Yogya tanggal 23 Maret 2019. Kata Denok, Sri mau datang bersama anak tunggalnya, perempuan bernama Maya, yang kuliah di Fakultas Kedokteran UGM semester enam.

“Jiaahh…makasih Denok,” ujarku di WA. “Makasih. Makasih, sahabatku.”

Denok adalah teman curhat Sri. Juga teman curhatku. Ia benar-benar menjadi konsultan aku dan Sri ketika keluarga Sri menolak aku untuk melamar anak perempuannya itu.

Aku sudah lama sekali ingin berjumpa Sri. Sudah 22 tahun tak ketemu. Ya sejak dia dipingit untuk hanya meladeni suaminya yang ningrat itu. Aku pacaran dengan Sri cukup lama, 4 tahun. Sejak Sri tahun pertama di Ekonomi. Dan aku tahun ketiga di MIPA Kiamia UGM.

Aku hampir nikah formal dengannya. Tapi karena paksaan orang tuanya, agar Sri menikah dengan keluarga Kraton Yogya, aku tersingkir. Orang tuanya tak setuju. Soalnya, aku bukan keturuan ningrat. Aku ingat Gusti Bendoro Harjodiningrat, orang tua Sri pernah menegurku.

“Sri itu darah biru. Ndak bisa dicampur dengan darah merah. Nanti darahnya berubah jadi hitam,” kata Pak Harjo. Aku diam saja. Pura-pura planga-plongo agar Pak Harjo merasa hebat. Padahal dalam hati, weleh….weleh….anakmu itu, Sri, sudah kukucel-kucel seperti kucingku si Angel.

‘Sri’

Yang tak diketahui Pak Harjo, Sri sudah mau kuajak nikah siri. Supaya halal kalau ada apa-apa. Kan tidak tahu, orang pacaran itu kadang bisa tidur sekamar. Nah kalau nikah siri, itu kan sudah halal. Jadi tak merasa bersalah meski aku meluk dan nyium Sri sepuasnya. Bahkan lebih dari itu.

Sebulan sebelum Sri dilamar Raden Joko, pengusaha batik asal Yogya berdarah biru, aku sudah nikah siri. Yang menikahkan Farid Mustofa, saksinya Fauzi Rahman dan Ustad Sahidin. Sah! Sri sudah jadi istriku sebelum dilamar Raden Joko. Bayangkan, dalam sebulan itu, aku sudah menikmati “pagi-pagi” yang indah bersama Sri di rumahku. Kebetulan di Yogya aku ngontrak satu rumah di Sagan, hanya 700 meteran dari Fakultas Ekonomi .

Sri, kalau mau kuliah berangkat pagi-pagi dari rumahnya di Prawirotaman, langsung ke rumahku. Sebelum kuliah, aku bercumbu mesra dengan Sri. Aku suka wajah ningrat Sri dan kelembutan bahasa Jawanya. Kulit Sri yang sawo matang dengan tinggi 168 cm dan wajahnya yang mirip Ratu Hemas, membuatku tak bosan memandangnya. Rambutnya yang bergelombang yang dibiarkan menjurai hingga pinggang, menjadikan Sri seperti pesona lukisan perempuan kraton karya Sapto Hudoyo. Indah, unik, dan mempesona.

Tapi meski penampilannya lembut, kalau di ranjang Sri tak kalah dengan Miyabi. Ganas dan mampu bermain dengan bermacam-macam posisi. Dahsyat lo. Sri pun hapal ramuan untuk membakar nafsu seksual. Aku sering dibawakan ramuan kraton racikan Sri untuk meningkatkan vitalitas. Kalau habis minum ramuan Sri, aku bisa bertahan sampai satu jam nonstop. Sri pun mengaku bisa orgasme tiga kali dalam satu ronde. Luar biasa pinternya Sri meracik jamu kuat warisan kraton Jawa. Mungkin itu yang menyebabkan raja Jawa dulu punya selir banyak.

Sayang, semua keindahan hidupku bersama Sri berakhir ketika Sri dipaksa nikah oleh Pak Harjo – eh Gusti Bandoro Harjo – awal tahun 1997. Pak Harjo tak peduli, Sri sudah nikah siri denganku. Pokoknya harus pisah. Aku pun dipaksa keluarga Pak Harjo untuk menjauhi Sri, sepekan sebelum Sri dilamar Raden Joko. Meski Sri menolak dan menangis, Pak Harjo tak peduli.

Farid dan Denok bersaksi bahwa Sri sudah nikah siri denganku, tapi Gusti Bandoro Harjo tak peduli. Nikah siri baginya tidak sah secara hukum. Itu ilegal. Jadi, Sri masih dianggap gadis lajang. Sejak itu aku dilarang bertemu dengan Sri. Komunikasi pun terputus. Sri kemana-mana dikawal keluarganya, atau bodyguard suruhan Pak Harjo. Sri, wanita Jawa tampaknya tak berani menantang trah besarnya. Sejak itu aku tak pernah ketemu lagi dengan Sri, sampai Denok memberitahu bahwa Sabtu 23 Maret Sri akan menghadiri deklarasi Jokowi for President di Kridosono.

Jam delapan siang orang-orang berkaos Jokowi-Ma’ruf sudah berdatangan di Kridosono. Aku berdiri dipintu masuk, untuk bertemu dengan Sri. Pas pukul 08.30, Denok yang wajahnya tak asing lagi bagiku karena sering ber-WA-ria denganku melambaikan tangan. Ia tersenyum. Di samping Denok, aku lihat Sri yang tubuhnya agak gemukan sedikit. Tapi wajah ayunya masih tampak jelas. Di samping Sri, ada seorang gadis yang cantik. Anehnya wajahnya mirip ibuku, Mimi Sofia. Dalam hati, kok bisa ya, gadis di samping Sri mirip ibuku waktu muda.

Ibuku adalah wanita yang cantik. Tercantik di kampungku, Desa Tegalgubug, Arjawinangun, Cirebon saat itu. Aku anak pertama. Ibuku melahirkan aku saat usianya masih 16 tahun. Jadi kebayanglah, ketika aku SMA kelas satu saja, ibuku masih cantik. Dan anehnya, kecantikannya mirip gadis yang berjalan di sebelah Sri.

Begitu sampai di pintu masuk, tanpa basa basi Denok langsung bilang kepada Sri. “Hai Sri, masih ingat nih orang.” Sri kaget. Matanya berbinar.

“Ini mantanmu dulu. Masih ganteng ya!,” celoteh Denok kepada Sri.
Sri tersenyum. Lalu mengulurkan tangan, salaman denganku. Tangannya terasa ndregdeg.

“Bagaimana kabar Sri. Sudah 20 tahun lebih kita tak bertemu. Kau awet muda Sri. Masih cantik seperti dulu,” pujiku. Sri terdiam. Mungkin surprise. Bisa bertemu denganku.
“Bagaimana keluargamu?. Baik-baik?.” Ia hanya tersenyum. Tak menjawab. Tapi ekspresi wajahnya terlihat datar ketika kutanya kabar keluarganya.

“Anakmu berapa?”

“Hanya satu. Ini anakku. Namanya Maya.”

“Aku pun mengulurkan tangan. Berjabat tangan dengan Maya.”

Karena suasana sudah mulai ramai, aku tak bisa ngobrol lama-lama dengan Sri. Sebelum berpisah di pintu stadion, aku berbisik, nanti ita bertemu lagi.

“Aku tunggu di depan Gramedia, depan Korem Pamungkas pukul 14.30. Sekalian makan siang,” kataku. Sri mengangguk. Sri, Denok, dan Maya bergabung dengan teman-temannya sesama perempuan ProJo yang memakai kaos Jokma di depan panggung hiburan. Aku sendiri berdiri agak jauh dari panggung, ngobrol dengan Farid.

Usai Jokowi pidato dan mendengarkan musiknya Jadug sebentar , aku keluar dari Kridosono. Aku menunggu Sri di toko buku Gramedia. Pukul 14.30 Sri datang sendirian.

“Mana Denok dan Maya?”tanyaku.

“Mereka pulang bareng. Ada perlu. Denok mau ketemu temannya, Evi. Maya mau mengerjakan tugas bersama teman-teman satu fakultasnya di rumah,” jawab Sri.

“Sri kita makan siang dulu ya. Di resto Hotel Santika Premiere saja yang dekat dari sini,” kataku. Sri pun mengangguk.

Setelah mengambil menu buffet, aku mengajak Sri duduk di kursi yang terletak di sudut yang sepi. Suasana resto di Santika Hotel cukup sepi siang itu. Hanya ada lima orang di resto.
“Sri, kau bahagia dengan suamimu,” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

Ia kelihatan ragu menjawabnya. “Katakan saja, aku akan mendengarkannya dengan senang hati.”

“Tidak. Aku seperti di penjara. Aku sekarang sendiri mas. Suamiku meninggal karena penyakit jantung,” ujarnya sedih.
“Apa? Meninggal? Kapan?”

“Dua tahun lalu mas.” Aku ikut berduka cita Sri. Semoga arwah Mas Joko diterima di sisi Allah dan ditempatkan di sorga.

“Amin. Makasih Mas,” katanya lembut.
Mata Sri berkaca-kaca. Ia membetulkan rambutnya yang menjurai ke bahu depannya. Kecantikan dan kelembutannya tak berubah. Jari-jari lentiknya masih terlihat indah. Aku suka sekali kalau melihat Sri menari Gambyong. Lembut sekali. Aku dulu senang sekali kalau melihat Sri sedang menari untuk event-event tertentu di fakultasnya.
“Lantas, anakmu, Maya gimana? Kasihan sendirian. Tanpa ayah!”

Sri terdiam. Ia tampak ingin mengucapkan sesuatu. Tapi masih ditahan.

“Ayo Sri jawab pertanyaanku, kenapa kau ragu?”

“Mas, Maya masih punya ayah.”
“Hah.Siapa ayahnya?”

“Mas sendiri. Maya adalah anak kandung Mas.”

Haa…aku bagai melihat meteor segede Gunung Merapi jatuh di depanku. Kaget sekali. Terkejut luar biasa. Dan tak terpikirkan sebelumnya. Berkali-kali aku menepuk jidatku. Sri nekad sekali.

“Jadi, waktu nikah dengan Raden Joko, Sri sudah hamil?”

“Ya. Aku periksa di RS Bathesda. Dokter memberi tahu aku hamil.”

“Kenapa tak memberitahu ayahmu?”
“Dia tak akan tahu kalau aku hamil. Mas Joko pun tak tahu. Ayah dan Mas Joko menganggap saya subur. Langsung hamil. Kan hampir tak ada bedanya, di kandungan tujuh bulan atau sembilan bulan. Semuanya aku tutup-tutupi dengan rapi.”

Ya Allah, pantes ketika melihat Maya wajahnya mirip ibuku. Kecantikan ibuku ternyata menurun ke Maya.

“Setelah Maya lahir kau tidak punya anak lagi?”
“Aku tak mau punya anak dari Mas Joko. Aku hanya mau punya anak dari orang yang aku cintai!”

Maya Maya!!!!!. Aku menjerit. Anakku. Kau adalah buah cintaku dengan Sri.

“Sri, ayo panggil Maya. Biar dia tahu siapa ayah dia yang sebenarnya. Kaget, senang, dan sedih bercampur baur dalam diriku. Ternyata aku punya anak yang sudah kuliah di Fakultas Kedokteran UGM. Cantik sekali mirip ibuku.

“Mas, jangan terburu-buru memberitahuu kalau Mas adalah ayahnya. Maya akan kaget. Pelan-pelan aja. Nanti sore Maya aku suruh menjemputku di sini. Nanti kita ke mall Hartono. Kita belikan barang-barang kesukaan Maya. Ia suka sekali busana berwarna biru muda dan ungu. Ia juga senang perhiasan klasik dan vintage.

Aku senang sekali mendengar kesukaan Maya. Bakat seni dari ibunya menurun ke dia. Aku tak sabar ingin bertemu anakku. Aku menunggu kedatangan Maya seperti sedang menunggu kedatangan Dewi Kwan Im dari kayangan. Rasanya dag-dig-dug. Sesuatu yang tak mungkin terjadi. Tapi ini benar-benar terjadi.

“Sri, Maya perlu ayah yang sebenarnya!.” Kataku serius.

“Mas belum punya istri?”
“Aku hanya menyintaimu. Dulunya aku bersumpah tak akan nikah jika tak menemui wanita sepertimu. Sekarang aku menemukanmu lagi. Kita segera nikah.”

Wajah Sri langsung bersinar. Seyum mesranya terpancar dari bibirnya. Ia tampak bahagia sekali.

“Mas, keluargaku akhirnya sadar bahwa cintaku hanya untuk mas. Bukan untuk Mas Joko. Setelah Mas Joko meninggal, ayah membebaskan aku untuk menikah dengan siapa saja.”

“Ya pasti dengan akulah. Karena akulah Arjuna yang memecahkan kegadisanmu,” ujarku sambil mengelus rambut Sri.

Sri tersenyum mesra. Ia mencubitku. Tangannya kupegang. Lalu kucium punggung telapak tangannya mesra. Kupeluk dia. Kucium matanya yang indah itu.

“Mas. Gak enak sama tamu hotel. Jangan menciumku di sini. Nanti malam saja, kita nikah siri lagi. Sebelum nikah benar-benar di rumah ayahku.

“Aku setuju. Aku sudah nggak tahan. Ingin sekali membelai dan memeluk Sri.

“Kita panggil Mas Farid dan Mas Fauzi lagi ya. Untuk menikahkan kita. Ulang tahun nikah Sirri yang ke-23,” ucapku. Sri tersenyum.

“Aku pasrah. Apa pun yang Mas lakukan, aku manut. Karena dalam hatiku, cuma ada Mas seorang. Tak ada yang lain.”

“Sama. Hanya ada satu wanita di hatiku. Sri.”

Sri tersenyum manis sambil menggenggam tanganku. Tak mau melepas genggamannya sedetik pun.

Loading…

Comment

BACA JUGA...