by

Robohnya Kampung Kami

Serial Suara Batin di Era Virus Corona

virus corona (sumber: medscape.com)

Oleh: Denny JA

Sebuah Cerpen Esai (1)

KOPI, Jakarta – Kiriman video itu mencekamku. Jenazah penderita Virus Corona dibawa pulang ke rumah duka. Namun oleh keluarga, para sahabat, dan para murid, plastik mayatnya dibuka. (2)

Terdengar tangisan pilu. Terekam ungkapan yang hadir. “Ia guru kami. Tak mungkin kami kuburkan tanpa kami lihat wajahnya terakhir kali.” Suara yang lain: “Pak Ahmad (nama almarhum) pemimpin komunitas kami. Harus kami cium tangannya sebelum kami lepas ke tanah makam.”

Terdengar nyanyian Ilahi. Terasa suasana seperti ribuan anak ayam kehilangan induknya. Mereka pun beramai-ramai mengantarkan Pak Ahmad ke makam. Berebut mereka memanggul kerangka jenazah.

“Terlalu banyak hutang budi kami.” “Ia matahari kami.”

Video itu lebih mencekamkan karena ada Budi di sana. Budi adik kandungku. Sudah 20 tahun ia bergabung dengan komunitas spiritual itu. Ditinggalkannya pekerjaan. Ditinggalkannya keluarga. Katanya, Ia menemukan cahaya hidup bersama Pak Ahmad, Sang Guru.

Tapi kini Sang Guru tiada. Wafat terkena Virus Corona.

Tak lama kemudian, terkabar berita. Satu kampung spiritual itu diisolasi. Dikhawatirkan Virus Corona menular, justru lewat jenazah Sang Guru.

Tragis.

-000-

Daya tahan sebuah keyakinan. Daya tahan sebuah kesetiaan. Kesan itu mendalam kurasakan jika kurenungkan kisah Budi, Pak Ahmad dan Kampung spiritual tersebut.

Tahun 2006, mereka diusir paksa oleh penduduk. Rumah ibadah mereka dibakar. Rumah mereka dirusak (3). Banyak anggota komunitas itu dipukul. Satu diantaranya, tak tertolong dan wafat.

“Mereka murtad,” ujar satu penyerang dengan ganas. “Penistaan agama,” sambut lainnya. Nama Tuhan dipekikkan bersama mengiringi kekerasan dan pengusiran.

Puluhan penyerang membawa parang, pentungan, batu. Mereka melempari rumah sepuasnya. Mereka robohkan bangunan sesukanya.

Ini yang ketiga kali mereka menyerang. Namun untuk serangan ketiga, mereka mempunyai target. Kelompok spiritual itu harus pergi dari sana. “Ini wilayah kami. Kehadiran mereka hanya membawa petaka bagi semua keluarga kami.”

Pak polisi nampak tak berdaya. Para aparat negara itu memang menenangkan massa dan melerai. Namun aparat tidak menindak tegas para penyerang.

Kepada aparat, Pak Ahmad meyakinkan: “Tapi ini tanah kami Pak. Turun-temurun kami sudah di sini.” Budi, adikku, saat kejadian sudah tinggal di sana. Ujar Budi, “Pak, bukankah konstitusi melindungi keyakinan warga negara?” Puluhan anggota spiritual lain juga memprotes.

Petugas tak menyangkal apa yang dinyatakan Pak Ahmad, Budi dan kelompoknya. Tapi petugaspun nampak tak berdaya. Mati angin.

Para tetua wilayah ini mengajak Pak Ahmad berbicara dari hati ke hati.

“Pak,” ujar tetua. “Serangan penduduk akan datang lagi dan lagi. Di sini banyak anak-anak. Kasihan mereka. Bagaimana jika kita kompromi?”

“Kompromi bagaimana?” tanya pak Ahmad. Tetua itu menyarankan satu kampung ini memeluk agama resmi yang diakui. Hanya dengan pindah keyakinan, masalah akan selesai.

Pak Ahmad, Budi dan beberapa penganut spiritual yang ikut pertemuan, kaget alang-kepalang. Mereka tak bisa menerima.

“Maaf Pak Tetua,” sanggah Pak Ahmad dengan sopan. “Apakah Anda sendiri bersedia pindah agama? Keyakinan adalah masalah hati. Kami memang sekarang minoritas. Tapi Pak Tetua juga jangan lupa. Pada awalnya, agama Pak Tetua dulu juga minoritas.”

Tegas Pak Ahmad, “Apa jadinya dengan agama Pak Tetua jika ketika masih minoritas diminta bubar dan pindah memeluk keyakinan mayoritas saat itu?”

“Keyakinan kami ini bukan baru, Pak. Ini warisan nenek-moyang kami. Ia sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Dan selama ini tak ada masalah apa-apa.”

Dengan berlinang air mata, Pak Ahmad berkata, “JIka kami tak boleh hidup dengan keyakinan kami sendiri, padahal kami dilindungi konstitusi. Galilah tanah ini. Kuburlah kami hidup-hidup.” (4)

Budi dan anggota spritual lain menangis memeluk Pak Ahmad, Sang Guru. Betapa ia selalu berdiri tegak. Betapa Sang Guru selalu pasang badan.

Kompromi tak terjadi. Penyerang pulang sambil mengancam. Mereka akan datang lagi dengan jumlah yang lebih besar.

Akhirnya untuk keselamatan semua, terutama anak-anak, mereka menempuh jalan lain. Komunitas spiritual ini diungsikan ke satu wilayah. Petugas menjanjikan ini hanya sementara saja.

Kini 13 tahun sudah mereka di wilayah pengungsian. Mereka tetap tak bisa kembali ke tanah asal. Petugas juga ingkar janji.

Tapi berkat leadersip Pak Ahmad, kampung itu bisa hidup. Mereka bercocok-tanam. Ada yang menjadi nelayan. Ada yang menjadi pedagang di wilayah lain.

Pak Ahmad sendiri sering ceramah ke aneka kota dan negara lain. Ia mempunyai ilmu yang luas. Hatinya penuh kasih. Dan yang penting selaku pemimpin komunitas, ia kuat pendirian dan betanggung jawab.

Budi bercerita, Pak Ahmad baru pulang dari keliling. Ia ceramah di Malaysia, Cina dan Jakarta. Entah di wilayah mana, Pak Ahmad tertular Virus Corona.

-000-

Aku teringat lima tahun lalu. Budi dan Pak Ahmad sedang ke Jakarta. Mereka mampir ke rumahku.

Kutanya, “Menurut Pak Ahmad, berapa lama teman-teman di sana tahan hidup di wilayah pengungsian?”

Pak Ahmad mengutip kisah komunitas Amish (5) di Amerika Serikat. Komunitas ini bisa bertahan lebih dari 400 tahun. Padahal mereka hidup dengan filosofi dan gaya hidup yang sangat berbeda. Mereka menolak menggunakan listrik.

“Itulah daya tahan sebuah keyakinan. Mereka yang yakin, hati mereka ada di puncak gunung. Mereka bisa bertahan setua usia gunung sendiri,” tegas Pak Ahmad menyampaikan pandangan.

Kutanya kembali, “Puluhan penduduk yang menyerang, membawa golok, batu, pentungan. Diiringi teriakan nama Tuhan dan girah agama, seberapa itu menakutkan? Bisakah ia membuat komunitas Pak Ahmad akhirnya menyerah?”

“Itu resiko sebuah keyakinan minoritas,” ujar Pak Ahmad. Lalu ia mengutip novel Quo Vadis (6). “Di masa awal pertumbuhan agama Kristen, mereka justru lebih sulit.”

“Lihatlah narasi di novel itu. Banyak penganut kristen dicemplungkan ke gelanggang Colosseum. Mereka diadu dengan singa yang lapar. Mereka dimakan singa.”

“Belasan ribu penonton di stadium bukannya iba. Bukannya mereka menetes air mata. Mereka bertepuk tangan. Astaga!”

“Tapi lihatlah sekarang. Agama Kristen tumbuh menjadi agama terbesar.”

“Untuk alam keyakinan,” ujar pak Ahmad, “menang dan kalah itu tidaklah penting. Karena apa yang dulu seolah kalah ternyata menang. Apa yang dulu seolah menang sekarang kalah.”

“Seperti yang saya katakan tadi. Keyakinan sejati itu ada di puncak gunung. Riuh rendah di lereng gunung, hantaman badai di daratan tak akan mengganggu hati di puncak gunung. Ketinggiannya berbeda.” Tenang dan yakin Pak Ahmad tentang ini.

Budi, adikku menimpali. “Kak, kampung kami akan kokoh sejauh Pak Ahmad bersama kami. Tapi jika Pak Ahmad tiada, kampung kami roboh.”

“Jangan, jangan.” Cepat sekali Pak Ahmad memotong. “Yang menopang kampung kita tak boleh seorang pribadi. Seluruh komunitas penopangnya. Pada waktunya seorang pemimpin akan mati. Harus lahir pemimpin baru.”

“Kampung tak boleh roboh!”

-000-

Dengan bantuan teman, aparat setempat, aku akhirnya berhasil menelfon Budi di sana. Kampungnya memang sedang diisolasi. Tanpa bantuan teman, berkomunikasi dengannya sulit. Entah mengapa handphone Budi tak bisa dihubungi.

“Bud,” sapaku. “Aku ikut berduka atas wafatnya Pak Ahmad. Tapi mengapa pemakaman Pak Ahmad tak mengikuti protokol pemakaman korban Covid-19? Kan itu berbahaya buat semua. Juga berbahaya untuk Budi?” tanyaku.

Budi menjelaskan: “Kak, pak Ahmad itu guru kami, pelindung kami, cahaya kami. Mustahil kami biarkan Ia dimakam sendirian bersama petugas.”

“Mustahil kami tak ikut memandikan dan mensucikan mayatnya. Mustahil kami tak cium tangannya terakhir kali. Jika gara-gara itu kamipun terpapar, mau apalagi? Tapi mustahil kami biarkan Pak Ahmad sendiri. Ditinggal.”

“Bagaimana nasib kampungmu kemudian? Kau pernah cerita jika tak ada Pak Ahmad, kampungmu akan roboh?”

“Aku dan teman teman belum berpikir soal itu, Kak. Kami masih berduka. Sangat dalam. Matahari kami pergi.”

“Jikapun kampung ini akan roboh, robohlah. Robohlah kampung kami. Tapi keyakinan kami tak pernah roboh. Walau keyakinan kami selalu minoritas. Walau kami kembali terusir. Walau rumah ibadah kami kembali dibakar.”

“Keyakinan kami lebih penting dari kampung kami.”

Itulah percakapan terakhir dengan Budi.

Lama akan terdiam memahami hidup. Salahkah Budi? Naifkah Budi? Terlalu lugukah Ia? Susah aku menjawabnya.

Tapi yang pasti. Budi menjadi contoh kuatnya keyakinan. Kuatnya kesetiaan. Gelora itu hadir. Perkasa. (*)

April 2020

Catatan

1). Catatan kaki dalam cerpen esai sangat utama. Ia berbeda dengan catatan kaki pada umumnya yang hanya menjadi penambah informasi. Pada cerpen esai, catatan kaki adalah pokok dari cerita. Ia asal muasal kisah. Sedangkan teks di atasnya hanyalah fiksi, dramatisasi agar kisah lebih menyentuh.

2). Kisah dalam cerpen ini sepenuhnya fiksi. Tapi ia berangkat dari kisah nyata di Kolaka, Sulawesi Tengah. Plastik jenazah Covid-19 dibuka oleh keluarga. Jenazah itu dicium dan dipeluk oleh mereka yang duka. https://www.google.co.id/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1323859/viral-keluarga-pdp-corona-buka-plastik-jenazah-begini-ceritanya

3). Ini hanya fiksi. Tapi kisah serupa terjadi dalam kisah nyata untuk kasus Ahmadiyah di NTB. Drama pengusiran Ahmadiyah itu dapat dibaca di http://www.wahidinstitute.org/pdf-docs/GatraEdisi-V.pdf

4). Kuburlah Kami Hidup-Hidup diambil dari judul buku puisi esai karangan Anick HT (2014). http://www.satuharapan.com/read-detail/read/kuburlah-kami-hidup-hidup-menyoal-proses-bernegara-yang-belum-selesai

5). Komunitas Amish, satu sekte dalam agama Kristen, sudah hadir sejak abad ke 17. Komunitas itu bertahan hingga kini. Wilayahnya bahkan menjadi obyek parawisata. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Amish

6) Quo Vadis, novel terkenal yang merekam drama pertumbuhan awal agama Kristen. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Quo_Vadis_(novel)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA