by

Corona

(Hanya sebuah cerpen)

Setelah sebulan chattingan, aku penasaran.

“Chay, aku mau ketemu. Di mana?”

“Boleh. Di Chitos atau BSD,” tulisnya di WA.

“Oke di BSD aja. Jumat sore,” ujarnya. Masih di WA.

Hujan yang mengguyur Jakarta tak berhasil menyurutkan langkahku untuk pergi ke Serpong. Transportasi paling efektif jelas KRL. Mobil aku taruh di parkiran Gedung DPR. Tempat parkir yang aman.

Dari Stasiun Palmerah, aku naik KRL ke stasiun Rawa Buntu. Dari Rawa Buntu pesan Gojek. Ketika pesan Gojek, kulihat WA.

“Mas ketemunya di Giant Mall saja.”

“Oke, aku sudah di stasiun Rawa Buntu.” Aku me-WA Chay.

Aku tiba di Giant Mall pukul 16.00. Chay janji datang jam 17.00.

Ada waktu satu jam menunggu Chay. Untuk killing time, aku ke toko buku Gramedia. Membeli majalah Tempo.

Tempo edisi 9-15 Maret laporan utamanya (laput) tentang Corona. Judulnya menarik: Tergagap Corona, dengan ilustrasi gambar Presiden Jokowi dan Menkes Terawan sedang memakai masker bersama, terusan. Satu masker berdua.

Sebelum membaca laput Tempo, aku membaca Caping (catatan pinggir) Goenawan Mohamad (GM) berjudul “Entah.”

Di alinea pertama, GM menulis: Mungkin seseorang perlu membuat sejarah “Entah”. Kata ini berpusar, tak jarang dalam bisik-bisik, tiap kali manusia merasa terasing dari dunia — ketika datang Maut, Kelaparan, Perang, dan Sampar, “Empat penumpang Kuda Malapetaka.”

Selanjutnya GM bercerita tentang wabah pes yang menyerang Firenze (Italia) di tahun 1348. Wabah itu demikian dahsyat. Setiap orang yang terserang wabah itu mati dalam waktu empat hari.

https://www.tokopedia.com/madubaduy

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA