by

Kanjeng Sunan

KOPI, Bekasi – Istriku tiap malam selalu tidur pukul 02.00 dini hari. Ia tak mau meninggalkan kegemaran barunya, nonton program Karma di ANTV yang diasuh Roy Kiyoshi dan Robby Purba.

“Pah, tadi malam Roy Kiyoshi menunjuk orang yang sentuhan tangannya mampu mendeteksi penyakit untuk maju ke panggung. Namanya Tri. Ia punya kemampuan istimewa. Tapi pekerjaannya hanya buruh panggul sayur di pasar. Pendidikannya juga rendah, SMP. Tri tak menyadari kemampuannya itu sangat berguna untuk membantu manusia,” katanya. Roy sempat mengetes kemampuan Tri. Dan benar. Tri dapat menebak tepat penyakit yang sedang menimpa Roy.

“Terus gimana solusinya?” tanyaku.
Roy menyarankan Tri menjadi tukang pijat spesial. Roy minta Tri banyak membaca buku-buku pijat refleksi dan pengobatan herbal. Roy menerawang masa depan Tri — jika mau mengikuti nasehatnya — akan jadi orang top. Menjadi tukang pijat spesial yang sangat bermanfaat untuk manusia. Kemampuan Tri ini jarang sekali. Sebuah anugerah Tuhan yang istimewa. Roy menasehati Tri agar tidak minder karena pendidikannya rendah.”

“Lihat Bu Susi yang pendidikannya rendah, karena kerja kerasnya dan belajar otodidak, bisa jadi menteri yang disegani dunia,” kata Roy kepada Tri.

Tampaknya Tri mulai menyadari kemampuan spesialnya. Kita doakan Pah, agar Tri mau mengikuti saran Roy. Nanti, kapan-kapan kita memeriksa kesehatan pada Tri.

Aku tersenyum jika mendengar cerita istriku setelah melihat program Karma. Pengetahuan istriku pada kehidupan rumah tangga, kehidupan spritual, energi positif, dan energi negatif makin banyak. Istriku pun makin memahami kehidupanku yang suka begadang untuk menulis cerpen dan esai sampai dini hari. Istriku mulai tahu, kenapa para seniman suka mendapat inspirasi di tengah malam.

Kata istriku, Roy menyaksikan makhluk-makhluk astral turun pada tengah malam ramai-ramai. Setan, demit, kuntilanak, malaikat, dan ruh suci pun berdatangan di tengah malam ke bumi. Istriku bilang, mungkin itu sebabnya, salat malam penting. Salat tahajud di tengah malam akan disaksikan malaikat dan ruh-ruh suci. Salat malam juga mencegah gangguan makhluk astral yang buruk seperti genderuwo dan kuntilanak.

Sejak rajin nonton Karma, istriku lebih berhati-hati kalau bicara. Ia juga bisa mengendalikan kemarahannya jika anak-anaknya tidak mau belajar dan pulang sekolah terlambat. Istriku bilang, setiap kata-kata buruk yang terlontar dari mulut manusia akan menjadi energi negatif. Energi negatif itu akan jadi bumerang kepada dirinya sendiri. Apalagi kalau orang tua, terutama ibu, melontarkan kata-kata buruk dan sumpah serapah kepada anak-anaknya. Kata Roy, sumpah serapah itu akan benar-benar mewujud. Yang rugi adalah ibunya sendiri. Kasihan juga anaknya.

Makanya, cara terbaik orang tua untuk mengungkapkan kemarahan kepada anaknya adalah baca istighfar. Lalu, telan kemarahan itu. Ubah energi marah yang negatif menjadi energi positif dengan doa yang baik. Energi positif itu akan mencerahkan hati manusia.

Istriku sangat menyukai Presiden Jokowi yang tak pernah menanggapi cacian dan sumpah serapah dari netizens. Pak Jokowi tak pernah meladeni para pencaci dan penyebar fitnah itu. Dengan demikian, energi negatif para pencaci itu akan kembali kepada dirinya. Kata istriku setelah melihat Karma, Jokowi justru makin besar setelah memaafkan orang-orang yang marah, memfitnah, dan mencacinya.

“Awas, Papah jangan pernah mencaci Jokowi. Juga jangan pernah mencaci Prabowo,” nasehat istriku.

Kalau kedua orang tokoh ini ikhlas menerima cacian dan fitnah, cacian dan fitnah itu justru akan mengenai para pelakunya. Istriku panjang lebar menjelaskan bahwa energi negatif yang mengiringi caci maki dan fitnah yang kini memenuhi media sosial akan menimbulkan badai kerusakan di negeri ini jika tidak dihentikan.

“Pah, energi negatif yang terakumulasi di negeri ini sudah sangat gigantik. Jika energi itu sudah berada di ambang kritis, lalu meledak, yang rugi bangsa Indonesia sendiri. Jadi Papah jangan ikut-ikutan ya mencaci dan menyebarkan tuduhan yang tak jelas juntrungannya kepada tokoh-tokoh yang tak disukai Papah,” saran istriku.

Luar biasa! Gegara Karma istriku makin bijak. Pengetahuannya makin luas. Istriku sering mengucapkan syukur kepada Allah mendapat suami sepertiku. Soalnya di Karma, banyak sekali wanita yang curhat kepada Roy tentang suaminya yang suka mukul, suka selingkuh, suka memaksa, dan suka marah-marah.

“Alhamdulillah ya Pah, keluarga kita adem-adem saja. Tak pernah ada persoalan serius yang mengguncang keluarga kita.

Coba lihat tuh di Karma, kisahnya macam-macam. Ada wanita yang ditinggalkan suaminya begitu saja. Ia pergi dengan wanita lain setelah istrinya melahirkan. Perginya entah kemana. Ada pula wanita yang diikat suaminya dengan guna-guna. Ada wanita yang tenaganya diperas suaminya. Wanita yang bekerja, suaminya yang di rumah. Anehnya, uang belanja dari istrinya dipakai untuk selingkuh.

Di Karma itu macam-macam ceritanya. Tapi, meski macam-macam ceritanya, kesimpulannya hanya satu. Perbuatan baik akan membuahkan hasil yang baik. Perbuatan buruk akan membuahkan hasil yang buruk.
Kata istriku, mengutip Roy, karma itu hukum besi seperti hukum alam. Karma baik dan buruk datang kepada seseorang karena ada sebab akibat.

Kalau operasi hukum alam bisa dianalisis dengan logika matematika, kalau hukum karma bisa dianalisis dengan rasa keadilan. Makanya, Pah, kalau mau berbuat sesuatu kita harus bisa menimbang-nimbang apakah perbuatan kita sudah pantas dan memenuhi rasa keadilan.

Korupsi, kata istriku, adalah perbuatan yang tak memenuhi rasa keadilan. Karena itu, korupsi sangat terkutuk. Bila dibiarkan akan menghancurkan tatanan alam. Lalu istriku mengutip pendapat Imam Ali Karramallahu Wajhah, bahwa keadilan sekecil apa pun harus ditegakkan. Jika tidak dunia akan runtuh. Ia memberi contoh pedagang cabe di pasar yang mengurangi takaran timbangan. Kelihatannya penipuannya skala kecil. Tapi bila dipikirkan dari aspek keadilan, sang pedagang cabe sedang merusak sistem gravitasi bumi.

Bayangkan jika gravitasi bumi rusak, bumi akan kiamat. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad sangat mengutuk orang yang mengurangi takaran timbangan, meski hanya 0.01 gram.

“Pah, izinkan aku daftar jadi peserta Program Karma di ANTV. Bolehkan Pah?,” istriku tetiba tertarik ingin curhat ke Roy. Ada-ada saja keinginan istriku. Aku tahu, kalau istriku menginginkan sesuatu, sulit dibendung. Pikirannya akan fokus ke sana. Sampai termimpi-mimpi. Itulah sebabnya, kenapa aku sering menuruti keinginan istriku. Sampai-sampai anak sulungku ngedumel kepadaku.

“Papah, kenapa keinginan Mamah selalu dituruti, sedangkan keinginanku sering Papah tolak dengan berbagai alasan,” protes anak sulungku. Kalau sudah begitu aku hanya nyengir.

“Ya, tanyakan saja pada Mamahmu, kenapa Papah seperti itu.” Kalau sudah begitu, anakku tak berkutik. Ia tak berani bertanya pada Mamahnya. Takut dibentak. Tapi, kini setelah rajin melihat Karma, istriku berubah. Tak pernah lagi membentak anaknya. Ia hanya baca istigfar kalau ada sesuatu yang tak disukai pada anaknya. Tengah malam, istriku membangunkanku.

“Ada apa mah?”.

“Pah, sekali lagi, aku minta izin ikut Program Karma.”

“Untuk apa? Bukankah keluarga kita tak ada masalah?

“Iya sih. Tapi aku akan menanyakan sesuatu kepada Roy. Ini penting Pah.”

Sambil mengantuk berat karena dibangunkan Ayudya mendadak, aku bilang, “Ya sudah terserah Mamah. Kalau tujuannya baik, Papah izinkan. Papah nanti akan melihatnya di TV.”

Istriku langsung memelukku. Makacih Pah, Makacih Pah – katanya.

XXXXX

“Ada seorang wanita yang keluarganya bahagia. Keluarganya sakinah, mawaddah, warahmah. Tapi dia ingin sekali curhat di Program Karma. Wanita ini cantik sekali seperti Aishwarya Rai, bintang Bollywood.

Suaminya juga ganteng seperti Shah Rukh Khan, seorang penulis dan pecinta sufisme,” kata Roy mengawali acaranya. Aku pilih nomor 17.

Ini nomor istriku, batinku. Benar, istriku datang ke podium. Memakai baju hijau, bawahan batik abstrak, dan kerudung merah muda, istriku mendatangi meja di tengah ruangan studio. Semua mata tertuju kepada Ayudya yang cantik. Tak kalah cantik dibanding Diah Permatasari, bintang Si Manis Jembatan Ancol, yang berdiri di sebelah kiri Roy.

“Tolong anda perkenalkan namanya dulu,” kata Roy.

“Namaku Ayudya Pringgodani. Usia 40 tahun. Dari Solo.”

“Tolong ceritakan apa masalahnya Mbak Ayu?,” pinta Robby.

“Tak ada masalah dengan keluargaku. Masalahnya suamiku terlalu baik. Baik sekali. Jadi aku malu dan merasa tak bisa membalas kebaikannya.”

“Ini baru peserta yang aneh. Lha, wong suaminya baik sekali kok ingin curhat ke Karma,” kata Robby.

“Tapi Mas Robby, aku ada masalah besar yang ingin aku ketahui, kenapa suamiku jadi begitu baik kepadaku dan kepada semua orang, bahkan kepada semua makhluk Tuhan. Aku benar-benar ingin tahu, kenapa?”

“Apa dengan kebaikan suamimu itu Mbak Ayudya terganggu?”

“Agak terganggu. Aku malu, aku sering salting. Salah tingkah karena memikirkan bagaimana cara membalas kebaikan sumiku.”

“Baik, apa suami Mbak Ayudya ada di sini?,” kata Roy.

“Ada, ikut mengantar. Ia menonton acara ini di mobil, melalui tivi mini.”

“Kalau begitu, tolong suami Mbak Ayudya datang ke sini. Mendampingi Mbak!”

Melihat perintah Roy di tivi, aku pun segera datang ke podium. Aku mendampingi istriku untuk curhat ke Roy.

Begitu aku datang ke podium, tiba-tiba suasana hening. Lampu di ruangan studio, sekonyong-konyong berpendar. Di plafon ruangan, entah dari mana datangnya, muncul sinar pelangi sangat indah. Roy terkejut. Robby terlihat gemetar.

“Ada apa ini Roy? Robby nyaris tak bisa bicara. Ia kaget karena tiba-tiba suasana ruangan jadi hening, sejuk, dan indah karena ada pelangi menghiasi ruangan.

“Kita kedatangan tamu terhormat berbarengan kedatangan suami Mbak Ayudya,” kata Roy. Tamu ini ruh suci, ruh yang sudah moksa, berada di surga. Tapi, beliau sesekali datang ke muka bumi untuk mendampingi para wali, sufi, biksu, pendeta, dan manusia-manusia yang ingin mencari jalan kebenaran dan penyucian jiwa. Beliau sengaja datang mendampingi suaminya Bu Ayudya.

Ruh suci ini mengucapkan salam kepada para peserta Karma dan mendoakan semua perserta Karma mendapat rakhmat dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Tiba-tiba istriku yang tadinya hendak curhat ke Roy, mulutnya terkunci. Ia tak bisa bicara. Apalagi setelah Roy menyatakan, aku datang didamping roh suci yang datang dari surga.
Roy yang biasanya menguasai panggung; menyuruh kuntilanak dan genderuwo yang masuk ruangan studio untuk pergi agar tidak mengganggu acara, kali ini wajahnya tertunduk. Sesekali mengusap-usap matanya memperhatikan ruh suci yang mendampingi suami Ayudya.

Tampak sekali Roy kikuk menanyakan siapa nama ruh suci yang mendampingiku.

“Maaf yang mulia, bolehkah aku menyebut yang mulia Kanjeng Sunan?,” Roy berkata tanpa menanyakan nama ruh suci itu.

Roy ingin memanggilnya Kanjeng Sunan saja. Lebih simpel dan intuitif. Kata Roy, ruh suci ini wajahnya bagus sempurna. Berbusana putih, memancarkan cahaya, dan baunya harum. Matanya tajam, senyumnya menawan, suaranya merdu, dan tutur katanya lembut.

“Kanjeng Sunan, terimakasih atas kedatangannya di acara Karma. Pengetahuanku tentang dunia gaib dan spiritual sangat sedikit dibandingkan Kanjeng Sunan. Bolehkah aku minta Kanjeng Sunan untuk menasehati kami, semua peserta Karma dan pemirsa ANTV yang sedang menyaksikan acara ini agar dapat menyelesakan masalah hidupnya?,” tanya Roy sambil menunduk hormat.

“Terimakasih atas kesediaan Kanjeng Sunan,” kata Roy lagi setelah mendapat jawaban dari ruh suci tersebut. Pemirsa, kali ini, acara kita istimewa. Aku akan menyampaikan pesan-pesan Kanjeng Sunan kepada manusia agar hidupnya selamat dan bahagia.

Kulihat Roy makin berkonsentrasi untuk menyampaikan pesan-pesan yang disampaikan ruh suci yang ia beri nama Kanjeng Sunan itu.

Roy berkata, Kanjeng Sunan menyatakan: “Hidup manusia di dunia itu tak lama. Hanya puluhan tahun. Jarang sekali yang ratusan tahun. Lalu, kenapa manusia sangat haus kekuasaan dan kekayaan? Kekuasaan dan kekayaan itu, apalagi kalau diraihnya dengan cara-cara yang tidak adil dan haram, tidak ada artinya. Alih-alih jadi bekal di kehidupan akhirat, malah jadi beban yang menyusahkan. Ingat, manusia itu makhluk ruhani. Bukan jasmani. Kebutuhan ruhani adalah kesucian, kebenaran, kedamaian. Bukan harta dan kekuasaan. Karena itu berbekallah dengan iman dan amal saleh.”

“Kalian bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual. Tapi kalian adalah makhluk-makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Jadi, pada dasarnya kalian hidup dalam dunia spiritual yang abadi. Benar kata orang Jawa, hidup di dunia ini sekadar mampir ngombe. Karena itu, kumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat yang kekal. Caranya, berbaktilah kepada kedua orang tuamu dalam keadaan apa pun tanpa kecuali. Lalu, berbuatlah baik kepada siapa pun. Maafkan orang-orang yang pernah menyakitimu. Bersedekahlah sebisa mungkin, meski kau dalam kesulitan ekonomi. Cintailah orang lain seperti kalian menyintai dirimu sendiri. Sayangilah semua makhluk ciptaan Tuhan di bumi karena makhluk ciptaan Tuhan yang di langit akan menyayangimu. Itulah resep untuk menyucikan ruh.”

“Terimakasih nasehatnya, Kanjeng Sunan,” kata Roy. Roy memberitahu pemirsa Karma, Kanjeng Sunan akan berbicara lagi. Roy pun kembali berkonsentrasi denga memegang kepalanya.

“Hiduplah sesederhana mungkin. Agar banyak orang bisa hidup karena kesederhanaanmu. Tuhan telah menurunkan ruh-ruh mulia yang hidupnya di bumi sangat sederhana untuk memberikan teladan bagi manusia. Mereka adalah Isa Al-Masih, Muhammad ibnu Abdillah, dan Ali Bin Abi Thalib. Juga Kiai Ahmad Dahlan, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, Abdur Rozaq Fachruddin, Nelson Mandela, dan yang masih hidup, Artidjo Al-Kostar. Mereka adalah pribadi-pribadi yang suci dan patut diteladani. Tidak semata-mata Tuhan menciptakan orang-orang teladan itu kecuali DIA ingin memberikan contoh keteladanan kepada manusia.”

“Jangan pernah mau dihampiri perbuatan dosa, meski dalam mimpi sekalipun. Jangan pernah belajar pada kesalahan. Tapi belajarlah pada kebenaran, sehingga kalian tidak pernah terjerumus dalam dosa. Kalian, manusia, tak mungkin menjadi ruh suci kalau masih ada partikel-partikel dosa dalam jiwamu. Belajarlah dengan serius untuk berbuat ikhlas, berkata ikhlas, dan berpikir ikhlas. Itulah keselamatan. Hanya dengan keikhlasan, ruh kalian akan moksa. Tujuan hidup manusia itu hanya satu. Kembali kepada Allah. Dan Allah hanya mau menerima ruh-ruh suci.”

Kulihat Robby terdiam. Mulutnya ternganga. Sedangkan Roy terus menunduk hormat di hadapan ruh suci itu.

Aku sendiri – suami Ayudya — tak tahu apa-apa. Apa yang dikatakan Roy sebagai Kanjeng Sunan itu, memang pernah membisiki aku di malam hari usai salat tahajud untuk selalu menyintai istriku seperti cintanya Rasulullah kepada Siti Khadijah. Itulah sebabnya aku selalu menuruti keinginan istriku asalkan tujuannya baik dan demi kemajuannya.

Istriku, Ayudya terdiam. Ia tampaknya sudah mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikannya kepada Roy.

XXXXXXXXX

“Tok…tok…tok. Tok..tok.. tok..Pah…Pah…bangun. Sudah jam empat pagi. Sahur. Sahur,” anak sulungku mengetok pintu kamar. Aku kaget sekali. Istriku, juga langsung bangun. Rupanya, kami tertidur pulas; mimpi jadi peserta acara Karma.

Ketika sahur bersama di meja makan, istriku tetiba menyatakan tidak jadi ikut acara Karma.
“Kenapa batal jadi peserta di Karma, sayang?,”
“Percuma Pah. Mamah sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang akan disampaikan kepada Roy,” ujar istriku Ayudya. Aku diam saja. Seolah-olah tak mengetahui mimpi istriku terlibat dalam acara Karma yang dihadiri oleh Kanjeng Sunan.

“Ya sudah terserah Mamah. Papah kan sudah mengizinkan.”

“Thanks alot Dad. Papah memang suami yang baik. Terimakasih atas kebaikan Papah. I love you.”

Aku hanya tersenyum membalas ‘I love you’-nya Ayudya. Istriku pun tersenyum. Hidup ini indah bagi keluarga sakinah!

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA