by

Lapor Pak Walikota: Ada Warga Mati Kelaparan

Serial Suara Batin Era Virus Corona

Sebuah Cerpen Esai (1)

Oleh: Denny JA

KOPI, Jakarta – Teks di japri WA ku singkat saja dari Natta, pak Walikota. “Dav, jika ada waktu nanti makan malam di rumah ya. Jam 19.00. Soal Siti.”

Sudah kuduga, Natta akan mengajakku bicara panjang lebar. Kisah Siti warga kotanya heboh di media (2). Diberitakan Siti mati karena kelaparan. Dua hari ia tak punya makanan.

Suaminya pencari barang bekas. Tapi sejak meluasnya kantor tutup, sekolah tutup, Pembatasan Sosial Berskala Besar, suaminya tak punya penghasilan.

Entah benar, entah tidak, diberitakan Siti satu keluarga hanya mengganjal perutnya dengan air galon. Sebelum ia wafat, Ia sempat menangis di depan kamera. Media sudah ramai membicarakan. Viral Siti bercerita kesulitan ekonomi di era pandemik.

Nasib Natta kurang beruntung. Ia menjadi walikota dari satu wilayah yang termasuk paling miskin di Indonesia. Sebelum datangnya era virus, kota itu sudah terpuruk. Apalagi di era virus ini.

Kubaca aneka liputan media soal ini. Berbagai kritik muncul. Pak Wali dianggap keterlaluan. Lambat bereaksi. Bukankah ada dana Bansos?

Ada pula bantahan. Lurah setempat membantah Siti mati kelaparan. Ada pula surat suami untuk publik. Ia tak suka istrinya disebut mati kelaparan. Yang benar, ini takdir Tuhan. Istrinya hanya kelelahan, dan menjemput takdirnya (3)

Tapi opini sudah terbentuk. Di era virus Corona, di kota yang tak jauh dari Ibu Kota, kok ada warga mati kelaparan. Mana tanggung jawab Walikota?

-000-

Pasti Natta gelisah. Aku tahu karakternya.

Sudah 40 tahun lebih kami berteman. Dulu ketika SD, rumah kami bersebelahan. sekolah kami, mulai SD hingga Universitas sama.

Kadang aku menginap di rumah Natta. Kadang Nata menginap di rumahku. Ayahnya wafat sejak ia berusia lima tahun. Ia tinggal bersama Ibu dan Kakek- Neneknya. Kami memanggil kakek itu Abah. Abah saja tanpa nama sebenarnya.

Abah tak hanya pengganti Ayah bagi Natta. Tapi juga inspiratornya. Guru spiritualnya idolanya. Abah juga kuat indera keenamnya.

Aku ingat mungkin 30 tahun lalu ketika kami SMA. Di beranda itu hanya ada aku, Natta dan Abah.

“Natta,” ujar Abah. “Satu hari nanti kau akan dapat amanah. Menjadi pemimpin orang banyak.” “Ah, Abah. Aku tak mau menjadi pempimpin. Aku mau jadi dosen saja. Menulis buku. Memajukan Ilmu.” Jawab Natta.

Abah kembali meyakinkan. “Pikiranmu nanti akan berubah. Kau akan berjumpa peristiwa, akan datang pengalaman, dan orang-orang. Mereka menjadi anak – anak tangga yang membawamu ke sana. Ke singgasana.

“Tapi jangan lupa ya, cucu. Sejak sekarang harus kau latih. Kau harus menjaga amanah.”

Abahpun bercerita tentang pentingnya pemimpin peduli pada rakyat kecil. Sangat sering Abah berkisah soal itu. Seolah ia memang ingin Natta menyiapkan diri, belajar menjaga amanah. Terutama untuk wong cilik.

Pernah suatu ketika di kebun belakang, kami juga bertiga. Abah bercerita tentang seorang raja. Abah sebut nama raja itu, dari wilayah mana, tahun berapa. Tapi aku lupa detailnya. Hanya ingat pesan utama.

“Raja itu sangat menjaga amanah. Kadang malam hari, hanya ditemani satu orang pengawal, mereka berdua menyamar. Menjadi orang biasa.”

“Mereka keliling ke pelosok kerajaan yang kumuh. Ingin Ia lihat sendiri bagaimana kondisi rakyatnya. Ia tak hanya berpegang pada laporan para hulubalangnya. Anak buah kadang hanya memberikan info yang bagus- bagus saja.

Rakyatnya tak tahu jika yang mampir ke rumah mereka itu Raja.

Esok harinya, di tempat yang Raja kunjungi, yang serba kekurangan, oleh Raja dicarikan bantuan. Begitulah laku pemimpin yang menjaga amanah.” Tegas Abah.

Natta dan aku acapkali mendengar kisah Abah dengan takjub. Abah pandai mendongeng.

Abah pernah juga bercerita soal Umar Bin Khattab. Ia khalifah yang juga dikenal bersih dan amanah.

“Natta,” ujar Abah. “Teladani Umar bin Khattab. Pernah suatu hari,” ujar Abah, Umar kedatangan keluarga dari jauh. Ketika keluarga itu masuk, Umar bertanya, apakah mereka datang untuk berbicara masalah kekhalifahan atau soal keluarga?”

“Ketika ternyata itu masalah keluarga, Umar mengganti lampu. Karena lampu itu minyaknya dari dana kekhalifahan. Ia ganti dengan lampu yang lebih kecil. Ini lampu minyaknya Ia biayai sendiri.”

“Itu yang namanya pemimpin. Bertanggung jawab. Tidak memanfaatkan fasilitas. Niat tanggung jawab itu dimulai sejak di hati. Di pikiran. Karena nanti kau bawa tanggung jawabmu kepada sumber semua kekuasaan. Kepada Tuhan.”

“Ya, Abah. Sambil bercanda Natta menjawab. “Tapi kan Abah, aku tidak akan menjadi Khalifah. Kan sekarang tak ada khalifah lagi. Aku akan menjadi dosen, Abah.”

-000-l

Jam 19.00 kurang sepuluh menit, aku sudah sampai ke rumah dinas Walikota. Tak seperti tamu lain, aku langsung menunggu ke ruang keluarga.

Foto Natta bersama Abah, ada di sana. Bahkan foto itu lebih besar dibandingkan foto Natta bersama anak-istri.

Kaligrafi itu juga dari Abah. Natta tetap membawanya ke rumah dinas. Ini intisari dari Surat Al-Maidah, Ayat 32. “Jika kau menolong satu manusia, itu sama seperti kau menolong seluruh manusia. Jika kau menganiaya satu manusia, itu sama dengan kau menganiaya seluruh manusia.”

“Ayo Davi, kita langsung makan.” Natta menyambutku hangat. Seperti dulu. Sama sejak 40 tahun lalu.

Selesai makan, Natta meminta pandanganku. “Dav, bagaimana jika aku mengundurkan diri sebagai Walikota? Aku tidak kaget dengan pertanyaan Natta. Natta selalu perfeksionis.

“Gara-gara, soal Siti?” Tanyaku balik. “Iya Dav. Ada 700 ribu warga di kota ini. Sekitar 5-6 persen, benar- benar berada dalam kondisi kemiskinan. Sangat miskin. Masalahnya jumlah sekitar 40 ribu warga miskin itu terpencar ke banyak wilayah.”

“Ada lurah. Ada RW. Ada RT. Ada kepala dinas. Tapi mereka ini tak jalan. Aku kan juga tergantung mereka. Di era normal, aku sih bisa juga blusukan. Langsung melihat sendiri warga yang kekurangan.”

“Atau seperti yang Abah suka cerita, aku menyamar seperti Raja, di malam hari masuk ke kampung-kampung.” Hahaha.” Natta tertawa ingat kisah Abah. Aku juga tertawa.

“Tapi kan ini era virus corona, Dav. Bukan saja aku khawatir aku kena terpapar. Tapi kok aku tidak mencontohkan untuk bekerja dari rumah.” Dalih Natta.

“Bagaimana, menurutmu Dav, jika aku mundur saja dari Walikota. Aku tak ingin tidak amanah.” tanya Natta.

“Serius?” Tanya kubalik? “Seriuslah. “Aku ini cocoknya memang menjadi dosen saja Dav. Entah mengapa kok malah jadi walikota. Ini gara gara ramalan Abah. Aku terkena tulahnya.”

“Kau kawanku sejak kecil, Dav. Kau Ph.D bidang politik. Kau yang dulu membantuku terpilih. Coba beri aku solusi. Aku percaya otak dan hatimu,” ujar Natta.

“Mundur dari jabatan itu cara paling mudah, Nat. Tapi itu sama dengan kasus dirimu memimpin pasukan tentara. Ketika musuh datang, kau sebagai komando, malah berlari meninggalkan tentaramu.”

“Bukan hanya dirimu yang kini sulit, Nat. Seluruh dunia sulit. Banyak pemimpin di dunia dimaki rakyat. Itu hal yang lumrah.”

Natta menatap menataku. Tajam. Dalam. Pernyaatan dariku itu agaknya yang memang Ia butuhkan.

-000-

Kami pun pindah duduk di ruang kerja di rumah dinas. Natta memanggil Aziz, asistennya untuk paparan.

Di layar dengan power point, aneka info disampaikan Azis.

“Ini soal Siti dulu ya pak.” Ujar Azis memulai presentasi. Ini laporan medis. Tak benar Siti mati karena kelaparan. Tapi memang kesulitan ekonomi bertambah.” Ujar Azis.

Natta langsung menyela, “yang benar kau Ziz. Jangan hanya memberi laporan asal bapak senang.” Gerutu Natta tak percaya. “Ini pak. Ini data medisnya.” Seru Azis.

“Kau kan lihai Ziz. Jangan – jangan ini laporan medis atas perintahmu juga. Lalu kau bilang ini permintaan pak Wali.” Natta menggoda. Aziz tertawa. Aku tertawa.

Azis langsung mengalihkan topik.

“Ini data Indonesia. Di era Virus Corona akan ada orang miskin baru sebanyak 8,5 juta. Total jumlah orang miskin di Indonesia akan naik menjadi 33,4 juta. Pasti semakin banyak orang kelaparan (4).”

Yang ini data dunia. Diduga di seluruh dunia akibat virus corona akan ada 1 milyar manusia kelaparan (5).”

“Itu data dari mana,” tanyaku. “Ini data valid pak. Ini dari WFP: World Food Program. Kalau ini data dari IMF. Ekonomi dunia akan terpuruk paling rendah sejak tahun 1930.” (6). Ini seperti siklus krisis ekonomi setiap seratus tahun.”

“Dasyat ya pengaruh pandemik ini.” Sela Natta. “Negara super power seperti Amerika Serikat juga kewalahan. Itu senjata nuklir yang minta ampun perkasa, ternyata tak bisa apa apa menghadapi virus yang super kecil.”

“Saya lanjut ya pak,” papar Aziz lagi.

“Kalau ini program Bansos dari Jokowi pak.” Total dana cukup besar, di atas 40 Trilyun. Ada program sembako. Ada Bantuan Langsung Tunai. Per keluarga mendapat 600 ribu selama 3 bulan.” (7)

“Ada berapa banyak keluarga yang akan mendapat Bansos,” tanya Natta. “Untuk Jabotabek saja, ada 4,2 juta warga pak. Selama April, Mei, Juni.(8)Jawab Azis.

“Seperti biasa pak. Konsep pemerintah pusat bagus. Problemnya seringkali di lapangan. Lambat. Banget lambatnya. Orang pada keburu mati.”

“Mungkin akan banyak pula tikus yang mengambil. Biasaaa.” Seru Aziz sambil tertawa.

Cukup lama kami berdiskusi soal data dan kebijakan.

-000-

Tak terasa sudah jam 23.00. Kini hanya aku dan Natta saja di ruang keluarga.

“Nat,” ujarku. “Kau harus bersyukur. Lonceng di hatimu cukup kuat. Kau merasa bersalah mendengar wargamu kelaparan. Kau sangat ingin memegang amanah. Itu dahsyat.”

“Tapi kita juga butuh kecepatan bergerak. Jika mengandalkan birokrasi yang ada, kan Aziz sudah bilang, kerjanya lambat sekali. Akan banyak kasus Siti yang lain.”

“Ini era darurat. Langkahnya harus Out of the box.” Saranku keras. Ingin meyakinkan.

“Betul, Dav. Tapi ini uang negara. Semua prosedur harus aku ikuti. Jika tidak, aku bisa kena KPK. Tapi kalau aku ikuti, ampuuuuun, jalannya seperti siput.”

“Kita himpun dana masyarakat, Nat. Gerakkan civil society. Kumpulkan orang kaya yang peduli.”

Natta terdiam. Ia seperti teringat sesuatu yang besar.

“Dav,” ini mungkin saatnya” Lama Natta terdiam lagu. Akupun diam menunggu Natta lanjut bicara. Natta diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku jadi penasaran.

Ia bangkit dari tempat duduk. Lalu Natta berdiri memandang foto abah. Aku biarkan saja. Mengawasi dengan jarak. Lalu keluar ucapan dari Natta, seolah ia bicara dengan Abah: “Izin ya Abah.” Ia cium lukisan itu.

Dengan semangat Natta kembali duduk, mendekatkan wajahnya padaku.

“Dav, kau ingat sehari sebelum Abah wafat.” Ia menitipkan kotak. Kata abah, “Ini bukan buatmu. Gunakan ini ketika kau mendapat amanah.”

“Ya,ya,ya.” Ujarku mengangguk. Aku ingat. Itu kotak hitam. Apa isinya? Tanyaku. “Aku sudah lihat isinya. Tapi tak pernah kusentuh. Mungkin ini saatnya.” Ujar Natta.

“Saatnya?” Tanyaku bingung?

Natta memberi kode. Tanpa suara. Memintaku menunggu. Ia nampak semangat sekali.

Ia masuk ke dalam. Keluar lagi, Natta membawa kotak hitam itu. Bersama kami melihat kotak hitam itu. Di atasnya, ada tulisan yang selalu Abah ulang-ulang ke Natta: “Jaga Amanah.”

Natta tunjukkan isinya padaku. “Astaga lima balok emas murni.”

Kamipun berencana. Natta akan menjual lima balok emas murni. Semua dana akan dibelikan sembako. Sebuah yayasan sosial akan menyalurkannya kepada sebanyak mungkin warga.

Ujar Natta, “Mencegah kasus Siti yang lain.”

Kamipun berpelukan. Sangat senang. Pelukan dua sahabat. Seperti ketika kami bepelukan di kelas 5 SD, waktu bocah. Hangat. Tulus.*

April 2020

Catatan

  1. Catatan kaki dalam cerpen esai ini sangat utama. Ia mewakili kisah sebenarnya yang difiksikan dalam teks di atasnya.
  2. Seorang warga di Serang bernama Yuli ramai diberitakan media. Ia mati kelaparan.

https://www.google.co.id/amp/s/medan.tribunnews.com/amp/2020/04/21/kisah-pilu-seorang-pemulung-mati-kelaparan-2-hari-tak-makan-imbas-corona-sulit-cari-barang-bekas

  1. Pak lurah dan suami Yuli diberitakan menolak informasi Yuli mati karena kelaparan

http://tangerangnews.com/banten/read/31092/Yuli-Meninggal-Nyaris-di-Hari-Kartini-Lurah-Tak-Yakin-Kelaparan

  1. Jumlah orang miskin di Indonesia karena virus corona bertambah banyak

https://bisnis.tempo.co/read/1332671/skenario-terberat-ada-85-juta-orang-miskin-baru-akibat-corona

  1. Penduduk dunia yang kelaparan akibat virus corona juga bertambah signifikan.

https://dunia.tempo.co/read/1334636/wfp-satu-miliar-orang-terancam-kelaparan-akibat-virus-corona
6). IMF: Dunia menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak Great Depression tahun 1930.

7). Bansos dari Jokowi

https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/amp/kumparannews/4-bantuan-sosial-tambahan-jokowi-sembako-hingga-blt-1tBroTLhHwj

8). Bansos dari Jokowi

https://amp.beritasatu.com/politik/618737-presiden-alokasikan-rp-404-t-untuk-bansos-jabodetabek-dan-desa

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA