by

Keris Pusaka Pedagang Keliling

Sebuah Cerpen Esai (1)
Serial Suara Batin di Era Virus Corona

KOPI, Jakarta – Perasaanku bercampur ketika berjumpa kembali dengan keris pusaka itu. Senang alang kepalang. Akhirnya bisa kumiliki juga keris ini. Di sisi lain, aku sedih mendengar alasan datangnya keris ini padaku.

“Sebelum Ayah wafat,” ujar Surya, Ayah berpesan kepada kami.
“Kapanpun kami ada kesulitan, bawa saja keris ini kepada Om Dastan. Nanti Om akan mengerti.”

“Itu wasiat Ayah?” Tanyaku.

“Ya Om,” jawab Surya. “Ibu dan adik-adik semua mendengar.”

Terkenang percakapan terakhirku soal keris itu dengan Janu, sahabatku, ayahnya Surya. Sudah lama ia bercerita menyimpan keris pusaka dari kerajaan Majapahit. Ia mendapatkan dari ayahnya. Ayahnya dari kakek. Kakek dari buyut. Begitu seterusnya, diwariskan turun temurun.

“Usianya sudah 700 tahun,” ujar Janu.

Awalnya aku tak percaya. Tapi kami menyewa ahli mengujinya dengan tenik radiocarbon dating. Benar usia keris ini sekitar 690 tahun- 720 tahun. Wah! Sangat langka!

Kala itu aku sudah punya banyak uang. Sejak dulu, aku gila benda antik. Janu menyatakan ada teman ayahnya menawar untuk membelinya seharga 500 juta. Tidak ia beri.

“Oke, Janu, responku. “Aku beli keris pusaka di harga satu milyar rupiah. Ini mungkin penawaran tertinggi yang pernah kau dengar. Harga ini tak murni bisnis. Tapi sudah kutambahkan juga hutang budiku padamu .”

Janu tertawa. “Ini tidak dijual bro. Nanti ini aku wariskan kepada putra sulungku Surya.”

“Tapi Dastan,” ujar Janu “Keris itu punya kehendaknya sendiri. Percaya atau tidak, keris ini punya nyawa.”

“Jika memang ia jodohmu, satu ketika, Ia akan menjadi milikmu.” Janu sangat yakin.

Surya mengamati aku memegang keris sambil merenung agak lama.

“Mengapa dirimu ingin jual keris ini, Surya?” Tanyaku langsung.

“Bisnis kecil-kecilan saya bangkrut Om. Pegawai sebagian sudah saya PHK. Rumah untuk pabrik roti sudah saya jual juga.”

“Virus Corona ini banyak membuat UKM mati Om. Puluhan ribu usaha kecil dan menengah di Indonesia bangkrut. Pengaruh virus ini dahsyat. Tapi saya harus bangkit lagi.” Surya bersemangat.

-000-

Di ruang tamu itu, ada Aku, Surya dan Danu anakku. Usia Danu sebaya dengan Surya. Mereka juga saling kenal tapi tak akrab. Persahabatanku dengan Janu rupanya tidak menurun pada anakku dan anak Janu.

“Coba Surya, segarkan memori Om. Dulu kan Surya bekerja di perusahaan Asing. Bagaimana ceritanya kok Surya mempunyai usaha roti?”

Jawab Surya, “Om mungkin lupa ya. Enam bulan sebelum ayah wafat, waktu Om menjenguk ayah, kita ngobrol di beranda. Waktu itu saya bertanya, kok Om yang dulu miskin bisa sangat kaya raya. Sebaliknya ayah yang orangtuanya kaya bisa biasa saja.”

“Ingat Om?” Tanya Surya.

“Ya, Om ingat momen itu. Tapi sama samar saja. Om lupa Om ngomong apa ke Surya?”

“Om bilang,” ujar Surya, “ada satu kata gaib yang mengubah hidup Om. Sejak SMA, Om selalu memimpikan sampai di sana. Financial Freedom.”

“Bahwa Om harus sampai pada posisi itu. Yaitu kondisi dimana Om tak perlu bekerja lagi karena pasive income yang datang setiap bulannya melampaui pengeluaran. Sehingga Om punya banyak waktu luang.”

“Lalu Om ingin menggunakan waktu luang itu untuk jalan hidup Om yang sebenarnya: membaca, menulis, membuat puisi, membuat film. Ingat Om?” Tanya Surya lagi.

“Ya, Om ingat.” Jawabku.
“Om bilang, kuncinya kita harus punya bisnis sendiri. Tak apa mulai dari kecil dulu. Yang penting mindset kita besar.”

“Mungkin tak Om duga. Omongan itu berhari- hari menginspirasi saya. Jelaslah saya tak ingin mengulangi kegagalan ayah. Ia kerja kantoran dan di masa tuanya di PHK pula.”

“Pelan- pelan dengan istri lima tahun lalu saya membuka usaha roti. Kan dulu Om pernah saya kirim contoh rotinya.”

Aku menyimak cerita Surya. Sebagian akuo ingat samar- samar. Sebagian aku lupa sama sekali.

“Roti bakar yang saya buat istimewa Om. (2) Berbeda dengan yang biasa. Awalnya saya buka di ruang garasi. Pelanggan banyak sekali.”

“Saya maju selangkah lagi. Saya punya banyak pedagang keliling membawa roti saya. Rumah sebelah saya beli menggunakan pinjaman bank, untuk produksi roti kecil-kecilan.

“Setelah maju,” saya nekad Om. Saya berhenti kerja. Saya ingin fokus menjadi pengusaha seperti Om Dastan. Istri saya setuju.”

“Sebelum virus corona datang, saya punya 50 pedagang roti keliling. Istri saya menggoda. Katanya: wah kamu sebentar lagi bisa sampai ke financial freedom. Bisa seperti Om Dastan nih. Nanti kerjanya bikin puisi terus.”

“Hahhahahaa.” Aku, Surya dan Danu anakku tertawa.

“Eh, datang virus corona. Lalu ada seruan social distancing lah. Pembatasan Sosial Berskala Besar. Kantor tutup. Sekolah tutup. Bisnis saya menurun hingga omzetnya separuh. (3) Biaya produksi sudah tidak menutup.”

“Tapi masih lumayan Om. Masih ada pemasukan. Eh…datang lagi musibah. Satu pedagang keliling saya kena virus corona. Beritanya kemana-mana. Ampun Om. Pembeli kabur. Mereka takut roti saya mengandung virus.”

“Dua minggu tak ada pemasukan sama sekali. Nol. Istri menangis karena tagihan pinjaman bank terus datang. Separuh karyawan saya PHK. Habis uang tabungan untuk membayar pesangon.”

“Malam hari saya tahajud. Saya bilang, Tuhan aku harus bagaimana lagi? Aku tak tega memecat karyawanku. Mereka setia. Tapi aku tak punya uang.”

“Lihatlah sekolah anakku belum kubayar. Ibu dan 3 adikku masih menjadi tanggunganku.”

“Aku bukan orang jahat. Aku juga banyak berderma. Doaku padaMu tak pernah henti. Mengapa ini terjadi padaku?”

“Dalam tahajud, saya menangis Om.” Surya terdiam. Air matanya menetes.

Akupun terdiam. Danu terdiam.

Lanjut Surya: “Entah mengapa, muncul bayangan keris pusaka warisan Ayah untuk saya. Seketika saya teringat Om Dastan.”

-000-

Danu, Anakku, seusia dengan Surya sekitar 28 tahun. Danu tamatan sekolah bisnis. Ia banyak juga membaca soal usaha kecil dan menengah.

“Coba Danu,” ujarku, “Briefing kita. Apa yang terjadi dengan para pedagang kecil dan menengah di era virus corona. Kok agak parah ya?”

Sambung Danu: “Bro Surya, saya ikut berempati dengan pengalamanmu. Efek Virus Corona bagi usaha menengah kecil jauh lebih buruk ketimbang waktu krisis tahun 98 (4). Dulu di tahun 98, usaha kecil menengah justru menjadi penyelamat.”

“Tahun 98 orang berhemat dan menurunkan gaya hidup, makanan, fashion. Yang tertampung di bisnis ekonomi kecil- menengah justru lebih banyak.”

“Kini usah kecil menengah paling terkena dampak karena virus merusak dari hulu ke hilir. Jalur bahan mentah terganggu, produksi, distribusi, permodalan tergangu. Penghasilan menurun.”

“Daya tahan usaha kecil menengah ini tentu tak setangguh perusahaan besar. Sekarang ada sekitar 37 ribu usaha kecil menengah terdampak. (5) Bro Surya salah satunya.”

“Bayangkan saja,” ujar Danu, “ada 116 juta orang yang bekerja di sektor kecil menengah. Bagaimana buruknya kondisi ekonomi kita. Pertumbuhan ekonomi tahun ini mungkin minus. UKM bangkrut ramai-ramai.”

“Tapi tak semua usaha kecil menengah mati. Usaha yang berhubungan dengan bisnis online, jasa kesehatan, justru lebih hidup.” (6)

Surya langsung memotong semangat. “Itulah hasil tahajud saya. Keris pusaka ini mungkin menjadi penolong. Saya ingin alih profesi di era Virus Corona saja. “

“Saya mau hijrah menjual masker, hand sanitizer, dan segala yang berhubungan dengan kesehatan.”

“Tapi saya membutuhkan modal segar. Saya hanya mempunyai rumah tinggal. Istri tak setuju jika saya menjaminkan rumah untuk pinjaman.”

“Di luar rumah tinggal, yang berharga saya hanya punya keris pusaka. Keris ini hadir dalam hidup keluarga saya turun termurun. Kakek sering cerita bagaimana keris ini membantunya di masa krisis. Ayah juga meyakini demikian.”

-000-

Aku pegang lagi keris itu. Kubuka keris dari sarungnya. Sama memukau seperti dulu.

Dalam hati aku menyebut nama sahabatku. “Janu- Janu. Hidup tak diduga. Dulu mati-matian aku ingin membeli keris ini. Tapi tak kau beri. Kini keris ini datang sendiri padaku, melalui anakmu.”

Terbayang persahabatanku dengan Janu. Ia sahabat yang teruji. Bersama kami lewati pasang surut hidup. Waktu SMA, aku sangat miskin. Janu anak orang kaya.

Janu sering menolangku. Membelikan aku makanan, buku, baju. Ia senang karena aku katanya sangat pintar. Juara sekolah. Banyak baca. Dan kadang kadang bersedia mengerjakan PR sekolahnya.

Di usia 40-an, situasi berbalik. Aku mendapat rejeki Tuhan banyak sekali karena bisnisku. Janu jatuh miskin. Tapi Janu tak pernah meminta bantuanku. Dan tak pernah mau aku bantu.

Aku teringat masa SMA. Mobil Ayah Janu banyak sekali. Janu sering menyetir mobil sendiri ke sekolah. Sementara aku ke sekolah hanya baik bus kota. Tak punya mobil. Tak punya motor.

Sore itu, Aku yang mengajaknya. “Ayo, Janu. Ajari aku mengemudikan mobil ini.”

Tak tanggung- tanggung, aku langsung ke jalan raya. Aku menyetir. Janu di sebelahku.

Ketika belok ke satu jalan, mobil itu menabrak sepeda motor. Pengendara luka parah. Orang berkerumun. Polisi datang. Aku gugup sekali.

Secepat kilat Janu minta kami pindah posisi tempat duduk. Janu di belakang setir. Aku disampingnya. Kaget sekali aku. Janu mengaku dirinya yang menyetir.

Janu menjanjikan membawa ke pengendara motor ke rumah sakit. Membayar pengobatannya. Ia juga akan mengganti kerusakan motor. Tak lupa pak polisi ia berikan tips besar membantunya menghadapi massa.

Tak bisa kulupa kejadian itu hingga akhir hayatku.

Kutanya, “Janu, mengapa dirimu lakukan itu?” Ia hanya menjawab, “Bro aku tak ingin dirimu masuk penjara. Jika polisi tahu dirimu yang menyetir, kamu tak punya SIM.”

Berhari- hari aku terganggu oleh kejadian itu. Aku sangat berhutang budi pada Janu. Pernah kutanya, bagaimana caraku membalas hutang budiku?”

Santai saja Ia menjawab: “Kita bersahabat bro. Jangka panjang. Akan ada waktu dirimu yang menolongku di saat aku sangat butuh.”

Lama aku terdiam. Mungkin inilah saat itu. Bukan Janu yang sangat butuh, tapi anak sulungnya. Sama saja.

Kutanya Surya, “Berapa dana yang Surya perlu untuk membuka usaha baru?” Jawab Surya: “Seharga keris pusaka itu saja Om.” Pesan Ayah, Om Dastan orang bijak. Ia akan mengerti. Tak usah kami menentukan harga.”

“Secepatnya Om akan transfer dana ke rekening Surya.” Aku sebut jumlahnya. “Keris ini Surya bawa pulang saja. Ia milik Surya.

“Dana itu anggap saja bantuan Om untuk Surya di masa sulit. Dulu Ayah Surya sering juga membantu Om.”

“Yang benar Om? Tanya Surya? Ia spontan memelukku menangis segugukan. Akupun haru.

Barulah kupercaya, keris pusaka itu punya kehendak. Ia menggerakkan hatiku.

Dulu aku begitu menginginkannya. Kini keris sudah ditangangku. Sudah kubayar. Tapi keris pusaka malah kukembalikan.

“Janu, Janu. Di masa krisis ini. Aku rindu bercakap denganmu. **

April 2020

1). Catatan kaki dalam cerpen esai ini sangat sentral. Ia sember dari pokok cerita. Teks di atasnya hanyalah dramatisasi dan fiksi dari kisah dalam catatan kaki.

Cerpen esai ini sepenuhnya fiksi. Ia mengembangkan kisah para pedagang kecil menengah yang menderita mendalam karena serangan virus corona

https://economy.okezone.com/amp/2020/03/19/320/2185833/cerita-sepinya-umkm-di-tengah-wabah-virus-corona

2). Bisnis roti bakar spesial yang mulai membuka gerai di garasi dan sukses mengambil inspirasi dari kisah ini:

https://m.detik.com/finance/solusiukm/d-4279430/wanita-ini-raup-jutaan-rupiah-dari-jualan-roti-bakar-di-garasi

3). Berita mengenai merosotnya penghasilan UKM:

https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2020/03/27/190000026/terpukul-corona-ini-5-keluhan-para-pelaku-umkm

4). Dampak ekonomi bagi usaha kecil menengah lebih buruk di era virus dibandingkan era krisis tahun 1998.

https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/4228397/beda-kondisi-umkm-saat-pandemi-corona-di-2020-dengan-krisis-ekonomi-1998

5). Sekitar 37 ribu UKM terdampak Virus Corona

https://bali.tribunnews.com/amp/2020/04/17/terdampak-covid-19-37-ribu-umkm-lapor-ke-kementerian

6). Di era virus corona, ada pula bisnis yang justru lebih subur

https://katadata.co.id/telaah/2020/04/17/munculnya-10-peluang-bisnis-baru-dari-hidup-normal-di-masa-pandemi

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA