by

Cerpen: Umami

Oleh: Syaefudin Simon
Simon Syaefudin

KOPI, Bekasi – Tahun 1975-1977, aku rajin nonton film tivi hitam putih di rumah Kaji Durakman, orang terkaya Tegalgubug. Biasanya abis Isya, aku bersama para santri di Ponpes Arrabtul Wathaniyah, ramai-ramai ke rumah Kaji Durakman nonton tivi. Kaji Durakman menyediakan tikar di beranda rumahnya yang besar untuk nobar santri kampung ini.

Saat itu, di seantero Tegalgubug, yang punya tivi hanya Kaji Durakman. Tivi hitam putih 7 inci itu benar benar benda ajaib di kampungku. Dan hanya Kaji Durakman yang mampu membelinya.

Salah satu film seri yang aku sukai adalah Mannix. Ini film detektif, dengan pemeran utama Mike Connors. Joe Mannix, nama aktor ganteng itu, adalah detektif hebat. Dia sangat pandai kalau memburu penjahat. Mannix selalu melakukan analisis yang mendalam atas setiap kasus yang ditanganinya.

Konon, saking populernya serial Mannix saat itu, Sutiyoso, pendahulunya Anies Baswedan di Kebon Sirih, Jakpus, kesengsem berat pada film ini. Bang Yos memakai nama Mannix sebagai nama samarannya saat bertugas sebagai perwira intelijen Kopassanda dalam operasi Seroja di Timor Timur tahun 1974-1975.

Tapi bagiku, yang paling ngangeni, adalah asisten Mannix: Peggy (Geil Fischer). Ia wanita kulit hitam. Rambutnya pendek, agak kriting, dan senyumnya manis sekali. Aku tergila-gila dengan Peggy. Aku selalu menunggu peran-peran Peggy yang membantu kelancaran tugas detektif Mannix. Kalau Peggy diculik penjahat, aku marah. Lalu berdoa, Ya Allah selamatkan Peggy. Alhamdulillah, Peggy selalu selamat di ending film.

Terbayang dalam hatiku, andaikan aku mengenal Peggy.. wow.. apalagi bisa punya pacar seperti dia. Benar-benar aku hidup di alam surgawi. Wajah Peggy, kulit Peggy, senyum Peggy selalu memenuhi imajinasiku.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Waktu aku kelas dua SMA, ada gadis, adik kelas, yang sangat mirip Peggy. Kulitnya hitam manis. Rambutnya sedikit kriting, dipotong pendek. Hidungnya sedang. Matanya hitam, tajam. Tingginya 160-an Cm. Namanya Umami.

Ia berasal dari Kecamatan Gegesik, 10 km dari desaku Tegalgubug.

Kok bisa ada gadis cantik seperti Peggy di SMAN Palimanan, batinku. Aku benar-benar terpesona kecantikan Umami yang mirip Peggy tersebut. Bahkan ia lebih cantik dari Peggy. Wajah Umami, gabungan kecantikan Peggy dan Pauline Gundidza, penyanyi Zimbabwe yang berdarah Afro-India yang aku lihat di majalah musik Aktuil saat itu.

Ketika tahun 1995 aku berkunjung ke Harare, ibu kota Zimbabwe, kenanganku terhadap Umami membuncah kembali. Inikah cinta terpendam itu? Umami hadir kembali dalam ingatanku. Di Zimbabwe, aku seperti berada di negeri Umami. Mulutku berdecak kagum — betapa manisnya wanita-wanita Afro-India di Zimbabwe. Kecantikannya unik dan mistik. Seperti Umami, dara Gegesik adik kelasku dulu.

Kembali ke zaman SMA. Saat melihat Umami di SMA Palimanan, aku berdoa mudah-mudahan “si mungil Peggy Umami” menjadi kekasihku. Semoga ia aman dari gangguan Edison, Akip, Kruschev, dan Memet — empat sekawan geng paling berani dan ditakuti di SMA Palimanan saat itu. Tapi kalau empat sekawan itu mengganggu Umami, aku akan mengajak Geng AWN (Arjawinangun) di mana aku jadi anggotanya, melindungi Peggy. Wahib, ketua Geng AWN, yang pinter bertinju akan menghajar Akip dan Edison, duo brandalan SMN Palimanan saat itu.

Ya, aku langsung jatuh cinta begitu melihat Umami pertama kali. Karena wajahnya mirip Peggy. Di mataku Umami adalah jelmaan Peggy di Indonesia. Apa pun yang dilakukan Umami, aku langsung menyukainya. Jika Umami berbicara, mulut dan matanya sangat hidup. Seperti menebarkan cahaya di sekelilingnya. Indah sekali. Lebih dari itu, bagiku, kecantikan Umami lebih unik ketimbang Peggy. Umami bagaikan Ratu Sheba yang dalam legenda rakyat Afrika, istananya berada di Zimbabwe. Saat aku berada di Zimbabwe National Museum, aku terpaku melihat patung Ratu Sheba. Mirip sekali dengan Umami. Kuelus wajah Ratu Sheba…kau itu Umami, bisikku. Ia tersenyum mendengar bisikanku.

Aku selalu mencari cara mendekati Umami. Waktu yang pas kalau naik oplet. Aku sengaja menunggu Umami pulang di perempatan Palimanan. Aku tak akan naik oplet sebelum Umami berada di dalamnya. Kalau Umami sudah naik, aku langsung ikut naik. Aku sengaja mencari tempat duduk yang aman untuk bisa memandang Umami.

Kebetulan sekali, salah seorang teman satu kelasku, Dulati, kenal dekat dengan Umami. Dulati, kakak kelas Umami di SMPN Gegesik. Melalui Dulati inilah aku coba mendekati Umami. Tiap malam Minggu aku tidur di rumah Dulati di desa Bayalangu, tiga kilometer dari Gegesik. Tujuannya agar dia mau menemani aku ke rumah Umami.

Berkat Dulati, aku akhirnya bisa dekat dengan Umami. Aku sering main ke rumahnya, terutama di malam Minggu. Umami yang cantik menerimaku dengan ramah.

Mataku nyaris tak berkedip jika memandang wajah Umami. Aku tak bisa berkata apa-apa. Sepanjang berada di rumah Umami, aku hanya diam terpaku. Umami pun diam. Yang terdengar hanya detak-detak jam dinding besar di hadapanku.

Anehnya jam dinding di rumah Umami rajin bermusik. Tiap 30 menit, jam bercasing hitam dengan jarum nikel itu, mengeluarkan dentang piano klasik 15 detik. Enak terdengar di telinga seperti suara Umami.

Aku pernah menulis surat cinta kepada Umami. Kata-katanya aku sadur dari surat cinta penyair Khalil Gibran kepada May Ziada, kekasih imajinatifnya.

Umami, tulisku di kertas merah jambu:
“Aku tidak bisa hidup tanpamu sekarang.
Apalah arti keberadaanku tanpamu.
Jika aku terpisah darimu, aku juga akan terpisah dari diriku sendiri. Karena kamu adalah hidupku. Umami, aku bertahan hidup hanya untukmu. Aku menyerahkan semua jiwa ragaku hanya untukmu.”

Surat untuk Umami aku titipkan ke Dulati, teman kelasku, agar disampaikan kepada gadis hitam manis itu. Tapi aneh, Umami tak pernah membalas suratku. Entah kenapa.

Belakangan, setelah aku kuliah di Yogya, baru tahu, Dulati tak pernah menyampaikan surat yang aku tulis dengan susah payah itu ke Umami. Kata Dulati, suratnya ditaruh di buku. Bukunya ilang bersama tasnya. Kemalingan di rumah.

Kirik! gumamku kepada Dulati. Ia minta maaf sambil cengengesan.

Selama setahun, hampir tiap malam Minggu aku berkunjung ke rumah Umami. Selama itu pula aku tak berani menyatakan cinta padanya. Mulutku terkunci. Umami pun diam. Selama itu, aku juga tak pernah berani menyatakan “I love you” kepada Umami . Apalagi menyentuhnya.

Tapi, begitu aku diterima kuliah di UGM, Umami mengucapkan selamat. Mungkin karena aku adalah satu-satunya murid SMAN Palimanan saat itu yang lolos UGM.

Pas malam perpisahan sekolah, Umami datang dengan busana warna krem bermotif batik Megamendung. Ia kelihatan cantik sekali. Di acara perpisahan itu Umami selalu berada di sampingku. Menjelang pesta perpisahan, Umami mengajakku pergi ke pojok ruang kelasnya, di bawah pohon nangka.

“Simon, aku menyintaimu.” Katanya dengan suara lembut. Aku terkejut dengan pernyataan cinta Umami. Hatiku seperti terbang ke planet Saturnus yang bergelang indah itu. Tanpa sadar aku mencium Umami. Ternyata Umami membalas ciumanku, mesra. Aku bermesraan dengan Umami di bawah pohon nangka. Udara sejuk di bawah pohon nangka malam itu seperti tersenyum menyaksikan ikrar cintaku dan Umami. Aku memeluk erat pinggang Umami. Umami menyandarkan wajahnya di dadaku.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar Allahu Akbar. Aku terbangun ketika suara azan terdengar. Aku kaget. Ternyata ikrar cinta itu hanya mimpi. Aku ucek-ucek mataku. Aku cubit tanganku. Oh, benar, aku mimpi. Aku lemas.

Umami, di mana kau sekarang, bisik hatiku. Kita tak pernah bertemu sejak aku lulus SMA. Aku rindu. Ingin bermimpi berdua denganmu lagi di bawah pohon nangka di SMA kita. (*)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA