by

Elegi bagi Pahlawan Kemanusiaan

Oleh: Swary Utami Dewi, Aktivis Prodem/Penulis

2 Maret 2020

“Mah, akhirnya Corona resmi masuk ke Indonesia,” ujar sulungku, Yusuf, menunjukkan suatu berita, saat aku asyik mengaduk adonan bakwan.

“Kok resmi, Nak?” tanyaku tanpa menghentikan perhatianku dari urusan memasak bakwan. Yusuf kuminta memanaskan wajan, untuk kemudian sesendok demi sesendok adonan kucelupkan ke minyak panas.

Saat bakwan itu sudah matang, sulungku ini bersemangat duduk di meja makan. “Lapar, Mah,” jelasnya sambil memandang dengan penuh nafsu sepiring besar bakwan yang sudah tersaji.

“Memang kamu tidak sempat makan tadi di kampus?” aku pura-pura bertanya, meski tahu bahwa anakku ini memang doyan kudapan tradisional, termasuk bakwan.

“Assssssli… Gak sempat. Kita hari ini di kampus malah asyik bicara soal pemerintah yang nampaknya masih bingung dan gamang dalam menangani Corona. Padahal WHO sendiri sudah sejak lama mewanti-wanti dan mengumumkan bencana Corona ini. Nah hari ini, ada berita bahwa sudah ada yang terjangkiti virus ini (1) (2). Makanya Yusuf sebut “resmi”. Gitu, Mah…” jelasnya bersemangat.

Yusuf terus bercerita sambil tidak henti-hentinya mengunyah bakwan hangat itu. Kulirik ke piring sudah lumayan banyak yang dilahapnya.

“Dan ingat Mah, nama ilmiahnya bukan Corona. Tapi Covid-19. Ini Yusuf baru baca.” Bujangku lalu menyorongkan link yang tertera di androidnya (3).

Aku berkernyit mendengar penjelasan itu. Covid-19? Ah, lebih mudah bagiku untuk mengingat nama Corona, yang mengingatkanku pada mahkota, merek mobil atau minuman beralkohol. Aku menjadi geli sendiri mengingat masa laluku.

Yusuf nampaknya mencermati raut mukaku. “Mamah kenapa?”

Aku mengangkat bahu, lalu beranjak mengambil lagi beberapa potong cabai dari kulkas.

“Tinggalin buat adikmu, ya… Nanti Mutia ngambek gak dapat snack sore.” Aku mengingatkan Yusuf sambil menaruh tambahan cabai di atas piring bakwan. Tidak lama, aku meninggalkannya masuk ke kamar untuk mencari benang yang tertinggal di atas ranjang.

“Mah, masker kain jangan lupa jahitin ya buat Yusuf. Dua ya. Yusuf lupa nyimpan di mana, yang dulu pernah Mamah kasih. Yusuf mau mulai pakai masker ni…” Ia berbicara lumayan keras untuk memastikan aku mendengar ucapannya dari kamar.


17 Maret 2020

“Kok pulang cepat, Nak?” Aku melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 11.45 siang.

“Lha, Mamah. Kan sudah ada himbauan dari Presiden kemarin untuk bekerja dari rumah (4). Keren ni kampus Yusuf. Jadinya mahasiswa mulai minggu ini juga ikutan belajar dari rumah. Kuliah online Mah. Daring, daring…” Yusuf menunjuk hpnya sambil sesekali melirik melihat reaksiku.

Aku melengos. Aku tidak ingin ia tahu aku menyembunyikan kegelisahanku. Anak-anak mungkin tidak tahu, jika di sela-sela kegiatanku menyelesaikan jahitan pesanan, aku juga rajin menilik berita-berita tentang Corona yang bertebaran di TV maupun media sosial. Salah satu yang cukup menarik bagiku adalah berita dan cerita tentang tenaga medis yang tanpa lelah berjibaku melawan Corona (5).

Aku menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gelisah. Was-was akan Corona, takut akan akibatnya bagi negeri ini. Aku juga kerap bertanya-tanya kapan pandemi ini akan berakhir.

Mendadak aku merasa lega, saat melihat Mutia datang. Nampaknya ia kelelahan. Tanpa melepas masker kainnya, ia langsung rebahan di sofa panjang.

“Capek, Nak?” ujarku menegur perlahan. Gadisku ini diam saja.

“Lha gimana ngomong kalau masker masih nempel,” Yusuf mencoba bercanda.

Mutia melepaskan masker, memperlihatkan tampang manyunnya.

“Bakalan sepi ni hidup. Kuliah jarak jauh. Ikutan “from home”. Biar aman semua.” Ia menggerutu, lalu berdiri melangkah mengambil air putih dari kulkas.

“Selamat datang dalam perang melawan Corona”. Yusuf membentangkan tangan. Mencoba bercanda kembali sambil mengejar adiknya yang bergegas lari masuk ke kamar.

Aku tersenyum melihat keduanya. Lalu melanjutkan satu jahitan yang sudah hampir selesai.


23 Maret 2020

Seminggu sesudah “working from home”, “staying at home”, apapun namanya itu, kedua bocahku disibukkan dengan tugas-tugas kuliah dan terkadang perkuliahan jarak jauh dari kampus masing-masing. Terkadang keduanya ribut sendiri saat meluangkan waktu membaca berbagai berita tentang Corona.

“Uh telat banget tindakannya.”
Atau …
“Kok kebijakannya maju mundur gini ya..?”
Atau …
“Nah, begini baru pas.”
Satu dua kalimat itu yang terkadang melintas di pendengaranku saat keduanya terlibat diskusi, dari yang ringan sampai serius, tentang Corona.

Aku sendiri masih disibukkan dengan pesanan jahitan untuk Ramadhan dari beberapa sahabat: mukena, baju kurung, baju koko dan sejenisnya. Aku selektif menerima pesanan untuk memastikan kemampuanku dalam menyelesaikan semua dengan tepat waktu, dengan kualitas terjaga.

Jahitanku memang top, kata anak-anak, karena kupadukan dengan bordiran ciamik. Aku bersyukur karena dari SMA sampai kuliah, aku rajin kursus menjahit dan membordir. Meski kemudian aku tidak sempat menyelesaikan kuliahku di Fakultas Kesehatan Masyarakat, karena keterbatasan biaya, aku bisa berdiri tegak menghidupi dan menyekolahkan dua anakku dengan kemampuanku sendiri dari menjahit dan membordir.

Sambil mengerjakan detil bordir pada beberapa bagian mukena pesanan Bu Dirjen, aku berfikir betapa centang perenangnya situasi sekarang. Banyak yang terancam kehilangan nafkah karena mengandalkan pendapatan harian. Mereka ini harus tetap berani keluar rumah, bertarung langsung dengan ancaman Corona (6) (7).

Aku bersyukur termasuk yang beruntung bisa terus menghasilkan dari rumah, karena memang nafkahku diandalkan dari kegiatan menjahit dan membordir selama lebih dari 20 tahun. Dan semua kulakukan di rumah.

Tertawaan Yusuf dan Mutia membuyarkan lamunanku. Aku kembali melanjutkan jahitan yang tadi tertunda karena pikiranku melayang.

“Mah, lihat berita ini. Tenaga medis banyak yang kekurangan baju Alat Pelindung Diri (APD). Juga kekurangan masker medis dan perlengkapan lainnnya.” Mutia tiba-tiba mendekatiku.

“Nah ini, Puskemas dekat rumah kita, Mampang, juga mengalami hal yang sama. Mutia baru dapat berita dari Inez. Tadi chatting. Ibunya Inez dokter di sana. Dia cerita tim medis di Puskemas itu sampai membuat APD dari jas hujan (8).”

Aku memandang wajah gadisku yang nampak prihatin.

“Inez teman kuliahmu itu?” Aku bertanya ingin tahu.

“Iya Mah. Ternyata ibunya dokter di Puskesmas Mampang. Mutia juga baru tahu.”

“Kata Inez, ibunya cerita kalau APD dan perlengkapan medis lainnya penting untuk memastikan keselamatan semua tenaga medis yang bekerja menolong mereka yang diduga berpotensi ataupun sudah positif kena Covid-19.” Bla…bla..bla.. Mutia melanjutkan penjelasannya panjang lebar.

Termangu aku mendengarnya. Entah kenapa aku merasakan pilu. Ingat kembali saat-saat kuliah dulu. Ingat kembali tentang cita-citaku yang kandas untuk menjadi tenaga medis.


28 Maret 2020

Sore itu, aku kembali merasakan pilu yang sama di hati. Pilu yang kurasa dalam saat mengetahui makin banyak yang terjangkit Corona. Pilu yang kurasa makin menjadi sembilu saat kubayangkan perjuangan para tenaga medis yang berperang melawan Corona tanpa kenal lelah, bahkan membahayakan jiwa mereka. Ah, seharusnya aku berjibaku bersama mereka saat ini. Seharusnya aku…

“Mah, ada paket nih buat Mamah. Kok besar dan berat ya. Mamah beli bahan banyak ya?” Teriakan Yusuf membuyarkan lamunanku.

Yusuf meletakkan bungkusan besar itu di samping sofa. Mutia yang sedang makan es krim coklat mendekati. Decap lidahnya tidak berhenti menikmati lezatnya es krim.

“Buka aja paketnya. Hitung jumlahnya.” Aku meminta Yusuf membantuku membuka paket itu.

“Awas Mut, es krimmu jangan kena ini ya,” Yusuf meminta Mutia minggir, mengantisipasi es krim menetes ke paket itu.

“Mah… Lha Mah. Inikan APD??? Benarkan? Buat apa Mah? Kok banyak ya.” Yusuf terlihat bingung sambil menghitung jumlah APD itu.
“28…29…30. Ada 30, Mah,” lanjutnya.

“Alhamdulillah. Lengkap.” Aku tersenyum. Aku memandang dua anakku yang masih terlihat bingung.

“Mutia, bisa bilang ke Inez kalau besok Mutia dan Yusuf ke puskesmas untuk antar APD ini buat ibunya Inez? Biar digunakan tim medis di sana.” Aku berkata pelan namun mantap.

Mutia terbelalak setengah kaget. Hampir ia tersedak karena mulutnya masih mengulum sisa es krim. Sesaat kemudian Mutia menjerit girang memelukku setengah haru, lalu mencium pipiku. Ia tidak peduli sisa-sisa es krim menempel di pipiku.

Sementara itu, Yusuf memandangku perlahan. Matanya berbinar bahagia, dan kulihat ada sedikit genangan air mata di sana.

Aku memejamkan mata. Kedua anakku tidak tahu, dan lebih baik mereka tidak tahu, bahwa diam-diam aku membeli 30 APD secara online dari sebagian uang tabungan.

Dan saat adzan Magrib terdengar, aku merasa terpenuhi. Lega. Perlahan rasa pilu itupun memudar…

Malam itu aku tertidur dengan lelapnya. Aku bermimpi indah: berjuang bersama teman-temanku di garis terdepan, dengan menggunakan APD.

(Selesai 18 April 2020)


Catatan Kaki

(1) Presiden Jokowi mengumumkan 2 orang di Indonesia positif Corona. https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/03/02/11265921/breaking-news-jokowi-umumkan-dua-orang-di-indonesia-positif-corona

(2) Sebelumnya, Pemerintah menyatakan tidak ada Corona masuk ke Indonesia. Ini menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak, termasuk asing. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10158109587995127&id=760815126

(3) Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernafasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, pnemonia akut, sampai kematian.
https://www.alodokter.com/virus-corona

(4) Himbauan “Working From Home” dari Presiden Jokowi dilakukan mulai Senin, 16 Maret 2020. Meski demikian, beberapa pihak menilai himbauan ini tidak banyak diikuti orang pada saat itu. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200319162841-20-485044/dki-ramai-jokowi-dinilai-tak-tegas-soal-work-from-home

(5) Postingan Tami tentang surat dari IDI tertanggal 28 Maret 2020, yang menyatakan tidak ada ancaman mogok, serta petugas kesehatan selalu berkomitmen untuk bekerja menolong yang sakit karena Covid19.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207555517163713&id=1763425287

(6) Pekerja kontrak, pekerja harian, buruh bangunan, pedagang keliling dan mereka yang tidak punya penghasilan tetap, masih banyak yang tetap harus bekerja untuk bertahan hidup, meski Corona mengancam hidupnya. Tidak ada istilah “staying at home” atau “working from home” bagi mereka.
https://indonews.id/mobile/artikel/28289/Mengurai-Kisah-Pilu-Pekerja-Ibukota-Tetap-Bekerja-Meskipun-Corona-Mengancam-Nyawa/

(7) Lihat pula puisi esai Tami berjudul “Tak Surut Meski Corona Mengancam”, ditulis 9 April 2020. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207613217566187&id=1763425287

(8) Postingan Tami di FB 25 Maret 2020: “Tim Medis Puskemas Mampang, Jaksel: Lelah, Namun Tetap Semangat dan Kreatif”.
Tim medis di Puskesmas Mampang tidak kehilangan akal dalam mengatasi keterbatasan perlengkapan medis. APD misalnya, secara darurat, terpaksa dibuat dari jas hujan. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207535226256453&id=1763425287

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA