by

Cinta yang Menua

KOPI, Jakarta – Sambil menyeruput kopi pahit, lelaki berusia sekitar 50 tahunan itu berkata ‘kamu harus tahu dik, bahwa cinta itu anugerah dari Tuhan’.

Aku hanya diam menatap kosong dengan berusaha meraba penderitaan yang dia rasakan. Padahal ‘cinta’nya jelas-jelas duduk di hadapannya. Sambil memakan pisang goreng sedikit demi sedikit. Tapi terlintas ada senyum kecut namun tegas tersungging di bibirnya.

Sambil terkadang melirik cepat ke arahku. Entah apa yang ada di pikiran si wanita pemakan pisang goreng itu?! Apakah pisangnya yang kecut, ataukah lelaki yang duduk di depannya yang kecut? Ataukah celotehan lelaki berumur itu yang kecut.

Tapi aku bisa melihat bahwa wanita itu tidak menikmati pisang gorengnya. Dari cara memakan pisang gorengnya, mengesankan bahwa dia hanya mengisi jeda waktu sebagai pengisi kegiatan, sambil meladeni teman bicaranya.

Aku duduk di samping si lelaki itu dengan menatap mereka berdua dengan hampa… Aku hanya bisa berharap bahwa pisangnya yang kecut…. hm..

Sepiring berisi 6 potong kecil pisang goreng sedikit demi sedikit dilahap wanita itu. Dan akupun juga menikmati sop iga yang luar biasa enaknya. Sop iga ter’enak’ yang pernah aku rasakan selama hidupku. Sekali-sekali terdengar suara seruputku yang keras keluar tanpa aku sadari. Tapi aku menyisakan emping yang menjadi teman penyedap sop igaku. Pahit.

Fokusku sedikit terbelah antara menyantap sop iga dan mendengarkan celotehan lelaki itu. Tapi, aku terus menyimak cerita curahan penderitaan kehidupannya. Cerita terkait penderitaannya setelah si wanita pemakan pisang goreng itu meninggalkannya 20 tahun yang lalu.. Sambil sesekali diselipi tertawa kecilnya. Aku bisa melihat goresan menua di wajahnya.

https://www.tokopedia.com/madubaduy

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA