by

Film Sang Pahlawan Merah Putih Lakukan Casting Pemain

KOPI, Jakarta – Film Sang Pahlawan Merah Putih yang diproduksi oleh Arvin Cinema bekerjasama dengan Benteng Jokowi (BEJO) yang akan dipersembahkan kepada Presiden Joko Widodo ini diketahui dalam tahapan seleksi atau casting bagi para pemain. Sang Sutradara pun mengambil lokasi di beberapa tempat seperti: Makasar/Bulukumba, Bali, Solo dan Jakarta.

“Dalam casting atau seleksi pemain tersebut, hadir talent atau calon pemain dari daerah Bandung yang bergabung dalam management Viris Entertainmen dengan bakat dan kemampuan yang bagus-bagus,” ucap Abah Maulana selaku Sutradara, diselenggarakan hari Rabu, (10/02/2022).

Sedikit alur cerita dari Film Sang Pahlawan Merah Putih yakni, sorot kamera tertuju pada sebuah rumah gubuk yang berdampingan dengan Sekolah Dasar Bontosila di desa yang jauh dari kota, di depan Sekolah Dasar Bontosila tersebut berdiri tiang bendera dari bambu berkibar sang merah putih yang telah pudar warnanya.

Sekolah Dasar Bontosila memiliki siswa-siswi dari berbagai suku, seperti suku Makasar, suku Manado, suku Ambon, suku Jawa, suku Bali, suku Batak, suku Minang, suku Betawi, suku China dan suku Sunda, mereka semua tinggal di desa tersebut, 12/02/2022.

Desa Bontosila merupakan perkampungan yang sèjuk, damai dan dikelilingi persawahan. Anak-anak desa tersebut hidup damai dalam persatuan. Hari-hari mereka lalui dengan belajar semata-mata ingin menjadi anak yang memiliki prestasi dan cita-cita.

Sekolah Dasar Bontosila terletak di atas tanah masyarakat yang bernama pak Darmawan sekaligus kepala sekolah, Pak Darmawan adalah guru yang sangat mencintai anak-anak, dengan semangat yang dimiliki Pak Darmawan mendirikan sekolah darurat bagi anak-anak yang tinggal di Desa Bontosila dan diberi nama Sekolah Dasar Bontosila dengan atap rumbiya serta berlantai tanah dan papan tulis pun terbuat dari papan kayu.

Diketahui Pak Darmawan tidak memiliki anak maka Pak Darmawan mengadopsi anak yang bernama Candra dan Gendis, Candra usia 11-12 tahun dan Gendis 9-10 tahun, Candra dan Gendis ini adalah bersaudara, sejak umur 5 tahun mereka dititipkan kepada Pak Darmawan untuk diasuh karena kedua orang tuanya akan bekerja sebagai TKI di Hongkong, namun hampir 10 tahun kedua orang-tua mereka tidak pulang, belakangan diketahui mereka telah meninggal karena covid-19.

Kegiatan hari-hari Candra dan Gendis selain sekolah mereka mengembala kambing milik Pak Joko. Selain Candra dan Gendis, muncul Bonar usia 11 tahun, suku Batak, Bonar ini teman sekolah Candra yang bercita-cita ingin menjadi Presiden seperti Pak Jokowi.

Bonar yang memiliki nada suara keras dan tinggi ini sangat pinter berpuisi, kadang-kadang teman-temannya dibuat terharu jika Bonar membacakan tentang Puisi Indonesiaku, Presidenku, Bapak Presidenku adalah sosok manusia sangat berguna bagi rakyat, Presidenku adalah sosok manusia memberiku kedamaian.

Berbeda dengan Burhan yang usia 10 -11 tahun, suku Makasar, yang memiliki hoby naik kuda dan sering kali mendapatkan kejuaran balapan kuda memiliki cita-cita ingin menjadi tentara, alasannya karena Burhan ingin mengawal Pak Presiden. Menurutnya Presiden merakyat, Presiden yang berani turun dalam keadaan hujan maupun menangani bom bunuh diri di Thamrin, jadi Burhan ingin sekali jadi tentara.

Burhan mendapat infomasi bahwa minggu depan akan ada lomba balapan kuda, Burhan minta kepada teman-temannya datang di acara tersebut. Candra dan kawan-kawan mempersiapkan bendera kecil, yang mereka buat dari kertas layangan, tiba saatnya Burhan menjuarai menjadi nomor satu.

Burhan mengambil bendara pada Candra lalu disentakkan kudanya berlari membawa bendera merah putih, kudanya bernama bento, ayoo bento, cita-citaku harus tercapai untuk membantu presiden menyalakan NKRI. Nah, kalau Dias, usia 11-12 tahun, Suku Ambon, Dias ini bercita-cita menjadi Menteri.

Dias adalah anak yang unik dengan rambut kriting, kulitnya hitam, Dias sering kali dibully sama Bonar, misalnya mau belajar on line tapi tidak ada jaringan, makanya Bonar menyuruh Dias naik ke atas pohon mencari jaringan, karena selama covid-19, belajar lewat on line, sedangkan Dias, Burhan tak punya Hp, yang punya hp Cuma Fatimah, Dias sangat senang sekali dengan Pak Presiden karena di kampungnya Dias sudah bisa naik oto lewat tol, Dias adalah anak yang sangat lucu diantara kawan-kawan lainnya.

Disisi lain, Fatimah usia 11-12 tahun, Suku Minang, Fatimah ini punya impian dan cita-cita menjadi Paskibrata 17 agustus di Istana Negara bersama Pak Presiden. Fatimah berdarah Minang, cantik dan cerdas, pinter mengaji, dan Bonar selalu deketin Fatimah dan menjadi sahabat Bonar.

Fatimah bercerita tentang daerahnya bahwa daerahnya juga dibangun tol lintas Sumatera, jadi keluargaku disana kalau mau ke Palembang sudah enak, karena tolnya bagus sekali, jadi memang pak Presiden Joko Widodo layak jadi Presiden seumur hidup, lalu dibantah oleh Adam, tidak bisa, ini negara demokrasi, dan juga ada undang-undang, terjadilah perdebatan di antara mereka, dan masing-masing mereka keluar logat daerahnya.

Fatimah tetap memuji Pak Presiden, dan berdoa, ya Allah, berikanlah umur panjang Pak Presiden dan bisa menjadi Presiden seumur hidup, Adam ngaurrr kamu Fatimah. Kemunculan Adam usia 12 tahun, Suku Manado, Adam memang pinter dan kritis, ia bercita-cita menjadi politikus yang hebat, politikus yang berani, ingin menyelamatkan Indonesia dari para koruptor bangsa.

Adam sering kali melakukan perdebatan dengan Bonar, Adam menyampaikan kalau Indonesia ini harus diselamatkan oleh orang-orang yang berani, jadi Presiden Jokowi itu harus ada yang bantu untuk mengadili para penghianat bangsa, Indonesia bisa maju karena Presiden kita merakyat dan berani mengambil keputusan, seperti ibu kota Negara ( IKN ) kenapa harus pindah ke Kalimantan karena Kalimantan merasa aman dan membuka birokrasi yang nyaman. Jadi pak Presiden memang sangat bagus.

Contoh di daerah banyak sekali masyarakat yang memiliki tanah tidak punya sertifikat, nah sekarang pak Presiden membagikan sertifikat gratis, kenapa itu dilakukan karena pak Presiden benar-benar membela rakyatnya. Lalu Burhan nyeletuk pintar sekali kau Adam.

Terasa tenang dengan munculnya Dahlia usia 11-12 tahun, Suku Sunda, yang memiliki suara bagus, bercita-cita menjadi penyanyi internasional seperti Agnes Monica, Burhan pun sangat semangat karena Dahlia bisa menjadi teman dekatnya, Dahlia bisa di bilang kembang desa bersuara merdu.

Dahlia merasa sangat perihatin dengan kondisi ekonomi sekarang ini di akibatkan Indonesia dilanda, covid -19. Tapi pak Presiden tetap membangun Indonesia demi adanya pemerataan bisnis antar pulau, seperti pak Presiden mampu menyamakan harga bensin dan semen Papua dan Jakarta, inilah kehebatan Pak Presiden kita, tak mengenal lelah dan cape yang penting rakyatnya bahagia, disisi lain banyak yang menghina dan menfitnah, Pak Presiden tak pernah gentar dengan hal itu, Pak presiden tetap maju.

Aku bangga, namaku Feny Yan, usia 11-12 tahun, Suku China, bercita-cita menjadi dokter, dengan adanya penyakit wabah ini alias covid -19, maka saya bercita-cita menjadi dokter, kenapa saya ingin jadi dokter supaya orang-orang bisa dibantu dari segala penyakit, karena saya pengen membantu orang-orang miskin sembuh dari penyakit tanpa harus bayar, ini kan niat mulia supaya Pak Presiden bisa terbantu dari kita sebagai rakyatnya, kan semua yang kita lakukan tidak harus semua dengan bisnis kan, Indonesia perlu diselamatkan dari orang-orang hebat.

Pak presiden misalnya merakyat karena memiliki cinta dan kasih sayang pada rakyatnya, saya orang China, saya bangga menjadi warga Negara Indonesia, karena aku suka dengan Indonesia.

Jayanti usia 11-12 tahun, Suku Bali, bercita-cita menjadi Jaksa Agung, kenapa aku bercita-cita menjadi Jaksa Agung, karena merasa Indonesia butuh orang hebat untuk membantu rakyat kecil yang sering kali kita lihat tersandung kasus hukum, banyak mafia tanah di negeri ini, banyak para koruptor tanah orang dirampas oleh para mafia, maka aku sangat cinta dengan Pak presiden, yang salah tetap salah dan itu pak Presiden menyampaikan.

Pak Presiden pun menyampaikan bahwa salah tetap diproses hukum dan diadili se-adil-adilnya. Shole, usia 11-12 tahun, Suku Betawi, bercita-cita menjadi Polisi, aku Shole asli ane orang Betawi, ane pengen jadi Polisi, cuma ane pendek, jadi Polisikan harusnye tinggi, jadi ane kalau jadi Polisi kan bisa bantu pak Presiden nangkappin para koruptor, kasian rakyat sudah bayar pajak tapi pada dimakan para koruptor, jadi kalau para koruptor ditanggep kan Indonesia dan Negara kite aman.

Candra dan Gendis, kadang menangis dan kangen orang tuanya, karena-kadang anak ini kekurangan makan, sedang Candra dan Gendis serta 10 kawan-kawannya bermimpi bisa menjadi Paskibraka di istana Negara.

Suatu malam Candra terbangun pada jam 1 malam, lalu berdiri dari tempat tidurnya mengambil air wudhu, dengan niat melaksanakan Sholat Tahajjud, setelah tunaikan Sholatnya lalu Candra berdoa, ya Allah, ya Tuhan kami, kabulkan doaku untuk bisa menjadi Paskibaka di istana Negara bersama Pak Presiden, ya Allah, ini adalah hadiah untuk kedua orang tuaku, amin.

Ibu Asma usia 25-30 tahun adalah sosok guru bahasa Indonesia di sekolah dasar Bontosila, setiap hari ia berjalan kaki kurang lebih 15 kilo meter dari rumahnya, Ibu Asma memiliki semangat untuk membantu anak-anak ini dapat mengerti berbahasa Indonesia yang benar, Ibu Asma mengajar menjadi guru tidak digaji dari pemerintah, karena sekolah ini dibangun oleh Pak Darmawan secara inisiatif sendiri,

Ketika Candra berjalan pulang, ia melewati sekolahannya. Ia melihat ada mobil yang memasuki halaman sekolah untuk berputar arah. Ketika mundur mobil itu menabrak tiang bendera dari bambu yang tertancap di halaman sekolah. Mobil itu terus melaju meninggalkan halaman sekolah. Candra melihat tiang bendera dari bambu tersebut hendak roboh. Ia berlari menuju halaman sekolah hendakmenyentuh tanah, lantaran tiangnya roboh. Dengan sigap, Candra berhasil menyelamatkan bendera merah putih, meski siku lecet dan baju kaos yang ia pakai berlepotan tanah.

Pak Asnawi, usia 35-40 tahun, Pak Asnawi adalah asli Jawa dan memiliki ternak kambing, sapi dan kuda dikampung itu, salah satunya kambing yang dipelihara oleh Candra dan Gandis itu adalah milik Pak Asnawi, Pak Asnawi adalah orang baik, kadang Candra dan Gandis di kasih makan dan lain-lain.

Perayaan 17 agustus 3 hari lagi, maka Candra dan Gandis ingin agar bendera sang Merah Putih tetap ia kibarkan di hari Kemerdekaan, maka Candra mengambil baju Gandis yang putih dan celana Candra warna merah, mereka gunting lalu dijahit menjadi bendera, tiba besok paginya mereka berdua dan dua kambingnya berlari menuju tengah sawah menancapkan bambu itu di pematang sawah, sebelum matahari terbit, lalu berdua menyanyikan lagu Indonesia Raya serta kambingnya ikut hormat bendera.(JNY/Red).

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@pewarta-indonesia.com. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA