by

Gajinya dari Allah

Loading…

KOPI, Jakarta – Abdullah, teman sekelasku di SD dan SMP. Juga di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di Desa Tegalgubug, Arjawinangun Cirebon. Aku baru pisah dengan Abdullah ketika masuk SMA. Aku di SMAN Palimanan, Abdullah ke Ponpes Raudhatut Thalibin, Jojogan Bojonegoro.

Selesai nyantri, Abdullah mengajar dan muruk ngaji di masjid besar Tegalgubug. Tak hanya muruk, Dullah juga jadi imam salat, bebersih masjid, dan macam-macam.

“Dullah, berapa gajimu mengajar dan bekerja di masjid?” tanyaku.

“Ikhlas saja, Din. Allah yang menggajiku nanti,” katanya sambil tersenyum.

Untuk menopang hidup keluarganya dengan empat anak, Abdullah jadi tukang obras. Hasilnya hanya pas-pasan utk makan. Bahkan kurang.

Sudah hidup seadanya, Dullah dapat ujian berat. Istrinya meninggal ketika anak-anaknya masih kecil.

“Allah berkehendak seperti itu. Apa yang bisa aku perbuat? Aku ikhlas menerima takdir ini,” tuturnya kepadaku.

Masih dalam suasana duka, anak keduanya terkena sakit panas. Step. Suhu badannya tinggi. Dullah pun membawanya ke rumah sakit. Sambil berdoa, ia berharap anaknya sembuh.

“Allah Maha Baik. Ajam akhirnya sembuh,” ungkapnya. “Tapi Din, setelah sembuh, Ajam jadi aneh. Senang membaca dan dapat mengingat apa yang dibacanya sampai pada halaman, baris, dan titik komanya. Otaknya seperti kaset rekaman.”

Dengan otak aneh itu, Ajam pun jadi juara di SD, SMP, dan SMA. Abdullah selalu mendampingi Ajam tiap selesai ujian nasional karena dia selalu juara satu di sekolahnya. Tamat SMA, Ajam masuk STAN dan lulus sumacumlaude, terus bekerja di Bank Indonesia.

Anak pertamanya, kakaknya Ajam, sukses berbisnis konveksi. Adiknya Ajam selesai Farmasi ITB fulbeasiswa dan bekerja di Indofarma. Si bungsu jadi orang kepercayaan bos Resto Pringsewu. Setelah semua anaknya sukses, Abdullah menikah lagi dengan wanita pengusaha kaya raya. Muda dan cantik lagi.

Aku membatin, inilah gaji dari Allah yang diterima Abdullah. Jauh lebih besar dan berharga ketimbang gaji 8 juta yang ditolak lulusan UI karena merasa hebring dan pantas mendapat gaji yang lebih besar dari perusahaan asing.

Abdullah kini hidup bahagia dengan anak-anak dan cucunya yang saleh dan berlimpah harta. “Inilah takdir Din. Kita tak tahu akan jadi apa nanti. Semuanya sudah tertulis di Lauh Mahfud,” kata Dullah menerawang kehidupannya dulu dan sekarang.

“Gaji dari Allah itu nyata,” batinku.

Tak terasa aku pun mbrebes mili, mengagumi keikhlasan teman kecilku dalam bekerja dan beribadah untuk Allah. Karena Dullah menyerahkan semua keinginannya kepada Allah, maka Allah pun memenuhi semua keinginan Abdullah demi ridhaNya yang tak terbatas. Subhanallah.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

BACA JUGA...