by

Islam dan Multikulturalisme

KOPI, Bekasi – Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah.

Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah memfosil. Bahkan sudah jadi teologi. Karena itu, tantangan terbesar multikulturalisme terletak pada kegigihannya untuk menjinakkan teologi radikal yang mengabaikan kondisi sosiokultural masyarakat.

Di sinilah letak seni dari perjuangan menegakkan multikulturalisme. Yaitu memperjuangkan toleransi dan pluralisme dalam damai.

Jika multikulturalisme diperjuangkan dengan kekerasan, maka ia akan sama saja dengan terorisme itu sendiri. Ini ironis sebab terorisme tumbuh dari sikap antimultikulturalisme.

Dengan demikian, multikulturalisme perlu ditanamkan kepada umat bahwa ia merupakan kenyataan sosio-kultural yang tak terhindarkan. Karena itu, Allah memberikan ruang terhadap perbedaan dalam berkeyakinan dan beragama.

Dalam kaitan ini, sepanjang sejarahnya Islam menghadapi tantangan antara doktrin Islam dengan realitas sosial. Tapi dalam pergulatan sejarah itu, Islam bisa mendamaikan antara doktrin dan kenyataan sosial kultural tersebut.

Tatkala doktrin pokok al-Qur’an tentang ritual keagamaan, misalnya, memerlukan rumusan terinci agar aplikatif, ketika itu pulalah para ahli fikih bisa mempertimbangkan faktor sosial kultural. Karena itulah tercipta perbedaan-perbedaan antarmadzhab (rujukan dalam peribadatan dan hubungan antarmanusia).

Imam Syafi’i, misalnya, mengembangkan apa yang disebut qawl al-qadim (norma lama) ketika di Irak dan qawl al-jadid (norma baru) ketika ia pindah ke Mesir. Jadi sejak awal perkembangannya, Islam telah mengakomodasi realitas sosio-kultural.

Akomodasi ini semakin terlihat ketika Islam tersebar ke seluruh dunia. Pada kasus-kasus tertentu, akomodasi itu terbentuk sedemikian rupa, sehingga memunculkan varian Islam yang berbagai rupa sebagai penegasan Islam rahmatan lil alamin.

Sebagai bahan renungan terkait multikulturalisme, ada baiknya kita membaca puisi Ibnul Arabi. Mursyid kaum sufi ini, dalam Tarjuman al Asywaq (Puisi Kerinduan), menulis:

Sebelum ini aku benci sahabatku
Jika agamanya tak sama denganku
Kini, hatiku telah terbuka
Terhadap segala realitas budaya.
Di padang rumput dan rusa
Di gereja para rahib dan pendeta
Di Kuil-kuil penyembah berhala
Di Ka’bah orang-orang tawaf
Di lempengan-lempengan taurat
Di gulungan injil penuh mukjizat
Di lembar-lembar Qur-an al-mushaf
Di situ aku mabuk cinta
Di Segala Yang Ada
Karena hakikatnya
ENGKAU jualah yang Ada
Hanya kepadaMU aku memuja

Syair cinta Ibnu Arabi di atas dimensinya sangat luas. Syair di atas tak hanya merefleksikan cinta kepada Tuhan. Tapi juga cinta kemanusiaan.

Cinta yang suci membentangkan kesadaran manusia bagaimana menghadapi realitas; baik sebagai mahluk sosial maupun makhluk spiritual. Kesadaran ini penting agar manusia mengenal dan menghayati makna ma’rifat lebih luas. Tak hanya melihat Tuhan dalam dirinya. Tapi juga melihat Tuhan dalam diri orang lain.

Dalam bahasa Maulana Jalaludin Rumi digambarkan: Jika anda belum mengenal Tuhan di wajah orang lain, berarti anda belum mengenal Tuhan dalam dirimu sendiri.

Itulah universalitas Islam. Luas membentang di segala penjuru kesadaran manusia. Tuhan tak hanya hadir dalam samudera. Tapi juga hadir dalam setetes air dalam diri kita! Dan manusia adalah samudera dalam setetes air itu!

Sekali lagi, Ibnul Arabi menggambarkan betapa ma’rifah menjadi inti untuk membangun kebersamaan dalam keberagamaan. Dalam konteks ma’rifah inilah kita harus memahami pesan ayat al Qur-an: “li ta’arafu” sehingga bermakna bahwa sesama manusia harus saling mengenal, memahami dan mencintai, meskipun satu sama lain berbeda.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA