by

Ukhuwah dan Dinamika Internal



Opini Oleh: Hanafi Tasra


KOPI, OPINI – Paling tidak, ada tiga alasan mengapa kaum muslimin perlu membangun ukhuwah Islamiyyah :
*Pertama,* karena hidup bagi seorang muslim, tidak hanya sekedar memenuhi hajat kebutuhan yang bersifat kebendaan semata, akan tetapi ia memerlukan sesuatu yang lebih tinggi dari itu semua, yakni apa yang disebut dengan *Aqidah.*
Dan sebagai milik ruhani yang tak ternilai harganya, Aqidah ini kudu dipertahankan dan sekaligus disosialisasikan.
Dipertahankan, dalam pengertian ia benar-benar menjadi sebuah komitmen dalam diri pribadi setiap muslim. Dan disosialisasikan, berarti aqidah itu perlu ditransformasikan, sehingga masyarakat dimana muslim berada, mampu memahami hakikat aqidah Islamiyyah dengan benar.
Hal ini, memerlukan perjuangan yang tak kenal menyerah. Dan perjuangan itu akan efektif, jika dilakukan secara berjama’ah.
*Kedua,* seorang muslim seyogyanya menyadari bahwa masing masing umat itu memiliki kiblat dan orientasi yang berbeda, dimana semuanya berjalan menuju arah dan target yang ingin mereka capai.
Dengan demikian, dapat dirasakan betapa padat dan hiruk pikuknya lalu lintas kehidupan ini dengan kendaraan ideologi yang sarat muatan keyakinan. Kaum muslimin adalah satu diantara penumpang- penumpang kendaraan itu.
Itu sebabnya, mengapa Al Quran S Al Baqarah ayat 148 mengingatkan kita akan situasi itu, dan memacu kaum muslimin dalam lomba pengekspressian ideologi dengan tampilan yang fair dan simpatik.
Setiap perlombaan, memerlukan kebersamaan dan ukhuwah.
*Ketiga,* dalam menghadapi musuh-musuh Allah, dimana kaum muslimin wajib mengklaim sebagai musuh mereka juga, maka musuh bersama itu, harus dilawan secara bersama-sama pula. Bahkan Al Quran menganjurkan untuk menyusun strategi perlawanan dengan formasi berlapis. (QS Ash Shaf (37): 4).

*Anasir Pemelihara Ukhuwah*

Dikala ukhuwah telah berhasil ditegakkan, agar bangunan ukhuwah itu tidak lapuk dimakan usia, maka ia berhajat kepada perawatan (maintenance).
Diantara elemen yang dapat dijadikan sebagai alat perawat ukhuwah ialah :
1. Kerelaan berkorban.
Sikap rela mengorbankan kepentingan diri pribadi untuk kepentingan bersama (I-tsar) digambarkan dalam Al Quran, sebagaimana telah diperankan secara baik oleh kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.
Inilah tipe ideal dari sebuah masyarakat yang hidup dalam suasana kebersamaan yang tulus. Orang Anshar lebih mengutamakan saudaranya, kaum Muhajirin. (QS al Hasyr (59): 9).
2. Saling Memperkuat.
Sesama muslim dianjurkan saling melindungi, bukan saling menjegal. Saling memperkuat, bukan saling melemahkan. Saling menolong, bukan saling menggolong. Singkat kata, sesama muslim hendaknya selalu berupaya mengamalkan apa yang diperintahkan Allah dalam Al Quran s At Taubah (9): 71, dan berupaya pula menjauhi larangan-Nya dalam Al Quran s Al Hujurat (49): 11.

3. Memegang Teguh Prinsip Musyawarah
Musyawarah berasal dari kata Syura, yang berarti merundingkan suatu perkara. Perkara yang mana ? Perkara yang bersifat teknis implementatif yang belum terdapat petunjuk agama secara jelas dan pasti.
Rasulullah sendiri, adalah seorang yang paling senang bermusyawarah. Sehingga Abu Hurairah pernah mengatakan: “Tidak seorang pun yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya, melebihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Musyawarah, memanglah sebuah prinsip yang dengannya orang merasa dihargai pendapatnya, dan diakui keberadaannya. Dengan kata lain, ketika orang diajak bermusyawarah, maka orang akan merasa diangkat harkat dan martabat kemanusiaannya.
Sebaliknya, sikap *otoriter,* dimana segala urusan diputuskan secara sendirian, tanpa melibatkan orang lain dan memaksakan kehendaknya, itu adalah sebuah pelecehan terhadap harkat dan martabat manusia. Karenanya, tergolong kategori zhalim.

*Dinamika Ukhuwah*

Grafik ukhuwah kaum muslimin senantiasa sejalan atau berbanding lurus dengan turun naiknya Iman. Ketika Iman menaik (Yazid), maka rasa persaudaraan akan bertambah mesra. Ketika Iman menurun (Yanqush), dengan sendirinya, hubungan menjadi renggang pula. Bahkan pada saat Iman pada posisi Yanqush, terdapat titik-titik rawan, yang kalau tidak berhati-hati akan menimbulkan gesekan kecil , yang sesungguhnya tidak perlu.
Gesekan kecil tersebut, walaupun perlu diwaspadai dan diantisipasi, namun ia merupakan hal biasa yang tidak perlu dirisaukan. Karena yang demikian itu, bagian dari sentuhan interaksi orang bersaudara, yang dalam ungkapan lain, boleh juga disebut sebagai *dinamika ukhuwah*
Bukan saja di zaman kita, di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun terjadi kesalahpahaman di kalangan Muhajirin dan Anshar yang nyaris berlanjut ke bentrokan fisik.
Untungnya, Rasulullah segera datang menengahi, sehingga situasi yang tadinya memanas, menjadi adem.
Yang menarik dari peristiwa itu ialah bagaimana Rasulullah merespon konflik internal kaum muslimin itu, dengan komentar singkat : “Laa ba’sa” (Tidak apa-apa).
Dengan komentar itu, Beliau yang terkenal dengan sikap bijaksananya, seolah ingin menyampaikan bahwa, itu bukanlah persoalan besar yang tidak bisa diselesaikan. Itu hanyalah bagian dari dinamika internal. Lalu beliau melakukan *ishlah* berdasarkan pertimbangan objektif, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. Yang benar, dinyatakan benar. Yang salah, dinyatakan salah. Semua itu, berlangsung di bawah payung ukhuwah, yang barangkali dapat juga disebut sebagai cara penyelesaian konflik internal dengan *mekanisme pertolongan ukhuwah*
Istilah ini didasarkan kepada Sabda Rasulullah: “Tolonglah saudaramu, baik yang menzhalimi maupun yang dizhalimi.” (HR.Muslim).

Akhirul kalam, Ukhuwah Islamiyah bisa bersinambung, dan mekanisme penyelesaian konflik internal ala Rasulullah dapat ditegakkan dan diterima oleh Umat, ketika semuanya menyadari bahwa, *orang mukmin itu bersaudara.*
Ini berarti, bilamana mendambakan Ukhuwah menjadi kokoh, jadikan Iman sebagai platfomnya. Sebab dengan begitu, orang akan memiliki komitmen yang sama. Dari komitmen yang sama dapat tercipta suasana yang harmonis.
Meskipun terjadi perbedaan pendapat, bahkan konflik sekalipun, in syaa Allah dapat dikembalikan kepada rujukan yang sama, yakni Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. (QS an Nisa’ (4): 59).
Dengan demikian, kaum muslimin akan memperoleh penyelesaian yang permanen, In Syaa’ Allah.

Tulisan opini oleh : Hanafi Tasra

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected] Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA