by

Memberi Ruang Akses Para Penggemar Buku

Oleh: Muhammad Mufti AM

KOPI, Yogyakarta – Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak terhadap dunia perbukuan serta aktivitas membaca. Perkembangan itu ditandai kehadiran buku digital seiring perubahan pola membaca masyarakat. Buku atau media cetak yang biasa dikonsumsi beralih ke bentuk elektronik. Sumber-sumber informasi lainnya pun mudah didapat bermodalkan perangkat terhubung ke internet.

Kenyataan itu bukan pertanda masyarakat lantas beramai-ramai meninggalkan buku cetak. Para penikmat buku ternyata tetaplah ada di tengah tren informasi berbasis elektronik. Karakter membaca buku cetak dan buku digital jelas sangat berbeda. Ada sensasi tersendiri saat orang membuka halaman demi halaman dibanding membaca buku elektronik. Ibarat roti kering dan roti basah, keduanya menyuguhkan sensasi rasa berbeda.

Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengisyaratkan pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu. Contohnya pojok baca di tempat-tempat tertentu atau layanan publik. Amanat tersebut direspon lembaga perpustakaan, taman bacaan masyarakat bersama para penggiat literasi. Orientasinya meningkatkan minat baca dan memberikan ruang akses bagi para penggemar buku.

Keberadaan komunitas buku, komunitas baca, kegiatan diskusi buku, taman bacaan, hingga komunitas pustaka bergerak di Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas membaca buku cetak belumlah habis. Para penggiat literasi berupaya mendekatkan buku sekaligus mempertahankan prinsip agar membaca buku tetap digemari. Mereka sebenarnya tidak tinggal diam. Berbekal sarana seadanya, para penggiat literasi mendistribusikan buku ke pelosok desa. Mereka menggelar lapak baca, baik secara perorangan maupun mengajak jaringannya masing-masing.

Inisiatif perorangan di daerah bermunculan memberi ruang akses para penggemar buku. Perahu pustaka dicetuskan Muhammad Ridwan Alimuddin di Sulawesi Barat. Ia mengantarkan bacaan kepada warga di pulau-pulau terpencil. Perahu pustaka juga menjadi terobosan Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair). Kepolisian mengoperasikan kapal patroli sebagai perpustakaan keliling membantu pendidikan anak-anak dan masyarakat pesisir perairan.

Di Purbalingga Jawa Tengah muncul kuda pustaka gagasan Ridwan Sururi. Dia berkeliling menawarkan buku  bacaan pada anak-anak. Hal serupa dijalankan oleh Sugeng Hariyono (Lampung Selatan) dengan motor pustaka. Sementara di Yogyakarta, mbah Topo mengelola becak pustaka. Pensiunan militer Kodim 0734/Yogyakarta berusia 70 tahun ini turut memberi kesan tersendiri. Usia tidak mengurangi semangat aktifnya mengajak masyarakat membaca.

Mengusung semangat yang sama, Muhammad Pian Sopian bersama istrinya Elis Ratna Suminar makin membawa ragam dunia membaca dengan angkot pustakanya di Bandung. Gagasan membuat perpustakaan kecil dalam angkotnya memperoleh apresiasi penghargaan dari Presiden RI. Meski tidak luput dari komentar sinis, tetapi tak sedikit masyarakat memberikan pujian atas inisiatifnya menyajikan buku.

Angkot pustaka ini kemudian diadopsi Dinas Perhubungan Kota Bandung bekerja sama komunitas literasi setempat menggulirkan angkot pintar. Realisasinya, sejumlah angkot dilengkapi perpustakaan kecil dengan tujuan membiasakan masyarakat membaca agar terbangun budaya literasi. Masih banyak lagi aktivitas nyata para relawan ataupun penggerak literasi. Mereka bergerak tanpa mengharapkan imbalan.

Harus diakui, pemerintah telah berupaya meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memberikan ruang akses para penggemar buku. Misalnya menggelar pameran buku, membuka pojok baca di layanan publik, memfasilitasi gazebo baca, program bank buku, donasi atau hibah buku, hingga mendirikan taman bacaan. Demikian pula kampung-kampung literasi dibentuk guna memberi ruang akses masyarakat terhadap buku.

Langkah positif memfasilitasi masyarakat mestinya tak hanya digulirkan lembaga pemerintah saja. Pihak swasta seperti rumah sakit, bank, hotel, serta perusahaan penyedia transportasi umum pun boleh mengupayakannya. Program pemerintah mewujudkan masyarakat membaca perlu didukung. Transportasi seperti kereta api, kapal, pesawat terbang berpotensi besar menambah ruang akses dan mendekatkan buku pada masyarakat sebagaimana angkot pustaka di Bandung.

Kereta api memberikan ruang lebih bagi tersedianya buku bacaan. Di Indonesia, kereta pustaka sebetulnya pernah dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) beberapa tahun silam. Kereta Pustaka Indonesia merespon progam pemerintah mendekatkan buku pada masyarakat. Sayangnya, Kereta Pustaka Indonesia ini akhirnya masuk Museum Kereta Api Ambarawa lantaran umur gerbongnya sudah tua.

Memberi ruang akses para penggemar buku mestinya tetap berlangsung setelah era Kereta Pustaka Indonesia. Caranya sederhana, buku diletakkan di kantung kursi penumpang atau bisa juga setiap gerbongnya dibuatkan semacam pojok baca. Kalau semua armada KAI dibuatkan satu gerbong baca khusus, tentu akan sangat berarti. Penumpang yang merasa bosan di tempat duduk punya pilihan membaca di gerbong pustaka. Konsep Kereta Pustaka Indonesia dilahirkan kembali karena memberikan wawasan seputar perkereta-apian Indonesia di samping informasi lainnya.

Cukup beralasan bila Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sampai meminta setiap stasiun MRT di Jakarta menyediakan semacam perpustakaan. Ia ingin masyarakat memanfaatkan waktunya, merangsang minat baca sambil memberikan sebuah pengalaman membaca di perjalanan. Satu hal yang pantas diapresiasi mengingat masyarakat penggemar buku berkesempatan mengakses bacaan di tempat umum.

Transportasi kapal, terutama jenis kapal pesiar di desain dengan ruang berkapasitas ribuan penumpang. Kapal memiliki keunggulan tersendiri dibanding sarana transportasi lainnya. Perusahaan pelayaran dapat memberikan fasilitas perpustakaan lengkap. Upaya mendekatkan buku pada penumpang bakal berjalan optimal jika diimbangi penempatan pustakawan sesuai undang-undang.

Dalam sejumlah penerbangan, saya sempat memperhatikan ada saja penumpang membaca buku selama perjalanan. Memang tak banyak, tentunya mereka bawa buku milik sendiri. Di beberapa armada penerbangan belum pernah saya jumpai adanya buku bacaan umum, kecuali majalah terbitan perusahaan penerbangan bersangkutan. Armada pesawat dari maskapai tertentu jelas dibekali perangkat elektronik khusus yang boleh diakses penumpang, namun para penggemar buku berbeda kebutuhannya.

Tahun lalu, Maskapai EasyJet dari Eropa mengumumkan membuat fasilitas perpustakaan dalam penerbangan. Perpustakaan disediakan bagi penumpang yang membawa anak kecil. Perpustakaannya diklaim memiliki 60 ribu koleksi untuk 300 penerbangan. Fantastis memang,  apalagi masyarakat Eropa tergolong tinggi minat bacanya.

Setidaknya dari pengalaman, kita mengetahui bahwa kaum penggemar buku tetaplah ada. Menyuguhkan buku di transportasi udara bukan berarti membuat perpustakaan umum. Pojok baca di pesawat hanyalah menyediakan buku bacaan sebagai alternatif menikmati penerbangan.

Bagi para penggemar buku, membaca adalah satu aktivitas mengasyikkan ketika menjalani penerbangan panjang. Buku dijadikan teman saat menembus dirgantara sekaligus alternatif mengatasi kejenuhan. Cukup buku bacaan ringan tanpa mengesampingkan sisi hiburan, informasi dan pengetahuan. Prinsipnya seperti pojok baca tapi dikemas sederhana. Buku ditempatkan di kantung kursi penumpang.

Ada banyak alasan mengapa transpostasi umum perlu memfasilitasi buku. Pertama, buku berpotensi merangsang minat membaca kalangan anak-anak. Sesuatu di sekitar penumpang pasti menarik perhatian, biarpun hanya sebuah buku. Paling tidak, penempatan sedemikian rupa membuat penumpang merasa ingin tahu. Lima hukum perpustakaan menurut pustakawan India, Shiyali Ramamrita Ranganathan terkait langsung. Tiga di antaranya ialah buku untuk digunakan (books are for use), setiap pembaca ada bukunya (every reader his or her books), dan setiap buku ada pembacanya (every book its reader).

Kedua, buku mengurangi kejenuhan terutama perjalanan di angkasa berdurasi lama. Minimnya aktivitas seringkali membuat penumpang merasa bingung. Orang biasanya tidur, sedangkan perangkat elektronik pribadi tidak boleh nyala sesuai peraturan penerbangan yang kerap disampaikan kru pesawat. Buku bacaan jadi solusi mengatasinya.

Ketiga, buku membuat penumpang aktif. Tentu bagus kalau tersedia daftar bukunya. Penumpang  dipersilakan memilih mau membaca buku bertema apa. Buku bertema menarik pasti membuatnya terus aktif membaca sampai tuntas. Membaca buku meminimalisir pikiran negatif selama pesawat mengudara. Hal terpenting adalah buku menambah keilmuan, wawasan, serta  pengetahuan. Sebagian masyarakat termasuk kalangan akademisi masih percaya dan menganggap bahwa pengetahuan asli utuh ada di dalam buku.

Ungkapan ‘buku jendela dunia’ sudah seringkali terdengar. Aktivitas menjelajah dunia melalui buku tetap terbuka tatkala bepergian menggunakan transportasi umum. Memberikan fasilitas bacaan bukan hanya dominasi pemerintah saja. Siapapun punya peluang dan kesempatan berkontribusi membentuk bangsa berkarakter membaca. Karena itu, sangatlah bijak apabila semua pihak turut memberikan ruang akses masyarakat penggemar buku.*

Muhammad Mufti AM, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY, Anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA