by

Tamu yang Tak Diundang

Loading…

KOPI, Jakarta – Langit Jakarta buram. Butir-butir debu memekatkan atmosfir di atas Tugu Monas. Kondisi kota terjajah debu yang menyesakkan dada itu, tragisnya tak berubah, meski banyak orang pintar berkantor di Jakarta.

Tak peduli udara kotor yang menyebarkan aroma sampah, usai liputan seminar genetic engineering (GE) di kantor BPPT, Thamrin, Dino langsung pulang ke kantornya. Di gedung koran Sinar Harapan (SH), Jalan Dewi Sartika, Jaktim.

Turun dari taksi Blue Bird, Dino langsung lari ke lantai dua, tempat meja kerjanya. Segera Dino bikin berita seminar GE agar bisa terbit besok paginya. Hanya 10 menit berita seminar itu selesai. Maklum, Jumat besok halaman iptek nyaris habis untuk iklan Pertamina. Space hanya tersisa 1500 karakter. Jadinya Dino menulis berita penting itu sedikit sekali.

“Pak Dino, ada tamu,” suara resepsionis memberitahu. Just you know, Dino adalah panggilan akrab Luthfi Jamal Wal Abshar (Luthfi JWA). Dino adalah nama kecilnya. Nama di KTP, Luthfi JWA.

Dino langsung ke lobi kantor harian SH di lantai dasar.

“Mana tamunya?,” tanya Dino pada resepsionis.

“Itu tuh di ruang tamu. Menunggu Pak Dino!”

Wow…. Dino kaget bukan main. Ternyata tamu tak diundang itu Rita. Mantan kekasihnya waktu masih bekerja di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Serpong, Tangerang.

“Hai Rita. Apa kabar. Sudah 15 tahun kita tak jumpa!”

“Ya Mas Dino. Aku kebetulan sedang ada keperluan di koran SH. Mau pasang iklan untuk pameran hasil penelitian Batan minggu depan di aula gedung Departemen Pertanian, Pasar Minggu!”

Dino langsung mengulurkan tangan. Salaman. Rita memegang tangan Dino erat sekali. Dino pun sama. Ia tak mau melepaskan genggaman tangan wanita tengah baya itu. Maklum. Bagi Dino, wajah perempuan berbaju batik coklat motif abstrak itu melambungkan sejuta kenangan.

Setelah mengobrol basa-basi menanyakan kabar, Dino langsung mengajak Rita ke luar kantor. Dino tampaknya tak ingin ngobrolnya terganggu teman-temannya di kantor koran SH yang ramai.

Dino, pria tinggi 170 cm, kulit kuning dan hidung mancung — saat itu berbaju coklat dan celana hitam — masih tampak muda, meski usianya sudah 40-an. Sementara Rita — mantan kekasihnya di kantor Batan, tiga tahun lebih muda — masih tampak anggun. Rita yang rajin olah raga, badannya terlihat masih kencang, meski agak gemuk sedikit. Dengan tinggi 165 cm, hidung sedang, lesung pipit, kulit coklat dan rambut lurus sebahu — berbusana batik motif abstrak warna coklat — Rita kelihatan makin anggun dan elegan.

“Yok, kita pergi ke Kemang. Ada undangan dari Setiawan Djodi. Ia mau konferensi pers tentang pertunjukan Kantata Takwa di Senayan malam Minggu besok.”

Rita pun mengangguk. Dengan memakai sedan Toyota Vios warna hitam model terbaru, Dino dan Rita meluncur ke Kemang. Dalam perjalanan, Dino mengobrol berbagai macam pengalaman hidupnya selama ini. Sejak Dino keluar dari Batan sampai kerja di koran SH. Sopir sudah diberitahu Dino tujuannya ke Resto Seafood Kemang Kampong, 200 meter setelah supermarket KemChick arah Blok M.

Rita tidak aneh jika Dino jadi wartawan setelah keluar dari Batan. Ia sudah tahu Dino seorang penulis sejak berkenalan di Batan, 15 tahun lalu. Dino berpisah dengan Rita karena terikat perjanjian. Kalau putus cinta, salah seorang darinya harus keluar dari Batan. Maka, ketika benar-benar putus, Dinolah yang keluar. Saat itu, tak mungkin Rita keluar dari Batan karena sedang menempuh pendidikan bidang nuclear engineering di Tokyo Institute of Technology, Jepang.

Ketika sudah berada di dalam mobil, Dino bertanya, “Rita, masih ingat kenangan ketika mau berangkat ke Jepang?”

“Ya dong mas. Itu tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.”

“Ayo apa yang kau ingat?”

Rita mencubit tangan Dino. Matanya mengernyit sambil tersenyum.

“Ternyata orang Cirebon itu buas!”

“Ha..ha… bukankah kamu yang buas? Seingatku kamu yang menarikku ke kamarmu!”

“Ya. Tapi kan tujuanku hanya ingin ngesun saja. Tapi kenapa Mas Dino menubrukku!”

“Tapi kan kamu mau? Bahkan kamu memelukku ganas!”

“Ah, Mas Dino kok yang memaksaku berguling-guling!”

“Sudahlah. Kita waktu itu berpikir, itulah kesempatan terakhir bertemu. Sejam kemudian kamu kan berangkat ke bandara Soeta.”

Rita tersenyum. Ia kembali memegang tangan Dino. Dino pun memegang erat tangannya. Tak peduli sopir melihatnya.

“Apa yang aku syukuri, Rita, kamu sampai menikah dengan suamimu, masih perawan. Kalau waktu itu aku mau, kamu sudah tidak perawan lagi!”

Rita terdiam. Keceriaan wajahnya yang semula membuncah tiba-tiba lenyap. Ia tampak sedih. Lalu brebes milih. Bulir-bulir air bening menetes dari pelupuk matanya.

“Kenapa Rita? Apa aku salah. Kenapa menangis?”

“Tidak Mas Dino. Mas Dino tidak pernah salah. Mas Dino pria yang baik. Bahkan teramat baik. Mas Dino tidak pernah memaksaku. Jarang ada pria seperti Mas Dino. Mas Dino jauh dari cerita petualangan cinta Chairil Anwar!”

“Ha? Kok Chairil Anwar? Kenapa tiba-tiba Rita ingat Chairil Anwar?

Rita mengambil sapu tangan dari tasnya. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan warna pink. Warna favoritnya sejak remaja.

“Aku ‘kan baca sejarah hidup Chairil Anwar setelah deklarasi cinta dengan Mas Dino. Aku waktu itu khawatir, Mas Dino yang suka menulis puisi akan menjadikan aku sebagai patung belaka. Patung pelecut imajinasi untuk menulis puisi, cerpen, dan novel. Karenanya, aku cari buku tentang petualangan cinta Chairil Anwar di toko buku loak, Senen!”

“Ternyata Mas Dino beda dengan Chairil Anwar. Mas Dino bukan pemabuk. Mas Dino masih salat. Mas Dino taat beragama. Sehingga tidak macam-macam.”

“Jelas dong. Aku pasti beda dengan Chairil. Aku orang Cirebon, kota wali. Chairil orang Medan, kota para sinyo dan noni Belanda.”

Dino jadi tersenyum mendengar pengakuan Rita yang membeli buku biografi cinta Chairil Anwar. Rita memang pernah bilang kepada Dino bahwa seniman dan sastrawan tak bisa dipercaya dalam urusan cinta dan keluarga. Rita juga pernah cerita kepada Dino tentang petulangan cinta Kahlil Gibran yang absurd. Rita merasa aneh kenapa Gibran membuat surat cinta yang sangat indah kepada May Ziadah, wanita yang katanya sangat cantik, tapi tak pernah bertemu dengannya itu. Jadi, bagi Rita cinta seorang sastrawan itu hanya khayalan. Itulah yang ditakutkan Rita ketika berpacaran dengan Dino. Rita menganggap Dino seorang sastrawan setelah mengetahui koleksi buku-buku sastra Dino di kamar kosnya.

“Mas Dino ternyata orang baik. Tak macam-macam. Masih menghormati wanita sepertiku. Kalau pun macam-macam hanya sedikit!” Rita mengerlingkan matanya ke wajah Dino.

Ia geser duduknya ke arah Dino. Rita tampaknya ingin menyuguhkan humor-humor kecil untuk menghibur diri dengan mengatakan ‘kalau pun macam-macam hanya sedikit’. Rita berpikir, Dino akan kepo dengan kalimat yang membuat penasaran itu.

“Apa yang kamu maksud – kalau pun macam-macam hanya sedikit itu, Rita?” Benar juga Dino kepo.

“Ah, ingat-ingat sendiri saja. Waktu kita dulu ke Yogya, tidur sekamar di Hotel Garuda, kan Mas Dino gak memaksaku untuk memuaskan nafsunya. Hanya sedikit, sekadar menciumku. Mas Dino biasa aja. Malah kemudian Mas Dino salat malam dan baca Quran sampai pagi! Membiarkan aku tidur sendiri.”

“Ha..ha…ha…aku sebenarnya tak tahan Rita. Tapi aku ‘kan ingat dosa. Aku ini jelek-jelek gini pernah mesantren. Tahulah konsekwensi menggauli gadis tanpa nikah. Bahaya dunia akhirat.”

Tiba-tiba Rita menutup wajahnya agak lama. Tiga menit. Entah kenapa. Setelah itu, wajahnya kelihatan sedih. Air matanya menetes saat Dino cerita tidak mau berbuat dosa dan menggauli gadis tanpa nikah. Ada apa?

Dino membatin, pasti ada something wrong di balik pernikahannya dengan Joko Wiratmo, suaminya yang sekarang. Joko adalah teman satu laboratorium Rita di Tokyo Institute of Technology. Joko alumnus UGM, bekerja di LIPI, Jakarta. Dino tahu siapa suami Rita dari Wisnukaton, temannya yang bekerja di Batan, Serpong.

“Mas Dino, tolong jaga rahasiaku. Jangan ceritakan kepada siapa-siapa.” Rita mengiba sambil mengusap air matanya. Suara Rita yang tadinya nyaring, berubah serak. Dino pun makin penasaran.

“Rahasia apa Rita? Kamu ‘kan tahu aku, luar dalam waktu masih di Batan. Ceritakan saja, aku akan pegang rahasiamu.”

“Aku terpaksa menikah dengan suamiku, Mas Joko Wiratmo, karena aku diperkosa! Maafkan, kenapa waktu itu aku memutuskan cinta Mas Dino. Aku malu kalau menikah nanti, Mas Dino tahu aku tidak perawan lagi!”

“Aku tak memberitahu kasus memalukan ini kepada bapak ibuku. Setelah diperkosa, aku menuntut Mas Joko harus menikahiku. Kalau tidak, akan aku laporkan ke kepolisian Jepang.”

“Terus bagaimana?”

“Ia ketakutan. Tahu sendiri ‘kan, perkosaan di Jepang itu hukumannya berat sekali, bisa 15 tahun penjara. Ia juga akan diberhentikan dengan tidak hormat sebagai penerima beasiswa. Kuliahnya akan beranatakan!”

Rita menyandarkan wajahnya yang basah air mata ke dada Dino. “Maaf sejuta maaf, aku terpaksa memutuskan cinta Mas Dino karena kasus memalukan itu!”

Dino terhenyak. Masya Allah! Ia tak menduga sama sekali kalau surat putus cinta dari Rita yang diterimanya karena kasus perkosaan.

Dino saat itu — putus cinta dengan Rita secara mendadak — memang shock berat. Sampai depresi. Tapi setelah terapi alternatif dengan membaca kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali dan kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, depresinya berkurang. Akhirnya, Dino mengikuti pesan theosof Jiddu Krishnamurti, untuk menyembuhkan depresinya dengan jalan mengembangkan keikhlasan dan cinta kepada sesama makhluk. Setelah itu, Dino merasa hidupnya legowo. Segala sesuatunya terasa indah. Suka dan duka, tetap indah dalam pandangannya. Ia pun ikhlas kekasihnya menikah dengan orang lain. Bahkan ia bersikap kalau Rita bahagia, Dino pun bahagia. Meski bahagianya dengan pria lain.

Dino tadinya berpikir Rita telah menemukan jodohnya yang pas. Sama-sama kuliah di universitas terbaik di Jepang. Suaminya dari Yogya. Wajahnya lembut. Kulitnya kuning. Bentuk wajahnya khas Yogya. Seperti wajah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dino tahu semua itu karena sebelum putus cinta, Rita pernah menceritakan melalui surat, ada cowok di Tokyo asal Yogya yang resek dan sering menggodanya.

“Lha, terus kenapa kamu menemuiku. Ini sudah malam, pukul 10.00. Apa suamimu tak mencarimu?”

“Dia sedang ke Prancis. Dua bulan. Ada kursus fluid mechanics di Paris.”

“Tapi sekarang kan sudah tak ada masalah. Aku lihat kamu dan Joko bahagia. Terakhir aku lihat di Facebook kamu dan Joko berlibur di Candi Borobudur.”

Sahabat Dino dari UGM, Wisnukaton, memang pernah mengirimkan foto Rita dan Joko sedang berlibur di Borobudur lewat Facebook. Itulah sebabnya Dino tahu Rita dan suaminya bahagia.

“Tidak Mas Dino. Masih ada masalah. Aku sudah menikah 10 tahun lebih, tapi belum punya anak.”

“Kalau Mas Dino anaknya berapa?”

“Tiga. Dua perempuan, satu laki-laki!”

“Pasti istrinya Mas Dino cantik!”

“Ya jelas dong, Rita. Pacarku yang dulu juga cantik,” kata Dino sambil melirik Rita.

“Siapa pacarnya yang dulu itu?”

“Ah mau tahu saja. Itu lho, doktor nuclear engineering dari Tokyo Institute of Technology.”

Rita mencubit tangan Dino sambil tersenyum. “Dasar pengarang, sukanya yang cantik-cantik saja.”

“Berapa usia istri Mas Dino?”

“Yang jelas, istriku jauh lebih muda dari kamu. Seumur dengan adik bungsumu, Nina.”

Nina, adik bungsu Rita saat Dino pacaran dengannya masih kelas tiga SMP. Ia anak keenam. Rita anak pertama.

“Siapa nama istri Mas Dino?”

“Mau tahu saja.”

“Ya dong! Mas Dino ‘kan tahu nama suamiku. Aku juga berhak tahu nama istrimu.”

“Nama istriku Amita Sitoresmi, asal Semarang.”

Keduanya terdiam. Alunan musik klasik dari Delta FM di dalam mobil terdengar lirih. Sopir sengaja mengecilkan volumenya. Dino melihat ke luar, memperhatikan kerlap-kerlip lampu hias di diskotik Maranata dekat kantor Diklat Departemen Keuangan di Kemang Raya, lewat jendela mobil. Tak lama kemudian, mobil sudah sampai di depan pom bensin Pertamina dekat belokan arah ke blok M. Berarti 200 meter lagi tiba di Resto Seafood Kemang kampong.

“Rita, kita sudah sampai di tempat konferensi pers.” Dino dan Rita langsung masuk ke dalam resto. Dino menggandeng tangan Rita menuju tempat duduk Setiawan Djodi.

“Mas Djodi, ini temanku, doktor nuclear engineering dari Jepang ingin kenalan dengan Mas Djodi,” kataku pada pimpinan band Kantata Takwa itu. Mas Djodi langsung menyalami Rita. Lalu memberikan kaos berlogo Kantata Takwa. Rita kelihatan senang menerima kaos lengan pendek warna hitam dengan tulisan Kantata Takwa warna keemasan itu. Kaos itu kalau dipakai Rita sangat pas. Cocok dengan warna kulitnya yang sawo matang.

Usai acara konpres, Dino dan Rita mengantarkan sopir pulang di Pejaten, Pasar Minggu. Soalnya sudah terlalu malam. Pukul 22. Takut istri dan anak-anaknya telah lama menunggunya di rumah.

Dino mengajak Rita mengobrol lagi di lobi hotel Sahid, Sudirman. Rita tak keberatan. Bahkan sampai pulang pagi pun, Rita mengaku siap.

Dino langsung tancap gas mobilnya dari Pasar Minggu ke jalan Jenderal Sudirman. Ke Hotel Sahid. Ia pilih sebuah meja di pojok depan dekat jendela, menghadap ke jalan Jenderal Sudirman. Dino pesan makanan kesukaan Rita, bebek panggang Vietnam. Minumannya jus apel.

Di lobi hotel yang lampunya temaram, Rita masih terlihat cantik. Kulitnya yang sawo matang belum berkerut. Lesung pipitnya masih segar. Rambutnya belum beruban. Hanya tubuhnya agak gemuk sedikit.

Dino langsung menanyakan to the point. “Kenapa belum punya anak Rita?”

“Mungkin suamiku mandul. Tapi suamiku gak mau periksa ke dokter. Dia mungkin malu kalau ketahuan mandul.”

“Aku mau punya anak dari Mas Dino saja?” Tiba-tiba Rita nyeletuk tanpa sadar. Sangat mengagetkan. Dino terhenyak.

Ha?.. Apa kamu bilang?” Rita diam. Ia menempelkan wajahnya ke telapak tangan Dino.

“Aku ingin punya anak dari Mas Dino!”

“Tidak Rita. Itu tidak mungkin. Kamu bukan milikku.”

“Jadi bagaimana? Bukankah dulu Mas Dino menyintaiku?”

“Ya itu dulu, ketika kau masih milikku!”

“Aku belum pernah jadi milikmu, Mas Dino. Kita belum pernah menikah”

“Itu betul Rita. Kita belum pernah menikah di depan penghulu. Tapi dulu, jika aku mengelus rambutmu, tak ada orang ketiga yang marah. Kalau sekarang, Joko marah. Istriku marah. Ibumu marah. Mertuamu marah. Banyak orang yang marah!”

“Mas Dino, jangan berkata seperti itu,” Rita merajuk. Ia memeluk pinggang Dino.

“Tolong Mas Dino!”

“Tolong apa?”

“Aku ingin punya anak kan tidak berarti harus berhubungan badan. Bisa saja dengan bayi tabung. Seperti inseminasi buatan. Aku hanya ingin benih dari Mas Dino. Bagaimana caranya dapat benih itu, terserah Mas Dino. Bila perlu pengambilan benihnya di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura.”

“Tetap tidak bisa Rita. Hal itu tampaknya sederhana. Tapi implikasi hukumnya panjang.”

Rita terdiam. Matanya kelihatan redup. Gairahnya lenyap. Ia pun pasrah. Rita tidak bisa membujuk Dino agar memberinya anak kepada Rita, dengan cara apa pun.

“Jadi, kita tak bisa menginap di hotel Sahid malam ini hanya sekadar untuk istirahat sebentar? Aku lelah Mas Dino,” ujar Rita dengan suara lemah.

“Tidak Rita. Aku tak mau berada di kamar hotel berdua denganmu. Kita hanya ngobrol di sini. Sampai pagi pun tidak apa. Nanti pukul enam pagi aku antar ke kantormu sebelum teman-temanmu datang.”

“Terus bagaimana solusinya agar aku punya anak?”

“Begini saja Rita. Menurut guru tasawufku, KH Ma’mur Noor di Cirebon, kalau kamu baca shalawat nabi 1000 kali sehari, permohonan apa pun kepada Allah akan dikabulkan.”

“Aku pikir, itu solusi untuk kamu agar bisa hamil. Cobalah baca shalawat 1000 kali sehari semalam. Gak lama kok. Tak sampai dua jam. Apalagi kalau baca shalawatnya tiap habis salat, dua ratus-dua ratus. Lima kali salat fardhu sehari semalam, pas 1000 shalawat.”

“Kamu bisa baca shalawat nabi kan?”

“Bisa. Mas Dino kan pernah mengajariku bacaan shalawat nabi waktu di Batan, 15 tahun lalu.”

Dino baru ingat, dulu pernah mengajari Rita bacaan shalawat. Rita gadis yang cerdas. Meski baca Qurannya tak lancar, tapi cepat sekali belajar. Hanya beberapa hari, Rita sudah hapal berbagai macam bacaan shalawat Nabi seperti yang dilantunkan penyanyi Hadad Alwi dan Sulis.

Hari itu Dino dan Rita mengobrol sampai pagi. Dino tak mau tidur bareng dengannya di kamar hotel Sahid. Dino hanya membiarkan Rita melepaskan rindunya. Semalaman Rita menyandarkan wajahnya ke dada Dino. Dino diamkan saja. Ia maklum, Rita sudah 15 tahun tak jumpa dengannya. Apalagi Rita merasa bersalah karena memutuskan cinta Dino. Padahal, Rita masih menyayanginya.

Jam enam pagi, Dino langsung ambil mobil, ngebut ke kantor Batan, Mampang Prapatan. Dari Batan, Dino langsung pulang ke rumahnya di Tangerang.

Setelah peristiwa pertemuan mendadak itu, Dino tak mau menghubungi Rita. Rita juga tak menghubungi Dino. Dino melarangnya. Takut istrinya tahu. Istri Dino, Amita Sitoresmi, peka sekali dengan gerak-gerik suaminya. Beberapa kali Dino ditegur Amita hanya karena chatting dengan kenalan wanita di FB. Hanya sekadar chatting dengan wanita, Amita bisa menebaknya. Radar jiwanya sangat peka. Amita mengaku perasaannya peka sekali setelah ikut kursus digital life science dari Dr. Andy Rakasiwi di Malang.

“Halo, Mas Dino. Ini aku, Rita!” Rita menelpon Dino tengah malam di kantor.

Rita rupanya tahu kalau Dino pulang malam karena harus menjaga halaman depan koran SH. Kata resepsionis, Rita sering menanyakan Dino, kapan ada di kantor.

“Ya Rita. Ada apa malam-malam telpon!”

“Mas Dino, aku ingin mengucapkan terimakasih atas saran baca 1000 kali shalawat nabi itu. Aku sekarang hamil enam bulan.”

“Ha! Benar? Kalau benar, alhamdulillah. Aku senang sekali mendengarnya. Semoga bayimu lahir selamat, Rita. Aku berdoa agar bayi di kandunganmu kelak menjadi anak saleh dan berbakti kepada orang tua!”

“Terima kasih Mas Dino. Aku ingin anakku seperti Mas Dino. Orang yang berani mengikuti passion dalam bekerja. Tidak tergantung pada orang lain atau institusi apa pun.”

“Oh ya, kata dokter kandungan, anakku laki-laki. Aku minta izin kepada Mas Dino, anakku akan kuberinama Dino.”

“Kenapa? Tidak takut kalau suamimu marah?”

“Mas Joko tidak tahu siapa itu Dino. Suamiku hanya tahu nama pacarku dulu di Batan, Luthfi Jamal Wal Abshar. Dia tidak tahu kalau Dino itu nama kecil Mas Luthfi.”

“Ya sudah, mana yang terbaik untukmu saja Rita. Aku hanya berpesan, jadilah wanita setia dan lupakan masa lalumu.”

“Terimakasih Mas Dino. I love you.”

“Sudahlah Rita. Kita harus menatap hidup ke depan. Jangan ke belakang. Masa lalu tak akan terulang lagi!”

The END

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Berita menarik lainnya...