by

Tenaga Medis RS Siti Aisyah Lubuklinggau Terpapar Covid-19

KOPI, Lubuklinggau – Kota Lubuklinggau menjadi zona merah atau wilayah resiko tinggi Covid-19 di Sumatra Selatan menggantikan Kota Palembang dan Kabupaten Muara Enim yang berstatus zona merah pada pekan sebelumnya.

Berdasarkan Peta Risiko Satgas Penanganan Covid-19 Kota Lubuklinggau yang ditampilkan pada laman resmi Diskominfo Kota Lubuklinggau, Jumat (18/09/2020), Kota Lubuklinggau menjadi satu-satunya zona merah di Sumsel dengan total kasus konfirmasi positif berjumlah 422 orang terkonfirmasi, 911 orang Suspek, 12 orang meninggal, 242 sembuh, dan 3529 orang kaitan erat.

Sama seperti daerah-daerah lainnya, zona merah tersebut kemungkinan besar dampak relaksasi berbagai kegiatan, terutama setelah perayaan hari-hari besar sejak Juli hingga pertengahan Agustus. Dengan masih adanya kasus-kasus baru di Sumsel, Walikota Lubuklinggau sudah menerapkan Perwal Nomor 31 Tahun 2020 tentang aturan wajib mematuhi protokoler kesehatan guna menekan laju penularan Covid-19.

Akan tetapi ironisnya yang terjadi di RS Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, diduga ada beberapa tenaga medis yang dinyatakan terpapar akan tetapi ada beberapa yang termasuk dalam tracking yang masih menunggu hasil Swab, masih dipekerjakan atau beraktivitas seperti biasanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya dan juga selaku salah satu tenaga medis yang berada di RS Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, menerangkan bahwa ada kasus terkonfirmasi Covid-19 pada tenaga kesehatan dan lainnya di IGD RS Siti Aisyah sebanyak 5 orang, dimana saat ini terjadi penambahan jumlah kasus konfirmasi di IGD yang mula-mula 1 orang bertambah 3 orang, kemudian bertambah 1 orang lagi.

Perihal inilah yang membuat beberapa tenaga medis dan staf RS Siti Aisyah Kota Lubuklinggau merasa khawatir akan klaster di RS Siti Aisyah tersebut. Salah satu tenaga medis yang minta dirahasikan namanya ini mengatakan kepada awak media saat dikonfirmasi melalui telpon seluler bahwa mereka sangat resah.

“Kami sangat resah dengan hal yang terjadi di RS Siti Aisyah saat ini, karena dari hasil tracking dari yang terpapar ada sekitar kurang lebih 30 orang dan sekarang lagi menunggu hasil Swab, akan tetapi dari beberapa orang masih dipekerjakan dan beraktifitas seperti biasanya bukan seharusnya di isolasi secara mandiri. Bahkan kami sudah mengajukan tuntutan kepada pihak direksi RS Siti Aisyah untuk karantina mandiri selama masa tracing, memenuhi APD level 2 dan 3 di IGD, serta memenuhi kebutuhan vitamin dan extra fooding, akan tetapi sampai saat ini belum juga mendapatkan respon positif dari pihak direksi, kami khawatir hal ini dapat menimbulkan dan membuat penyebaran semakin banyak,” ujar tenaga medis itu.

Saat awak media ingin mengonfirmasikan hal terkait kepada Dr Charly selaku pihak direksi RS Siti Aisyah dan Dr Jenita selaku juru bicara penanganan Covid-19 Kota Lubuklinggau melalui telpon seluler, sampai berita dinaikkan belum ada jawaban dari pihak tersebut.

Sedangkan menurut Cikwi selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau, saat dihubungi melalui aplikasi WhatsApp, mengatakan “Setahu saya kita lakukan tracing dengan pengambilan swab pada orang-orang yang kontak erat, mereka yang sudah di swab diharuskan melakukan isolasi mandiri sambil menunggu hasil lab,” papar Cikwi. (Vhio)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA