by

Wabah Covid-19: Lock Down, Harakiri Perekonomian Jepang?

KOPI, Jakarta – Lebih baik ‘Harakiri’ daripada ekonomi hancur.
Postingan masyarakat Jepang yang sedang menikmati indahnya bunga sakura, pada musim semi ini marak di media sosial (medsos) seperti facebook (FB) dan Instagram (IG). Indah nian. Beberapa restoran masih tetap buka dan dikunjungi, walaupun tidak seramai seperti biasanya. Terutama pada saat jam makan siang. Juga, anak-anak dan orang tua yang mendampinginya masih terlihat banyak di taman-taman bermain.

Postingan di medsos ini mengundang pertanyaan besar terkait kiat Jepang dalam memperlakukan wabah Virus Corona yang sedang menjadi trend di 2020 dan menghentak seluruh umat manusia di dunia. Mengapa masyarakat Jepang tidak takut? Apa yang dilakukan pemerintah Jepang? Apakah percaya dirinya terlalu tinggi. Atau wabah Covid-19 ini dianggap musibah kecil dan ringan? Musibah yang terletak pada strata risiko paling rendah dibandingkan dengan cobaan alam terkait Fukushima 2011? Apa sebenarnya yang terjadi di Jepang – negara yang canggih dalam teknologi?

Kronologis Penanganan Wabah

Perdana Menteri Shinzo Abe sebenarnya telah mulai mengumumkan bahwa negara dalam keadaan darurat, pada awal Maret. Tapi sekali lagi, ini hanya seperti siaran radio yang masuk telinga kanan dan keluar melalui yang kiri. Masyarakat tidak begitu peduli. Walaupun beberapa sudah paham maksudnya, kemudian menutup tokonya, tetapi gambaran sikap abai di atas tetap ter posting di medsos.

Memasuki pekan kedua, masyarakat didorong untuk mengurangi kerumunan dengan cara diam di rumah dan membatasi bisnis, sampai batas waktu yang ditentukan kemudian. Tujuannya adalah untuk membuat kurva penyebaran virus menjadi stabil, kemudian turun. Yang artinya tidak ada kenaikan angka lagi untuk yang terinfeksi dan yang sembuh semakin banyak. Tapi berapa lama durasi waktu yang dibutuhkan? Ini yang menjadi pertanyaan selanjutnya.

Langkah-langkah yang diambil pemerintah Jepang ini, pada prakteknya jauh berbeda dengan Lock Down atau penguncian yang banyak diterapkan di negara lain dan berhasil. Meski Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, dan beberapa Gubernur prefektur lainnya telah menghimbau, tetapi seperti tidak mempunyai gigi. Masyarakat masih tidak menganggap bahwa virus Corona adalah ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya. Angka yang terinfeksi terus menanjak. Dibandingkan awal cermatan wabah virus Corona, pada 11 maret 2020, angka yang terinfeksi naik dari 620 menjadi 1380 pada 24 maret, dan angka kematian mencapai 45.

Ketidak-suksesan menekan angka manusia yang terinfeksi virus, membuat pusing Abe sebagai orang yang paling bertanggung jawab di Jepang. Beliau sangat khawatir atas kecemasan publik terkait angka kasus dan kematian tersebut. Yang menunjukkan betapa cepatnya penyebaran virus ini. Plus, adanya tekanan politik yang luar biasa.

Data tersebut telah mendorong International Olympiade Committee (IOC) mengumumkan penundaan Olimpiade musim semi dunia. Yang semula akan diadakan di Tokyo 24 Juli – 9 Agustus 2020 menjadi 24 Juli – 9 Agustus hingga 2021. Diumumkan pada tanggal 24 Maret.

Sehari setelah informasi penundaan tersebut, 25 Maret, Gubernur Tokyo Koike dengan tegas menekankan kondisi darurat. Sebab Tokyo mempunyai kasus tertinggi.

Meskipun banyak orang tidak mengindahkan protokol yang digariskan pemerintah, tetapi adanya penutupan semua sekolah dasar dan menengah pada 3 Maret, telah sangat berdampak pada kelengangan lalu lintas pejalan kaki, kereta dan bus. Ditambah, beberapa perusahaan sudah mengintruksikan karyawannya untuk bekerja dari rumah, dan ada juga yang inisiatif perseorangan.

Pada 8 April, adalah hari dimana kondisi darurat diberlakukan, yang diperpanjang hingga 6 Mei, termasuk Golden Week. Penumpang subway Metropolitan turun sebanyak 30%. Dan 459 penumpang jasa Shinkansen membatalkan perjalanannya. Golden Week adalah Minggu tersibuk Jepang, dimana wisatawan dunia juga berdatangan menikmati sakura.

Laju Kasus

Kiat di atas sudah terlanjur menyebabkan angka kasus yang terus menanjak. 11 maret – 11 April 2020, angka kasus dari 620 menjadi 6923, lebih dari sepuluh kali lipat. Angka kematian dari 15 menjadi 132, Sembilan kali lipat.

Dalam sebulan kemudian, 5 Mei, angka yang terinfeksi menjadi lebih dua kali lipat, menjadi 16.101. Sedangkan angka kematian menjadi empat kali lipat, menjadi 576.

Meski tingkat kesembuhannya 30%, Tokyo menjadi kota yang tertinggi kasusnya. Urutan tiga daerah yang terinfeksi tertinggi secara berurutan adalah Tokyo (4712), Osaka (1689) dan Kanagawa (1123).

Menentukan Parameter Target

Hingga kini Jepang telah menghabiskan 1,2 trilliun USD. Untuk menekan angka kasus, pemerintah menginstruksikan agar masyarakat menghindari tempat keramaian hingga 80%, agar dapat mereduksi peningkatan angka terinfeksi. Tetapi sulit dicapai. Kemudian target diubah agar naiknya angka terinfeksi menjadi lebih kecil dari 100 per hari atau lebih sedikit dibandingkan dari angka kesembuhan per hari.

Akhirnya parameter target diubah menjadi jumlah naiknya kasus harus lebih kecil dari yang sembuh. Keberanian ini logis. Karena Jepang mempunyai Rumah Sakit yang memadai dan lengkap peralatannya. Peralatan medis yang canggih, hingga mampu menyediakan reagen atau bahan kimia yang diperlukan guna melakukan tes dengan baik. Hampir semua buatan dalam negeri, yang terkenal sangat canggih mutunya. Singkat kata, mereka didukung dengan kemampuannya menguasai teknologi dan swa produksi.

Kiat kedepannya, adalah mengubah pola atau budaya hidup, sampai ditemukannya vaksin. Seperti jaga jarak, pakai masker, hindari duduk berhadapan, duduklah berdampingan, selalu cuci tangan, langsung mandi setelah bepergian.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sama-sama menghindari penguncian. Tetapi bumi pertiwi ini tidak didukung dengan Rumah Sakit dan kecanggihan alat medis, serta dana. Maka jauh lebih sulit untuk bertahan menghadapi serangan virus Corona – jika sudah terlanjur terinfeksi. Tingkat kesembuhannya jauh di bawah 10%. Itupun dari data yang sangat tidak akurat. Sehingga, upaya pencegahan dengan mengikuti protokol jaga jarak serta hidup bersih harus diprioritaskan.

Selain itu, penciptaan udara bersih guna hidup yang lebih sehat juga harus menjadi prioritas dalam agenda pemerintah. Hal ini terbukti dengan masih dipaksakannya bisnis pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap menggunakan batu bara yang nantinya akan mendorong polusi menjadi dua kali lipat dari saat ini. Akan membuat Kesehatan pernafasan lebih parah. Oleh karena itu, proyeksi kedepan menggunakan pembangkit yang zero emisi polusi, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebaiknya diagendakan dengan baik. Sehat sistim pernafasan, akan menjadikan masyarakat yang lebih sehat dan kuat dalam memerangi wabah sejenis Covid-19 kedepannya.

Kunci Kesuksesan

Pembelajaran utama yang bisa ditarik menjadi KUNCI kesuksesan dalam pemutusan rantai penyebaran virus korona, terdiri dari dua elemen. Ketegasan pemerintah dalam memilih serta menentukan protokol, dan kesadaran penuh masyarakat untuk mematuhinya. Kombinasi kerjasama yang baik dari kedua elemen tersebut akan dapat secara lebih cepat memutus perkembanganbiakan virus. Sehingga kurva penyebaran virus menjadi rata dan kemudian meluruh, dan berakhir pada penyelamatan nyawa.

Pemerintah Jepang, seperti halnya Amerika dan Indonesia, terlalu melihat sisi bisnis dalam menetapkan protokol memerangi Covid-19. Padahal orang mati tidak bisa dihidupkan kembali. Tapi perekonomian yang mati bisa dipulihkan.

Penulis: Dr. Geni Rina Sunaryo, alumnus Tokyo University

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA