by

Denny, Sang Wali Intelektual

Simon Syaefudin

Oleh: Syaefudin Simon

KOPI, Bekasi – Presiden Joko Widodo bersikap tegas: melarang seluruh warga mudik lebaran ke kampung halaman. Warga yang dilarang mudik adalah mereka yang berasal dari daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta daerah zona merah Covid-19 lainnya.

Larangan tersebut berlaku mulai 24 April. Adapun sanksi akan diberlakukan pada 7 Mei bagi mereka yang bersikeras untuk mudik.

Mulanya Jokowi hanya melarang mudik para ASN, pegawai BUMN, dan personel TNI-Polri. Lalu pemerintah mengiming-imingi perantau yang tidak mudik dengan sembako dan uang tunai. Kemudian pemerintah nengancam, yang mudik akan dikarantina di kampungnya selama 14 hari.

Rupanya tak semua warga masyarakat tertarik iming-iming pemerintah tadi. Juga tak takut ancamannya. Banyak di antara mereka nekad mudik. Apalagi waktu itu, belum ada pelarangan resmi. Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan hanya mengimbau warga masyarakat untuk tidak mudik. Tapi tak ada sanksi hukum. Dampaknya, banyak warga mudik atau pulang kampung.

Denny Mendahului

Ketika Pak Luhut mengeluarkan imbauan di atas sambil menyatakan bahwa mudik bisa saja dilakukan dengan sarat tertentu, Denny JA berteriak. Pemerintah melakukan kesalahan fatal jika tidak melarang keras mudik. Melalui akun FB dan WAG, Denny menyatakan Presiden harus melarang mudik jika ingin menghindari bencana infeksi corona yang sangat memilukan.

Tiga pekan sebelum Jokowi mengumumkan pelarangan mudik — Denny menulis: Jika pemerintah tak melarang dengan keras mudik lebaran, besar kemungkinan Indonesia segera masuk dalam lima besar negara yang paling terpapar Covid-19.

Saat itu, 5 negara paling terpapar Covid-19 adalah sebagai AS (245,380 kasus), Spanyol (117, 710 kasus), Itali (115.242 kasus), Jerman (85. 263 kasus), dan Cina (81.620 kasus). Hitung- hitungannya, tulis Denny, sangat sederhana. Tahun lalu, dari wilayah Jabotabek saja, jumlah yang mudik mencapai angka 14, 9 juta penduduk. Angka ini membengkak jika ditambah penduduk kota besar lain.

Katakanlah kita tetap asumsikan mudik tahun 2020 di angka 14,9 juta untuk seluruh Indonesia. Di kampung halaman, mereka akan berinteraksi dalam kultur komunal. Mereka berjumpa keluarga besar, tetangga, sahabat. Katakanlah rata-rata 1 orang yang mudik berinteraksi dengan 3 orang lainnya. Maka mudik menyebabkan interaksi sekitar 45 juta penduduk Indonesia.

Jika 1 persen saja dari jumlah populasi paska mudik itu terpapar Covid-19, artinya akan ada 450 ribu penduduk Indonesia menjadi korban. Jika mereka yang mudik diimbau masuk karantina 14 hari, mau diisolasi di mana orang sebanyak 14,9 juta itu? Cukupkah infrastuktur kesehatan kita mengurus isolasi sebanyak itu? Jelas tidak cukup.

Denny memuji MUI. Karena tegas mengharamkan mudik bagi warga yang tinggal di wilayah pandemik merah. Dalilnya sederhana, Tuhan prolife. Segala aktivitas yang bisa menimbulkan kematian, adalah haram. Banyak hadist terkait wilayah pandemik saat itu. Rasul memerintahkan: Orang yang berada di wilayah thoun (wabah) haram neninggalkan tempat tinggalnya. Sebaliknya, orang di luar wilayah thoun, haram masuk ke zona wabah tersebut.

Saat itu, Denny mengkritik pemerintah keras sekali. Tanpa kompromi. Ternyata, tiga pekan kemudian Jokowi mongambil kebijkan keras seperti kritik Denny.

Ini bukan kasus pertama Denny melawan kebijkan pemerintah dan membuat publik kaget. Sebelumnya, kasus Pilkada DKI. Saat itu, mayoritas publik yakin, Ahok akan menang. Apalagi Ahok didukung mayoritas parpol besar (belum tersandung kasus A-Maidah 51).

Usai diskusi di Ciputat School, Denny mengajak teman-teman Kelompok Studi Proklamasi (KSP) berdiskusi tentang Pilkada DKI. Denny menyatakan, Ahok bisa dikalahkan. Kami, anggota KSP yang hampir semuanya mendukung Ahok, terkejut. Denny membuat simulasi di mana kekuatan dan kelemahan Ahok. Hal yang sama untuk Anis. Kami, teman-temam Denny, tatap pro-Ahok. Hasilnya, apa pun alasannya, Ahok kalah.

Kasus lain, ketika Denny membuat iklan besar-besaran di media massa, bahwa SBY bisa mengalahkan Megawati di Pilpres 2009 hanya satu putaran. Publik terkejut. Iklan itu dianggap mengada-ada. Soalnya, saat itu Megawati sebagai oposisi menguasai panggung politik nasional. Tapi Denny tetap pada keyakinannya, SBY menang dalam satu putaran. Hasilnya, prediksi Denny benar.

Sebelumnya, di tahun 2004, Denny pun berhasil mendudukkan SBY sebagai presiden, dengan mengalahkan Megawati sebagai patahana. Saat itu, kata Denny, saya melakukan diskusi, simulasi, dan membangun strategi berbasis survei politik dan matematik. Hasilnya, SBY menang.

Sebetulnya masih banyak cerita sukses prediksi Denny dalam hal Pilkada. Juga dalam hal transformasi ekonomi dan budaya. Tapi tak bisa saya ceritakan semua di sini. Poin yang ingin saya ungkapkan, kenapa prediksi Denny hampir semua tepat? Apakah dia seorang clairvoyance seperti Joyoboyo? Atau seorang indigo seperti Roy Kyoshi?

Wali Intelektual

Setahu saya yang sudah kenal Denny sejak tahun 1985 di markas KSP, rumah Pak Djohan Efendi, depan monumen Proklamasi, Jakarta — Denny bukan seorang clairvoyance dan indigo. Ia orang biasa yang punya kecerdasan analisis, punya talenta matematika, menguasai percaturan strategi, dan punya kebiasan meditasi. Keempat hal itu inheren berada dalam diri seorang Denny.

Di kampungnya, sejak SD, Denny selalu juara dalam mapel matematika. Bahkan ketika mengambil PHD di Amerika, Denny mendapat penghargaan universitas karena nilai matematikanya ekselen.

Kemampuan matematika yang ekselen dikombinasikan dengan analisis sosial dan politik yang komprehensif, menjadikan Denny seperti seorang clairvoyance. Ia seakan tahu sesuatu yang belum terjadi.

Sebagai pecandu sekaligus jago main catur, Denny juga mampu membangun strategi dalam percaturan kehidupan. Meditasinya yang kuat dan salat malam (doa dan dialog tengah malam dengan Tuhan) yang khusu, menjadikan Denny sebagai pribadi yang tenang, otaknya jernih, dan lapang hati.

Semua itu berdampak positif terhadap kemampuan prediksinya. Ia seperti wali yang mampu melihat masa depan. Jika waliyullah kemampuan clairvoyance-nya diperoleh karena kedekatan dan ketakwaannnya kepada Yang Maha Kuasa; Denny memperoleh kamampuan clairvoyance-nya karena kepiawaiannya dalam analisis sosial politik disertai data-data matematis. Kejernihan pikirannya karena rajin meditasi dan bermunajat kepada Tuhan, membuat Denny bisa melihat inti dari permasalahan yang kompleks.

Dalam kategori seperti itulah, saya mengibaratkan Denny sebagai wali intelektual. Bila Wali Songo seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus clairvoyance-nya diperoleh dari pendekatan spiritual, Denny — sang wali intelektual — kemampuan claorvoyance-nya diperoleh dari pendekatan analisis sosiokultural-matematikal.

Bagi Tuhan Pencipta Hukum Alam, baik hukum yang visible maupun invisible; yang tangible maupun intengible; yang imaginable maupun unimaginable — hakikat kewalian adalah satu jua. Yaitu manusia yang dekat dengan Allah dan mendapat karomahNya.

Bagi Allah, wali jenis apa pun — spiritual maupun intelektual — adalah sama. Yaitu hamba yang patuh dan tunduk terhadap hukum-hukum yang diciptakanNya. Apakah itu hukum agama atau hukum ilmiah. Sama saja. (*)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA