by

Pustakawan dan Kepedulian Sosial

Oleh: Muhammad Mufti AM

KOPI, Yogyakarta – Jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182 di Kepulauan Seribu mengawali musibah di negeri kita pada tahun 2021. Belum usai evakuasi korban dan puing-puing jatuhnya pesawat sudah disusul bencana alam di beberapa daerah. Banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat, tanah longsor di Sumedang, Jawa Barat. Begitu pula ancaman gunung api aktif, sedangkan situasi kondisi negeri belum membaik akibat pandemi Covid-19.

Musibah silih berganti tersebut menyebabkan hilangnya harta, benda, waktu, tenaga, bahkan nyawa. Itu menjadi keprihatinan kita bersama sebagai sesama manusia. Tentu tumbuh kepedulian ketika kita tahu apa akibat bencana. Pemerintah dan lembaga terkait wajib hadir memberi pertolongan.

Seluruh elemen masyarakat menyatukan diri, saling berkomunikasi. Terlepas dari apa penyebab bencana, tak bijak rasanya bila disikapi dengan saling menyalahkan. Yang terpenting, bagaimana menggugah empati kepedulian semua pihak agar mau membantu meringankan beban para korban. Masyarakat umum hingga unsur organisasi profesi, khususnya pustakawan punya kesempatan terlibat dalam hal ini.

Organisasi profesi semacam Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI), serta forum perpustakaan dapat berbuat sesuatu. Pustakawan mengambil peran sesuai kemampuan dan kompetensinya. Pustakawan bertindak atas dasar kemanusiaan, kepedulian sosial dan empati.

Bruce W. Tuckman, seorang pakar psikologi sosial Amerika dalam Tri Suciati, (Info Persada, 2011 : 25)  menyebutkan pada kondisi kedaruratan bencana ada empat tahap harus dialami masyarakat.  Teori dinamika kelompok ini diperkenalkan Bruce pada tahun 1965. Pertama, storm (timbulnya konflik) tatkala bencana terjadi untuk pertama kalinya dan beberapa saat sesudahnya. Kondisi nampak kacau balau  timbul kepanikan masyarakat. Kedua, form (pembentukan) ditandai adanya konsolidasi atau kerja sama memperbaiki keadaan usai bencana.

Ketiga, norm (normalisasi), masyarakat mengetahui harus berbuat apa setelah terbentuk kerja sama antar kelompok. Para korban bencana merasa aman berada di tempat pengungsian dan bertemu keluarga mereka. Pihak berkompeten seperti tenaga medis serta lembaga terkait kebencanaan terlibat intensif memberikan bantuannya. Keempat, perform (berkinerja) dilihat dari adanya usaha yang telah membuahkan hasil, keadaan relatif aman terkendali, aktivitas bersama pun mulai berjalan. Pihak tertentu secara spesifik, misalnya psikolog, pustakawan, serta profesi lainnya hadir meminimalisasi munculnya dampak psikologis.

Peluang pustakawan terbuka lebar terlibat aktif sekaligus menunjukkan kepedulian sosialnya. Empati menjadi kunci integritas sekaligus intensitas hubungan antara pustakawan dengan masyarakat mengesampingkan rutinitas kesehariannya. Pustakawan memperkuat solidaritas terhadap sesama profesi maupun komunitas di luar organisasi. Hal paling umum adalah penggalangan dana.

Contoh nyata dilakukan Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) dan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) yang membuka donasi. Meski bukan tergolong organisasi profesi, paling tidak dari unsur perpustakaan turut terlibat. Aksi solidaritas akan lebih terasa gaungnya bila diikuti organisasi pustakawan dan perpustakaan lainnya.

Pengalaman pada awal pandemi lalu memperlihatkan ATPUSI Kota Yogyakarta bergerak menggalang dana. Aksinya memperoleh dukungan positif para pustakawan di DIY. Partisipasi dana sukses melibatkan kepala sekolah, guru, dan karyawan. Bantuan dana ini kemudian disalurkan melalui Dinas Kesehatan setempat.

Berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI tercatat ada 3.778 pustakawan. Terdiri dari 169 pustakawan sekolah, 1.441 pustakawan perguruan tinggi, 425 pustakawan perpustakaan khusus, 731 pustakawan di tingkat provinsi, 494 pustakawan kabupaten/kota, dan 518 pustakawan dari Perpustakaan Nasional. Jika setiap pustakawan memberikan donasi minimal Rp. 10.000 saja maka sudah terkumpul dana sebesar Rp. 37.780.000.            

Bagaimana bila seluruh pegawai perpustakaan berpartisipasi? Dana yang terkumpul niscaya lebih banyak lagi. Satu potensi yang perlu koordinasi lebih lanjut dari pengurus organisasi tingkat pusat maupun daerah.

Di samping menggalang dana, pustakawan berpotensi menyalurkan bantuan barang kebutuhan umum atau pribadi sejauh itu diperlukan. Lazimnya makanan, pakaian, air bersih, obat-obatan, peralatan salat, sampai kebutuhan perempuan dan anak-anak menjadi hal utama saat bencana. Teknisnya bekerja sama dengan posko penanggulangan bencana.

Kesempatan pustakawan bergerak bersama tim penanggulangan bencana cukup besar. Pustakawan mengikuti arahan koordinator tim atau mengusulkan rencananya sendiri sesuai kompetensi atas izin pimpinan tempatnya bekerja. Pustakawan menyampaikan literasi informasi kebencanaan serta pemulihan kondisi bermitra lembaga/profesi lainnya. Fokus pustakawan pada sumber informasi buku, booklet, leaflet, atau informasi-informasi ringan seputar bencana.

Pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik lingkungan, tetapi beban psikologis korban bencana pun perlu dipulihkan. Pustakawan membantu mencairkan suasana kesedihan menjadi rasa aman dan nyaman. Ia berkomunikasi dari hati ke hati, memberikan sarana hiburan berupa bacaan, menyuguhkan story telling (mendongeng), membacakan cerita, atau mengajak anak-anak bermain. Ini bentuk sederhana kepedulian pustakawan terkait psikologis.

Membuat publikasi tak kalah penting. Wajar bila keterlibatan pustakawan dipublikasikan dalam berita atau artikel media cetak/online, website, atau media sosial sehingga masyarakat tahu kepedulian pustakawan. Stigma umum profesi pustakawan itu cenderung akademis atau hanya berhubungan dengan pengelolaan pelayanan perpustakaan nanti akan terkikis dengan sendirinya.      

Peran pustakawan penulis sangat berarti guna membangkitkan rasa peduli dan empati. Sebuah tulisan punya daya menggugah hati banyak pihak. Tulisan berpotensi menyentuh jiwa sosial, mengguncang kesadaran, membuka hati dan pikiran. Seseorang tak mungkin menolong begitu saja tanpa ada rasa itu. Kepedulian merupakan kemampuan seseorang memahami kebutuhan, merasakan sanubarinya, menempatkan diri pada posisi orang lain.

Keterlibatan berbagai pihak secara langsung atau tidak, tetaplah dibutuhkan. Bantuan pokok bagi korban bencana sebagaimana dilansir dari web Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Provinsi Bali meliputi:

1.   Relokasi atau hunian bagi warga yang tidak memungkinkan tinggal di rumahnya. Mereka  perlu disediakan tempat pengungsian atau hunian yang layak meski hanya untuk sementara.

2.   Kebutuhan pokok makan minum, pakaian, mandi cuci kakus, dan tempat tinggal harus dapat terpenuhi dengan baik. Kegagalan memenuhi kebutuhan pokok membawa dampak buruk, misalnya penyebaran penyakit berbahaya, perkelahian, kerusuhan, perampasan, penjarahan, bahkan kematian.

3.   Peralatan darurat yang dibutuhkan korban bencana untuk bertahan hidup.

4.   Bantuan perbaikan fisik selain rumah atau hunian adalah sarana umum dan fasilitas sosial supaya kebutuhan warga kembali normal.

5.   Bantuan konseling, rohani dan moral meminimalisir dampak psikologis akibat bencana. Setiap korban bencana diberikan dukungan moral agar tegar menghadapi cobaan lalu semangatnya kembali.  Terkait hal ini, peluang pustakawan membantu sesuai kompetensinya sangatlah terbuka.

6.   Transportasi berfungsi menyalurkan bantuan, memindahkan korban bencana dari satu tempat ke tempat lain, membawa peralatan perlengkapan bencana. 

7.   Tim penolong semacam Badan Penanggulangan Bencana, SAR dan medis guna menyelamatkan para korban bencana terperangkap  di reruntuhan. 

8.   Bantuan pengamanan melibatkan TNI-Polri terhadap aset-aset korban bencana dan aset pemerintah di wilayah bencana. Penjarahan, pencurian, perusakan berpeluang terjadi. Tak hanya aset, bantuan bahan makanan beresiko sama terkena penjarahan.

9.   Bantuan kesehatan apabila terdapat orang-orang terluka fisik atau mental. Kalau bantuan di lokasi bencana tidak memadai dirujuk ke rumah sakit. Buruknya kondisi kesehatan lingkungan perlu diantisipasi pula agar tidak menyebabkan penyebaran penyakit berbahaya.

10. Bantuan modal bagi korban bencana yang kehilangan mata pencaharian sehingga mereka bisa bekerja kembali memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jika pustakawan ingin lebih mempererat hubungan dengan masyarakat di lokasi bencana maka aksi kepedulian sosial itulah yang diwujudkan. Jarang sekali kiprah sosial organisasi pustakawan terpublikasikan media. Namun, bukan berarti tak ada sama sekali. Sebagian pustakawan bergerak senyap, menyalurkan dananya lewat pihak lain, melakukan aksi sosial mandiri. Ada pula yang berempati mengungkapkan perasaan di media sosial atau menulis artikel opini.

Dampak bencana alam cukup menggugah solidaritas siapapun. Pustakawan peduli bencana, mulai dari kabupaten/kota, provinsi, sampai tingkat nasional juga wujud aktualisasi spontan. Para pustakawan mesti menyikapinya, baik secara pribadi atau melalui organisasi profesi.*

Muhammad Mufti AM, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY, Anggota Persatuan  Pewarta Warga Indonesia (PPWI)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA