by

Sang Penyair Jual Motor Demi Terbitkan Buku

Buku Senandung Sunyi Makassar Senandung Anyir Jakarta, Karya Muhammad Amir Jaya

KOPI, Makassar – Penyair Muhammad Amir Jaya memiliki banyak kisah ‘unik’ dalam melakoni hidupnya sebagai penulis. Sejak duduk di bangku SMA memang lelaki asal Selayar ini telah aktif menulis artikel, puisi dan cerpen diberbagai media massa. Tulisan-tulisannya dimuat di antaranya; majalah Fakta, Panji Masyarakat, majalah Amanah, Tabloid Wanita Indonesia, Tabloid Karina, majalah Higina, majalah Keluarga, MitraMedia, dan lain-lain.

“Media yang terbit di Makassar itu, kita hanya dibayar Rp 1500. Tetapi bukan karena honornya, melainkan kebahagiaan yang dirasakan ketika tulisan kita dimuat. Itu yang membuat saya tetap produktif menulis,”

“Sejak SMA saya sudah aktif menulis dan dapat honor lumayan. Misalnya, tulisan artikel dan reportase di majalah, saya sudah dibayar Rp 90.000 untuk satu tulisan,” kata M.Amir Jaya saat berbincang lepas dikediamannya Rumah Puisi ARYA STR, Rabu, (31/03/2020).

“Awalnya, hanya sekadar iseng menulis karena kebetulan ada kegiatan Taraining Centre Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolahnya”.

Awalnya, kata M.Amir Jaya, hanya sekadar iseng menulis karena kebetulan ada kegiatan Taraining Centre Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolahnya. Namun kegemarannya membaca buku dan majalah membuatnya tertarik menulis kegiatan tersebut dan mengirimnya ke majalah yang bersangkutan disertai dengan foto-foto. Alhamdulillah, ternyata tulisan itu dimuat dan diberi honor Rp 35.000. Tahun 1980-an itu, honor tersebut cukup besar bagi dirinya.

“SAYA MENULIS DI TABLOID WANITA INDONESIA ITU DENGAN HONOR RP 125.000. SEMENTARA UANG SEMESTER DI IKIP PADA MASA ITU HANYA RP 60.000. ARTINYA, SATU TULISAN SAYA BISA MELUNASI SPP DUA SEMESTER”.

Karena itu, ia semakin gesit membaca dan memeriksa setiap majalah dan tabloid yang terbit di Jakarta. “Setiap hari itu saya selalu nongkrong dipenjual majalah di depan kantor Pos. Atau saya nongkrong dipenjual majalah di Jalan Sungai Cerekang. Tujuan saya adalah membaca dan memahami misi yang diemban setiap media,” urai penulis buku Janda Perawan yang Dilempar Keluar Jendela.

M. Amir Jaya pun semakin produktif menulis karena menerima honor yang cukup lumayan. Dari honor yang diterimanya, lelaki perenung dan hobi membaca itu, akhirnya membeli ‘tustel butut’ dan sejumlah buku-buku yang berkaitan dengan dunia kepenulisan atau buku-buku jurnalis. Ia pun belajar secara otodidak.

Walaupun demikian, ia mengaku sangat produktif menulis ketika kuliah di IKIP Ujung Pandang (Sekarang UNM, red). Semua jenis tulisan digarapnya. “Saya menulis di Tabloid Wanita Indonesia itu dengan honor Rp 125.000. Sementara uang semester di IKIP pada masa itu hanya Rp 60.000. Artinya, satu tulisan saya bisa melunasi SPP dua semester,” kata M.Amir Jaya mengenang masa-masa produktifitasnya sebagai penulis.

Selain menulis di media nasional, M. Amir Jaya juga mengaku, aktif menulis puisi, cerpen dan opini di media lokal terutama di Harian Pedoman Rakyat dan Fajar. Cuma honornya waktu itu tidak seberapa. “Media yang terbit di Makassar itu, kita hanya dibayar Rp 1500. Tetapi bukan karena honornya, melainkan kebahagiaan yang dirasakan ketika tulisan kita dimuat. Itu yang membuat saya tetap produktif menulis,” aku M. Amir Jaya yang telah melahirkan sejumlah buku.

Sebagai penulis, kata M.Amir Jaya, ada satu hal yang selalu dimimpikannya. Setiap menyambangi toko buku, ia selalu terobsesi bagaimana tulisan-tulisannya itu bisa dibukukan.”Suatu hari saat membeli buku di toko buku Gramedia, saya berdoa agar tulisan-tulisan saya yang tercecer bisa dibukukan. Bahkan ada tulisan saya “Tafakkur di Gramedia”. Tulisan ini dimuat di buku “Tips Menjadi Penulis” yang diterbitkan Penerbit Rayhan Itermedia,”kata M.Amir Jaya.

Namun yang membuatnya terkesan dan menjadi sejarah dalam kehidupannya sebagai penulis adalah ketika ia menjual dua motor kesayangannya karena ingin menerbitkan bukunya. “Saya sudah dua kali menjual motor karena ingin menerbitkan buku. Motor saya merek Legenda dan Vega yang saya beli dengan susah payah terpaksa dijual dengan harga murah demi sebuah buku. Untung, istri saya tidak marah,” kata M. Amir Jaya sembari tersenyum ringan.

Lelaki dengan janggut putih ini, kini telah melahirkan banyak karya dan tercatat di buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia (ASPI)” sebagai penyair Indonesia, yang diterbitkan Yayasan Puisi Indonesia.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA