by

Merdeka dari Penjajahan Teknologi Asing

Loading…

KOPI, Semarang – Ketika membahas Filsafat Ilmu saat memberi kuliah di Program Magister dan Doktor Undip, saya selalu bertanya kepada hadirin. Siapa gerangan arsitek dari Candi Borobudur dan Prambanan yang menakjubkan itu. Bagaimana menajemen proyeknya ketika itu? Pastinya sungguh rumit bukan?

Saya tidak percaya, konsep arsitektur dua candi itu datang tiba-tiba secara mistis dari negeri antah berantah. Pasti ada perhitungan geometri dan matematik yang rumit. Hanya arsitek brilian yang mampu mengerjakannya.

Dua candi monumental itu buah karya para arsitek Kerajaan Budha Wangsa Syailendra dan Kerajaan Hindu Wangsa Sanjaya di abad 9 M. Kedua kerajaan ini berada di Pulau Jawa.

Kehadiran Borobudur dan Prambanan tersebut menandakan bahwa bangsa ini telah melahirkan arsitek besar dengan karya besar. Sampai hari ini dunia takjub dengan arsitektur kedua candi itu.

Untuk membuktikan kehebatan arsitektur Borobudur dan Prambanan, cobalah anda berkunjung ke kota Paris, Perancis. Lalu lihatlah “La tour Eiffel”.

Simbol kota Paris yang menyedot perhatian wisatawan dari seluruh dunia itu, ternyata kompeksitasnya tidaklah serumit candi Borobudur dan Prambanan. Arsitektur menara Eiffel tidak secanggih dan seindah kedua candi di Pulau Jawa itu. Begitu pula perhitungan struktur bangunannya secara fisik dan matematik. Kedua candi itu jauh lebih kompleks ketimbang Eiffel.

Madu Baduy

Apa arti semua itu? Artinya, bangsa Indonesia di abad ke-9 sudah mempunyai arsitek setingkat Antoni Gaudi (1852-1926), arsitek gereja terindah di dunia — La Sagrada Familia di Barcelona, Spanyol. Padahal usia Borobudur dan Prambanan 10 abad lebih tua dari La Sagrada Familia.

Hampir 20 tahun setelah menyelesaikan studi tentang fisika plasma di Joseph Fourier University Grenoble Prancis, saya memulai kegiatan riset teknologi plasma dan aplikasinya di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Dengan sumberdaya seadanya, ternyata hasil riset teknologi plasma terapan itu sudah mulai terlihat.

Perlu diketahui, teknologi plasma sangat generik. Ia dapat dipadukan dengan berbagai bidang. Mulai dari pengerasan metal sampai penyembuhan kanker.

Ia berayun mulai dari renik-renik skala atom untuk pelapisan tipis, sampai menjamah alam semesta. Ia menghasilkan energi dari gasifikasi plasma sampai fusi nuklir. Menyontoh sang surya dan bintang yang terus bersinar.

Kini di Undip, dua produk riset aplikatif teknologi plasma mulai mendapat tanggapan baik dari pasar. Produk “Zeta Green” untuk membersihkan udara khususnya di dalam ruangan, kini mulai diminati hotel, rumah sakit, smoking room, dan ruang tunggu di tempat-tempat umum.

Metoda dan teknik penyimpanan produk hortikultura berteknologi plasma ozon juga telah membantu para petani. Mereka bisa bernafas dalam mengatur penjualan produknya ke pasar modern. Ini karena hasil panennya bertahan lama dengan kesegaran yang prima.

Riset teknologi plasma untuk tujuan aplikasi dari Center for Plasma Research (CPR) Undip, ternyata bisa menjadi “pemanas” dan penyebar virus N-Ach untuk skala nasional. Produksi generator ozon untuk ribuan ppm, misalnya, telah bisa dihasilkan oleh CPR dan PT Dipo Technology. CPR dan Dipo telah berhasil menjadi motor Teaching Industry Undip PTN-BH.

Bawang Tunggal Madu

Perjalanan panjang 20 tahun dengan kesetiaan tinggi pada riset sederhana, telah berhasil membuat produk yang membantu masyarakat. Banyak pengalaman berharga selama perjalanan jauh itu. Tak mudah memang melakukan inovasi di negeri ini. Tantangannya sangat besar, baik secara internal maupun eksternal.

Kenapa terjadi? Suasana di Indonesia yang belum begitu sadar arti penting riset untuk kemandirian bangsa kadang masih mengganjal. Padahal “merdeka” dari ketergantungan teknologi tak akan terwujud jika belum ada inventor dan inovator yang berjuang tanpa lelah. Kemerdekaan teknologi itu hanya impian jika para PEMIMPIN tak sadar bahwa kreativitas anak bangsa dalam riset dan teknologi adalah langkah strategis.

Kita terlalu heboh dengan dunia politik. Tapi kita belum memberikan perhatian penuh pada aset bangsa yang sangat dibutuhkan masa depan. Seperti sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tersebar di mana-nana. Bahkan di luar negeri. Dan itu kadang tragis. SDM bangsa Indonesia yang qualified justru dimanfaatkan oleh bangsa lain.

Wacana kemandirian teknologi ini sudah seharusnya menjadi agenda terus menerus di kalangan sivitas akademika. Perguruan tinggi bukanlah sekedar tempat pendidikan formal, tapi juga harus menjadi operator pengubah yang memberikan nilai baru bagi bangsanya.

Pendidikan tinggi sudah saatnya menjadi entitas inspiratif bagi anak-anak muda. Agar mereka bisa menjadi inventor dan inovator pejuang. Di tangan merekalah kemerdekaan teknologi akan benar benar terwujud.

Penulis: Dr. Muhammad Nur, DEA Dosen/Peneliti Fisika Plasma Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

BACA JUGA...