by

Kisah Nabi Nuh dalam Tiga Narasi

-Denny JA, Rohani-1,345 views

(Versi Mitologi, Kitab Suci, dan Ilmu Pengetahuan)

Oleh: Denny JA

KOPI, Jakarta – BBC tahun 2003 membuat video dokumen kisah Nabi Nuh. Judulnya Noah Ark: The Real Story.

Video ini menarik kita eksplor karena memberi pandangan soal sejarah peradaban, dan evolusi kesadaran homo sapiens. Sebuah peristiwa yang mungkin sama, tapi dinarasikan berbeda-beda, mulai dari era mitologi, era wahyu, era ilmu pengetahuan.

Video ini diawali dengan memaparkan kisah Nabi Nuh yang ada di kitab suci. Juga dipaparkan kisah yang menyerupai Nabi Nuh dalam dokumen yang lebih tua, di luar kitab suci.

Aneka analisa ilmiah pun diberikan. Cukup mengagetkan tapi juga mencerahkan.

Pertama, mustahil pernah terjadi banjir dunia yang bisa menenggelamkan semua, termasuk puncak Himalaya. Video ini memberikan alasan.

Untuk bisa menenggelamkan bumi hingga puncak Himalaya ikut terendam, diperlukan jumlah air tiga kali lipat dari seluruh samudra yang ada. Bahkan jika ditambah dengan potensi air yang didapatkan dari alam semesta, melalui hujan, jumlah air yang ada tetap tak cukup.

Bagaimana bisa menenggelamkan Himalaya jika volume air di alam semesta tak cukup untuk itu?

Kedua, mustahil pula mengumpulkan hewan sepasang- sepasang yang ada di seluruh dunia. Saat itu, sekitar 5 ribu tahun lalu, ada 30 juta spesies yang hidup.

Bagaimana pula bisa membuat 30 juta spesies itu datang satu persatu berkumpul di perahu. Bahkan jika tersedia tenaga yang cukup untuk menangkap 30 juta spesies itu, dan mampu mengarahkan mereka ke satu titik, butuh waktu 30 tahun.

Ketiga, katakanlah sejumlah 30 juta spesies itu bisa dikumpulkan, di satu titik, mustahil pula menciptakan perahu yang bisa menampung jumlah hewan sebanyak itu.

Ini dibutuhkan kapal yg jauh lebih besar dari Titanic. Para ahli konstruksi menyatakan untuk membuat kapal sebesar titanic mustahil dibangun hanya dengan kayu.

Dibutuhkan kerangka besi yang tak tersedia di abad itu.

Keempat, aneka riset yang mengklaim menemukan jejak Nabi Nuh ikut pula diriset. Tak ada yang meyakinkan dari temuan itu. Cukup dianalisa melalui metode karbon dating, misalnya, kayu yang dianggap fosil perahu Nabi Nuh, ternyata berusia muda. Kayu berasal dari zaman ribuan tahun setelah era Nabi Nuh.

Singkat kata, berdasarkan telaah ilmu pengetahuan, baik dari sisi banjir yang bisa menenggelamkan dunia, jumlah hewan yang ada, dan teknologi perkapalan, kisah Nabi seperti di kitab suci, menurut video ini, mustahil terjadi di alam nyata.

-000-

Lalu kisah bagaimana yang mungkin terjadi?

Sebuah dokumen ditemukan di Mesopotamia. Dokumen itu lebih tua bahkan dibandingkan taurat dan perjanjian lama sekalipun.

Ia disebut Epic of Gilgamesh. Salah satu kisah dalam Epic itu mirip seperti kisah Nabi Nuh.

Yang mengirim banjir adalah dewa dewi (Bukan Tuhan Yang Maha Esa). Tokoh yang dikontak dewa dewi adalah Utnapisthim (bukan Nabi Nuh).

Sisa cerita lainnya sama.

Mengapa ada kesamaan antara kisah Nabi Nuh dengan Epic of Gilgamesh?

Video ini mengeksplor temuan lebih jauh. Ini kesimpulannya.

Pertama, memang pernah ada banjir besar di Mesopotamia. Tapi ini banjir lokal saja. Memang ada tokoh yang membuat perahu. Besar kemungkinan, tokoh ini adalah pengusaha, yang mengangkut kargo.

Ia memang membawa serta hewan, tapi secukupnya. Ia memang membuat perahu, tapi kecil saja sesuai kemampun teknologi zaman itu.

Dibandingkan banjir lain, banjir saat itu memang jauh lebih besar dan jauh lebih mengerikan. Karena itu banjir ini didokumentasikan dalam Epic of Gilgamesh. Namun kisah itu ditangkap dalam perspektif mitologi. Ditambahkanlah bumbu dewa dewi.

Rabi Yahudi yang datang dari zaman belakangan, menuliskan kisah ini dalam kitab suci. Tapi kisah ini dibuat dalam rangka teologi. Banjir lokalpun menjadi banjir yang menenggelamkan seluruh dunia. Hewan ala kadarnya yang dibawa perahu itu, dimassifkan menjadi begitu banyak hewan.

Kisah alam menjadi kisah moral.

-000-

Di era Google ini, terhidang dihadapan kita kisah banjir yang sama. Tapi kisah itu disampaikan dalam tiga narasi besar yang berbeda.

Versi yang mana yang sebenarnya terjadi? Versi mitologi kah? Versi wahyu kah? Versi ilmu pengetahuankah?

Dalam versi ilmu pengetahuan, setidaknya yang didokumentasikan oleh BBC, kisah Nabi Nuh bukan kisah sejarah. Itu kisah metafor dalam rangka pengajaran moral.

Pengajarann moral bisa diberikan tanpa harus melalui kisah sejarah.

Inilah asyiknya kita yang hidup di era hak asasi manusia. Kita bisa dan boleh percaya yang mana saja.

Versi mitologi sudah kehilangan legitimasi. Tapi versi wahyu dan versi ilmu pengetahuan masing masing bisa tetap kokoh berdiri. Dua versi ini memiliki komunitasnya masing- masing.

Bagaimanapun kini kisah sejarah dalam kitab suci bisa juga dilacak dan difalsifikasi oleh ilmu pengetahuan.

Kini berkembang ilmu yang disebut Biblical Archeology. Ini cabang ilmu yang meneliti kisah sejarah kitab Injil dari sisi arkeologi. Di dunia Islam berkembang gerakan Revisionism. Ini cabang studi Islam yang menelaah historicity Islam melalui metodelogi dan sumber informasi di luar Quran.

Temuan arkeologi dan historicity dari agama memang bisa membuat tercengang mereka yang tak terbiasa dengan pembalikan narasi.

Akankah temuan ilmu pengetahuan membuat agama memudar? Jawabnya tidak. Agama mempunyai seribu nyawa. Keyakinan atas wahyu tak bisa dibantah oleh temuan ilmu pengetahuan, walau persepsi kita soal sejarah agama dan kisah sebagian Nabi bisa saja berubah.*

Juni 2020

Bagi yang berminat mengeksplor kisah Nabi Nuh yang dilaunching BBC, silahkan klik

Link: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/2980382615391201/?d=n

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA